RSS

EKLAMPSI DAN PREEKLAMPSI



      A.    DEFINISI
Preeklampsia merupakan kelainan yang ditemukan pada waktu kehamilan yang ditandai dengan berbagai gejala klinis seperti hipertensi,  proteinuria dan edema. Preeklampsia biasanya terjadi setelah umur kehamilan 20 minggu sampai 48 jam setelah persalinan (Verney et al, 2006). Preeklampsia merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitasi endotel (Cunningham et al, 2005).
Definisi klasik preeklampsia meliputi 3 elemen, yaitu onset baru hipertensi (didefinisikan sebagai suatu tekanan darah yang menetap 140/90 mmHg pada wanita yang sebelumnya normotensi), onset baru proteinuria (didefinisikan sebagai › 300 mg/24 jam atau +2 pada urinalisis bersih tanpa infeksi traktus urinarius), dan onset baru edema yang bermakna. Beberapa konsensus terakhir dilaporkan bahwa edema tidak lagi dimasukkan sebagai kriteria diagnosis kecuali edema anasarka (Pangemanan, 2002).
Preeklampsia dan eklampsia merupakan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, edema dan kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma (Mochtar, 2002). Sindrom preeklampsia ringan dengan hipertensi, proteinuria dan edema sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan, sehingga tanpa disadari timbul preeklampsia berat, bahkan eklampsia pada ibu hamil (Prawirohardjo, 2006).


B.     PREDISPOSISI
Faktor-faktor presdisposisi preeklampsia/eklampsia antara lain :
a.       Paritas
Preeklampsia lebih tinggi terjadi pada primigravida dibandingkan dengan multipara. Resiko preeklampsia/eklampsia pada primigravida dapat terjadi 6 sampai 8 kali dibanding multipara (Chapman, 2006). Preeklampsia/eklampsia lebih sering terjadi pada usia muda dan nullipara diduga karena adanya suatu mekanisme immunologi, hal ini dikarenakan pada kehamilan pertama terjadi pembentukan “blocking antibodies” terhadap antigen tidak sempurna dan semakin sempurna pada kehamilan berikutnya (Sudiyana, 2003). Selain itu pada kehamilan pertama terjadi pembentukan “Human Leucocyte Antigen Protein G (HLA)” yang berperan penting dalam modulasi respon imun, sehingga ibu menolak hasil konsepsi (plasenta) atau terjadi intoleransi ibu terhadap plasenta yang selanjutnya akan menimbulkan terjadinya preeklampsia (Angsar, 2004).
            Persalinan yang berulang-ulang juga akan mempunyai banyak risiko terhadap kehamilan (Rozikhan, 2006). Dinding rahim pada multipara lebih lemah bila dibanding dengan dinding rahim pada primipara. Hal tersebut terjadi karena pada multipara lebih sering terjadi robekan diding rahim dibandingkan pada primipara (Sastrawinata dkk, 2005).
                        Lemahnya dinding rahim akan menyebabkan kegagalan  invasi sel trofoblast pada dinding arteri spiralis yang tidak  dapat melebar dengan sempurna. Kegagalan  invasi sel trofoblast pada dinding arteri spiralis yang tidak dapat melebar dengan sempurna ini menyebabkan terjadinya aliran darah dalam ruang intervilus plasenta. Aliran darah dalam ruangan intervilus plasenta dapat menyebabkan terjadinya hipoksia plasenta. Hipoksia yang  berkelanjutan menyebabkan oxidative stress (apabila keseimbangan antara peroksidase terganggu, dimana peroksidase dan oksidan lebih dominan) dan dapat merangsang terjadinya kerusakan endotel pembuluh darah (disfungsi endotel) (Cunningham et al, 2005). Hipoksia plasenta dan oxidative stress merupakan dua tahap yang mendasari terjadinya patogenesis dari preeklampsia (Robert J.M, 2007).
  1. Faktor sosial ekonomi, pendidikan dan pekerjaan.
Kehidupan sosial ekonomi sering berhubungan dengan angka kejadian preeklampsia. Kelompok masyarakat yang miskin biasanya tidak mampu untuk membiayai perawatan kesehatan sebagaimana mestinya. Bahkan orang miskin tidak percaya dan tidak mau menggunakan fasilitas pelayanan medis yang tersedia. Pasien yang miskin dengan pemeriksaan antenatal yang kurang atau tidak sama sekali merupakan faktor predisposisi terjadinya pre-eklampsia/ eklampsia. Di bidang pendidikan dari hasil penelitian Agung Supriandono dan Sulchan Sofoewan menyebutkan bahwa 80 (49,7) kasus preeklampsia berat mempunyai pendidikan kurang dari 12 tahun, dibanding 72 (44,2%) kasus bukan preeklampsia berat. Aktifitas pekerjaan juga menjadi resiko terjadi preeklampsia karena pekerjaan berat dapat mempengaruhi kerja otot dan peredaran darah  pada seorang ibu hamil (Rozikhan, 2006)
c.       Umur
Seorang wanita yang berumur dibawah 20 tahun memiliki fungsi reproduksi yang belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal (Surjadi dkk, 2002). Secara fisik wanita tua akan akan mengalami kemunduran diantaranya berupa degeneratif jaringan, hilang kemampuan sel untuk membelah, turunnya fungsi efesien, toleransi obat dan homeostenosis (Sudoyo dkk, 2009). Gangguan hormonal juga biasanya ditemukan pada wanita yang sudah lanjut usia. Gangguan hormonal ini akan mengakibatkan intoleransi karbohidrat ringan maupun berat pada saat kehamilan (Sastrawinata dkk, 2005).
d.      Faktor genetik
       Beberapa bukti menunjukkan peran genetik pada kejadian preeklampsia antara lain terdapat kecenderungan meningkatnya  frekuensi preeklampsia pada anak dari ibu yang menderita preeklampsia, dan pada anak cucu ibu hamil preeklampsia (Sudhaberata, 2007).
e.       Riwayat penyakit ginjal
Walaupun sebagian penyakit ginjal dan saluran kemih menyertai kehamilan akan tetapi kehamilan itu sendiri dapat menjadi presdisposisi terjadinya gangguan saluran kemih, misalnya glomerulonefritis dan pielonefritis. Glomerulonefritis dan pielonefritis akan menimbulkan manifestasi klinis berupa peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah ini timbul karena vasospasme atau iskemia ginjal dan berhubungan dengan gejala serebrum dan kelainan jantung (Donald et al, 1998).  McCartney (1964) mempelajari hasil biopsi ginjal dari wanita dengan “preeklampsia klinis” dan menemukan glomerulonefritis kronik pada 20 persen nulipara dan 70 persen multipara (Cunningham et al, 2005).
Penyakit ginjal seperti glomerulonefritis dan pielonefritis dapat  meningkatkan tekanan darah. Aliran darah ke dalam ginjal menurun, menyebabkan filtrasi melalui glomerulus ikut menurun. Penurunan filtrasi glomerulus akibat spasme arteriol ginjal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerulus juga ikut menurun. Selanjutnya akibat penurunan filtrasi natrium tersebut akan terjadi retensi garam dan air. Adanya proteinuria merupakan tanda diagnostik preeklampsia/eklampsia (Prawirohardjo, 2006).
f.       Ante Natal Care (ANC) kurang dari 4 kali
          Pemeriksaan ANC yang teratur, bermutu, dan teliti dapat untuk menemukan tanda-tanda dini preeklampsia/eklampsia dan  memberikan intervensi dan rujukan. Walaupun timbulnya preeklampsia/eklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinnya dapat dikurangi dengan pengawasan yang baik pada ibu hamil (Prawirohardjo, 2006).
   Ibu bersalin yang melakukan ANC kurang dari 4 kali mempunyai resiko preeklampsia/eklampsia sebesar 2,684 kali dibanding ibu bersalin yang melakukan ANC lebih dari atau sama dengan 4 kali (Marnaini, 2005).
g.      Diabetes melitus
Secara klinik tidak dapat dipastikan hubungan antara hipertensi dengan diabetes melitus. Diabetes melitus sering diderita oleh orang gemuk, peningkatan berat badan akan berdampak  pada  peningkatan  tekanan  darah (Cunningham et al, 2005). Menurut penelitian di Swedia menyatakan bahwa wanita penderita diabetes pada kehamilan meningkatkan resiko preeklampsia dibandingkan dengan pada wanita normal (Ostlund et al, 2004).
Resistensi insulin terjadi berlebihan pada kasus preeklampsia bila dibandingkan dengan kehamilan normal. Resistensi insulin menyebabkan penurunan aktivasi vasodilatator dan induksi aktivasi simpatik yang berlebihan sehingga menyebabkan timbulnya disfungsi endotel  (Lampinen, 2009).
h.      Hipertensi  kronik
Hipertensi kronik menjadi penyulit dalam 1-3% kehamilan dan lebih sering pada wanita diatas 35 tahun (Lawelly, 2001). Diagnosis hipertensi kronik diisyaratkan oleh adanya hipertensi (140/90 mmHg atau lebih) sebelum kehamilan, hipertensi (140/90 mmHg atau lebih) yang terdeteksi usia kehamilan 20 minggu (kecuali apabila terdapat penyakit trofoblastik gestasional), dan hipertensi yang menetap lama setelah melahirkan. Semua gangguan hipertensi kronik apapun sebabnya merupakan presdeposisi timbulnya preeklampsia/eklampsia dalam kehamilan (Cuninngham et al, 2005)
i.          Obesitas
Angka kejadian preeklamsia lebih tinggi pada ibu-ibu yang obesitas. Untuk menilai kesesuaian berat badan dapat digunakan parameter BMI (Body Mass Index) yang didefinisikan sebagai berat badan (Kg) dibagi dengan tinggi badan (M2). BMI sebelum hamil : normal antara 19,8-26,0 Kg/M2 , kurus < 19,8 Kg/M2 dan gemuk > 26,0 Kg/M2 (Abrams and Pickett, 1999)
Indeks massa tubuh diatas 29 meningkatkan resiko empat kali lipat terjadinya preeklampsia. Peningkatan berat badan 0,5 kg seminggu pada ibu hamil dianggap normal, tetapi jika mencapai 1 kg seminggu atau 3 kg dalam sebulan kemungkinan timbulnya preeklampsia harus diwaspadai (Sastrawinata dkk, 2005).
j.          Kehamilan ganda
Kehamilan ganda dan molahidatidosa sering disertai gangguan hipertensi, hal ini mungkin disebabkan karena terdapatnya villi khorealis dalam jumlah yang banyak. Kehamilan ganda juga sering mempengaruhi hidropfetalis. Keregangan otot rahim oleh karena kehamilan ganda menyebabkan terjadinya iskemi uteri yang berakibat pada kemungkinan peningkatan preeklampsia/eklampsia (Sastrawinata dkk, 2005).
Preeklampsia dan eklampsia 3 kali lebih sering terjadi pada 105 kasus kembar dua, didapatkan 28,6% preeklampsia dan satu  kematian ibu karena eklampsia dan sebagai faktor penyebabnya ialah dislensia uterus. Hasil penelitian menyebutkan bahwa 8 (4%)  kasus  preeklampsia berat mempunyai jumlah janin lebih dari satu,  sedangkan pada kelompok kontrol, 2 atau 1,2% kasus mempunyai jumlah janin lebih dari satu (Rozikhan, 2006).
k.        Hidramnion
Air ketuban yang paling banyak pada minggu ke-28 ialah 1030cc. Dan terus berkurang hingga minggu ke-43. Apabila produksi air ketuban yang melebihi 2000cc, disebut hidramnion. Gejala-gejala hidramnion disebabkan oleh tekanan uterus yang sangat besar pada organ disekitarnya. Vasospasme yang disertai dengan retensi garam dan air akan didapatkan pada kejadian preeklampsia. Hidramnion  sering  terjadi  pada kehamilan ganda karena pada  kehamilan ganda satu telur, salah satu janin jantungnya lebih kuat. Pada hidramnion sering ditemukan plasenta besar, sehingga plasenta yang besar tersebut dapat memicu terjadinya preeklampsia/eklampsia (Sastrawinata dkk, 2005).


C.    DETEKSI DINI  ( DIAGNOSA )
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
a.         Preeklampsia ringan
Peningkatan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan sistolik ≥ 30 mmHg, diastolik ≥ 15 mmHg dari tekanan  darah awal/biasanya, yang terjadi pada kehamilan ≥ 20 minggu. Hipertensi ini diikuti oleh proteinuria dan edema patologik.
b.      Preeklampsia berat
Bila tekanan darah mencapai 160/110 mmHg disebut preeklamsia berat. Preeklampsia dimasukan kriteria berat walaupun tekanan darah belum mencapai 160/110 mmHg bila ditemukan gejala-gejala lain seperti:
1)      Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmhg atau diastolik ≥ 110 mmHg.
2)      Proteiuria ≥ + 3
3)      Oligouria (< 400ml/24 jam)
4)      Sakit kepala berat dan gangguan penglihatan
5)      Nyeri epigastrium atau nyeri kuadran kanan atas abdomen atau adanya ikterus.
6)      Edema patologik dan sianosis.
7)      Trombositopenia.
8)      Pertumbuhan janin terhambat.
c.       Eklampsia adalah kelanjutan atau gejala dan tanda preeklampsia yang disertai kejang dan koma.
Perlu ditekankan bahwa sindrom preeklampsia ringan dengan  hipertensia, edema, dan  proteinuria sering tidak diketahui atau tidak  diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan, sehingga tanpa disadari  dalam waktu singkat dapat timbul preeklamsia berat, bahkan eklamsia  (Prawirohardjo, 2006).


D.    PENATALAKSANAAN
               Penanganan dan penatalaksanaan preeklampsia bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklampsia, pertolongan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan  trauma  minimal (Prawirohardjo, 2006).
Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap kehamilan dengan penyulit preeklampsia/eklampsia adalah:
a.       Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinnya.
b.      Melahirkan bayi yang cukup bulan dan dapat hidup di luar.
c.       Pemulihan sempurna kesehatan ibu (Cunningham et al, 2005).
               Pengobatan hanya dapat dilakukan secara simptomatis karena  etiologi preeklampsia, dan faktor-faktor apa dalam kehamilan yang  menyebabkan preeklamsia belum diketahui. Tujuan utama  penanganan  ialah (1) mencegah terjadinya preeklampsia berat dan eklampsia; (2) melahirkan janin hidup; (3) melahirkan janin dengan trauma sekecil-kecilnya (Suhaeimi, 2008). Penatalaksanaan preeklampsia antara lain:
a. Preeklampsia ringan
Penatalaksanaan pada kehamilan kurang dari 37 minggu:
1) Rawat jalan :
a)      Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), refleks, dan kondisi janin.
b)      Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklampsia dan eklampsia
c)      Lebih banyak istirahat
d)     Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam)
e)      Tidak perlu diberi obat-obatan
2) Rawat di rumah sakit
a)        Diet biasa
b)        Pantau tekanan darah 2 kali sehari, dan urin (untuk proteinuria) sekali sehari
c)        Tidak perlu diberi obat-obatan
d)       Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis, atau gagal ginjal akut
e)        Jika tekanan sistolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan:
i. Nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia berat
ii. Kontrol 2 kali seminggu untuk memantau tekanan darah, urin, keadaan janin, serta tanda dan gejala preeclampsia berat
iii. Jika tekanan sistolik naik lagi, rawat kembali
f)         Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, tetap dirawat. Lanjutkan penanganan dan observasi janin
g)        Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan. Jika tidak, rawat sampai aterm
h)        Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat
Penatalaksanaan pada kehamilan lebih dari 37 minggu :
1)      Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin
2)      Jika serviks belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandin atau kateter foley atau lakukan seksio sesaria.
b. Preeklampsia berat
1)      Jika diastolik tetap lebih dari 110 mmHg, berikan obat antihipertensi sampai tekanan diastolik diantara 90-100 mmHg
2)      Pasang infus ringer laktat dengan jarum besar (16 gauge atau lebih besar)
3)      Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan
4)      Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria
5)      Jika jumlah urin kurang dari 30 ml perjam:
a)      Infus cairan dipertahankan 1 1/8 jam
b)      Pantau kemungkinan edema paru
6)      Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin
7)      Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung janin tiap jam
8)      Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru
9)      Hentikan pemberian cairan IV dan berikan diuretik jika ada edema paru
10)  Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan sederhana (bedside clotting test). Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati.
11)  Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada preeklampsia berat dan eklampsia.
12)  Jika terjadi kegagalan terapi medikamentosa, dan timbul gejala eklampsia dengan sindrom HELLP maka dilakukan terminasi kehamilan.




E.     PENCEGAHAN
  1. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
  2. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya Preeklampsia kalau ada faktor-faktor predeposisi
  3. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring ditempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat,garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.
  4. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda preeklampsia dan mengobatinya segera apabila ditemukan.
  5. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda-tanda preeklampsia tidak juga dapat di hilangkan.








EKLAMPSI DAN PREEKLAMPSI


A.    DEFINISI
Preeklampsia merupakan kelainan yang ditemukan pada waktu kehamilan yang ditandai dengan berbagai gejala klinis seperti hipertensi,  proteinuria dan edema. Preeklampsia biasanya terjadi setelah umur kehamilan 20 minggu sampai 48 jam setelah persalinan (Verney et al, 2006). Preeklampsia merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa berkurangnya perfusi organ akibat vasospasme dan aktivitasi endotel (Cunningham et al, 2005).
Definisi klasik preeklampsia meliputi 3 elemen, yaitu onset baru hipertensi (didefinisikan sebagai suatu tekanan darah yang menetap 140/90 mmHg pada wanita yang sebelumnya normotensi), onset baru proteinuria (didefinisikan sebagai › 300 mg/24 jam atau +2 pada urinalisis bersih tanpa infeksi traktus urinarius), dan onset baru edema yang bermakna. Beberapa konsensus terakhir dilaporkan bahwa edema tidak lagi dimasukkan sebagai kriteria diagnosis kecuali edema anasarka (Pangemanan, 2002).
Preeklampsia dan eklampsia merupakan kumpulan gejala yang timbul pada ibu hamil, bersalin dan dalam masa nifas yang terdiri dari trias : hipertensi, proteinuri, edema dan kadang-kadang disertai konvulsi sampai koma (Mochtar, 2002). Sindrom preeklampsia ringan dengan hipertensi, proteinuria dan edema sering tidak diketahui atau tidak diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan, sehingga tanpa disadari timbul preeklampsia berat, bahkan eklampsia pada ibu hamil (Prawirohardjo, 2006).


B.     PREDISPOSISI
Faktor-faktor presdisposisi preeklampsia/eklampsia antara lain :
a.       Paritas
Preeklampsia lebih tinggi terjadi pada primigravida dibandingkan dengan multipara. Resiko preeklampsia/eklampsia pada primigravida dapat terjadi 6 sampai 8 kali dibanding multipara (Chapman, 2006). Preeklampsia/eklampsia lebih sering terjadi pada usia muda dan nullipara diduga karena adanya suatu mekanisme immunologi, hal ini dikarenakan pada kehamilan pertama terjadi pembentukan “blocking antibodies” terhadap antigen tidak sempurna dan semakin sempurna pada kehamilan berikutnya (Sudiyana, 2003). Selain itu pada kehamilan pertama terjadi pembentukan “Human Leucocyte Antigen Protein G (HLA)” yang berperan penting dalam modulasi respon imun, sehingga ibu menolak hasil konsepsi (plasenta) atau terjadi intoleransi ibu terhadap plasenta yang selanjutnya akan menimbulkan terjadinya preeklampsia (Angsar, 2004).
            Persalinan yang berulang-ulang juga akan mempunyai banyak risiko terhadap kehamilan (Rozikhan, 2006). Dinding rahim pada multipara lebih lemah bila dibanding dengan dinding rahim pada primipara. Hal tersebut terjadi karena pada multipara lebih sering terjadi robekan diding rahim dibandingkan pada primipara (Sastrawinata dkk, 2005).
                        Lemahnya dinding rahim akan menyebabkan kegagalan  invasi sel trofoblast pada dinding arteri spiralis yang tidak  dapat melebar dengan sempurna. Kegagalan  invasi sel trofoblast pada dinding arteri spiralis yang tidak dapat melebar dengan sempurna ini menyebabkan terjadinya aliran darah dalam ruang intervilus plasenta. Aliran darah dalam ruangan intervilus plasenta dapat menyebabkan terjadinya hipoksia plasenta. Hipoksia yang  berkelanjutan menyebabkan oxidative stress (apabila keseimbangan antara peroksidase terganggu, dimana peroksidase dan oksidan lebih dominan) dan dapat merangsang terjadinya kerusakan endotel pembuluh darah (disfungsi endotel) (Cunningham et al, 2005). Hipoksia plasenta dan oxidative stress merupakan dua tahap yang mendasari terjadinya patogenesis dari preeklampsia (Robert J.M, 2007).
  1. Faktor sosial ekonomi, pendidikan dan pekerjaan.
Kehidupan sosial ekonomi sering berhubungan dengan angka kejadian preeklampsia. Kelompok masyarakat yang miskin biasanya tidak mampu untuk membiayai perawatan kesehatan sebagaimana mestinya. Bahkan orang miskin tidak percaya dan tidak mau menggunakan fasilitas pelayanan medis yang tersedia. Pasien yang miskin dengan pemeriksaan antenatal yang kurang atau tidak sama sekali merupakan faktor predisposisi terjadinya pre-eklampsia/ eklampsia. Di bidang pendidikan dari hasil penelitian Agung Supriandono dan Sulchan Sofoewan menyebutkan bahwa 80 (49,7) kasus preeklampsia berat mempunyai pendidikan kurang dari 12 tahun, dibanding 72 (44,2%) kasus bukan preeklampsia berat. Aktifitas pekerjaan juga menjadi resiko terjadi preeklampsia karena pekerjaan berat dapat mempengaruhi kerja otot dan peredaran darah  pada seorang ibu hamil (Rozikhan, 2006)
c.       Umur
Seorang wanita yang berumur dibawah 20 tahun memiliki fungsi reproduksi yang belum berkembang dengan sempurna, sedangkan pada usia diatas 35 tahun fungsi reproduksi seorang wanita sudah mengalami penurunan dibandingkan fungsi reproduksi normal (Surjadi dkk, 2002). Secara fisik wanita tua akan akan mengalami kemunduran diantaranya berupa degeneratif jaringan, hilang kemampuan sel untuk membelah, turunnya fungsi efesien, toleransi obat dan homeostenosis (Sudoyo dkk, 2009). Gangguan hormonal juga biasanya ditemukan pada wanita yang sudah lanjut usia. Gangguan hormonal ini akan mengakibatkan intoleransi karbohidrat ringan maupun berat pada saat kehamilan (Sastrawinata dkk, 2005).
d.      Faktor genetik
       Beberapa bukti menunjukkan peran genetik pada kejadian preeklampsia antara lain terdapat kecenderungan meningkatnya  frekuensi preeklampsia pada anak dari ibu yang menderita preeklampsia, dan pada anak cucu ibu hamil preeklampsia (Sudhaberata, 2007).
e.       Riwayat penyakit ginjal
Walaupun sebagian penyakit ginjal dan saluran kemih menyertai kehamilan akan tetapi kehamilan itu sendiri dapat menjadi presdisposisi terjadinya gangguan saluran kemih, misalnya glomerulonefritis dan pielonefritis. Glomerulonefritis dan pielonefritis akan menimbulkan manifestasi klinis berupa peningkatan tekanan darah. Peningkatan tekanan darah ini timbul karena vasospasme atau iskemia ginjal dan berhubungan dengan gejala serebrum dan kelainan jantung (Donald et al, 1998).  McCartney (1964) mempelajari hasil biopsi ginjal dari wanita dengan “preeklampsia klinis” dan menemukan glomerulonefritis kronik pada 20 persen nulipara dan 70 persen multipara (Cunningham et al, 2005).
Penyakit ginjal seperti glomerulonefritis dan pielonefritis dapat  meningkatkan tekanan darah. Aliran darah ke dalam ginjal menurun, menyebabkan filtrasi melalui glomerulus ikut menurun. Penurunan filtrasi glomerulus akibat spasme arteriol ginjal ini menyebabkan filtrasi natrium melalui glomerulus juga ikut menurun. Selanjutnya akibat penurunan filtrasi natrium tersebut akan terjadi retensi garam dan air. Adanya proteinuria merupakan tanda diagnostik preeklampsia/eklampsia (Prawirohardjo, 2006).
f.       Ante Natal Care (ANC) kurang dari 4 kali
          Pemeriksaan ANC yang teratur, bermutu, dan teliti dapat untuk menemukan tanda-tanda dini preeklampsia/eklampsia dan  memberikan intervensi dan rujukan. Walaupun timbulnya preeklampsia/eklampsia tidak dapat dicegah sepenuhnya, namun frekuensinnya dapat dikurangi dengan pengawasan yang baik pada ibu hamil (Prawirohardjo, 2006).
   Ibu bersalin yang melakukan ANC kurang dari 4 kali mempunyai resiko preeklampsia/eklampsia sebesar 2,684 kali dibanding ibu bersalin yang melakukan ANC lebih dari atau sama dengan 4 kali (Marnaini, 2005).
g.      Diabetes melitus
Secara klinik tidak dapat dipastikan hubungan antara hipertensi dengan diabetes melitus. Diabetes melitus sering diderita oleh orang gemuk, peningkatan berat badan akan berdampak  pada  peningkatan  tekanan  darah (Cunningham et al, 2005). Menurut penelitian di Swedia menyatakan bahwa wanita penderita diabetes pada kehamilan meningkatkan resiko preeklampsia dibandingkan dengan pada wanita normal (Ostlund et al, 2004).
Resistensi insulin terjadi berlebihan pada kasus preeklampsia bila dibandingkan dengan kehamilan normal. Resistensi insulin menyebabkan penurunan aktivasi vasodilatator dan induksi aktivasi simpatik yang berlebihan sehingga menyebabkan timbulnya disfungsi endotel  (Lampinen, 2009).
h.      Hipertensi  kronik
Hipertensi kronik menjadi penyulit dalam 1-3% kehamilan dan lebih sering pada wanita diatas 35 tahun (Lawelly, 2001). Diagnosis hipertensi kronik diisyaratkan oleh adanya hipertensi (140/90 mmHg atau lebih) sebelum kehamilan, hipertensi (140/90 mmHg atau lebih) yang terdeteksi usia kehamilan 20 minggu (kecuali apabila terdapat penyakit trofoblastik gestasional), dan hipertensi yang menetap lama setelah melahirkan. Semua gangguan hipertensi kronik apapun sebabnya merupakan presdeposisi timbulnya preeklampsia/eklampsia dalam kehamilan (Cuninngham et al, 2005)
i.          Obesitas
Angka kejadian preeklamsia lebih tinggi pada ibu-ibu yang obesitas. Untuk menilai kesesuaian berat badan dapat digunakan parameter BMI (Body Mass Index) yang didefinisikan sebagai berat badan (Kg) dibagi dengan tinggi badan (M2). BMI sebelum hamil : normal antara 19,8-26,0 Kg/M2 , kurus < 19,8 Kg/M2 dan gemuk > 26,0 Kg/M2 (Abrams and Pickett, 1999)
Indeks massa tubuh diatas 29 meningkatkan resiko empat kali lipat terjadinya preeklampsia. Peningkatan berat badan 0,5 kg seminggu pada ibu hamil dianggap normal, tetapi jika mencapai 1 kg seminggu atau 3 kg dalam sebulan kemungkinan timbulnya preeklampsia harus diwaspadai (Sastrawinata dkk, 2005).
j.          Kehamilan ganda
Kehamilan ganda dan molahidatidosa sering disertai gangguan hipertensi, hal ini mungkin disebabkan karena terdapatnya villi khorealis dalam jumlah yang banyak. Kehamilan ganda juga sering mempengaruhi hidropfetalis. Keregangan otot rahim oleh karena kehamilan ganda menyebabkan terjadinya iskemi uteri yang berakibat pada kemungkinan peningkatan preeklampsia/eklampsia (Sastrawinata dkk, 2005).
Preeklampsia dan eklampsia 3 kali lebih sering terjadi pada 105 kasus kembar dua, didapatkan 28,6% preeklampsia dan satu  kematian ibu karena eklampsia dan sebagai faktor penyebabnya ialah dislensia uterus. Hasil penelitian menyebutkan bahwa 8 (4%)  kasus  preeklampsia berat mempunyai jumlah janin lebih dari satu,  sedangkan pada kelompok kontrol, 2 atau 1,2% kasus mempunyai jumlah janin lebih dari satu (Rozikhan, 2006).
k.        Hidramnion
Air ketuban yang paling banyak pada minggu ke-28 ialah 1030cc. Dan terus berkurang hingga minggu ke-43. Apabila produksi air ketuban yang melebihi 2000cc, disebut hidramnion. Gejala-gejala hidramnion disebabkan oleh tekanan uterus yang sangat besar pada organ disekitarnya. Vasospasme yang disertai dengan retensi garam dan air akan didapatkan pada kejadian preeklampsia. Hidramnion  sering  terjadi  pada kehamilan ganda karena pada  kehamilan ganda satu telur, salah satu janin jantungnya lebih kuat. Pada hidramnion sering ditemukan plasenta besar, sehingga plasenta yang besar tersebut dapat memicu terjadinya preeklampsia/eklampsia (Sastrawinata dkk, 2005).


C.    DETEKSI DINI  ( DIAGNOSA )
Diagnosis ditegakkan berdasarkan :
a.         Preeklampsia ringan
Peningkatan tekanan darah ≥ 140/90 mmHg atau kenaikan tekanan sistolik ≥ 30 mmHg, diastolik ≥ 15 mmHg dari tekanan  darah awal/biasanya, yang terjadi pada kehamilan ≥ 20 minggu. Hipertensi ini diikuti oleh proteinuria dan edema patologik.
b.      Preeklampsia berat
Bila tekanan darah mencapai 160/110 mmHg disebut preeklamsia berat. Preeklampsia dimasukan kriteria berat walaupun tekanan darah belum mencapai 160/110 mmHg bila ditemukan gejala-gejala lain seperti:
1)      Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmhg atau diastolik ≥ 110 mmHg.
2)      Proteiuria ≥ + 3
3)      Oligouria (< 400ml/24 jam)
4)      Sakit kepala berat dan gangguan penglihatan
5)      Nyeri epigastrium atau nyeri kuadran kanan atas abdomen atau adanya ikterus.
6)      Edema patologik dan sianosis.
7)      Trombositopenia.
8)      Pertumbuhan janin terhambat.
c.       Eklampsia adalah kelanjutan atau gejala dan tanda preeklampsia yang disertai kejang dan koma.
Perlu ditekankan bahwa sindrom preeklampsia ringan dengan  hipertensia, edema, dan  proteinuria sering tidak diketahui atau tidak  diperhatikan oleh wanita yang bersangkutan, sehingga tanpa disadari  dalam waktu singkat dapat timbul preeklamsia berat, bahkan eklamsia  (Prawirohardjo, 2006).


D.    PENATALAKSANAAN
               Penanganan dan penatalaksanaan preeklampsia bertujuan untuk menghindari kelanjutan menjadi eklampsia, pertolongan melahirkan janin dalam keadaan optimal dan bentuk pertolongan dengan  trauma  minimal (Prawirohardjo, 2006).
Tujuan dasar penatalaksanaan untuk setiap kehamilan dengan penyulit preeklampsia/eklampsia adalah:
a.       Terminasi kehamilan dengan trauma sekecil mungkin bagi ibu dan janinnya.
b.      Melahirkan bayi yang cukup bulan dan dapat hidup di luar.
c.       Pemulihan sempurna kesehatan ibu (Cunningham et al, 2005).
               Pengobatan hanya dapat dilakukan secara simptomatis karena  etiologi preeklampsia, dan faktor-faktor apa dalam kehamilan yang  menyebabkan preeklamsia belum diketahui. Tujuan utama  penanganan  ialah (1) mencegah terjadinya preeklampsia berat dan eklampsia; (2) melahirkan janin hidup; (3) melahirkan janin dengan trauma sekecil-kecilnya (Suhaeimi, 2008). Penatalaksanaan preeklampsia antara lain:
a. Preeklampsia ringan
Penatalaksanaan pada kehamilan kurang dari 37 minggu:
1) Rawat jalan :
a)      Pantau tekanan darah, urin (untuk proteinuria), refleks, dan kondisi janin.
b)      Konseling pasien dan keluarganya tentang tanda-tanda bahaya preeklampsia dan eklampsia
c)      Lebih banyak istirahat
d)     Diet biasa (tidak perlu diet rendah garam)
e)      Tidak perlu diberi obat-obatan
2) Rawat di rumah sakit
a)        Diet biasa
b)        Pantau tekanan darah 2 kali sehari, dan urin (untuk proteinuria) sekali sehari
c)        Tidak perlu diberi obat-obatan
d)       Tidak perlu diuretik, kecuali jika terdapat edema paru, dekompensasi kordis, atau gagal ginjal akut
e)        Jika tekanan sistolik turun sampai normal pasien dapat dipulangkan:
i. Nasihatkan untuk istirahat dan perhatikan tanda-tanda preeklampsia berat
ii. Kontrol 2 kali seminggu untuk memantau tekanan darah, urin, keadaan janin, serta tanda dan gejala preeclampsia berat
iii. Jika tekanan sistolik naik lagi, rawat kembali
f)         Jika tidak ada tanda-tanda perbaikan, tetap dirawat. Lanjutkan penanganan dan observasi janin
g)        Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan. Jika tidak, rawat sampai aterm
h)        Jika proteinuria meningkat, tangani sebagai preeklampsia berat
Penatalaksanaan pada kehamilan lebih dari 37 minggu :
1)      Jika serviks matang, pecahkan ketuban dan induksi persalinan dengan oksitosin atau prostaglandin
2)      Jika serviks belum matang, lakukan pematangan dengan prostaglandin atau kateter foley atau lakukan seksio sesaria.
b. Preeklampsia berat
1)      Jika diastolik tetap lebih dari 110 mmHg, berikan obat antihipertensi sampai tekanan diastolik diantara 90-100 mmHg
2)      Pasang infus ringer laktat dengan jarum besar (16 gauge atau lebih besar)
3)      Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai terjadi overload cairan
4)      Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria
5)      Jika jumlah urin kurang dari 30 ml perjam:
a)      Infus cairan dipertahankan 1 1/8 jam
b)      Pantau kemungkinan edema paru
6)      Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin
7)      Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung janin tiap jam
8)      Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru
9)      Hentikan pemberian cairan IV dan berikan diuretik jika ada edema paru
10)  Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan sederhana (bedside clotting test). Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati.
11)  Magnesium sulfat (MgSO4) merupakan obat pilihan untuk mencegah dan mengatasi kejang pada preeklampsia berat dan eklampsia.
12)  Jika terjadi kegagalan terapi medikamentosa, dan timbul gejala eklampsia dengan sindrom HELLP maka dilakukan terminasi kehamilan.




E.     PENCEGAHAN
  1. Pemeriksaan antenatal yang teratur dan bermutu serta teliti, mengenali tanda-tanda sedini mungkin (Preeklampsia ringan), lalu diberikan pengobatan yang cukup supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.
  2. Harus selalu waspada terhadap kemungkinan terjadinya Preeklampsia kalau ada faktor-faktor predeposisi
  3. Penerangan tentang manfaat istirahat dan diet berguna dalam pencegahan. Istirahat tidak selalu berarti berbaring ditempat tidur, namun pekerjaan sehari-hari perlu dikurangi, dan dianjurkan lebih banyak duduk dan berbaring. Diet tinggi protein, dan rendah lemak, karbohidrat,garam dan penambahan berat badan yang tidak berlebihan perlu dianjurkan.
  4. Mencari pada tiap pemeriksaan tanda-tanda preeklampsia dan mengobatinya segera apabila ditemukan.
  5. Mengakhiri kehamilan sedapat-dapatnya pada kehamilan 37 minggu ke atas apabila setelah dirawat tanda-tanda preeklampsia tidak juga dapat di hilangkan.