T4

Monday, January 30, 2012

SISTEM RUJUKAN PADA BAYI DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN ( PJB )

SISTEM RUJUKAN PADA BAYI DENGAN PENYAKIT JANTUNG BAWAAN (PJB )

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kelainan jantung pada bayi bisa sangat ringan, sehingga tidak terdeteksi saat lahir. Akan tetapi, bisa juga berat sampai-sampai dapat didiagnosis sebelum bayi dilahirkan. Penyakit kelainan jantung bawaan merupakan jenis penyakit yang paling sering didapati pada seorang bayi. Satu dari 33 bayi yang lahir di Amerika Serikat menderita kelainan ini. 
Dr. Michael Katz, pakar kesehatan anak dari Columbia University di Amerika Serikat mengatan, kelainan jantung bawaan menjadi penyakit yang banyak diderita karena perkembangan organ jantung pada janin sangat rumit. "Jantung adalah organ yang paling kompleks, banyak kemungkinan terjadi suatu kelainan," jelas Katz.
Pada umumnya, jenis kelainan jantung ini yaitu bocornya sekat serambi atau bilik jantung, perubahan posisi (transposisi) pembuluh darah besar dan tetap terbukanya saluran penghubung antara aorta dan pembuluh darah paru.
Belum diketahui pasti apa sebab terjadinya kelainan jantung bawaan. Para ahli menduga kelainan dapat disebabkan polusi, virus, rokok, rubela, dan obat-obatan.
Faktor genetik juga disebutkan memperbesar kemungkinan mempunyai anak dengan kelainan jantung. Kelainan yang menyebabkan penurunan aliran darah ke paru biasanya ditandai oleh kebiruan di kulit, kuku jari, bibir, dan lidah karena tubuh tidak mendapatkan zat asam yang memadai akibat aliran darah kotor ke tubuh. Pernapasan si anak akan menjadi cepat dan nafsu makan berkurang.
Kecanggihan teknologi kedokteran mutakhir di bidang diagnosis dan terapi membuat banyak bayi dengan kelainan jantung dapat tertolong. Mereka lahir dan hidup sehat hingga dewasa. Penanganan dapat dilakukan dengan obat-obatan, ataupun dengan mengoreksi kelainan jantung melalui bantuan kateter serta pembedahan.

1.2 Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana cara merujuk bayi dengan penyakit jantung bawaan
1.3 Tujuan Khusus
Ø  Untuk mengetahui cara penanganan atau pertolongan pertama pada bayi dengan Penyakit Jantung Bawaan (PJB)
Ø  Untuk mengetahui bagaimana system / cara merujuknya
Ø  Untuk mengetahui bagaimana cara penyampaian terhadap ibu dari bayi tersebut mengenai penyakit bayinya




BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1 Pengertian Jantung Bawaan
Penyakit jantung bawaan adalah kelainan struktur jantung yang sudah terdapat sejak lahir. Kelainan terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal pembentukan jantung, yang di mulai saat terjadinya pembuahan dan secara lengkap terbentuk pada minggu kedelapan masa kehamilan. Kelainan jantung bawaan biasanya terjadi pada delapan minggu pertama yang kursial ini. Sering kali kelainan jantung bawaan ini merupakan akibat dari salah satu langkah kursial ini tidak terjadi pada saat yang tepat, sehingga menyisakan sebah lubang di dinding pemisah yang seharusnya terbentuk. Atau pembuluh darah tunggal terbentuk menjadi dua.
Sebagaian besar kelainan jantung bawaan tidak di ketahui penyebabnya. Ibu-ibu akan selalu bertanya-tanya dalam hati mereka. Ada yang menduga kelainan jantung tersebut timbul karena factor eksogen ( lingkungan ) dan endogen ( hereditas ). Kemungkinan terjadi di karenakan selagi hamil sang ibu mengalami suatu penyakit seperti rubella atau virus lain., mengonsumsi obat-obatan tertentu, atau kebiasaan merokok, yang mengganggu pertumbuhan jantung. Factor hereditas juga diduga menjadi salah satu penyebab, karena dalam beberapa kasus, kelainan jantung sering muncul dalam satu keluarga.
Sejauh ini belum di temukan alasan yang mendukung mengapa kelainan jantung itu terjadi. Rangkaian kelainan jantung bawaan bisa terbentuk dan kelainan jantung sederhana hingga kelainan jantung kompleks. Ada bayi yang mungkin hanya mengalami masalah-masalah jantung lebih mudah, seperti duktus arteriosus persisten atau defek septum atrium, karena defek-defek ini akan menutup sendiri dengan mudah selama pertumbuhan. Ada bayi lain yang mengalami kombinasi defek dan memerlukan operasi. Beberapa masalah jantung dapat di deteksi oleh dokter anak dan di tangani denagn obat-obatan. Sedangkan masalah jantung lain membutuhkan pembedahan yang acapkali harus dilakukan setelah beberapa jam bayi lahir, dan ditangani oleh dokter subspesialis jantung anak.

2.2 Gejala Penyakit Jantung Bawaan
Gejala penyakit jantung bawaan lantaran ( PJB ) sering membahayakan kemampuan jantung memompa darah, penyakit ini memberkan petunjuk pada anak-anak, antara lain sebagai berikut :
1        Kulit disekitar mulut, bibir dan lidah berwarna kebiruan yang disebut dengan sianosis
2        Nafas tersengal-sengal atau sesak nafas
3        Kurang nafsu makan atau kesulitan menyusui
4        Kegagalan dalam pertumbuhan ( sulit meningkatkan berat badan atau berat badan menurun )
5        Bising jantung tak normal

2.3 Penyakit Jantung Bawaan dan Penanganan Medis (non bedah)
Berdasarkan penampilan fisik, PJB secara garis besar dibagi atas 2 kelompok, yaitu PJB tidak biru (asianosis) dan PJB biru (sianosis).
Berdasarkan kelainan anatomis, PJB secara garis besar dibagi atas 3 kelompok, yaitu :
1.      Adanya penyempitan (stenosis) atau bahkan pembuntuan pada bagian tertentu jantung, yaitu  katup atau salah satu bagian pembuluh darah diluar jantung. Penyempitan ini menimbulkan gangguan aliran darah dan membebani otot jantung.



Pada kasus-kasus dengan penyempitan yang berat, aliran darah ke bagian tubuh setelah area penyempitan akan sangat menurun, bahkan terhenti sama sekali pada pembuntuan total.

a        Stenosis (penyempitan) Katup Pulmonal
han tubuh dan sesuai jumlah darah yang kembali ke jantung. Tanda gagal jantung kanan adalah: pembengkakan kelopak mata, tungkai, hati dan penimbunan cairan di rongga perut. Penanganan medis yang dapat dilakukan: pelebaran katup dengan balon (Balloon Pulmonal Valvotomy = BPV).

b        Stenosis (penyempitan) Katup Aorta
Terjadi pembebanan pada jantung kiri, yang pada akhirnya berakibat kegagalan jantung kiri, yang ditandai oleh: sesak, batuk kadang-kadang dahak berdarah (akibat pecahnya pembuluh darah halus yang bertekanan tinggi di paru). Penanganan yang dapat dilakukan: pelebaran katup dengan balon (Balloon Aortic Valvotomy = BAV).

c         Atresia (pembuntuan) Katup Pulmonal
Pada kasus ini katup pulmonal sama sekali buntu, sehingga tak ada aliran darah dari jantung ke paru. Pasien hanya dapat bertahan hidup bila pembuluh darah duktus arteriosus tetap terbuka (yang mengalirkan darah dari pembuluh aorta ke pembuluh darah paru). Biasanya pembuluh ini akan menutup pada minggu pertama kehidupan bayi, dan bila itu terjadi akan berakibat fatal. Untuk mempertahankan duktus arteriosus tetap terbuka, diperlukan obat: Prostaglandin E-1. Namun obat ini sifatnya hanya sementara, dan harus segera diikuti dengan tindakan bedah.




d        Coarctatio Aorta
Pada kasus ini area lengkungan pembuluh darah aorta mengalami penyempitan. Bila penyempitannya parah, maka sirkulasi darah ke organ tubuh di rongga perut (ginjal, usus dll), serta tungkai bawah sangat berkurang, dan kondisi pasien memburuk. Seperti halnya pada atresia katup pulmonal, pada Coarctatio Aorta yang berat Prostaglandin E-1 perlu diberikan untuk mempertahankan pembukaan duktus arteriosus. Untuk selanjutnya, tindakan pelebaran dengan balon atau pembedahan perlu dilakukan.

2. Adanya lubang pada sekat pembatas antar ruang jantung (septum)
Sehingga terjadi aliran pirau (shunt) dari satu sisi ruang jantung ke ruang sisi lainnya. Karena tekanan darah di ruang jantung sisi kiri lebih tinggi dibanding sisi kanan, maka aliran pirau yang terjadi adalah dari kiri ke kanan. Akibatnya, aliran darah paru berlebihan/banjir (contoh: ASD = Atrial Septal Defect/ lubang di sekat serambi , VSD = Ventricular Septal Defect/ lubang di sekat bilik). Aliran pirau ini juga bisa terjadi bila pembuluh darah yang menghubungkan aorta dan pembuluh pulmonal tetap terbuka (PDA = Patent Ductus Arteriosus).
Karena darah yang mengalir dari sirkulasi darah bersih ke sirkulasi darah kotor, maka penampilan pasien tidak biru (asianosis). Namun, beban yang berlebihan pada jantung akibat aliran pirau yang besar dapat menimbulkan gagal jantung kiri maupun kanan. Tanda-tanda aliran darah paru yang berlebih adalah: debaran jantung kencang, cepat lelah, sesak nafas, pada bayi sulit menyusu, pertumbuhan terganggu, sering batuk panas (infeksi saluran nafas bagian bawah). Dalam kondisi seperti tersebut diatas, perlu diberikan obat-obatan yang bermanfaat untuk mengurangi beban jantung, yakni obat diuretic (memperlancar kencing) dan obat vasodilator (pelebar pembuluh darah).

a        Atrial  Septal Defect (ASD) =  lubang di sekat serambi.
Lubang ASD kini dapat ditutup dengan tindakan non bedah : Amplatzer Septal Occluder (ASO), yakni memasang alat penyumbat yang dimasukkan melalui pembuluh darah di lipatan paha. Namun sebagian kasus tak dapat ditangani dengan metode ini, dan memerlukan pembedahan.

b        Ventricular Septal Defect (VSD) = lubang di sekat bilik
Pada VSD tertentu dapat ditutup dengan tindakan non bedah menggunakan penyumbat Amplatzer, namun sebagian besar kasus memerlukan pembedahan.

c         Patent Ductus Arteriousus (PDA) = pembuluh penghubung aorta dan pembuluh darah paru terbuka
PDA juga dapat ditutup dengan tindakan non bedah menggunakan penyumbat Amplatzer, namun bila PDA sangat besar tindakan bedah masih merupakan pilihan utama. PDA pada bayi baru lahir yang premature dapat dirangsang penutupannya dengan menggunakan obat Indomethacine.

3. Pembuluh darah utama jantung keluar dari ruang jantung dalam posisi tertukar (pembuluh darah aorta keluar dari bilik kanan sedangkan pembuluh darah pulmonal/paru keluar dari bilik kiri).
Kelainan ini disebut transposisi arteri besar (TGA = Transposition of the Great Arteries). Akibatnya darah kotor yang kembali ke jantung dialirkan lagi ke seluruh tubuh, sehingga terjadi sianosis/biru di bibir, mukosa mulut dan kuku. Bayi dapat bertahan hidup bila darah kotor yang mengalir ke seluruh tubuh mendapat pencampuran darah bersih melalui PDA atau lubang di salah satu sekat jantung (ASD/VSD).
Seringkali TGA tak disertai lubang sekat dan pasien sangat biru (darah yang mengalir ke seluruh tubuh sebagian besar adalah darah kotor). Dalam keadaan demikian, dapat dibuat lubang di sekat serambi melalui metode non bedah yang disebut Balloon Atrial Septostomy (BAS). Sementara menunggu persiapan untuk melakukan prosedur ini, PDA yang bermanfaat untuk menjamin pencampuran darah bersih perlu dipertahankan, yakni dengan memberikan Prostaglandin E-1.
Namun semua ini hanya bersifat sementara, bila kondisi pasien membaik, operasi untuk menukar posisi pembuluh darah yang terbalik ini perlu dilakukan.
Disamping kelainan pada anatomi jantung, PJB juga dapat menyangkut kelainan pada pusat listrik jantung beserta sistim hantarannya. Pusat jantung yang lemah atau adanya blok pada sistim hantaran listrik jantung, berakibat denyut jantung/nadi yang pelan, sehingga tak mencukupi kebutuhan sirkulasi tubuh. Untuk itu perlu pemasangan alat pacu jantung (pacemaker).
 Pada anak yang sudah cukup besar pemasangan pacu jantung dapat dilakukan tanpa bedah, namun pada bayi masih diperlukan pembedahan.

2.4 Manifestasi Penyakit Jantung Bawaan
2.4.1 PJB Simptomatik
Neonatus dengan PJB simptomatik biasanya menunjukkan salah satu dari 3 gejala klinis utama yaitu : 1. Sindrom sianosis, 2. Takipnu atau tanda gagal jantung yang lainnya,biasanya dengan sedikit sianosis ( sindrom kardio-respiratorik), 3. Shock atau kolaps kardiovaskuler dengan nadi kecil/sulit teraba, pucat, asidosis, deangagal napas (sinrom shock).

Sindrom sianosis
Kelainan utama dengan sianosis sebagai gejala utama pada periode neonatus adalah :
1.    Transposisi arteri besar
2.    Atresia Pulmonal dengan VSD
3.    Atresia Pulmonal dengan septum intak
4.    Atresia Trikuspid
5.    Total Anomalous Pulmonary Venous Drainage (obstruktif)
6.    Abnormalitas kompleks,sering dengan isomerism
7.    Tetralogy of Fallot.
Kebanyakan neonatus dengan kelainan tersebut dan menampakkan gejala pada periode neonatus adalah defek tergantung duktus.
Sindrom kardio-respiratorik
Apabila manifestasi utama adalah gagal jantung,dengan dispnu dan hepatomegali sebagai manifestasi utama, kemungkinan penyebabnya adalah:
Minggu ke 1 – 2 kehidupan :
1.    Koarktasio aorta
2.    Interupsi arkus aorta
3.    Stenosis aorta kritikal
Semua tersebut diatas adalah defek tergantung duktus.
Minggu ke 3-4 kehidupan :
1.    VSD besar
2.    AVSD komplit
3.    Trunkus arteriosus
4.    Ventrikel tunggal
Gagal jantung adalah akibat overload volume,bukan karena duktus yang menutup.

Sindrom shock
Shock dapat tampak sebagai fase akhir pada neonatus dengan sindrom-sindrom klinis yang mendahuluinya. Namun demikian pada neonatus tertentu gejala ini tampak dengancepat tanpa gejala sebelumnya selain mungkin kesulitan minum dalam periode yang pendek dan tampak pucat dan mottling.
Penyebab kardiak yang utama pada keadaan ini adalah :
1.      hypoplastic left heart syndrome (stenosis aorta berat / atresia, dengan ventrikel kiri dan katup mitral  yang hipoplastik).
2.      Sindrom koarktasio berat atau interupsi arkus aorta.
3.      Penyebab non kardiak seperti sepsis harus pula dipikirkan.

2.4.2 PJB Asimptomatik
Adanya bising jantung mungkin satu-satunya pertanda adanya PJB. Kadang-kadang tanda lain seperti denyut nadi femoral yang lemah atau tidak teraba samasekali dapat mengarahkan kita kepada kecurigaan adanya PJB pada neonatus asimptomatik.
Sedangkan tidak adanya gejala pada saat pemeriksaan pertama, mengurangi urgensi permasalahan.adalah sangat penting melakukan pemeriksaan yang teliti akan adanya PJB sehingga dapat merumuskan rencana tatalaksana danfollow up yang aman.
PJB yang umumnya tampak dengan sedikit / tanpa gejala pada minggu-minggu awal kehidupan neonatus adalah :
1.    VSD / PDA kecil-sedang
2.    Stenosis aorta ringan-sedang
3.    Stenosis pulmonalis ringan-sedang
4.    Tetralogy of Fallot
5.    Koarktasio aorta ringan –sedang
6.    ASD (biasanya tidakterdeteksi pada periode neonatus).

2.5  Gejala dan Tanda
Sianosis
Membedakan sianosis perifer dansentral adalah bagian penting dalam menentukan PJB pada neonatus. Sianosis perifer berasal dari daerah dengan perfusi jaringan yang kurang baik,terbatas pada daerah ini,tidak pada daerah dengan perfusi baik.
Sebaliknya sianosis sentral tampak pada daerah dengan perfusi jaringan yang baik, walaupun sering lebih jelas pada tempat dengan perfusi kurang baik.tempat atau daerah yang dapat dipercaya untuk menentukan adanyasianosis sentral adalah pada tempat dengan perfusi jaringan yang baik seperti pada lidah, dan dinding mukosa.
 Sianosissentral pada jam-jam awal setelah lahir dapat timbul saat bayi normal menangis. Sianosis pada bayi tersebut disebabkan oleh pirau kanan ke kiri melalui foramen ovale dan atau duktus arteriosus. Kadar hemoglobin yang terlalu tinggi yang disertai dengan hiperveskositas dapat pula menyebabkan sianosis pada bayi normal.
            Dalam menentukan adanya sianosis yang bermakna harus diingat bahwa pada masa awal neonatus terdapat banyak penyebab sianosis diluar penyebab kardiak4.
Pulsasi femoral yang kurang
Tekanan darah sistolik yang relatif rendah dan tekanan nadi yang sempit khususnya di kaki, menyebabkan perabaan nadi menjadi sulit, bahkan pada bayi sehat sekalipun. Dengan latihan dan kesabaran kebanyakan nadi, termasuk nadi di kaki dapat diperiksa / dirasakan pada hampir semua neonatus.
Sangat penting diperhatikan bahwa pemeriksaan bayi dilakukan pada saat bayi sudah hangat dan dalam keadaan tenang, paling mudah pada saat bayi tidur. Sebaliknya, hampir tidak mungkin mebuat assesment yang tepat pada bayi yang menangis atau berontak.
            Karena nadi pada bayi volumenya kecil, penekanan dengan jari pada nadi harus dilakukan dengan ringan. Nadi femoralis dan brakialis harus diperiksa secara simultan, tungkai dalam keadaan lurus dan rileks.kesabaran diperlukan pada pemeriksaan bayi yang aktif. Kedua nadi brakialis harus pula dinilai secara simultan, apabila tidak sama kemungkinan ada anomali arteri subklavia atau koarktasio.
            Pada kebanyakan neonatus pada umur beberapa hari pertama, nadi pada tungkai bawah lebih kecil daripada nadi pada lengan. Ini disebabkan oleh tekanan nadi tungkai lebih kecil setelah duktus menutup, ismus aorta diameternya lebih kecil daripada aorta asenden. Dalam beberapa hari tekanan nadi ini membaik dan nadi di kaki daapat diraba dengan mudah.
            Neonatus dengan koarktasio biasanya nadi dilengan volumenya besar (serting dengan hipertensi) dan nadi femoralis tidak teraba. Keadaan ini didapatkan setelah duktus tertutup. Pada umur beberaapa hari pertama nadi pada tungkai masih daapat teraba karena mendaapat perfusi dari arteri pulmonalis melalui duktus. Oleh karena itu terabanya arteri femoralis pada umur beberapa hari pertama kehidupan tidak menyingkirkan adanya koarktasio.
            Nadi yang lemah menyeluruh adalah gambaran adanya kolaps  pada neonatus,bahkan pada penyakit dasar bukan kardiak sekalipun. Apabila penyakit dasarnya adalah kardiak , penyebab yang sering adalah sindrom hipoplastik jantung kiri, stenosis aorta kritikal, interupsi arkus aorta dan koarktasio aorta.
Bising jantung
Interpretasi bising jantung pada masa awal neonatus seringkali sulit dan kesulitan ini berhubungan dengan beberapa faktor. Pertama : adanya perubahan yang cepat tekanan dan resistensi  arteri pulmonalis  yang terjadi pada jam-jam awal setelah lahir pada bayi normal.
Aliran darah turbulen melalui duktus arteriosus menyebabkan terdengarnya bising dalam periode singkat akibat turunya tekanan arteri pulmonalis. Sebaliknya bising VSD mungkin tidak terdengar untuk beberapa waktu karena tingginya resistensi paru pada umur beberapa hari / minggu pertama kehidupan.
            Bising ejeksi sistolik bernada rendah dapat terdengar pada ± 60% neonatus normal , biasanya terdengar dengan baik di mid prekordium atau di area pulmonal. Penyebab bising ini tidak diketahui. Bising dati duktus yang sedang menutup dapat kontinyu atau murni sistolik dan biasanya timbul dan hilang dalam periode waktu yang pendek5.
Pada kebanyakan kassus bising ini hanya ada beberapa jam saja. Pada neonatus prematur dapat menetap beberapa hari atau beberapa minggu, karena penutupan duktus yang terlambat. Adanya bising yang keras dan atau kasar, pada neonatus ,terdeteksi pada hari pertama, biasanya menunjukkan defek obstruktif seperti aorta stenosis, pulmonal stenosis atau tetralogy of fallot.
            Banyak PJB yang tidak berhubungan dengan bising jantung tertentu, khususnya pada neonatus,seperti ASD,TGA,koarktasio aorta dan sindrom jantung kiri hipoplastik. Koarktasio aorta yang disertai dengan VSD seringkali tampak dengan gagal jantung tetapi tidak ada bising. Sindrom jantung kiri hipoplastik dan TGA biasanya tampak dengan hanya  bising yang ringan atau tanpa   adanya bising.
            Sebaliknya neonatus tanpa defek structural yang serius, tetapi dengan distress kardio-respiratorik , mungkin dapat terdengar bising, bernadatinggi, bersifat meniup, pansistolik, berhubungan dengan regurgitasi tricuspid sebagai akibat dilatasi ventrikel kanan karena adanya hipertensi pulmonal kaibat hipoksia,asidosis, penyakit paru, atau factor-faktor lainnya.bising ini akan hilang apabila keadaan membaik.
            Bising diastolic tidak biasa pada neonatus, menunjukkan adanya defek kardiak yang berat seperti trunkus arteriosus,atau TOF dengan absent pulmonary valve. Bising kontiyu menunjukkan adanya duktus arteriosus. Dengan adanya sianosis sentral yang tidak responsive dengan pemberian oksigen, adanya bising demikian mengarahkan kepada kemungkinan diagnosis atresia pulmonal dengan aliran kolateral ke paru melalui PDA atau collateral aorto-pulmonal yang lain.

2.6 Alat Bantu Diagnosis Sederhana
a. Foto thoraks
Perkiraan besar jantung pada neonatus kadang-kdang keliru. Pada hari pertama setelah lahir gambaran jantung tampak besar. CTR < 0.6 biasanya normal pada periode neonatus.. kardiomegali yang nyata dapat tampak pada adanya gagal jantung.
Gambaran vaskularisasi paru pada foto thoraks neonatus mungkin sulit ditentukan karena relatif sedikit lapangan paru yang terlihat. Diluar daerah hilus beberapa pembuluh darah besar mungkin terlihat, apabila meningkat menunjukkan adanya pulmonary plethora.
Sebaliknya berkurangnya aliran darah ke paru daapat dilihat dari berkurangnya vaskularisasi paru, yang tampak sebagai garis-garis tipis, lapangan paru perifer tampak lebih gelap dari normal (pulmonary oligaemia).
Pelebaran ruang-ruang jantung secara spesifik sulit ditentukan secara tepat pada neonatus. Pelebaran mediastinum superior sering tampak pada umur ini,kadang mengarah pada kecurigaan suatu malformasi seperti TAPVD, hampir selalu karena timus yang besar.
b. Elektrokardiogram
Pemeriksaan EKG secara  serial sering membantu apabila dicurigai adanya abnormalitas. Hal ini dilakukan karena adanya perubahan yang cepat yang terjadi pada minggu-minggu pertama kehidupan dan adanya  ventrikel kanan yang dominan pada masa awal kehidupan.
Pemeriksaan EKG masih mempunyai kontribusi yang bermakna dalam diagnosssssis dan penentuan progres penyakit. Informasi yang bermanfaat yang bias didapat dari EKG antara lain : irama, hipertrofi/hipoplasia ventrikel, pelebaran atrium, iskemia miokardium.penentuan sumbu P atau QRS dapat memberikan arah akan adanya defek jantung.
c. Sumbu jantung
Sumbu QRS pada umur minggu pertama normal antara + 120o dan ± 180o. deviasi sumbu QRS ke kanan (+180o sampai +210o )  dapat terlihat pada hipertrofi ventrikel kanan,tetapi seringkali masih dalam batas normal untuk neonatus. Overload ventrikel kiri sering berhubungan dengan sumbu QRS antara 0o sampai 90o. deviasi sumbu QRS ke kiri antara –30o sampai –120o selalu patologis. Sumbu P abnormal umumnya berhubungan dengan dekstrokardia, situs inversus,atau PJB kompleks dengan cardio-viseral isomerism.
d. Hipertrofi ventrikel
Sulit mendiagnosis hipertrofi ventrikel kanan pada neonatus. Hipertrofi ventrikel kiri lebih mudah didiagnosis . Hipoplasia ventrikel apabila didapatkan  voltase rendah pada ventrikel tersebut dan voltase yang tinggi pada ventrikel lainnya.
e. Echokardiografi
Echokardiografi 2 dimensi yang dilengkapi echokardiografi doplertelah menggantikan sebagian besar kateterisasi jantung, karena alat ini memberikan diagnosis PJB yang detail. Mobilitas alat memungkinkan pemeriksaan dapat dilakukan di ruang neonatus tanpa mengganggu bayi dalam inkubatornya. Pemeriksaan yang menyeluruh memerlukan pengetahuan yang menyeluruh tentang anatomi 3 dimensi jantungdan patologi anatomi kelainan jantung yang umum atau yang jarang. Tanpa pemahaman yang mendalam  tidak mungkin melakukan interpretasi data dengan  tepat.

f. Tes hiperoksik dan penentuan
Pemeriksaan PaO2 dan hematokrit sangat membantu dalam diagnosis dan penatalaksanaan neonatus dengan sianosis. Umumnya direkomendasikan pengambilan sampel darah dari lengan kanan (a.radialis) untuk menghindari pengaruh pirau kanan ke kiri melalui duktus arteriosus.
 Pada keadaan tekanan oksigen rendah, pemeriksaan diulangi setelah pemberian oksigen 100% selama 10-20 menit. Apabila hipoksia sentral berkaitan dengan faktor respirasi PaO2 akan meningkat > 150 mmHg. Sebaliknya pada PJB sianotik PaO2 tetap dibawah 100 mmHg,sering kurang dari 50 mmHg6. Tes ini hanyavalid jika bayi telah diventilasi baik.
            Tersedianya pulse oxymeter untuk monitor non invasif saturasi oksigen (dan nadi) bermanfaat untuk menilai kemajuan terapi pada neonatus dengan PJB sianotik.
2.7 Saat Rujukan
a. Neonatus simptomatik
Semua neonatus simptomatik harus dirujuk segera karena kemungkinan besar penyebabnya adalah kardiak. Pengecualian hanya neonatus dengan malformasi non kardiak yang berat yang perlu perhatian atau tidak kompatibel untuk hidup. Urgensi rujukan tergantung pada kondisi bayi dan kemungkinan perburukan keadaan.
 Temuan klinis yang mengarah ke “ductus dependent defect” perlu segera dirujuk, karena defek jenis ini cepat memburuk, khususnya bayi dengan sianosis atau yang nyata atau gambaran yang mengarah ke koarktasio aorta. Apabila memungkinkan rujukan didampingi tenaga medis/paramedis, dengan infus intravena. Prostaglandin E1 dapat diberikan kalau ada,untuk mempertahankan duktus tetap terbuka. Fasilitas untuk intubasi dan ventilasi harus disertakan karena efek samping infus prostaglandin adalah apnea.

b. Neonatus asimptomatik
Evaluasi yang teliti harus dilakukan pada neonatus asimptomatik untuk menentukan diagnosis kardiak yang paling mungkin dan kemungkinan adanya masalah dikemudian hari.
Foto thoraks dan EKG harus dilakukan secara rutinapabila pulsasi nadi semuanya teraba normal , bayi minum normal,tanpa sianosis atau gagal jantung,dapat diasumsikan bahwa bayi ini dalam kondisi kompensasi dan dapat ditoleransi dalan jangka pendek.
Namun demikian diperlukan kepastian diagnosis dalam minggu-minggu awal kehidupan apabila memungkinkan. Adanya tanda yang mengarah ke koarktasio aorta harus mendapat perhatian dan rujukan awal harus dikakukan. Apabila septal defek dengan hipertensi pulmonal penting menyiapkan rujukan dalam 2 – 3 bulan walaupun tanpa gejala. Pada pulmonal atau aorta stenosis penting menentukan apakah termasuk ringan, sedang atau berat. Apabila melebihi ringan, pemeriksaan kardiologi lebih awal diperlukan. Pada setiap anak dengan tanda VSD kecil dan mulai tampak sianosis harus dicurigai menderita Tetralogy of Fallot dan perlu segera dirujuk.





BAB III
STUDI KASUS
3.1 Studi Kasus
Bayi umur 3 bulan sesak nafas, jika menangis tampak biru dari bibir dan ujng jari, menetenya sebentar-sebentar.



BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Analisis

Ø  Tindakan / pertolongan pertama yang bisa dilakukan
·         Jika bayi sianosis (biru) atau sukar bernafas (frekuensi  <30 atau >60 x per menit, tarikan dinding dada ke dalam atau merintih).
-          Isap mulut dan hidung untuk memastikan jalan napas bersih.
-          Beri oksigen 0,5 l/menit lewat kateter hidung atau nasal prong
-          Rujuk ke kamar bayi atau ke tempat pelayanan yang dituju.
·         Jaga bayi agar tetap hangat. Bungkus bayi dengan kain lunak, kering, selimuti, dan pakai topi untuk mencegah kehilangan napas.
Penggunaan Oksigen
Ingat selalu:
·         Pemberian oksigen hanya pada sianosis atau sukar bernapas
·         Jika terdapat tarikan dinding dada ke dalam, atau megap-megap, atau sianosis menetap, tingkatkan konsentrasi oksigen dengan kateter nasal, nasal prong, atau kap oksigen.

Catatan: Pemberian oksigen secara sembarangan pada bayi prematur dapat menyebabkan kebutaan.
Penilaian
Banyak kondisi serius pada bayi baru lahir- misalnya infeksi bakteri, malformasi, asfiksia berat, penyakit hialin membran pada prematur dengan gejala yang sama dengan sukar bernafas dan minum lemah atau tidak mau minum.
Diagnosis banding sukar tanpa bantuan tes diagnosis lengkap. Meskipun demikian tondakan segera harus dilakukan tanpa diagnosis yang khusus. Bayi dengan masalah diatas harus segera dirujuk.

Ø  Bagaimana cara merujuknya
Rujukan Bayi
·         Jelaskan kondisi/masalah bayi kepada ibu
·         Jaga bayi agar tetap hangat, bungkus bayi dengan kain lunak dan kering, selimuti dan pakai topi.
·         Rujuk dengan digendong petugas, jika memungkinkan. Gunakan inkubator atau basinet jika perlu tindakan khusus, misalnya pemberian oksigen.
·         Mulai menyusui dini.
·         Ajari memeras payudara dan ASI yang akan diberikan kepada bayi jika menyusui dini tidak dimungkinkan oleh kondisi ibu atau bayi.
·         Pastikan kamar bayi NICU (Neonatal Intensive Care Unit) atau tempat pelayanan yang dituju menerima formulir riwayat persalinan, kelahiran, dan tindakan yang diberikan kepada bayi.

Ø  Apa yang harus disampaikan pada ibu dari bayi tersebut
·      Jelaskan mengenai kondisi dan pengobatannya sehingga dapat dimengerti benar oleh ibu tersebut dan suaminya.
·      Memberikan dukungan psikologis serta besarkan hati ibu
·      Memberikan informasi tindakan yang tepat yang harus dilakukan oleh ibu terhadap bayinya.
·      Bidan memberikan informasi mengenai penyakit jantung bawaan dan dianjurkan untuk sementara tidak menyusui sampai keadaan jantung cukup baik.
·      Mengusulkan melakukan tindakan pertama


  


BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penyakit jantung bawaan adalah kelainan struktur jantung yang sudah terdapat sejak lahir. Kelainan terjadi karena adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal pembentukan jantung, yang dimulai saat terjadinya pembuahan dan secara lengkap terbentukm pada minggu ke delapan kehamilan.
Dapat disimpulkan bahwa dalam kasus yang telah kami analisa memiliki ciri-ciri dari penyakit jantung bawaan, yaitu:
-          Kulit di sekitar mulut, bibir, dan lidah berwarna kebiruan disebut juga sianosis
-          Napas tersengal-sengal atau sesak napas
-          Kurang nafsu makan atau kesukitan menyusui
-          Kegagalan dalam pertumbuhan (sulit meningkatkan berat badan atau berat badan menurun)
-          Bising jantung tak normal
Dalam kasus ini sebaiknya dilakukan rujukan agar dapat ditangani dengan baik.
5.2  Saran
Pengetahuan masyarakat mengenai PJB (penyakit jantung bawaan) masih minim, sehingga orangtua tidak mengetahui bayi mereka mengidap penyakit jantung. Maka dari itu disinilah peran bidan dalam memberikan pengetahuan kepada masyarakat agar orangtua yang mengetahui bayi mengidap penyakit jantung dapat ditangani dengan baik dan bisa terdeteksi secara dini.




DAFTAR PUSTAKA
Barri, Abdul. 2002. Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

No comments:

Post a Comment