Kasus Kelainan Haid : Menometroragi Dengan Anemia Pada Pasien Usia Ca


Pendahuluan 

Secara umum kelainan haid berupa kelainan siklus atau kelainan dari jumlah darah yang dikeluarkan dan lamanya perdarahan.
Menstruasi ialah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai pelepasan (deskuamasi) endometrium, saat mulainya menstruasi dinamakan menarche dan saat berhentinya menstruasi disebut dengan menopause. Umumnya, siklus menstruasi yang terjadi berkisar antara 21-40 hari.
Mekanisme siklus haid normal secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut :
1.      Pertama, peningkatan estrogen secara bertahap mendukung serta mempertahankan pertumbuhan endometrium fase proliferasi.
2.      Kedua, sekitar 24 jam pasca denyutan Luteinizing Hormon – LH terjadi ovulasi dan pembentukan corpus luteum.
3.      Ketiga, selama fase sekresi (fase luteal) terjadi peningkatan tajam  dari prostaglandin F2╬▒ dalam jaringan endometrium yang merupakan vasokonstriktor kuat dan menyebabkan terjadinya iskemia endometrium, nekrosis dan keluarnya darah haid.
Efek estrogen yang tidak berimbang  akan menyebabkan siklus berlangsung tidak teratur dan berkepanjangan. Berlangsungnya keadaan ini secara terus menerus akan menyebabkan terjadinya hiperplasia endometrium dan atau keganasan.
Panjang siklus haid yang normal atau dianggap sebagai siklus haid yang klasik ialah 28 hari, tetapi variasinya cukup luas. Jumlah darah yang keluar rata-rata 33,2 ± 16cc. Jumlah darah haid lebih dari 80cc dianggap patologik. Gangguan menstruasi paling umum terjadi pada awal dan akhir masa reproduktif. Gangguan ini mungkin berkaian dengan lamanya menstruasi. Gangguan pada siklus dan jumlah darah menstruasi disebut dengan istilah metroragia dan menometroragia.
Menoragia adalah peradarahan haid yang lebih banyak dari normal, atau lebih lama dari normal. Perdarahan lebih dari 8 hari, dan haid lebih banyak dari normal (lebih dari 80 mL). Menoragia terjadi pada interval siklus haid normal tetapi durasinya lebih lama dan jumlah darah yang dikeluarkan juga banyak (lebih dari 80 mL tiap siklus dan lamanya lebih dari 7 hari). Pada metroragia, jumlah perdarahannya tidak teratur, tidak bersifat siklik dan sering berlangsung lama.
Metrorragia terjadi dalam masa antara 2 haid. Pendarahan itu tampak terpisah dan dapat dibedakan dari haid, atau 2 jenis pendarahan ini menjadi satu; yang pertama dinamakan metroragia, yang kedua menometroragia. Metroragia atau menometroragia dapat disebabkan oleh kelainan organic pada alat genetal atau oleh kelainan fungsional.
Menometroragi merupakan perdarahan uterus yang berlebihan yang terjadi pada dan diantara siklus haid. Ini disebut juga perdarahan disfungsional. Menometroragi banyak sekali terjadi pada wanita dalam masa pubertas dan masa menjelang menopause. Beberapa penyebab pada perdarahan ini antara lain karena kelainan anatomis rahim (seperti ada polip rahim, mioma uteri), adanya siklus anovulatoir (ditandai dengan siklus haid yang memanjang).
Perdarahan uterus disfungsi adalah perdarahan uterus abnormal antara menarche sampai menopause yang tidak terkait dengan :
·        penggunaan obat-obatan,
·        kelainan darah,
·        penyakit sistemik,
·        cedera,
·        keganasan
·        kehamilan.
Perdarahan uterus disfungsi hampir selalu diakibatkan oleh gangguan keseimbangan hormonal  pada penyimpangan poros hipotalamus-hipofise-ovarium yang mengakibatkan tidak terjadinya ovulasi (perdarahan anovulatoar).
Sebagian besar perdarahan uterus disfungsi terjadi pada tahun-tahun sekitar menarche (usia 11 – 14 tahun) atau sekitar menopause (usia 45 – 50 tahun).  Pada tahun-tahun perimenopause, perdarahan anovulatoar terutama disebabkan oleh penurunan kapasitas ovarium. Pada remaja, perdarahan anovulatoar disebabkan oleh kegagalan sistem hipotalamus-hipofise untuk merespon efek umpan balik positif dari estrogen.
Pola perdarahan uterus disfungsi :
a.       Polimenorea : frekuensi haid yang abnormal yang berlangsung setiap < 24 hari
b.      Menoragia : Haid yang berlebihan dan berkepanjangan ( > 80 ml dan berlangsung > 7 hari ) namun dengan siklus yang normal
c.       Metroragia : Episode perdarahan yang tidak beraturan
d.      Menometroragia : Perdarahan uterus yang tidak teratur dan jumlah berlebihan

Kasus
Seorang pasien perempuan, P3A0, usia 50 tahun datang dengan keluhan perdarahan lewat jalan lahir sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Darah keluar prongkol-prongkol dan jumlahnya bertambah banyak. Keluhan yang sama pernah dirasakan pasien 2 bulan yang lalu. Riwayat menstruasi teratur setiap bulan ±7-8 hari, volume cairan banyak dengan dismenore (+).

Diagnosis Banding
1.      Menometroragia
2.      Metroragia
3.      Polimenorea
4.      Menoragia


Pemeriksaan
1.      Anamnesa
·        Pada tanggal 6 September 2010 pasien sempat memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan dan dikatakan pasien memiliki mioma ukuran 6 x 9 cm.
·        Pasien telah mendapatkan obat-obatan berupa Kalnex, B-Complex, dan antibiotik akan tetapi pasien tidak merasakan adanya perubahan.
·        Riwayat menarche pada usia 17 tahun dan riwayat menstruasi, teratur setiap bulan ±7-8 hari, volume cairan banyak dengan dismenore (+).
·        Karena keluhan tidak menghilang, pasien datang ke IGD
2.      Pemeriksaan Fisik
·        Keadaan umum : Sedang, kesadaran compos mentis, tampak anemis.
·        Tanda Vital : menunjukkan tekanan darah: 90/60 mmHg, nadi: 86 x/menit, pernafasan: 22 x/menit, dan suhu: 36,40 C.
·        Konjungtiva palpebra anemis.
3.      Pemeriksaan Status Obstetri
·        Abdomen tidak terlihat membesar, tidak terdapa massa dan tanda-tanda peradangan.
·        Pada vulva terlihat sisa-sisa darah yang terlihat sudah mengering, perdarahan terlihat aktif.
·        Palpasi nyeri tekan (-),
·        Massa tumor (-)
·        TFU sulit dinilai, dan kontraksi uterus (-).
·        Pada pemeriksaan dalam ditemukan vulva dan uterus tenang, dinding vagina licin, serviks utuh dan mencucu, CU sebesar telur bebek, nyeri goyang portio (-), parametrium kanan dan kiri lemas, cavum douglass tidak menonjol, nyeri cavum douglass (-).
4.      Pemeriksaan Laboratorium
·        PP Test: (-) / Negatif
·        Hb: 7.0 gr/dL
·        HCT: 25.92 %
·        CT: 4 menit
·        BT: 2 menit

Penarikan Diagnosa
Diagnosa perdarahan uterus disfungsi ditegakkan berdasarkan tidak adanya penyebab perdarahan uterus secara jelas. Pemeriksaan panggul harus dikerjakan untuk memastikan bahwa sumber perdarahan berasal dari dalam rahim dan tidak berasal dari servik, rektum, vagina, vulva atau cedera saluran urethra.
Selain pemeriksaan laboratorium maka pemeriksaan penting untuk konfirmasi perdarahan uterus disfungsi adalah pemeriksaan ultrasonografi dan biopsi endometrium
Pembuatan anamnesis yang cermat penting untuk diagnosis. Perlu ditanyakan bagaimana mulainya perdarahan, apakah didahului oleh siklus yang pendek atau oleh amenore, sifat perdarahan (banyak atau sedikit-sedikit, sakit atau tidak), lama perdarahan, dan sebagainya.
Pada pemeriksaan ginekologik perlu dilihat apakah tidak ada kelainan-kelainan organik, yang menyebabkan perdarahan abnormal (polip, ulkus, tumor, kehamilan terganggu).
Pada wanita dalam masa pubertas umumnya tidak perlu dilakukan kerokan guna pembuatan diagnosis. Pada wanita berumur antara 20-40 tahun kemungkinan besar adalah kehamilan terganggu, polip, mioma submukosum, dan sebagainya. Investigasi meliputi histerektomi dan biopsi endometrium atau kuretase diagnostik.
Pada wanita dalam premenopause dorongan untuk melakukan pap smear, kolposkopi dan biaopsi ialah untuk memastikan ada tidaknya tumor ganas.
Diagnosis
Menometroragi dengan anemia pada usia cancer.

Terapi
Penatalaksanaan pada pasien ini meliputi perbaikan keadaan umum, transfusi darah sampai dengan Hb ≥ 10 gr/dL, terapi medikamentosa dengan pemberian Kalnex Tablet 3 x 500 mg, Asam Mefenamat Tablet 3 x 500 mg, Viliron Tablet 1 x 1, dan Kuretase Dx/Tx.
Terapi Hormonal :
Setelah perdarahan teratasi berikan :
·        Conjugated oestrogen 2.5 mg per oral setiap hari selama 25 hari
·        Tambahkan 10 mg medroxyprogesteron acetate untuk 10 hari terakhir
·        Tunggu perdarahan lucut  5 – 7 hari pasca penghentian terapi

Peran bidan : Transfusi darah








DAFTAR PUSTAKA

Prawiroharjo, Sarwono. 2005. Perdarahan Disfungsional. ILmu Kandungan. Jakarta : YBP. Ginekologi.  Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran UNPAD. Hal: 120-4
Gambone, JC, Moore J ,Hacker NF : Essentials of Obstetric and Gynecology 4th ed , Philadelphia, Pennsylvania ,Elesevier Saunders 2004    

Comments

Popular posts from this blog

CONTOH SOAP ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN

PROSEDUR KLINIK : PEMERIKSAAN URINE IBU HAMIL ( GLUKOSA URINE & PROTEIN URINE )