Monday, January 30, 2012

PEMERIKSAAN FISIK EKSTREMITAS KULIT DAN GENITALIA PADA BAYI DAN BALITA

BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang
Soadara/sodari YTH.... setiap mengunjungi Blog ini Jangan Lupa ya nge-Klik Iklan nya.....
Terima kasih :)
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau  masalah kesehatan yang dialami oleh pasien. Pemeriksaan fisik pada bayi dan balita dilakukan sesaat sesudah bayi lahir pada saat kondisi atau suhu tubuh stabil dan setelah dilakukan pembersihan jalan nafas atau resisutasi, pembersihan badan bayi, perawatan tali pusat, dan bayi ditempatkan ditempat yang hangat. Pemeriksaan fisik pada bayi dan balita dilakukan untuk memperoleh data status kesehatan anak dan sebagai dasar dalam menegakkan diagnosis dan untuk menemukan kelainan yang perlu mendapat tindakan segera ( Observasi K.U bayi dan cegah terjadinya hipotermi). Cara pemeriksaan bayi dan balita pada umumnya sama dengan pemeriksaan pada orang dewasa, yaitu inspeksi, palpasi (periksa raba), perkusi (periksa ketuk), dan auskultasi (periksa dengar dengan menggunakan stetoskop), observasi (pengamatan secara seksama). Pemeriksaan dilakukan pada seluruh tubuh, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan tidak harus dengan urutan tertentu.

B.           Tujuan
         Untuk mengetahui dan mengidentifikasi bagaimana cara pemeriksaan fisik pada ekstremitas kulit dan genitalia pada bayi dan balita.






BAB II
ISI


A.       Pemeriksaan fisik ekstremitas
      Pemeriksaan pada ekstremitas dilakukan untuk menilai ada atau tidaknya gerakan ekstremitas abnormal, asimetri, posisi, dan gerakan kaki yang abnormal (menghadap ke dalam atau keluar garis tangan), serta kondisi jari kaki yang jumlahnya berlebih atau saling melekat.
Tindakan yang dlakukan saat pemeriksaan ekstremitas dan genitalia :
1)      Inspeksi merupakan proses pengamatan atau obserfasi untuk mendeteksi masalah kesehatan pada bayi dan balita
2)      Palpasi merupakan pemeriksaan dengan indera peraba, yaitu tangan, untuk menentukan ketahanan, kekenyalan, kekerasan, tekstur, dan mobilitas.
3)      Perkusi merupakan pemriksaan dengan melakukan pengetukan yang menggunakan ujung-ujung jari pada bagian tubuh untuk mengetahui ukuran, batasan, konsistensi organ-organ tubuh, dan menentukan energy cairan dalam organ tubuh.
4)      Auskultasi merupakan pemeriksaan dengan mendengarkan bunyi yang dihasilkan oleh tubuh melalui stetoskop.

Ø  Prinsip
·         Jelaskan prosedur pada orang tua dan minta persetujuan tindakan
·         Cuci tangan pada air yang mengalir dan keringkan
·         Pakai sarung tangan
·         Pastikan pencahayaan baik
·         Periksa apakah bayi dalam keadaan hangat
·         Periksa bayi secara sistematis dan utuh
·         Letakan bayi pada tempat yang rata

Ø  Prosedur
·         Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan pemeriksaan
·         Lakukan anamnesa riwayat dari ibu (faktor genetik,lingkungan,sosial,ibu (maternal),perinatal,intranatal dan neonatus)
·         Susun alat secara ergonomis

Ø  Pemeriksaan Fisik Tangan
·         Kedua lengan harus sama panjang, periksa dengan cara meluruskan kedua lengan ke bawah
·         Kedua lengan harus bebas bergerak, jika gerakan kurang memungkinkan maka adanya kerusakan neurologis atau fraktur
·         Periksa jumlah jari, perhatikan adanya polidaktili atau sidaktili
·         Telapak tangan harus dapat dibuka, garis tangan yang hanya satu buah berkaitan dengan abnormalitas kromosom, seperti trisomi
·         Periksa adanya paronisia pada kuku yang dapat terinfeksi atau tercabut sehingga menimbulkan luka dan perdarahan

Ø  Pemeriksaan Fisik Kaki
·         Periksa kesimetrisan tungkai dan kaki
·         Periksa panjang kedua kaki dengan meluruskan kedua  dan bandingkan
·         Kedua tungkai harus dapat bergerak bebas, kurangnya gerakan berkaitan dengan adanya trauma. Misalnya : fraktur, neurologis
·         Periksa adanya polodaktili atau sidaktili pada jari kaki





B.        Pemeriksaan fisik ekstremitas kulit
                 Pemeriksaan ini dilakukan untuk menilai ada atau tidaknya kemerahan pada kulit atau pembengkakan, postula (kulit melepuh), luka atau trauma, bercak atau tanda abnormal pada kulit, elastisitas kulit, serta ruam popok (bercak merah terang di kulit di daerah popok pada bokong). Pemeriksaan ini normal apabila tanda, seperti eritems toksikum (titik merah dan pusat putih kecil pada muka, tubuh, dan punggung) pada hari kedua atau selanjutnya, kulit tubuh yang terkelupas pada hari pertama.

§  Pemeriksaan Kulit Pada Bayi
1.      Perhatikan kondisi kulit bayi.
2.      Periksa adanya ruam dan bercak atau tanda lahir.
3.      Periksa adanya pembekakan.
4.      Perhatikan adanya vernik kaseosa.
5.      Perhatikan adanya lanugo, jumlah yang banyak terdapat pada bayi kurang bulan.

§  Pemeriksaan Kulit Pada Balita
Pemeriksaan kulit ini dilakukan untuk menilai warna, adanya sianosis, ikterus, ekzema, pucat, purpura, eritema, makula, papula, vesikula, pustula, ulkus, turgor kulit, kelembapan kulit, tekstur kulit, dan edema. Penilaian warna kulit ini untuk mengetahui adanya pigmentasi dan kondisi normal yang dapat disebabkan oleh melanin pada kulit.

Warna Kulit
Warna Kulit
Deskripsi
Coklat
Menunjukkan adanya penyakit Addison atau beberapa tumor hipofisis
Biru Kemerahan
Menunjukkan Polisitemia
Merah
Alergi dingin, hipertemia, psikologis, alkohol atau inflamasi lokal
Biru (sianosis) pada kuku
Sianosis perifer oleh karena kecemasan atau kedinginan atau sentral karena penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen yang meliputi bibir, mulut dan badan
Kuning
Ikterus yang menyertai penyakit hati, hemolisis sel darah merah, obstruksi saluran empedu atau infeksi berat yang dapat dilihat pada sklera, membran mukosa, dan abdomen. Bila terdapat pada telapak tangan dan kaki dan muka bukan sklera menunjukkan adanya akibat memakan wortel, kentang. Bila pada area kulit terbuka tidak pada sklera dan membran mukosa menunjukkan adanya penyakit ginjal kronik.
Pucat (kurang merah muda pada orang kulit putih) atau warna abu-abu pada kulit hitam
Menunjukkan adanya sinkop, demam, syok, anemia
Kekurangan warna secara umum
Albinisme


Cara dan Keadaan Patologis Pemeriksaan Kelembapan Kulit
Cara
Patologis
Amati kelembapan daerah kulit

Normal: agak kering
Kulit kering pada daerah bibir, tangan atau genital menunjukkan adanya dermititis kontak
Normal: Membran Mukosa lembab
Kekeringan yang menyeluruh disertai dengan lipatan dan membran mukosa yang lembab menunjukkan terlalu sering terpapar sinar matahari, sering mandi, atau kurang gizi, sedangkan kering pada membran mukosa menunjukkan adanya dehidrasi atau kedinginan.

Cara dan Keadaan Patologis Pemeriksaan Suhu Kulit
Cara
Patologis
Lakukan palpasi pada daerah kulit dengan punggung tangan pada ekstremitas dan bagia tubuh lain
Adanya hipertermia menunjukkan adanya demam, terbakar sinar matahari, gangguan otak.

Hipertermia lokal menunjukkan adanya luka bakar atau infeksi.

Hipotermia menunjukkan adanya syok.

Hipotermia lokal menunjukkan adanya terpapar dingin.


Cara dan Keadaan Patologis Tekstur Kulit
Cara
Patologis
Lakukan inspeksi dan palpasi terhadap tekstur kulit
Kulit kasar dan kering menunjukkan terlalu sering mandi, kurang gizi, terpapar cuaca, gangguan endokrin.
Normalnya kulit bayi dan anak adalah lembut
Kulit mengelupas atau bersisik pada jari-jari tangan atau kaki menunjukkan adanya ekzema, dermatitis atau infeksi jamur.

Sisik berminyak pada kulit kepala menunjukkan adanya dermatitis seborrhoik.

Bercak-bercak hipopigmentasi dan bersisik pada muka dan tubuh bagian atas menunjukkan ekzema.

Cara dan Keadaan Patologis Pemeriksaan Turgor Kulit
Cara
Patologis
Normal: kulit kembali seperti semula dengan cepat tanpa meninggalkan tanda
Lakukan palpasi pada daerah kulit dengan mencubit lengan atas atau abdomen dan melepaskannya secara sepat.

Lipatan kulit kembalinya lambat dan adanya tanda menunjukkan adanya dehidrasi atau malnutrisi, penyakit kronik atau gangguan otot.

Cara dan Keadaan Patologis Pemeriksaan Edema Kulit
Cara
Patologis
Lakukan palpasi pada daerah kulit dengan menekan daerah kulit yang kelihatan membengkak dengan jari telunjuk
Lekukan telunjuk yang menetap setelah telunjuk diangkat menunjukan adanya pitting edema.

Edema daerah periorbital menunjukkan adanya banyak menangis, alergi, baru bangus tidur atau penyakit ginjal.

Edema pada ekstremitas bawah dan bokong menunjukkan kelainan pada ginjal dan jantung.

Cara dan Keadaan Patologis Pemeriksaan Adanya Lesi Kulit
Cara
Patologis
Lakukan inspeksi dan palpasi pada daerah kulit dengan memerhatikan distribusi, bentuk, warna, ukuran dan konsistensi seperti:
Hampir semua lesi menunjukkan adanya urtikaria, ekzema, dermatitis kontal atau alergi
Makula:
Massa rata ukuran kecil kurang dari 1 cm berbeda dari kulit sekitar
Bentol yang kecil atau besar yang berkelompok dapat menunjukkan adanya uritkaria
Papula:
Massa padat menonjol ukuran kecil kurang dari 1 cm
Adanya eritema, vesikel, krusta, ruam yang gatal pada pipi dan kulit kepala menunjukkan adanya dermatitis atopik (ekzema)
Nodul:
Massa padat dan menonjol sedikit lebih besar (1-2 cm) dan lebih dalam dari papula
Adanya pembengkakkan merah dan gatal menunjukkan adanya dermatitis kontak
Tumor:
Massa padat dan menonjol lebih besar dari nodul padat keras atau lunak
Pembengkakan pada kelenjar parotis yang sangat nyeri dapat menunjukkan gondong
Bentol:
Area edema kulit sementara dan berbentuk tidak teratur

Vesikel:
Massa berisi cairan, kurang dari 1 cm, menonjol

Bula:
Massa yang berisi cairan, menonjol, lebih besar dari vesikel

Pustula:
Vesikel berisi eksudat purulens

Sisik:
Serpih tipis epidermis yang mengelupas

Krusta:
Eksudat parulens yang mengering

Erosi:
Lesi basa akibat epidermis superfisial yang menghilang

Ulkus:
Kehilangan permukaan kulit yang dalam dapat meluas sampai ke dermis dan jaringan subkutan

Fsura:
Retak lurus dan dalam pada kulit

Striae:
Garis-garis tipis ungu atau putih pada abdomen

Petekia:
Massa rata, bulat, merah tua atau keunguan kurang dari 3 mm

Ekimosis:
Massa dengan ukuran dan bentuk bervariasi, mula-mula ungu, memudar menjadi hijau kuning, kemudian coklat

        

C.    Pemeriksaan Fisik Genitalia
      Pemeriksaan Genitalia ini akan berbeda antara laki-laki dan perempuan. Pada laki-laki, pemeriksaan dilakukan sengan memerhatikan ukuran, bentuk penis, testis, serta kelainan yang ada, seperti hipospadia (orificium uretra di ventral penis, biasanya dekat gland atau sepanjang penis), epispadia (muara uretra pada dorsal penis, mungkin di galand atau batang penis), fimosis (pembukaan prepusium sangat kecil sehingga tidak dapat ditarik ke gland penis), serta adanya radang pada testis dan skrotum.
      Pemerikssaan pada perempuan dilakukan dengan memerhatikan adanya epispadia (terbelahnya mons pubis, klitoris dan uretra membuka di bagian dorsal), adanya tanda-tanda seks sekunder (seperti pertumbuhan rambutm payudara), serta cairan yang keluar dari lubang genital.

§  Pemeriksaaan genitalia pada bayi

1.      Genital (Pria)
Testis pada fetus mulai turun dari cavum peritoneum ke dalam scrotum kurang lebih pada minggu ke 30 gestasi. Testis kiri turun mendahului testis kanan yakni pada sekitar minggu ke 32. Kedua testis biasanya sudah dapat diraba di canalis inguinalis bagian atas atau bawah pada minggu ke 33 hingga 34 kehamilan. Bersamaan dengan itu, kulit skrotum menjadi lebih tebal dan membentuk rugae (Gambar II.12) .
Testis dikatakan telah turun secara penuh apabila terdapat di dalam zona berugae. Pada nenonatus extremely premature scrotum datar, lembut, dan kadang belum bisa dibedakan jenis kelaminnya. Berbeda halnya pada neonatus matur hingga posmatur, scrotum biasanya seperti pendulum dan dapat menyentuh kasur ketika berbaring.
Padacryptor chidis musscrotum pada sisi yang terkena kosong, hipoplastik, dengan rugae yang lebih sedikit jika dibandingkan sisi yang sehat atau sesuai dengan usia kehamilan yang sama.



1.      Genital (wanita)
Untuk memeriksa genitalia neonatus perempuan maka neonates harus diposisikan telentang dengan pinggul abduksi kurang lebih 45o dari garis horisontal. Abduksi yang berlebihan dapat menyebabkan labia minora dan klitoris tampak lebih menonjol sedangkan aduksi menyebabkankeduanya tertutupi oleh labia majora9.
Pada neonatus extremely premature labia datar dan klitoris sangat menonjol dan menyerupai penis. Sejalan dengan berkembangnya maturitas fisik, klitoris menjadi tidak begitu menonjol dan labia minora menjadi lebih menonjol. Mendekati usia kehamilan matur labia minora dan klitoris menyusut dan cenderung tertutupi oleh labia majora yang membesar (Gambar II.13).
Labia majora tersusun atas lemak dan ketebalannya bergantung pada nutrisi intrauterin. Nutrisi yang berlebihan dapat menyebabkan labia majora menjadi besar pada awal gestasi. Sebaliknya nutrisi yang kurang menyebabkan labia majora cenderung kecil meskipun pada usia 39 kehamilan matur atau posmatur dan labia minora serta klitoris cenderung lebih menonjol.
          Gambar II.13. Penilaian Genitalia Neonatus Wanita

Interpretasi Hasil 3
Masing-masing hasil penilaian baik maturitas neuromuskular maupun fisik disesuaikan dengan skor di dalam tabel (Tabel II.2) dan dijumlahkan hasilnya. Interpretasi hasil dapat dilihat pada tabel skor 40






Ø   Cara pemeriksaan genitalia:
1.      Lakukan inspeksi pada genitalia wanita, seperti keadaan labia minora, labia  mayora, lubang uretra dan lubang vagina
2.      Lakukan inspeksi pada genitalia laki-laki seperti keadaan penis, ada tidaknya hiospadia (defek dibagian ujung penis atau defek sepanjang penis) dan epispadia (defek pada dorsum penis). Pada bayi laki-laki panjang penis 3-4 cm dan lebar 1-1,3 cm.Periksa posisi lubang uretra. Prepusium tidak boleh ditarik karena akan menyebabkan fimosis. Skrortum harus dipalpasi untuk memastikan jumlah testis.

Ø  Peralatan dan perlengkapan :
1. kapas
2. senter
3. termometer
4. stetoskop
5. selimut bayi
6. bengkok
7. timbangan bayi
8. pita ukur/metlin
9. pengukur panjang badan

Ø   Prosedur :
1. Jelaskan pada ibu dan keluarga maksud dan tujuan dilakukan pemeriksaan
2. Lakukan anamnesa riwayat dari ibu meliputi faktor genetik, faktor lingkungan,
sosial,faktor ibu (maternal),faktor perinatal, intranatal, dan neonatal
3. Susunalat secara ergonomis
4. Cuci tangan menggunakan sabun dibawah air mengalir, keringkan dengan
    handuk bersih
5. Memakai sarung tangan
6. Letakkan bayi pada tempat yang rata

§  Pemeriksaan genetalia pada balita

1.      Genital laki-laki
      Prosedur :
1.      Cuci tangan
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
3.      Lakukan pemeriksaan alat kelamin laki-laki dengan langkah langkah berikut :
·         Inspeksi ukuran penis
·         Inspeksi tanda pembengkakan,lesi kulit,dan inflamasi pada glans penis
·         Inspeksi meatus uretra.
·         Inspeksi skrotum terdapat suatu pembesaran atau unilateral, adanya suatu hidrokel atau hernia jika skrotum tampak membesar.lakukan transsiluminasi dan auskultasi pada setiap masa scrotum.
·         Palpasi testis, testis sering mengalami retraksi kedalam kanalis ingunalis .jika salah satu atau kedua testis tidak teraba didalam skrotum,perintahkan anak duduk diatas kursi dengan kaki diatas kursi.perintahkan anak memeluk lutut nya .ulangi palpasi ini tekanan perut ini dapat  memaksa masuk nya testis yang bereteraksi atau tidak turun kedalam scrotum. Sering terdapan perbedaan jika melakukan hal ini dengan tangan hangat dan suatu ruang yang hangat. Manuver lain yang berguna untuk mengatasi refleks kremaster aktif adalah menyuruh anak berbaring dan melakukan fleksi tungkai pada lutut,meletakan kaki pada tungkai berlawanan.”posisi tungkai jahit” ini akan membawa tendo muskulus sartorius diatas kanalis inguinalis dan mencegah refleks aktif retraksi testis.
·         Palpasi hernia inguinalis biasa nya dapat dilakukan pada anak berumur 4 tahun atau lebih besar.prosedurnya sama seperti pada orang dewasa dan harus dilakukan dengan anak berdiri.

2.            Genital wanita
Pada wanita lakukan infeksi daerah vagina.apa ditemukan suatu ruam. Ruam pada daerah ini dapat berhubungan dengan bula akibat air mandi yang panas. Apa ditemukan sekret, adanya sekret pada umur 2-6 tahun seringkali berhubungan dengan benda asing dalam vagina, sering digunakan spekulum hidung untuk menginfeksi vagina untuk penyebab sekret . Periksa keutuhan himen dan muara vagina yang licin. Suspek  adanya pemaksaan seksual tanda yang paling penting  dari pemaksaan ini termasuk kesukaran untuk berjalan, infeksi vagina atau dubur, iritasi atau pembengkakan genital,celana dalam yang robek atau ternoda, perdarahan vagina atau anus serta lebam








BAB III
PENUTUP

A.          Kesimpulan
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untik mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh bayi dan balita. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengumpulkan data tentang kesehatan bayi dan balita, menambah informasi, menyangkal dat yang diperoleh dari riwayat bayi dan  balita, mengidentifikasi masalah bayi dan balita, menilai perubahan status bayi dan balita dan mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah diberikan.
Pemeriksaan fisik pada ekstremitas dan genetalia dilakukan dengan cara Inspeksi dan Palpasi.








DAFTAR PUSTAKA


Uliyah, Musrifatul., A Azis Alimul. (2006) Keterlampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan, Jakarta: Salemba Medika.
Behrgman, Kliegman, Arvin. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Vol 3, Ed 15. Jakarta : EGC. 2000.

 Kosim, M. Sholeh.Buku Ajar Neonatologi. Edisi 1.Jakarta : IDAI. 2010.

Panduan Pelayanan Medis Departemen Kesehatan Anak RSCM. Jakarta : RSUP Nasional dr. Cipto Mangunkusumo.2007.

 Staf Pengajar IKA FKUI, 1985, Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jilid 3, Jakarta


No comments:

Post a Comment

Ilmu Kesehatan Masyarakat ( Public Health )

Bagi sebagian orang mungkin banyak yang sudah tidak asing lagi mendengar kata "IKM" atau Ilmu Kesehatan Masyarakat, namun ...