Thursday, January 5, 2012

ASUHAN PADA BAYI SEGERA SETELAH LAHIR

ASUHAN PADA BAYI SEGERA SETELAH LAHIR


Soadara/sodari YTH.... setiap mengunjungi Blog ini Jangan Lupa ya nge-Klik Iklan nya.....
Terima kasih :)

Keadaan bayi sangat tergantung pada tergantung pada pertumbuhan janin di dalam uterus, kualitas pengawasan antenatal, penyakit-penyakit ibu waktu hamil, penanganan persalinan dan perawatan sesudah lahir. Penanggulan bayi tergantung pada keadaannya, apakah ia normal atau tidak. Di antara bayi normal ada yang membutuhkan pertolongan medik segera (sindroma gangguan pernapasan, asfiksia berat, perdarahan, hiperbilirubinemia oleh karena ketidak cocokan golongan darah ibu dan anak dan lain-lain) dan tindakan operatif seperti atresia ani, fistula trakeoesofagus, hernia diafragmatika, atresia duodeni dan sebagainya. Bayi-bayi tersebut termasuk golongan bayi beresiko tinggi. Ada pula yang tidak memerlukan pertolongan segera seperti labioskisis, sindaktili, dan lain-lain.
Pada umumnya kelahiran bayi normal cukup dihadiri oleh bidan yang dapat diberi tanggung jawab penuh terhadap keselamatan ibu dan bayi pada persalinan normal. Oleh karena kelainan pada ibu dan pada bayi dapat terjadi beberapa saat sesudah selesainya persalinan yang dianggap normal, maka seorang bidan harus mengetahui dengan segera timbulnya perubahan-perubahan pada ibu dan bayi dan bila perlu, memeberikan pertolongan pertama, seperti menghentikan perdarahan, membersihkan jalan napas, memberikan oksigen, dan melakukan pernapasan buatan sampai ibu atau bayi dilihat oleh seorang dokter atau dibawa ke rumah sakit yang mempunyai perlengkapan serta perawatan yang baik, sehingga pengawasan dan pengobatan dapat dilakukan sebaik-baiknya. Cara paling baik untuk membawa bayi sakit ialah pada waktu bayi tersebut masih dalam kandungan, (bila janin yang akan lahir sudah diduga akan menderita penyakit berat, seperti ibu yang mempunyai rhesus negatif, gawat janin, letak sungsang, letak lintang, ibu dengan perdarahan antepartum dan lain-lain). Jika hal tersebut tidak mungkin dilaksanakan dan bayi sudah lahir dan perlu mendapat pertolongan segera, maka caranya adalah dengan meletakkannya tanpa baju di dalam inkubator yang tembus cahaya dengan ruangan sedemikian rupa sehingga bayi dapat mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 360C-370C. Inkubator ini juga dilengkapi dengan penghisap lendir, oksigen, resusitator, dan lain-lain. Dengan demikian perubahan-perubahan yang setiap saat dapat terjadi pada bayi, seperti apnea, sianosis, kejang, sindroma gangguan pernapasan, muntah, dan sebagainya dapat diketahui dengan segera dan dapat diberi pertolongan yang tepat pada waktunya.
Ø  Perawatan segera setelah bayi lahir
Persediaan alat-alat di kamar bersalin
Perlengkapan yang diperlukan di kamar bersalin ialah:
a)      Alat penghisap lendir (mucus extractor);
b)      Tabung oksigen dengan alat pemberi oksigen kepada bayi;
c)      Untuk menjaga kemungkinan terjadinya asfiksia perlu disediakan laringoskop kecil, masker muka kecil, kanula trakea, ventilator kecil untuk pernapasan buatan; selain itu perlu pula disediakan obat-obat seperti larutan glukosa 40%, larutan bikarbonas natrikus 7,5% dengan alat suntiknya dan nalorfin sebagai antidotum terdapat obat-obat berasal dari morfin atau petidin yang dapat mengakibatkan penekanan pernapasan pada bayi serta pemberian vitamin K yang untuk mencegah terjadinya perdarahan sebagai akibat dari ibu yang mendapat fenobarbital atau fenobarbital dan phenytoin, bayi yang kekurangan vitamin K yang perlu sebagai koenzim untuk membentuk faktor II, VII, IX, X serta bayi yang mendapat air susu ibu;
d)      Alat pemotong dan pengikat tali-pusat serta obat antiseptik dan kain kasa steril untuk merawat tali pusar;
e)      Tanda pengenal bayi yang sama dengan ibu;
f)        Tempat tidur bayi atau inkubator yang selalu dalam keadaan hangat, steril, dan dilengkapi panas pada waktu dipindah dari kamar bersalin ke tempat perawatan.
g)      Lain-lain: kapas, kain kasa, baju steril, serta obat antiseptik yang akan dipakai oleh dokter, mahasiswa, bidan dan peraawat sebelum menolong yang akan lahir;
h)      Stop-watch dan termometer;
i)        Bila kamar bersalin dingin oleh karena udara di daerah tersebut dingin atau oleh karena pemakaian alat pendingin, sebaiknya tempat untuk resusitasi diberi pemanasan khusus, supaya bayi tidak kedinginan dan menderita trauma dingin atau cold injury. Seperti diketahui bayi baru lahir terutama kehilangan panas oleh karena evaporasi (oleh sebab bayi basah) dan radiasi. Untuk mengatasi hal tersebut maka bayi harus segera dikeringkan dan dibungkus dengan handuk kering dan diletakkan di ruangan dengan suhu 280C-300C untuk mengurangi kehilangan panas kearena radiasi.
Sebelum bayi lahir semua hal tersebut di atas harus diperiksa apakah sudah steril, apakah semua alat sudah lengkap, dan apakah tidak ada yang macet. Tindakan umum pada semua bayi di kamar bersalin dan di tempat perawatan lainnya harus aseptik, suhu lingkungan harus diatur dan jalan napas harus selalu bebas.
A.       Adaptasi Fisiologis Bayi Baru Lahir Terhadap Kehidupan Di Luar Uterus
1.        Adaptasi Ekstra Uteri Yang Terjadi Cepat
a.      Perubahan Pernafasan
Saat kepala bayi melewati jalan lahir, ia akan mengalami penekanan yang tinggi pada toraksnya, dan tekanan ini akan hilang dengan tiba-tiba setelah bayi lahir. Proses mekanis ini menyebabkan cairan yang ada di dalam paru-paru hilang karena terdorong ke bagian perifer paru untuk kemudian diabsorpsi. Karena terstimulus oleh sensor kimia, suhu, serta mekanis akhirnya bayi memulai aktivasi nafas untuk pertama kali.
            Tekanan intratoraks yang negatif disertai dengan aktivasi napas yang pertama memungkinkan adanya udara masuk ke dalam paru-paru. Setelah beberapa kali napas pertama, udara dari luar mulai mengisi jalan napas pada trakea dan bronkus, akhirnya semua alveolus mengembang karena terisi udara.
            Fungsi alveolus dapat maksimal jika dalam paru-paru bayi terdapat surfaktan yang adekuat. Surfaktan membantu menstabilkan dinding alveolus sehingga alveolus tidak kolaps saat akhir napas.

Skema Permulaan Pernapasan Bayi Baru Lahir






a.      Perubahan Sirkulasi
Aliran darah dari plasenta berhenti pada saat tali pusat di klem. Tindakan ini menyebabkan suplai oksigen ke plasenta menjadi tidak ada dan menyebabkan serangkaian reaksi selanjutnya.
            Sirkulasi janin memiliki karakteristik sirkualsi bertekanan rendah. Karena paru-paru adalah organ tertutup yang berisi cairan, maka paru-paru memerlukan aliran darah yang minimal. Sebagian besar darah janin yang teroksigenasi melalui paru-paru mengalir melalui lubang antara atrium kanan dan kiri yang disebut foramen ovale. Darah yang kaya akan oksigen ini kemudian secara istimewa mengalir ke otak melalui duktus arteriosus.
            Karena tali pusat di klem, sistem bertekanan rendah yang berada pada unit janin plasenta terputus sehingga berubah menjadi sistem sirkulasi tertutup, bertekanan tinggi, dan berdiri sendiri. Efek yang terjadi segera setelah tali pusat di klem adalah peningkatan tahanan pembuluh darah sistemik. Hal yang paling penting adalah peningkatan tahanan pembuluh darah dan tarikan nafas pertama terjadi secara bersamaan. Oksigen dari nafas pertama tersebut menyebabkan sistem pembuluh darah paru berelaksasi dan terbuka sehingga paru-paru menjadi sistem bertekanan rendah.
            Kombinasi tekanan yang meningkat dalam sirkulasi sistemik dan menurun dalam sirkulasi paru menyebabkan perubahan tekana aliran darah dalam jantung. Tekana akibat peningkatan aliran darah di sisi kiri jantung menyebabkan foramen oale menutup, duktus arteriosus yang mengalirkan darah teroksigenasi ke otak janin kiri tak lagi diperlukan. Dalam 48 jam, duktus ini akan mengecil dan secara fungsional menutup akibat penurunan kadar prostaglandin E2 yang sebelumnya disuplai oleh plasenta. Darah teroksigenasi yang secara rutin mengalir melalui duktus arteriosus serta foramen ovale melengkapi perubahan radikal pada anatomi dan fisiologi jantung. Darah yang tidak kaya akan oksigen masuk ke jantung bayi menjadi teroksigenasi sepenuhnya di dalam paru, kemudian dipompakan ke seluruh bagian tubuh.
            Dalam beberapa saat, perubahan tekanan yang luar biasa terjadi di dalam jantung dan sirkulasi bayi baru lahir. Sangat penting bagi bidan untuk memahami perubahan sirkulasi janin ke sirkulasi bayi yang secara keseluruhan saling berhubungan dengan fungsi pernapasan dan oksigenasi yang adekuat.
b.      Termoregulasi
Sesaat sesudah bayi lahir ia akan berada ditempat yang suhunya lebih rendah dari dalam kandungan dan dalam keadaan basah. Bila dibiarkan saja dalam suhu kamar 250C maka bayi akan kehilangan panas melalui evaporasi, konduksi, konversi dan radiasi sebanyak 200 kalori/kg BB/menit, berikut adalah penjelasan mengenai konveksi, konduksi, radiasi, dan evaporasi :
1)        Konveksi
Hilangnya panas tubuh bayi karena aliran udara di sekeliling bayi, misal BBL diletakkan dekat pintu atau jendela terbuka.
2)        Konduksi
Pindahnya panas tubuh bayi karena kulit bayi langsung kontak dengan permukaan yang lebih dingin, misalnya popok atau celana basah tidak langsung diganti.
3)        Radiasi
Panas tubuh bayi memancar ke lingkungan sekitar bayi yang lebih dingin, misal BBL diletakkan di tempat dingin.
4)        Evaporasi
Cairan/air ketuban yang membasahi kulit bayi dan menguap, misalnya bayi baru lahir tidak langsung dikeringkan dari air ketuban.


Gambar : empat mekanisme kehilangan suhu tubuh bayi

Sedangkan pembentukan panas yang dapat diproduksi hanya 1/10 dari pada yang tersebut diatas, dalam waktu yang bersamaan. Hal ini akan menyebabkan penurunan suhu tubuh sebanyak 20C dalam waktu 15 menit. Kejadian ini sangat berbahaya untuk neonatus terutama BBLR, dan bayi asfiksia oleh karena mereka tidak sanggup mengimbangi penurunan suhu tersebut dengan vasokontriksi, insulasi dan produksi panas yang dibuat sendiri.akibat suhu tubuh yang rendah metabolisme jaringan akan meninggi dan asidosis metabolik yang ada (terdapat pada semua neonatus) akan bertambah berat, sehingga kebutuhan akan oksigen akan meningkat. Hipotermia ini juga dapat menyebabkan hipoglikemia. Kehilangan panas dapat dikurangi dengan mengatur suhu lingkungan (meringankan, membungkus badan dan kepala dan kemudian letakkan di tempat yang hangat seperti pangkuan ibu, tempat tidur dengan botol-botol hangat sekitar bayi atau dalam inkubator dan dapat pula di bawah sorotan lampu).
Suhu lingkungan yang tidak baik (bayi tidak dapat mempertahankan suhu tubuhnya sekitar 360C-370C) akan menyebabkan bayi menderita hipertermi, hipotermi dan trauma dingin (cold injury). Bayi baru lahir dapat mempertahankan suhu tubuhnya dengan mengurangi konsumsi energi serta merawatnya di dalam neutral thermal environment (NTE). Definisi dari NTE adalah suhu lingkungan rata-rata dimana produksi panas, pemakaian oksigen dan kebutuhan nutrisi untuk pertumbuhan adalah minimal agar suhu tubuh menjadi normal. NTE ini tidak sama untuk semua bayi, tergantung dari apakah bayi matur atau tidak, bayi dirawat dalam inkubator dengan berpakaian atau tanpa baju di bawah alat pemanas (radiant warmer). Bila radiant warmer dipakai maka harus dengan thermo-control untuk mempertahankan suhu kulit 36,50C.
Inkubator tanpa plastic heat shield dapat digunakan tabel Scope dan Ahmed (1996) untuk menentukan suhu inkubator seperti tertera di bawah ini.
Neutral thermal environment (NTE) tiga hari pertama
Berat badan (gram)
Suhu inkubator (oC)
1.000
1.500
2.000
2.500
3.000
4.000
35
34
33,5
33,2
33
32,5

·           Suhu kamar harus 280C-290C.
·           Suhu inkubator diturunkan 10C setiap minggu dan bila berat bayi sudah mencapai 1.800 gram bayi boleh dirawat di luar inkubator.

            Bayi baru lahir mempunyai kecenderungan untuk mengalami stres fisik akibat perubahan suhu di luar uterus. Fluktuasi (naik turunnya) suhu di dalam uterus minimal, rentang maksimal hanya 0,6 ºC sangat berbeda dengan kondisi di luar uterus.
            Tiga faktor yang paling berperan dalam kehilangan panas tubuh bayi.
1)        Luasnya permukaan tubuh bayi
2)        Pusat pengaturan suhu tubuh bayi yang belum berfungsi secara sempurna.
3)        Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas.
                        Pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi yang kedinginan untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat yang terdapat di seluruh tubuh, dan mereka mampu meningkatkan panas tubuh sampai 100%. Untuk membakar lemak coklat, seorag bayi menggunakan glukosa untuk mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh bayi baru lahir, dan cadangan lemak cokalt ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stres dingin. Semakin lama usia kehamilan, semakin banyak persedian lemak coklat bayi. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan muali mengalami hipoglikemia, hipoksia, dan asidosis. Oleh karena itu, upaya pencegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada bayi baru lahir. Suhu tubuh normal pada neonatus adalah 36,5-37,5ºC melalui pengukurna di aksila dan rektum, jika nilainya turun dibawah 36,5 ºC maka bayi mengalami hipotermia.
                        Hipotermia dapat terjadi setiap saat apabila suhu di sekeliling bayi rendah dan upaya mempertahankan suhu tubuh tidak diterapkan secara tepat, terutama pada masa stabilisasi yaitu 6-12 jam pertama setelah lahir. Misalkan bayi baru lahir dibiarkan basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir meskipun lingkungan di sekitar bayi cukup hangat.
            Gejala Hipotermia :
1)        Sejalan dengan menurunnya suhu tubuh, maka bayi menjadi kurang aktif, letargi, hipotonus, tidak kuat menghisap ASI, dan menangis lemah.
2)        Pernapasan megap-megap dan lambat, serta denyut jantung menurun.
3)        Timbul sklerema ; kulit mengeras berwarna kemerahan terutama di bagian punggung, tungkai, dan lengan.
4)        Muka bayi berwarna merah terang.
Hipotermia menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan terutama pada paru-paru, ikterus, dan kematian.
a.      Pengaturan glukosa
Untuk memfungsikan otak, bayi baru lahir memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Setelah tindakan tali pusat dengan klem pada saat lahir, seorang bayi harus mulai mempertahankan glukosa darahnya sendiri. Pada setiap baru lahir glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1-2 jam).
            Oleh karena kadar gula darah tali pusat yang 65mg/100ml akan menurun menjadi 50mg/100ml dalam waktu 2 jam setelah lahir, enersi tambahan yang diperlukan neonatus pada jam-jam pertama sesudah lahir diambil dari hasil metabolisme asam lemak sehingga kadar gula darah dapat mencapai 120mg/100ml. Bila oleh karena  sesuatu hal perubahan glukosa menjadi glikogen meningkat atau adanya gangguan pada metabolisme asam lemak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan neonatus, maka kemungkinan besar bayia akan menderita hipoglikemia, misalnya terdapat pada bayi BBLR, bayi dari ibu menderita DM, dll.
            Koreksi penurunan gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
1)        Melalui penggunaan ASI (bayi baru lahir sehat harus didorong untuk diberi ASI secepat mungkin setelah lahir).
2)        Melalui penggunaan cadangan glikogen (glikogenesis).
3)        Melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak (glukoneogenesis).
Bayi baru lahir yang tidak dapat mencerna makanan dalam jumlah yang cukup akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenesis), hal ini terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup. Seorang bayi yang sehat akan menyimpan glukosa sebagai glikogen terutama dalam hati selama bulan-bulan terakhir kehidupan dalam rahim. Seorang bayi yang mengalami hipotermia pada saat lahir akan mengalami hipoksia, maka ia akan mengganggu persediaan glikogen dalam jam pertama kelahiran. Inilah sebabnya mengapa sangat penting menjaga semua bayi dalam keadaan hangat. Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai hingga 3-4 jam pertama pada bayi cukup bulan yang sehat. Jika semua persediaan digunakan pada jam pertama, maka otak bayi dalam keadaan beresiko. Bayi baru lahir kurang bulan, lewat bulan, dan yang mengalami hambatan pertumbuhan dalam lahir serta distres janin merupakan resiko utama karena simpanan energi berkurang atau digunakan sebelum lahir. Gejala-gejala hipoglikemia bisa tidak jelas dan tidak khusus meliputi kejang-kejang secara halus, sianosis, apnea, menangis lemah, letargi, lunglai dan menolak makanan. Akibat jangka panjang hipoglikemia ialah kerusakan yang meluas di seluruh sel-sel otak, bidan harus sellau ingat bahwa hipoglikemia dapat tanpa gejala pada awalnya.
1.        Adaptasi Ekstra Uteri yang Terjadi Secara Kontinu
a.       Perubahan pada Darah
1)      Kadar hemoglobin (Hb)
Bayi dilahirkan dengan kadar Hb yang tinggi. Konsentrasi Hb normal dengan rentang 13,7-20 gr%. Hb yang dominan pada bayi adalah hemoglobin F yang secara bertahap akan mengalami penurunan selama 1 bulan. Hb bayi memiliki daya ikat (afinitas) yang tinggi terhadap oksigen, hal ini merupakan efek yang menguntungkan bagi bayi. Selama beberapa hari kehidupan, kadar Hb akan mengalami peningaktan sedangkan volume plasma menurun. Akibat penurunan volume plasma tersebut maka kadara hematokrit (Ht) mengalami peningkatan.
      Kadar Hb selanjutnya akan mengalami penurunan secara terus-menerus selama 7-9 minggu. Kadar Hb bayi usia 2 bulan normal adalah 12 gr%.
2)      Sel darah merah
Sel darah merah bayi baru lahir memiliki usia yang sangat singkat (80 hari) jika dibandingkan dengan orang dewasa (120 hari). Pergantian sel yang sangat cepat ini akan menghasilkan lebih banyak sampah metabolik, termasuk bilirubin yang harus dimetabolisme. Kadar bilirubin yang berlebihan ini menyebabkan ikterus fisiologis yang terlihat pada bayi baru lahir, oleh karena itu ditemukan hitung retikulosit yang tinggi pada bayi baru lahir, hal ini mencerminkan adanya pembentukan sel darah merah dalam jumlah yang tinggi.
3)      Sel darah putih
Jumlah sel darah putih rata-rata pada bayi baru lahir memiliki rentang mulai dari 10.000-30.000/mm2. Peningkatan lebih lanjut dapat terjadi pada bayi baru lahir normal selama 24 jam pertama kehidupan. Periode menangis yang lama juga dapat menyebabkan hitung sel darah putih meningkat.
Nilai Darah Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir Cukup Bulan        
Komponen
Rentang optimal
Konsentrasi Hb
14-20 gr%
Hitung sel darah merah
4,2-5,8 juta/mm2
Hematokrit
43-63%
Hitung retikulosit
3-7%
Hitung sel darah merah
10.000-30.000/mm2
Hitung trombosit
150.000-350.000/mm2
Granulosit
40-80%
Limfosit
20-40%
Monosit
3-10%

b.      Perubahan pada Sistem Gastrointestinal
Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Refleks muntah dan refleks batuk yang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan “gumoh” pada bayi baru lahir dan neonatus. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas yaitu kurang dari 30 cc untuk seorang bayi baru lahir cukup bulan, dan kapasitas lambung ini akna bertambah secara lambat bersamaan dengan pertumbuhannya.
Dengan adanya kapasitas lambung yang masih terbatas ini akan sangat penting bagi pasien untuk mengatur pola intake cairan pada bayi dengan frekuensi sedikit tapi sering, contohnya memberi ASI sesuai keinginan bayi. Usus bayi masih belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam saluran pencernaannya. Di samping itu bayi baru lahir juag belum dapat mempertahankan air secara efisien dibanding dengan orang dewasa, sehingga kondisi ini dapat menyebabkan diare yang lebih serius pada neonatus.
c.       Perubahan pada Sistem Imun
Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang didapat.
Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang berfungsi mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami:
1)      Perlindungan dari membran mukosa.
2)      Fungsi saringan saluran napas.
3)      Pembentukan koloni mikroba dikulit dan usus.
4)      Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.
Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing, tetapi sel-sel darah ini masih belum matang artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian.
BBL dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi anti bodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum bisa dilakukan sampai awal kehidupannya. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh. Karena adanya defisiensi kekebalan alami yang didapat ini, BBL sangat rentan terhadap infeksi. Reaksi BBL terhadap infeksi masih lemah dan tidak memadai, oleh karena itu pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting.
d.      Perubahan Pada Sistem Ginjal
BBL cukup bulan memiliki beberapa defisit struktural dan fungsional pada sistem ginjal. Banyak dari kejadian defisit tersebut akan membaik pada bulan pertamakehidupan dan merupakan satu-satunya masalah untuk bayi baru lahir yang sakit atau mengalami stres. Keterbatasan fungsi ginjal menjadi konsekuensi khusus jika bayi baru lahir memerlukan cairan intravena atau obat-obatan yang meningkatkan kemungkinan kelebihan cairan.
Ginjal bayi baru lahir menunjukan penururnan aliran darahn ginjal dan penurunan kecepatan filtrasi glomerulus, kondisi ini mudah menyebabkan retensi cairan dan intoksikasi air. Fungsi tubulus tidak matur sehingga dapat menyebabkan kehilangan natrium dalam jumlah besar dan ketidakseimbangan elektrolit lain.
Bayi baru lahir tidak dapat mengonsentrasikan urin dengan baik, tercermin dari berat jenis urine (1,004) dan osmaliltas urine yang rendah. Semua keterbatasan ginjal ini lebih buruk pada bayi kurang bulan.
BBL mengeksresikan sedikit urine pada 48 jam pertama kehidupan, yaitu hanya 30-60 ml. Normalnya dalam urine tidak terdapat protein atau darah, debris sel yang banyak dapat mengindikasikan adanya cedera atau iritasi dalam sistem ginjal. Bidan harus ingat bahwa adanya massa abdomen yang ditemukan pada pemeriksaan fisik seringkali adalah ginjal dan dapat mencerminkan adanya tumor, pembesaran atau penyimpangan didalam ginjal.

2.        Perlindungan Termal
Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kehilangan panas tubuh bayi baru lahir adalah sebagai berikut :
a.       Hangatkan dahulu setiap selimut, topi, pakaian dan kaos kaki bayi sebelum kelahiran.
b.      Segera keringkan BBL.
c.       Hangatkan dahulu area resusitasi BBL.
d.      Atur suhu ruangan kelahiran pada suhu 24 0C.
e.       Jangan lakukan pengisapan pada bayi baru lahir diatas alas tempat tidur yang basah.
f.        Tunda memandikan BBL sampai suhunya stabil selama 2 jam atau lebih.
g.       Atur agar ruangan perawatan bayi baru lahir jauh dari jendela, pintu, lubang ventilasi atau pintu keluar.
h.       Pertahankan kepala bayi baru lahir tetap tertutup dan badannya dibedong dengan baik selama 48 jam pertama.

                                             
3.        Pemeliharaan Pernafasan
a.      Stimulasi Taktil
Realisasi dari langkah ini adalah dengan mengeringkan badan bayi segera setelah lahir dan  melakukan masasse pada punggung. Jika observasi nafas bayi belum maksimal, lakukan stimulasi pada tel;apak kaki dengan menjentikan ujung jari tangan penolong
Gambar : rangsangan taktil pada bayi

b.      Mempertahankan Suhu Hangat Untuk Bayi
Suhu yang hangat akan sangat membantu menstabilkan upaya bayi dalam bernafas. Letakan bayi diatas tubuh pasien yang tidak ditutupi kain (dalam keadaan telanjang), kemudian tutupi keduanya dengan selimut yang telah dihangatkan terlebih dahulu. Jika ruangan ber-AC, sorotkan lampu penghangat kepada pasien dan bayinya.


Gambar . Mempertahankan Suhu yang Hangat bagi Bayi
c.       Menghindari prosedur yang tidak perlu
Ketika melakukan perawatan bayi baru lahir, hindari prosedur yang sebenarnya tidak perlu dilakukan seperti :
1)        Menghisap lender yang ada di saluran napas bayi, padahal bayi sudah berhasil menangis dan melakukan napas pertamanya.
2)        Melakukan stimulasi taktil yang berlebihan, menampar pipi bayi baru lahir.
3)        Memandikan bayi segera setelah lahir.
4)        Melakukan pemeriksaan fisik kepada bayi dalam satu jam pertama kelahiran. Sebaiknya biarkan bayi di atas perut pasien untuk melakukan inisiasi dini dan menstabilkan suhu tubuhnya melalui radiasi panas tubuhnya.

4.        PEMOTONGAN TALI PUSAT
Pemotongan dan perkiraan tali-pusat menyebabkan pemisahan fisik terakhir antara ibu dan bayi. Waktu pemotongan tali-pusat tergantung dari pengalaman seorang ahli kebidanan. Pemotongan sampai denyut nadi tali-pusat terhenti dapat dilakukan pada bayi normal, sedangkan pada bayi gawat (high risk baby) perlu dilakukan pemotongan tali-pusat secepat mungkin, agar dapat dilakukan resusitasi sebaik-baiknya.
Bahaya lain yang ditakutkan ialah bahaya infeksi. Untuk menghindari infeksi tali-pusat yang dapat menyebabkan sepsis, meningitis, dan lain-lain, maka di tempat pemotongan, di pangkal tali-pusat, serta 2,5 cm di sekitar pusat diberi obat antiseptik. Selanjutnya tali-pusat dirawat dalam keadaan steril/bersih dan kering.
Pembahasan mengenai pemotongan tali pusat berkaitan dengan kapan waktu yang tepat untuk mengklem atau menjepit tali pusat, diketahui ada dua perbedaan mengenai hal ini dengan rasionalisasi dari masing-masing pendapat tersebut.
a.       Penjepitan Tali Pusat Segera Setelah Bayi Lahir
Praktik ini umumnya didukung oleh komunitas obstetrik, namun tidak digunakan di beberapa Negara. Para pendukung praktik ini mengkhawatirkan adanya efek samping pada bayi jika penjempitan tali pusat ditunda seperti adanya gawat pernapasan, polisitemia, sindrom hiperviskositas, dan hiperbilirubinemia. Penjepitan dan pemotongan tali pusat dilakukan dengan segera jika keadaan bayi gawat dan membutuhkan tindakan resusitasi.
b.      Penundaan Penjepitan Tali Pusat
Para pendukung penundaan penjepitan tali pusat yakin bahwa peningkatan volume darah menguntungkan dan mendukung proses fisiologis alami pada transisi kehidupan ekstrauterus. Beberapa keuntungan penundaan penjepitan tali pusat antara lain:
1)      Berlanjutnya bolus/aliran darah teroksigenasi selama nifas pertama yang tidak teratur.
2)      Volume yang besar meningkatkan perfusi kapiler-kapiler paru-paru.
3)      Pencapaian oksigenasi adekuat yang lebih cepat membuat penutupan struktur janin seperti duktus arteriosus.
Untuk mendukung transfusi fisiologis, maka pada 1-3 menit pertama kehidupan letaknya bayi diatas perut pasien dalam keadaan tali pusat masih utuh. Posisi ini dapat meningkatkan aliran darah dalam jumlah sedang ke bayi baru lahir tanpa kemungkinan bahaya dari dorongan dan bolus darah yang banyak. Setelah 3 menit, sebagian besar aliran darah dari tali pusat telah masuk kedalam tubuh bayi baru lahir.
Walaupun aliran darah mungkin berbalik yaitu dari bayi ke plasenta, situasi ini kemungkinan besar tidak akan terjadi karena tali pusat akan mengalami spasme dengan cepat pada suhu di lingkaran luar uterus.
Setelah 3 menit bayi berada di atas perut pasien, lanjutkan prosedur pemotongan tali pusat sebagai berikut.
1)        Klem tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2 atau 3 cm dari pangkal pusat bayi(tinggalkanlah kira-kira 1 cm diantara kedua klem tersebut).
2)        Potonglah tali pusat di antara kedua klem sambil melindungi perut bayi dengan tangan kiri penolong.
3)        Pertahankan kebersihan pada saat pemotongan tali pusat, ganti sarung tangan jika ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusat dengan menggunakan gunting steril atau DTT.
4)        Ikatlah tali pusat dengan kuat atau gunakan penjepit khusus tali pusat.
5)        Periksa tali pusat setiap 15 menit, apabila masih terjadi perdarahan lakukan pengikatan sekali lagi dengan ikatan lebih kuat.
6)        Pastikan dengan benar bahwa tidak ada perdarahan tali pusat. Perdarahan 30 ml dari bayi baru lahir setara dengan 600 ml pada orang dewasa.
7)        Jangan mengoleskan salep atau zat apapun ke tempat tali pusat, hindari juga pembungkusan tali pusat. Tali pusat yang tidak tertutup akan mongering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit.
Gambar. Memotong Tali Pusat
Sumber : JNPK-KR, 2008

c.       Mengikat Tali Pusat
Setelah dipotong, tali pusat diikat menggunakan benang dengan kuat. Namun dengan perkembangan teknologi, pengikatan tali pusat saat ini dilakukan dengan menggunakan penjepitan untuk satu kali pakai sampai dengan tali pusat lepas. Penjepit ini biasanya terbuat dari plastik dan sudah dalam kemasan steril dari pabrik. Pengikatan dilakukan di jarak 2,5 cm dari umbilicus.

5.        Evaluasi Awal Bayi Baru Lahir
Evaluasi awal bayi baru lahir dilaksanakan segera setelah bayi baru lahir (menit pertama) dengan menilai dua indikator kesejahteraan bayi yaitu pernapasan dan frekuensi denyut jantung bayi, karena menit pertama bidan berpacu dengan waktu dalam melakukan pertolongan bayi dan ibunya, sehingga dua aspek ini sudah sangat mewakili kondisi umum bayi baru lahir. Penilaian ini mengacu pada SIGTUNA skor.
Ø  Evaluasi Nilai APGAR
Kata apgar diambil dari nama belakang penemunya yaitu Dr. Virginia Apgar, seorang ahli anak sekaligus ahli anastesi. Skor ini dipublikasikannya pada tahun 1952. Pada tahun 1962, seorang ahli anak bernama Dr. Josep Butterfield membuat akronomi dari kata APGAR yaitu Appearance (warna kulit), Pulse (denyut jantung), Grimace (respons refleks), Activity (tonus otot), dan Respiration (pernapasan).
Evaluasi ini digunakan mulai 5 menit pertama sampai 10 menit. Hasil pengamatan masing-masing aspek dituliskan dalam skala skor 0-2.
Aspek pengamatan bayi baru lahir
Skor
0
1
2
Appeareance/warna kulit
Seluruh tubuh bayi berwarna kebiruan.
Warna kulit tubuh normal, tetapi tangan dan kaki berwarna kebiruan.
Warna kulit seluruh tubuh normal.
Pulse/nadi
Denyut jantung tidak ada.
Denyut jantung <100 kali per menit.
Denyut jantung >100 kali per menit.
Grimace/respons reflex
Tidak ada respons terhadap stimulasi.
Wajah meringis saat distimulasi.
Meringis , menarik, batuk atau bersin saat stimulasi.
Activity/tonus otot
Lemah, tidak ada gerakan.
Lengan dan kaki dalam posisi fleksi dengan sedikit gerakan.
Bergerak aktif dan spontan.
Respiratory/pernapasan
Tidak bernapas, pernapasan lambat dan tidak teratur.
Menangis lemah, terdengar seperti merintih.
Menangis kuat, pernapasan baik dan teratur.

Penilaian APGAR 5 menit pertama dilakukan saat kala III persalinan dengan menempatkan bayi baru lahir di atas perut pasien dan ditutupi dengan selimut atau handuk kering yang hangat. Selanjutnya hasil pengamatan BBL berdasarkan kriteria diatas dituliskan dalam tabel APGAR skor seperti dibawah ini.
Aspek Pengamatan
5 menit pertama
10 menit pertama
A = Appeareance/warna kulit


P = pulse (denyut nadi/menit)


G = Grimace/tonus otot


A = Activity/gerak bayi


R = Respiratory/pernapasan bayi


Jumlah skor



Hasil dijumlahkan ke bawah untuk menentukan penatalaksanaan BBL dengan tepat, hasil penilaian pada 5 menit pertama merupakan patokan dalam penentuan penanganan segera setelah lahir.
Penanganan BBL berdasarkan APGAR skore
Nilai APGAR lima menit pertama
Penanganan
0 – 3
·       Tempatkan ditempat hangan dengan lampu sebagai sumber penghangat.
·       Pemberian Oksigen
·       Resusitasi
·       Stimulasi
·       Rujuk
4 – 6
·      Tempatkan dalam tempat yang hangat.
·      Pemberian oksigen.
·      Stimulasi taktil
7 – 10
·      Dilakukan penatalaksanaan sesuai dengan bayi normal.
Sumber : varney, 2008

A.       Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir Dengan Asfiksia
Pendahuluan
Hal yang mendasari dilaksanakannya resusitasi pada BBL adalah terjadinya asfiksia. 3 kondisi patofisiologis yang menyebabkan asfiksia yaitu kurangnya oksigenasi sel, retensi karbondioksida yang berlebihan, dan asidosis metabolik. Kombinasi dari ketiga hal tersebut menyebabkan kerusakan sel dan lingkungan biokimia yang tidak cocok dengan kehidupan.
Tujuan resusitasi adalah intervensi tepat waktu untuk mengembalikan efek-efek biokimia asfiksia sehingga mencegah kerusakan otak dan organ yang akibatnya akan ditanggung sepanjang hidup.
Sebelum bidan memutuskan untuk melakukan resusitasi, perlu adanya identifikasi dari kondisi bayi yang didasarkan pada beberapa hal berikut :
T   : Trauuma
A  : Asfiksia janin
M  : Medikasi internal
M  : Malformasi
S   : Sepsis
S   : Syok
Berdasarkan kemungkinan, adanya faktor-faktor ini, maka bidan seharusnya melakukan persiapan yang maksimalterhadap kelahiran bayi antara lain tempat yang kondusiif untuk melakukan resusitasi,peralatan dan obat-obatan yang selalu dalam kondisi siap pakai. Jika hasil pemeriksaan sejak proses kehamilan sampai dengan persalinan bidan memprediksi kondisi janin baik namun ternyata saat persalinan bayi memerlukan resusitasi, maka lakukanlah resusitasi ditempat bidan, sambil dilakukan resusitasi ruujuklah bayi ke RS. Pertolongan bayi akan lebih cepat jika bidan sudah menghubungi RS untuk menjemput bayi, bahkan akan lebih baik lagi jika bidan juga sudah menghubungi TIM penolong neonatus di RS tersebut sambil menjelaskan riwayat kehamilan dan persalinannya.
1.        Teknik Resusitasi Bayi Baru Lahir Yang Efektif
Teknik Membuat Pernapasan Yang Adekuat
a.       Pengisapan Lendir
Beberapa BBL tidak segera dapat melakukan pernapasan secara spontan karena tidak dapat mengeluarkan lendir sendiri, maka bidan harus melakukan pengisapan lendir. Pengisapan lendir dimulai dari mulut kemudian dilanjutkan ke hidung. Alat pengisap lendir yang digunakan adalah suction dengan selang yang lembut. Pengisapan lendir de lee tidak dianjurkan karena saat digunakan, tangan bidan akan terpajan cairan dari tubuh bayi. Cairan atau lendir kebanyakan berada di daerah orofaring bayi.
Gambar Alat Penghisap Lendir Mekanis
Sumber : JNPK-KR, 2008

Gambar Menghisap Lendir Bayi Menggunakan Penghisap Lendir De Lee
Sumber : JNPK-KR, 2008


b.      Posisi yang benar
Setiap bayi dengan gangguan pernapasan spontan sebaiknya ditempatkan dalam posisi tidur telentang dengan posisi leher sedikit ekstensi. Tindakan ini membantu meminimalkan penyempitan trakhea dan memaksimalkan aliran udara. Apabila oksiput bayi sangat bengkak, letakan gulungan kain setinggi 1-2 cm dibawah bahu bayi untuk mempertahankan jalan napas agar sedikit hiperekstensi.
Gambar. Posisi Bayi untuk Resusitasi yang Benar
Sumber : JNPK-KR, 2008.
c.       Stimulasi taktil
Sambil melakukan evaluasi usaha napas bayi, bidan melakukan stimulasi taktil untuk merangsang napas bayi. Apabila bayi apnea memberikan respons terhadap stimulasi taktil, berarti bayi berada dalam periode apnea primer.
d.      Pemberian oksigen
Apabila setelah stimulasi taktil bayi dapat bernapas dengan teratur dan spontan namun warna kulit bayi masih kehitaman, maka dapat diberikan oksigen 100% yang mengalir dengan bebas. Untuk memberikan oksigen dalam aliran bebas ini bidan dapat menggunakan selang oksigen yang dihubungkan dengan masker wajah atau bag anastesi yang ditempatkan di dekat wajah bayi. Warna kulit bayi yang kemerahan mengindikaiskan adanya peningkatan kondisi bayi, dan pemberian oksigen dapat dikurangi secara bertahap.
1)      Pemberian Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
Apabila tidak ada pernapasan teratur dan spontan atau jika warna kulit bayi tetap kehitaman, maka bidan harus memulai tindakan pemberian ventilasi tekanan positiif dengan menggunakan bag dan masker resusitsasi serta sumber oksigen dengan volume 5-10 liter/menit.
Gambar. (a) Masker dengan Ukuran yang Tepat (b) Posisi yang Benar untuk Ventilasi Bantuan
Sumber : Varney, 2008.
2)      Prosedur untuk Ventilasi Tekanan Positif (VTP)
Perlengkapan dan teknik pemberian ventilasi tekanan positif atau positife pressure ventilation (PPV) adalah sebagai berikut :
Perlengkapan
Metode
Kewaspadaan
Bag dengan pengukur tekanan yang dihubungkan dengan reservoir oksigen
1.     Lakukan pengisapan hidung dan orofaring untuk menghilangkan sekret.
2.     Atur posisi kepaa bayi pada posisi netral, karena jika hiperekstensi maka udara akan memasuki esofagus.
Ventilasi yang tidak adekuat dapat disebabkan oleh sekat yang buruk disekitar masker, leher fleksi atau hiperekstensi atau tekanan ventilasi tidak adekuat.
Masker wajah yang sesuai dengan ukuran bayi
Pasang masker diatas hidung dan mulut, pastikan sekatnya rapat.
Tekanan masker wajah yang dekat dengan mata bayi dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Stetoskope
Tekanan untuk napas pertama harus 40-50 cmH2O.
Ventilasi tekanan positif menyebabkan retensi udara didalam lambung. Setelah bagging selama periode waktu yang singkat, kosongkan lambung dengan memasukan selang NGT dan semua isi lambung harus dikeluarkan. Hal ini dilakukan untuk mencegah distensi lambung yang akan mengganggu ekspansi paru.
Selang NGT
Napas selanjutnya memerlukan tekanan sekitar 25 cmH2O atau tekanan terendah yang memungkinkan bidan untuk melihat ekspansi dinding dada.

Sumber oksigen yang dilembabkan dengan pengukur aliran.
1.          Biarkan ventilasi 40-50 kali/menit selama 23 menit.
2.          Minta asisten untuk melakukan auskultasi lobus atas anterior para untuk memeriksa pengisian udara.
3.          Lanjutkan pemberian oksigen yang mengalir bebas dengan masker wajah setelah bayi bernapas.


Gambar. Tabung dan Sungkup untuk Resusitasi
Sumber : JNPK-KR, 2008.
Gambar. Balon dan Sungkup
Sumber : JNPK-KR, 2008.
Irama pemberian VTP diilustrasikan dalam gambar berikut ini :
Gambar. Irama ventilasi tekanan positif
Sumber : Varney, 2008.
2.      Teknik Kompresi Jantung
Indikasi
Tindakan ini dilakukan jika frekuensi denyut jantung kurang dari 60 kali/menit.
Tujuan
Memberikan kompresi dengan frekuensi yang tepat, disertai dengan tekanan yang efeektif. Hindari adanya kerusakan organ-organ internal.
Prosedur tindakan
1)        Mutlak haru ada 2 orang penolong. Penolong pertama bertugas membeikan ventilasi menggunakan ambu bag, sementara penolong yang lain bertugas memberikan penekanan pada jantung bayi.
2)        Posisi kan kedua ibu jari penolong saling bersebelhan di atas 1/3 bawah sternum, tepat berada dibawah garis yang ditarik antara kedua puting.
3)        Tekan sternum dengan kedalaman 1/3 diameter anteroposterior dada dengan frekuensi 90 kali/menit diselingi ventilasi. Perbandingan kompresi dengan ventilasi 3 : 1 atau 3 kali kompresi dan 1 kali entilai setiap 2 detik.
4)        Ketika jeda kompresi, jangan pindahkan kedua jari penolong.
5)        Setelah 30 detik, penolon harus menghentikan kompresi dan mengevaluasi frekuensi jantung selama 6 detik.
6)        Apabila frekuensi jantung > 60 kali/menit, kompresi jantung dapat dihentikan namun VTP tetap dilanjutkan sampai ada pernapasan spontan.
Gambar. Posisi tangan saat melakukan kompresi dada pada bayi asfiksia
Sumber : Varney, 2008.
Bounding attachment adalah sentuhan atau kontak kulit seawal mungkin antara bayi dengan ibu atau ayah dimasa sensitif pada mnit pertama dan beberapa jam setelah kelahiran bayi. Kontak ini menentukan tumbuh kembang bayi menjadi optimal. Pada proses ini terjadi penggabungan berdasarkan cinta dan penerimaan yang tulus dari orang tua terhadap anaknya dan memberikan dukungan asuhan dalam perawatannya. Kebutuhan menyentuh dan disentuh adalah kunci dari insting primata. Bayi mempelajari lingkungan melalui membedakan sentuhan dan pengalaman antara benda yang lembut dan yang keras, sama halnya dengan membedakan suhu panas dan dingin.
Para peneliti USA menemukan bahwa bayi prematur yang dipijat selama 15 menit dan dilakukan 3 kali/hari dalam waktu 10 hari akan mengalami peningkatan berat badan lebih cepat dan dapat pulang 6 hari lebih awal. Proyek penelitian USA dan kanada mendukung keefektifan dan keamanan dari perawatan kulit-kulit untuk bayi preterm. Orang tua menyebutnya “Asuhan Penuh Cinta”, mereka merasakan kenikmatan, kebahagiaan dan perasaan yang sangat luar biasa. Ibu dan ayah berbisik dan bernyanyi lembut untuk bayi mereka selama melakukan asuhan. Dilaporkan juga bahwa bayi yang mendapatkan asuhan ini lebih sedikit menangis, mendapatkan pertambahan berat badan yang cukup besar, lebih berhasil untuk menyusu ASI dan dipulangkan lebih awal.

3.        Pemberian Asi Awal
Langkah ini disebut dengan inisiasi menyusu dini (IMD). Beberapa penelitian membuktikan bahwa IMD membawa banyak sekali keuntungan untuk ibu dan bayi.
1)        Mendekatkan hubungan batin ibu dan bayi, karena pada IMD terjadi komunikasi batin secara sangat pribadi dan sensitif.
2)        Bayi akan mengenal ibunya lebih dini sehingga akan memperlancar prses laktasi.
3)        Suhu tubuh bayi stabil karena hipotermi telah dikoreksi panas tubuh ibunya.
4)        Refleks oksitosin ibu akan berfungsi secara maksimal.
5)        Mempercepat produksi ASI, karena sudah mendapat rangsangan isapan dari bayi lebih awal.
Prosedur dan gambaran proses IMD
1)        Tempatkan bayi diatas perut ibunya dalam 2 jam pertama tanpa pembatas kain diantara keduanya (skin to skin contact), lalu selimuti ibu dan bayi dengan selimut hangat. Posisikan bayi dalam keadaan tengkurap.
2)        Setelah bayi stabil dan mulai beradaptasi dengan lingkungan luar uterus, ia akan mulai mencara puting susu ibunya.
Gambar. Menyusui dini setelah persalinan
Sumber : Varney, 2008.
3)        Hembusan angin dan panas tubuh ibu akan memancarkan bau payudara ibu, secara insting bayi akan mencari sumber bau tersebut.
4)        Dalam beberapa menit bayi akan merangkak ke atas dan mencara serta merangsang puting susu ibunya, selanjutnay ia akan mulai menghisap.
5)        Selama periode ini tangan bayia akan memasase payudara ibu dan selama itu pula refleks pelepasan hormon oksitosin ibu akan terjadi.
6)        Selama prosedur ini bidan tidak boleh meninggalkan ibu dan bayi sendirian. Tahap ini sangat penting karena bayi dalam kondisi siaga penuh. Bidan harus menunda untuk memandikan bayi, melakukan pemeriksaan fisik, maupun prosedur lain.

B.       Keadaan klinik bayi normal segera sesudah lahir
Pada waktu lahir bayi sangat aktif. Bunyi jantung dalam menit-menit pertama kira-kira 180/menit yang kemudian turun sampai 140/menit – 120/menit pada waktu bayi berumur 30 menit. Pernapasan cepat pada menit-menit pertama (kira-kira 80/menit) disertai dengan pernapasan cuping hidung, retraksi supra sternal dan interkostal, serta rintihan hanya berlangsung 10-15 menit. Kelanjutan keaktifan yang berlebihan ialah bayi menjadi tegang dan relatif tidak memberi reaksi terhadar rangsangan dari luar dan dari dalam. Dalam keadaan ini bayi tertidur untuk beberapa menit sampai 4 jam. Pada saat pertama kali bangun dari tidurnya ia menjadi mudah terangsang, dengan frekuensi bunyi jantung meningkat dan dengan perubahan warna serta kadang-kadang dengan keluarnya lendir dari mulut. Sesudah masa ini dilampaui keadaan bayi mulai stabil, daya isap serta refleks mulai teratur.
Ø  Rawat gabung (rooming-in)
Bila keadaan ibu dan bayi mengizinkan, bayi dirawat bersama ibu dalam satu kamar. Bayi ini pada waktu-waktu tertentu dikumpulkan dalam ruangan bayi yang berada di dekat kamar ibu, supaya ibu dapat beristirahat dan tidur dengan tenang tanpa diganggu oleh tangis bayi. Kontak dengan para pengunjung perlu dihindari. Bidan/perawat yang merawat ibu dan bayi bertanggungjawab terhadap bimbingan untuk ibu mengenai cara memberi minum (dengan ASI atau dengan botol).







DAFTAR PUSTAKA

Sulistyawati, Ari. 2010. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta : Salemba Medika.
Prawirohardjo, Sarwono. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo

No comments:

Post a Comment