Infeksi Nifas


A.       Definisi Infeksi kala nifas
Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5° C yang bukan merupakan keadaan yang patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas

·      Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab      apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38°C tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama 2 hari.1
·      Infeksi perperalis (infeksi nifas) adalah infeksi luka jalan lahir postpartum biasanya dari endometrium, bekas insersi plasenta.2

B.       Macam – Macam Bentuk Infeksi Nifas
a.    Infeksi pada perineum, vulva, vagina dan serviks : Gejalanya berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi dan kadang-kadang perih bila kencing. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat, suhu sekitar 38°C dan nadi di bawah 100 per menit. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39 - 40°C dengan kadang-kadang disertai menggigil.

b.    Subinvolusi uteri : Segera setelah persalinan berat rahim sekitar 1.000 gr dan selanjutnya mengalami masa proteolitik, sehingga otot rahim menjadi kecil ke bentuknya semula. Pada beberapa keadaan terjadinya proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilannya terlambat. Keadaan demikian disebut subinvolusi uteri. Penyebab terjadinya involusi uteri adalah terjadi infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya, terdapat bekuan darah, atau mioma uteri. Bagaimana sikap bidan menghadapi subinvolusi uteri? Bidan sebaiknya melakukan konsultasi ke puskesmas, dokter keluarga atau rumah sakit sehingga penderita mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan petunjuk dokter selanjutnya bidan dapat melakukan perawatan penderita setempat.

c.     Perdarahan kala nifas sekunder :  Perdarahan kala nifas sekunder adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam pertama. Kejadiannya tidak terlalu besar, apalagi dengan makin gencarnya penerimaan gerakan keluarga berencana. Penyebab utama perdarahan kala nifas sekunder adalah terdapatnya sisa plasenta atau selaput ketuban (pada grandemultipara dan kelainan bentuk implantasi plasenta), infeksi pada endometrium, dan sebagian kecil terjadi dalam bentuk mioma uteri bersamaan dengan kehamilan dan inversio uteri. Gejala klinis perdarahan kala nifas sekunder dapat terjadi perdarahan berkepanjangan melampaui patrun pengeluaran lokia normal.

d.     Endometritis : Kadang-kadang lokia tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiametra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas, penderita merasa kurang sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertama. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan tidak berbau.

e.     Septicemia dan piemia : Kedua-duanya merupakan infeksi berat namun gejala-gejala septicemia lebih mendadak dari piemia. Pada septicemia, dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah. Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara 39 - 40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat (140 - 160 kali/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam enam sampai tujuh hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi seperti piemia. Pada piemia, penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri, dan suhu agak meningkat. Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Suatu ciri khusus pada piemia   ialah   berulang-ulang   suhu  meningkat  dengan  cepat  disertai menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Ini terjadi pada saat dilepaskannya embolus dari tromboflebitis pelvika. Lambat laun timbul gejala abses pada paru-paru, pneumonia dan pleuritis. Embolus dapat pula menyebabkan abses-abses di beberapa tempat lain.
  1.  Peritonitis : Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia posterior untuk mencegah keluarnya melalui rektum atau kandung kencing. Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin; terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi. 
  2.  Sellulitis pelvika (Parametritis) : Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan sellulitis pelvika. Pada perkembangan peradangan lebih lanjut gejala-gejala sellulitis pelvika menjadi lebih jelas. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas ke berbagai jurusan. Di tengah-tengah jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap menjadi naik-turun disertai dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Dalam dua pentiga kasus tidak terjadi pembentukan abses, dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor di sebelah uterus mengecil sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku. Jika terjadi abses, nanah harus dikeluarkan karena selalu ada bahaya bahwa abses mencari jalan ke rongga perut yang menyebabkan peritonitis, ke rektum, atau ke kandung kencing.
  1. Salpingitis dan ooforitis : Gejala  salpingitis  dan  ooforitis tidak dapat dipisahkan dari  pelvio peritonitis. 




C.       Penyebab Infeksi nifas
Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan seperti eksogen (kuman datang dari luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh) dan endogen (dari jalan lahir sendiri). Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak patogen sebagai penghuni normal jalan lahir. Kuinan-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah :
1)      Streptococcus haemoliticus anaerobic
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat. Infeksi ini biasanya eksogen (ditularkan dari penderita lain, alat-alat yang tidak suci hama, tangan penolong, infeksi tenggorokan orang lain).

2)      Staphylococcus aureus
Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah sakit dan dalam tenggorokan orang-orang yang nampaknya sehat. Kuman ini biasanya menyebabkan infeksi terbatas, walaupun kadang-kadang menjadi sebab infeksi umum.
3)      Escherichia Coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rektum, menyebabkan infeksi terbatas pada perineum, vulva, dan endometriurn. Kuman ini merupakan sebab penting dari infeksi traktus urinarius
4)      Clostridium Welchii
Kuman ini bersifat anaerob, jarang ditemukan akan tetapi sangat berbahaya. Infeksi ini lebih sering terjadi pada abortus kriminalis dan partus yang ditolong oleh dukun dari luar rumah sakit

D.      Cara Infeksi pada infeksi nifas
Kemungkinan terbesar adalah bahwa si penolong sendiri membawa kuman kedalam rahim penderita ialah karena membawa kuman yang telah ada dalam vagina keatas, misalnya dengan pemeriksaan dalam.
Mungkin juga tangan penolong atau alat-alatnya masuk membawa kuman-kuman dari luar misalnya dengan infeksi tetes. Karena itu baiknya memakai masker dalam kamar bersalin dan pegawai dengan infeksi jalan nafas bagian atas hendaknya ditolak dikamar bersalin.
Kadang-kadang infekis datang dari penolong sendiri misalnya kalau ada luka pada tangannya yang kotor atau dari pasien lain seperti pasien dengan infeksi puerperalis, luka operasi yang meradang dengan carcinoma uteri atau dari bayi dengan infeksi tali pusat. Mungkin juga infeksi disebabkan coitus pada bulan terakhir 

E.       Mekanisme terjadinya (suci)
Terjadinya infeksi kala nifas adalah sebagai berikut :
1.    Manipulasi penolong : terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam, alat yang dipakai kurang suci hama (steril)
2.    Infeksi yang di dapat di rumah sakit (nosokomial)
3.    Hubungan seks menjelang persalinan
4.    Sudah terdapat infeksi intrapartum : persalinan lama terlantar, ketuban pecah lebih dari enam jam, terdapat pusat infeksi dalam tubuh (fokal infeksi)
Bentuk infeksi kala nifas bervariasi dari yang bersifat local sampai terjadi sepsis dari kematian puerperium. Bentuk infeksi dapat dijabarkan sebagai berikut :
1        Bentuk infeksi local :
·        Infeksi pada luka episiotomy
·        Infeksi vagina
·        Infeksi pada serviks yang luka
2        Bentuk infeksi general (menyebar)
·        Parametritis
·        Peritonitis
·        Sepsikemi dan piemia
3        Penyebaran infeksi kala nifas dapat melalui :
·        Berkelanjutan-perkontinuitatum
·        Melalui pembuluh darah
·        Melalui pembuluh limfa
·        Penyebaran melalui bekas implantasi plasenta


Gambaran klinis infeksi kala nifas dapat dalam bentuk :
a         Infeksi local
·        Pembengkakan luka episiotomy
·        Terjadi pernanahan
·        Perubahan warna local
·        Pengeluaran lokia bercampur nanah
·        Mobilisasi terbatas-karena rasa nyeri
·        Temperature badan dapat meningkat
b        Infeksi umum
·        Tampak sakit dan lemah
·        Temperature meningkat di atas 39°C.
·        Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat
·        Pernafasan dapat meningkat dan terasa sesak
·        Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma
·        Terjadi gangguan involusi uterus
·        Lokia : berbau dan bernanah serta kotor
Dengan gambaran klinis tersebut bidan dapat menegakan diagnosis infeksi kala nifas. Pada kasus dengan infeksi ringan, bidan dapat memberikan pengobatan, sedangkan infeksi kala nifas yang berat sebaiknya bidan berkonsultasi atau merujuk penderita. Persalinan normal yang ditolong dengan baik tidak terlalu banyak terjadi infeksi kala nifas. Dalam upaya menurunkan infeksi kala nifas dapat dilakukan pencegahan sebagia berikut :
1        Pencegahan pada waktu hamil
·        Meningkatkan keadaan umum penderita
·        Mengurangi factor predisposisi infeksi kala nifas
2        Saat persalinan
·        Perlukaan dikurangi sebanyak mungkin
·        Perlukaan yang terjadi dirawat sebaik-baiknya
·        Mencegah terjadi perdarahan postpartum
·        Kurang melakukan pemeriksaan dalam
·        Hindari persalinan yang berlangsung lama
3        Kala nifas
·        Lakukan mobilisasi dini, sehingga darah-lokia keluar dengan lancar.
·        Perlukaan dirawat dengan baik
·        Rawat gabung dengan isolasi untuk mengurangi infeksi nonsokomial

F.        Gejala & gambaran klinis
a.      Infeksi pada perineum, vulva, vagina dan serviks : perasaan nyeri dan panas timbul pada luka yang berinfeksi dan kalau terjadi penanahan dapat disertai dengan suhu tinggi dan menggigil. Gejalanya berupa rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi dan kadang-kadang perih bila kencing. Bila getah radang bisa keluar, biasanya keadaannya tidak berat, suhu sekitar 38°C dan nadi di bawah 100 per menit. Bila luka terinfeksi tertutup oleh jahitan dan getah radang tidak dapat keluar, demam bisa naik sampai 39 - 40°C dengan kadang-kadang disertai menggigil.
b.        Endometritis : Kadang-kadang lokia tertahan oleh darah, sisa-sisa plasenta dan selaput ketuban. Keadaan ini dinamakan lokiametra dan dapat menyebabkan kenaikan suhu. Uterus pada endometritis agak membesar, serta nyeri pada perabaan dan lembek. Pada endometritis yang tidak meluas, penderita merasa kurang sehat dan nyeri perut pada hari-hari pertama. Mulai hari ke-3 suhu meningkat, nadi menjadi cepat, akan tetapi dalam beberapa hari suhu dan nadi menurun dan dalam kurang lebih satu minggu keadaan sudah normal kembali. Lokia pada endometritis, biasanya bertambah dan kadang-kadang berbau. Hal ini tidak boleh dianggap infeksinya berat. Malahan infeksi berat kadang-kadang disertai oleh lokia yang sedikit dan tidak berbau. Gambaran klinis endometritis berbeda-beda tergantung pada virulensi kuman penyebabnya. Biasanya demam mulai 48 jam postpartum dan bersifat naik turun (remittens). Lochia bertambah banyak, berwarna merah atau coklat dan berbau. Lochia berbau tidak selalu menyertai endometritis sebagai gejala. Sering ada subinvolusi. Leucocyt naik antara 15000-30000/mm3 . sakit kepala, kurang tidur dan kurang nafsu makan dapat mengganggu penderita. Kalau infeksi tidak meluas maka suhu turun dengan berangsur-angsur dan turun pada hari ke 7-10.
c.       Septicemia dan piemia : Kedua-duanya merupakan infeksi berat namun gejala-gejala septicemia lebih mendadak dari piemia. Pada septicemia, dari permulaan penderita sudah sakit dan lemah. Sampai tiga hari postpartum suhu meningkat dengan cepat, biasanya disertai menggigil. Selanjutnya, suhu berkisar antara 39 - 40°C, keadaan umum cepat memburuk, nadi menjadi cepat (140 - 160 kali/menit atau lebih). Penderita meninggal dalam enam sampai tujuh hari postpartum. Jika ia hidup terus, gejala-gejala menjadi seperti piemia. Pada piemia, penderita tidak lama postpartum sudah merasa sakit, perut nyeri, dan suhu agak meningkat. Akan tetapi gejala-gejala infeksi umum dengan suhu tinggi serta menggigil terjadi setelah kuman-kuman dengan embolus memasuki peredaran darah umum. Suatu ciri khusus pada piemia   ialah   berulang-ulang   suhu  meningkat  dengan  cepat  disertai menggigil, kemudian diikuti oleh turunnya suhu. Ini terjadi pada saat dilepaskannya embolus dari tromboflebitis pelvika. Lambat laun timbul gejala abses pada paru-paru, pneumonia dan pleuritis. Embolus dapat pula menyebabkan abses-abses di beberapa tempat lain
d.        Peritonitis : Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya endometritis, tetapi dapat juga ditemukan bersama-sama dengan salpingo-ooforitis dan sellulitis pelvika. Selanjutnya, ada kemungkinan bahwa abses pada sellulitis pelvika mengeluarkan nanahnya ke rongga peritoneum dan menyebabkan peritonitis. Peritonitis, yang tidak menjadi peritonitis umum, terbatas pada daerah pelvis. Gejala-gejalanya tidak seberapa berat seperti pada peritonitis umum. Penderita demam, perut bawah nyeri, tetapi keadaan umum tetap baik. Pada pelvioperitonitis bisa terdapat pertumbuhan abses. Nanah yang biasanya terkumpul dalam kavum douglas harus dikeluarkan dengan kolpotomia posterior untuk mencegah keluarnya melalui rektum atau kandung kencing. Peritonitis umum disebabkan oleh kuman yang sangat patogen dan merupakan penyakit berat. Suhu meningkat menjadi tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung, kulit muka dingin; terdapat apa yang dinamakan facies hippocratica. Mortalitas peritonitis umum tinggi. Gejala lain sebagai berikut :
-          Nyeri seluruh perut spontan maupun pada palpasi.
-          Demam menggigil.
-          Nadi cepat dan kecil
-          Perut gembung tapii kadang-kadang ada diare.
-          Muntah
-          Pasien gelisah, mata cekung.
-          Sebelum mati ada delirium  dan coma.

e.       Sellulitis pelvika (Parametritis) : Jika suhu postpartum tetap tinggi, lebih dari 1 minggu maka parametritis harus dicuriagai. Ada nyeri sebelah atau kedua belahdi perut bagian bawah sering memancar pada kaki. Setelah beberapa waktu pada toucher dapat teraba infiltrat dlam parametrium yang kadang-kadang mencapai dinding panggul. Infiltrat ini dapat diresorpsi kembali tapi lambat sekali dan menjadi keras : sama sekali tidak dapat digerakkan. Kadang-kadang infiltrat ini menjadi abses. Sellulitis pelvika ringan dapat menyebabkan suhu yang meninggi dalam nifas. Bila suhu tinggi menetap lebih dari satu minggu disertai dengan rasa nyeri di kiri atau kanan dan nyeri pada pemeriksaan dalam, hal ini patut dicurigai terhadap kemungkinan sellulitis pelvika. Pada perkembangan peradangan lebih lanjut gejala-gejala sellulitis pelvika menjadi lebih jelas. Pada pemeriksaan dalam dapat diraba tahanan padat dan nyeri di sebelah uterus dan tahanan ini yang berhubungan erat dengan tulang panggul, dapat meluas ke berbagai jurusan. Di tengah-tengah jaringan yang meradang itu bisa tumbuh abses. Dalam hal ini, suhu yang mula-mula tinggi secara menetap menjadi naik-turun disertai dengan menggigil. Penderita tampak sakit, nadi cepat, dan perut nyeri. Dalam dua pentiga kasus tidak terjadi pembentukan abses, dan suhu menurun dalam beberapa minggu. Tumor di sebelah uterus mengecil sedikit demi sedikit, dan akhirnya terdapat parametrium yang kaku. Jika terjadi abses, nanah harus dikeluarkan karena selalu ada bahaya bahwa abses mencari jalan ke rongga perut yang menyebabkan peritonitis, ke rektum, atau ke kandung kencing.
f.        Salpingitis dan ooforitis : Gejala  salpingitis  dan  ooforitis tidak dapat dipisahkan dari  pelvio peritonitis. Salpingitis sering diasebabkan oleh GO, biasanya terjadi pada minggu ke 2. Pasien demam menggigil dan nyeri pada perut bagian bawah biasanya kiri dan kanan. Salpingitis dapat sembuh dalam  2 mingguu tapi dapat mengakibatkan sterilitas .
g.      Sapraemia (retention fever) : demam karena retensi gumpalan darah atau selaput janin. Demam ini dengan tiba-t iba turun setelah darah dan selaput keluar. Keadaan ini dicurigai kalau pasien yang demam terus menerus  merasakan his. Kalau penderita demam dan perdarahan agak banyak, maka mungkin jaringan placenta ada yang tertinggal.
h.      Thrombophlebitis pelvica : biasanya terjadi dalam minggu ke 2 dengan gejala yaitu ;
-          Demam menggigil , biasanya sebelumnya pasien sudah memperlihatkan suhu yang tidak tenang seperti pada endometritis kalau membuat kultur darah sebaiknya diambil waktu pasien menggigil atau sesaat sebelumnya.
-          Penyulit ialah abses paru, pleuritis, pneumonia dan abses ginjal.
-          Penyakit berlangsung antara 1-3 bulan dan angka kematian tinggi. Kematian biasanya karena penyulit paru-paru.
i.        Thrombophlebitis femoralis : terjadi antara hari ke 10-20 ditandai dengan kenaikan suhu dan nyeri pada tungkai biasanya yang kiri. Tungkai itu biasanya tertekuk dan terputar ke luar dan agak sukar digerakkan. Kaki yang sakit biasanya lebih panas dari kaki yang sehat. Palpasi menunjukkan adanya nyeri sepanjang salah satu vena kaki yang teraba sebagai utas yang keras biasanya pada paha. Timbul oedem yang jelas biasanya mulai pada ujung kaki atau pada paha dan kemudian naik ke atas. Oedema ini lambat sekali hilang. Keadaan umum pasien tetap baik. Kadang-kadang terjadi thrombophlebitis pada kedua tungkai.
j.        Sepsis Puerperalis :
-          Suhu tinggi (40o C atau lebih ) biasanya remittens.
-          Menggigil
-          Keadaan umum buruuk , puls kecil dan tinggi, nafas cepat, gelisah.
-          Hb menurun karena hemolisis dan leukositos

G.      Faktor predisposisi
Faktor yang terpenting yang memudahkan terjadinya infeksi nifas ialah :.
a.    Semua keadaan yang menurunkan daya tahan penderita seperti perdarahan banyak, diabetes, preeklamsi, malnutrisi, anemia. Kelelahan juga infeksi lain yaitu pneumonia, penyakit jantung dan sebagainya.
b.    Proses persalinan bermasalah seperti partus lama/macet terutama dengan ketuban   pecah   lama,   korioamnionitis,   persalinan   traumatik yang menyebabkan adanya jaringan nekrosis yang merupakan tempat subur bagi kuman, kurang baiknya proses pencegahan infeksi dan manipulasi yang berlebihan, retensio plasenta sebagian atau seluruhnyapun memudahkan terjadinya infeksi.
c.    Tindakan obstetrik operatif baik pervaginam maupun perabdominam.
d.    Tertinggalnya sisa plasenta, selaput ketuban dan bekuan darah dalam rongga rahim.
e.    Episiotomi atau laserasi.
f.      Tindakan bedah vagina yang menyebabkan perlukaan jalan lahir.
g.    Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam

H.      Patologi
Setelah persalinan, tempat bekas perlekatan plasenta pada dinding rahim merupakan luka yang cukup besar. Patologi infeksi puerperalis samadengan infeksi luka. infeksi ini dapat :
-         Terbatas pada lukanya (infeksi luka perineum, vagina, serviks, atau endometrium)
-         Infeksi itu menjalar dari luka ke jaringan sekitarnya. (tromboplebitis, parametritis, salpingitis, peritonitis)
Setelah kala III, daerah bekas insertio plasenta merupakan sebuah luka dengan diameter kira-kira 4 cm, permukaan tidak rata, berbenjol-benjol karena banyaknya vena yang ditutupi trombus. Serviks sering mengalami perlukaan pada persalinanan, begitu juga vulva, vagina, perineum merupakan tempat dimana masuknya kuman patogen. Proses radang dapat terbatas pada luka-luka tersebut atau dapat menyebar di luar luka asalnya.

I.         Prognosis
Yang paling dapat dipercayai untuk membuat prognosa ialah nadi : jika nadi tetap dibawah 100 maka prognosa baik, sebaliknya kalau nadi diatas 130, apalagi kalau tidak ikut turun dengan turunnya suhu maka prognosany kurang baik. 
Demam yang continu lebih buruk prognosanya dari demam yang remittens. Demam menggigil berulang-ulang , insomnia dan icterus, merupakan tanda-tanda yang kurang baik.
Kadar Hb yang rendah dan jumlah leukosit yang rendah atau sangat tinggi memperburuk prognosa.
Diagnosa peritonitis, thrombopeblitis pelvica mengandung prognosa yang kurang baik.

J.        Pencegahan  Infeksi Nifas
  1. Masa kehamilan
1)   Mengurangi atau mencegah faktor-faktor predisposisi seperti anemia, malnutrisi dan kelemahan serta mengobati penyakit-penyakit yang diderita ibu.
2)   Pemeriksaan dalam jangan dilakukan kalau tidak ada indikasi yang perlu.
3)      Koitus  pada  hamil  tua hendaknya  dihindari  atau  dikurangi  dan dilakukan hati-hati karena dapat menyebabkan pecahnya ketuban. Kalau ini terjadi infeksi akan mudah masuk dalam jalan lahir.
  1. Selama persalinan
Usaha-usaha   pencegahan   terdiri   atas   membatasi   sebanyak   mungkin masuknya kuman-kuman dalam jalan lahir :
1)  Hindari partus terlalu lama dan ketuban pecah lama/menjaga supaya persalinan tidak berlarut-larut.
2)   Menyelesaikan persalinan dengan trauma sedikit mungkin.
3)   Perlukaan-perlukaan jalan lahir karena tindakan baik pervaginam maupun   perabdominam   dibersihkan,   dijahit   sebaik-baiknya   dan menjaga sterilitas.
4)   Mencegah terjadinya perdarahan banyak, bila terjadi darah yang hilang harus segera diganti dengan tranfusi darah.
5)   Semua petugas dalam kamar bersalin harus menutup hidung dan mulut dengan masker; yang menderita infeksi pernafasan tidak diperbolehkan masuk ke kamar bersalin.
6)   Alat-alat dan kain-kain yang dipakai dalam persalinan harus suci hama.
7)   Hindari pemeriksaan dalam berulang-ulang, lakukan bila ada indikasi dengan sterilisasi yang baik, apalagi bila ketuban telah pecah.
  1. Selama nifas
1)  Luka-luka dirawat dengan baik jangan sampai kena infeksi, begitu pula alat-alat dan pakaian serta kain yang berhubungan dengan alat kandungan harus steril.
2)   Penderita dengan infeksi nifas sebaiknya diisolasi dalam ruangan khusus, tidak bercampur dengan ibu sehat.
3)   Pengunjung-pengunjung dari luar hendaknya pada hari-hari pertama dibatasi sedapat mungkin.
 


A.       Pengobatan / profilaksis
Ø  Profilaksis
Dalam kehamilan : anemia dalam kehamilan perlu segera di obati karena anemia memudahkan terjadinya inifeksi. biasanya pengobatan anemia kehamilan adalah dengan pemberian tablet Fe. keadaan gizi penderita juga sangat menentukan yaitu harus diet harus memenuhi kebutuhan kehamilan dan niifas, harus seimbang dan mengandung cukup vitamin. Persetubuhan harusnya di tinggalkan selama 1-2 bulan terakhir kehamilan. Selama persalinan dalam persalinan 4 usaha penting harus di laksanakan.
1.      Membatasi kemasukan kuman-kuman ke dalam jalan lahir
2.      Membatasi perlukaan
3.      Membatasi perdarahan
4.      Membatasi lamanya persalinan.
Untuk menghindari kemasukan kuman maka teknik aseptik harus di pegang teguh. Tocher hanya di lakukan kalau ada indikasi. Petugas kesehatan hendaknya memakai masker dan petugas kesehatan  dengan infeksi jalan pernafasan bagian atas hendaknya tidak diperbolehkan bekerja di kamar bersalin. Setipa luka merupakan porte d’entree dan menambah perdarahan , maka perlukaan sedapat-dapatnya dicegah. Pembatasan perdarahan sangat penting dan ini terutama berlaku untuk kala 3 . kalau juga terjadi perdarahan yang banyak, maka darah yang hilang ini hendaknya segara diganti.

Untuk pasien dengan anemia, kehilangan darah yang sedikit saja sudah memerlukan transfusi .
Dalam nifas : jalan lahir setelah persalinan  masuk dimasuki kuman-kuman mengingat  adanya perlukaan. Tetapi jalan lahir terlindungi terhadap kemasukan kuman-kuman karena vulva tertutup.
Maka untuk mecegah infeksi janganlah kita membuka vulva atau memasukan jari ke dalam vulva misalnya waktu membersihkan perineum.  Irigasi tidak dibenarkan dalam 2 minggu pertama nifas. Semua pasien dengan infeksi hendaknya di asingkan supaya infeksi ini tidak menular kepada pasien lain.
Ø  Pengobatan
Adanya antibiotika dan chemotherapeutika sekarang ini,  sangat mengubah prognosa infeksi peurperalis dan pengobatan infeksi peurperalis dengan obat-obat tersebut merupakan usaha yang terpenting. Dalam memilih satu antibiotik untuk mengobati infeksi, terutama infeksi yang berat seperti pada sepsis puerperalis, kita tentu menyandarkan diri atas hasil test sensitivitas dari kuman penyebab.
Tapi sambil menunggu hasil test tersebut sebaiknya kita segera memberi dulu salah satu antibiotik supaya tidak membuang waktu dalam keadaan yang begitu gawat.
Pada saat yang sekarang peniciline adalah peniciline G atau peniciline setengah syntesis (ampicillin) merupakan pilihan yang paling tepat (renaissance dan penicilline).
Sebabnya karena peniciline bersifat bakteri (bukan bakteriostatis seperti tetracycline atau chloramphenicol) dan bersifat atoxis. Karena sifat atoxisnya ini penicilline  dapat diberikan dalam dosis yang sangat tinggi tanpa memberikan pengaruh toxis. Maka sebaiknya diberikan peniciline G sebanyak 5 juta S tiap 4 jam jadi 30 juta S setiap hari. Peniciline ini diberikan dengan injeksi inravena atau secara infus pendek selama 5-10 menit.
Peniciline dilarutkan dalam larutan glukose 5% atau RL.  Dapat juga dengan diberikan ampicilin 3-4 gr. Mula-mula intravena  atau intramuskular. Staphylococ yang peniciline resistent , tahan terhadap penicilline karena mengeluarkan penicilline. Preparat peniciline yang tahan peniciline adalah oxalicin, dicloxacilin dan methicilin.
Disamping pemberian antibiotika dalam pengobatan infeksi puerperalis masih diperlukan beberapa tindakan khusus untuk mempercepat penyembuhan infeksi tersebut.
·        Luka perineum, vulva, vagina
Kalau terjadi infeksi luka luar biasanya jahitan di angkat, supaya ada drainage getah-getah luka. Kompres untuk luka tersebut juga berguna.
·        Endometritis
Pasien sedapatnya mungkin diisolasi, tapi bayi boleh terus menyusu pada ibunya.  Untuk kelancaran pengaliran lochia, pasien boleh diletakkan dalam letak fowler dan diberikan juga uterotonika.
·        Thrombophlebitis  pelvic
Tujuan terapi pada thrombophlebitis adalah:
ü  Mencegah emboli paru-paru
ü  Mengurangi akibat-akibat thrombophlebitis (odema kaki yang lama, perasaan nyeri di tungkai). Pengobatan dengan antikoagulan (hepain, dicumarol) bermaksud untuk mengurangi terjadinya thrombus dan mengurangi bahaya emboli.
·        Thrombophlebitis femoralis
Kaki ditinggikan dan pasien harus tinggal di tempat tidur sampai seminggu sesudah demam sembuh.
Setelah pasien sembuh, ia dianjurkan supaya jangan lama-lama berdiri dan pemakaian kaos elastis baik sekali.
·        Peritonitis
Antibiotika diberikan dengan dosis yang tinggi, untuk menghilangkan kembung di perut dan diberi abot miller tube.
Cairan diberikan per infus. Transfusi darah dan Oksigen juga baik. Pasien biasanya diberi sedativa untuk menghilangkan rasa nyeri.
·        Parametritis
Pasien diberi antibiotika dan kalau ada fluktuasi perlu dilakukan insisi. Tempat insisi di atas lipat paha atau pada cavum Douglasi.

Perlukaan jalan lahir sudah dapat dipastikan terjadi pada setiap persalinan yang akan menjadi jalan masuknya bakteri yang bersifat komensal dan menjadi infeksius. Pertolongan persalinan yang bersih tidak memerlukan pengobatan umum tetapi pada persalinan yang di duga akan dapat terjadi infeksi kala nifas memerlukan profilaksis antibiotika. Bidan masih diperkenankan untuk memberikan antibiotika ringan seperti penisilin kapsul, preparat sulfa dan sebagainya. Disamping itu perawatan luka local perlu dilakukan sehingga mengurangi penyebaran infeksi kala nifas.
Pada kasus dengan infeksi kala nifas yang berat sebaiknya dirujuk dan dikonsultasikan sehingga mendapatkan pengobatan yang adekuat. Sebagian infeksi kala nifas yang berat perlu di rawat dirumahsakit, sehingga dapat dilakukan observasi, karena dapat dilakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan jiwa penderita.

L.       Tatalaksana




DAFTAR PUSTAKA

1      Manuaba, IBG, Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan Dan Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta : EGC
2      Obstetri Patologi, Oleh Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNPAD
3      Taber, Ben-zion. Kapita Selekta Kedaruratan Obstetri dan Ginekologi. Jakarta :EGC
4      Prawirohardjo, Sarwono. 2005. Ilmu Kandungan. Jakarta : YPWP



Comments

Popular posts from this blog

CONTOH SOAP ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN

PROSEDUR KLINIK : PEMERIKSAAN URINE IBU HAMIL ( GLUKOSA URINE & PROTEIN URINE )

PERENCANAAN KESEHATAN (HEALTH PLANNING)