Tuesday, January 31, 2012

KESEHATAN REPRODUKSI PEREMPUAN SAAT LANJUT USIA (AKTIVITAS SEKSUAL PADA MASA PERIMENOPAUSE )

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 KARAKTERISTIK MASA USIA LANJUT
Masa usia lanjut merupakan periode penutup dalam rentang hidup seseorang, yaitu suatu periode dimana seseorang telah beranjak jauh dari periode terdahulu yang lebih menyenangkan atau beranjak dari waktu yang penuh dengan manfaat.
Lanjut usia merupakan istilah tahap akhir dari proses penuaan. Dalam mendefinisikan batasan penduduk lanjut usia menurut Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional ada tiga aspek yang perlu dipertimbangkan yaitu aspek biologi, aspek ekonomi dan aspek sosial (BKKBN 1998).
Secara biologis penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggolongkan lanjut usia menjadi 4 yaitu : Usia pertengahan (middle age) 45 -59 tahun, Lanjut usia (elderly) 60 -74 tahun, lanjut usia tua (old) 75 – 90 tahun dan usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun.
Demikian juga batasan lanjut usia yang tercantum dalam Undang-Undang No.4 tahun 1965 tentang pemberian bantuan penghidupan orang jompo, bahwa yang berhak mendapatkan bantuan adalah mereka yang berusia 56 tahun ke atas. Dengan demikian dalam undang-undang tersebut menyatakan bahwa lanjut usia adalah yang berumur 56 tahun ke atas. Namun demikian masih terdapat perbedaan dalam menetapkan batasan usia seseorang untuk dapat dikelompokkan ke dalam penduduk lanjut usia.

2.2 PERUBAHAN-PERUBAHAN FISIK DAN PSIKIS  YANG TERJADI  PADA MASA USIA LANJUT
Perubahan-perubahan yang umum terlihat pada masa usia lanjut adalah ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis tertentu. Baik pria maupun wanita, pada usia lanjut mereka akan melakukan penyesuaian diri agar mereka tampak siap dan sesuai dengan masa usia lanjut tersebut secara baik ataupun tidak baik. Akan tetapi hasil yang diperoleh dari penyesuaian tersebut cenderung menuju dan membawa penyesuaian diri yang tidak baik daripada yang baik, terutama adalah terjadinya kemunduran fisik dan mental yang berlangsung secara perlahan dan bertahap.

1.2.1        Perubahan Fisik Pada Masa Usia Lanjut
Dengan bertambahnya usia, secara umum kekuatan dan kualitas fisik juga fungsinya mulai terjadi penurunan. Penurunan ini bisa berlangsung secara perlahan bahkan bisa terjadi secara cepat tergantung dari kebiasaan hidup pada masa usia muda.
Beberapa perubahan gangguan fisik yang timbul adalah sebagai berikut :
·         Perubahan pada kulit : kulit wajah, leher, lengan, dan tangan menjadi lebih kering dan keriput, kulit di bagian bawah mata membentuk seperti kantung dan lingkaran hitam dibagian ini menjadi lebih permanen dan jelas, warna merah kebiruan sering muncul di sekitar lutut dan di tengah tengkuk.
·         Perubahan otot : pada umumnya otot orang berusia madya menjadi lembek dan mengendur di sekitar dagu, lengan bagian atas, dan perut
·         Perubahan pada persendian : masalah pada persendian terutama pada bagian tungkai dan lengan yang membuat mereka menjadi agak sulit berjalan
·         Perubahan pada gigi : gigi menjadi kering, patah, dan tanggal sehingga kadang-kadang memakai gigi palsu
·         Perubahan pada mata : mata terlihat kurang bersinar dan cenderung mengeluarkan kotoran yang menumpuk di susdut mata, kebanyakan menderita presbiop atau kesulitan melihat jarak jauh, menurunnya akomodasi karena menurunnya elastisitas mata
·         Perubahan pada telinga : fungsi pendengaran sudah mulai menurun, sehingga tidak sedikit yang mempergunakan alat bantu pendengaran.
·         Perubahan pada sistem pernafasan : nafas menjadi lebih pendek dan sering tersengal-sengal, hal ini akibat terjadinya penurunan kapasitas total paru-paru, residu volume paru dan konsumsi oksigen basal, ini akan menurunkan fleksibilitas dan elastisitas dari paru

Selain ganggunan fisik yang bisa terlihat secara langsung, dengan bertambahnya usia sering pula disertai dengan perubahan-perubahan akibat penyakit kronis, obat-obat yang diminum akibat operasi yang menyiksa kesusahan secara fisik dan psikologis.
Beberapa gangguan fisik pada bagian dalam tersebut seperti :
·         Perubahan pada sistem syaraf otak : umumnya mengalami penurunan ukuran, berat, dan fungsi contohnya kortek serebri mangalami atropi.
·         Perubahan pada sistem cardiovascular : terjadi penurunan elastisitas dari pembuluh darah jantung dan menurunnya kardiak out put
·         Penyakit kronis misal diabetes melitus (DM), penyakit cardiovaskuler, hipertensi, gagal ginjal, kanker, dan masalah yang berhubungan dengan persendian dan syaraf
·         Beberapa operasi seperti prostatectomy, histrectomy, dan mastectomy.
Hasil penelitian menunjukkan timbulnya masalah prostatectomy meliputi gagal ereksi mencapai 12 % sampai timbulnya masalah tidak tercapainya ejakulasi sebesar 24 %, kanker prostate dan operasi prostad (hilangnya libido, gagal ereksi, volume ejakulasi)
·         Perubahan pada sistem ginjal, kandung kencing, dan ureter mengalami penurunan efisiensi, jumlah sel dalam ginjal mengalami penurunan menyebabkan gangguan pengeluaran toksin dan air dari tubuh.

1.2.2        Perubahan Psikis Pada Masa Usia Lanjut
Gangguan psikologis paling umum yang berpengaruh pada orang tua adalah timbulnya depresi, dimensia, dan mengigau. Hal ini lebih sering diakibatkan oleh perasaan sudah tua, sudah pikun, dan secara fisik sudah tidak menarik bagi pasangan. Perubahan akibat depresi dan dimensia bahkan sering mengganggu prilaku seksual  termasuk gangguan khayal yang dikaitkan dengan kecemburuan phatologis.
 Secara umum beberapa gangguan psikologis yang timbul adalah
·         Kecemasan (angietas)
·         Depresi
·         Rasa bersalah (guilty feeling)
·         Masalah perkawinan atau juga akibat dari rasa takut akan gagal dalam berhubungan seksual.
Khusus pada perempuan, ada beberapa gangguan yang sangat berpengaruh besar terhadap sisi kewanitaannya  seperti :
·         Penurunan sekresi estrogen setelah menopause
·         Hilangnya kelenturan/elastisitas jaringan payudara
·         Cerviks yang menyusut ukurannya
·         Dinding vagina atropi ukurannya memendek
·         Berkurangnya pelumas vagina
·         Matinya steroid seks secara tidak langsung mempengaruhi aktivitas seks
·         Perubahan ageing meliputi penipisan bulu kemaluan, penyusutan bibir kemaluan, penipisan selaput lendir vagina dan kelemahan otot perineal
Ada prinsip perkembangan yang dinamakan  Multidirectional, dimana beberapa komponen menunjukkan pertumbuhan dan komponen lain nya malah menurun, lansia akan semakin arif, tapi menurun dalam tugas yang membutuhkan kecepatan memproses informasi, misalnya lansia baru mempelajari komputer.
Disamping itu ada beberapa gangguan mental yang paling umum yang berpengaruh pada orang tua adalah depresi, dimensia dan menggigau prilaku seksual mungkin berubah secara signifikan pada depresi dan dimensia
2.3  MENOPAUSE
Menurut Manuaba (2005) menopause di bagi dalam beberapa tahapan yaitu sebagai berikut :
a. Pre menopause (klimakterium)
Pada fase ini seorang wanita akan mengalami kekacauan pola  menstruasi,terjadi perubahan psikologis/ kejiwaan, terjadi perubahan fisik.  Berlangsung selama antara 4- 5 tahun pada usia 48-55 tahun.
b. Fase menopause
Terhentinya menstruasi. Perubahan dan keluhan psikologis dan fisik makin menonjol, berlangsung sekitar 3-4 tahun pada usia antara 56-60 tahun.
c. Fase pasca menopause (senium)
Terjadi pada usia diatas 60 – 65 tahun. Wanita beradaptasi terhadap perubahan psikologis dan fisik, keluhan makin berkurang
2.4 PERIMENOPAUSE
Sebelum mencapai usia menopause, seorang wanita akan mengalami beberapa perubahan fisik dan gejala hormonal, termasuk menstruasi yang tidak teratur.
Premenopause adalah rentang waktu dimana tubuh mulai bertransisi memasuki masa menopause. Lamanya biasanya 2 sampai 8 tahun ditambah satu tahun di akhir periode menuju menopause. Premenopause adalah hal yang alami terjadi pada wanita dan merupakan tanda akan berakhirnya masa reproduksi. Tingkat produksi hormon estrogen dan progesteron berfluktuasi, naik dan turun tak beraturan. Siklus menstruasi pun bisa tiba-tiba memanjang atau memendek. Biasanya, masa perimenopause ini terjadi di usia 40-an, tapi banyak juga yang mengalami perubahan ini saat usianya masih di pertengahan 30-an. Penurunan fungsi indung telur selama masa perimenopause berkaitan dengan penurunan hormon estradiol dan produksi hormon androgen. Apabila seorang wanita masih mengalami periode menstruasi pada masa perimenopause, meskipun tidak teratur, dia dapat tetap hamil.

2.4.1 Tanda Dan Gejala
1. Menstruasi tidak teratur. 
Intervalnya dapat memanjang atau memendek, sedikit dan berlimpah, bahkan Anda mungkin akan melewatkan beberapa periode menstruasi. Ovulasi menjadi tidak teratur, rendahnya kadar progesteron dapat membuat Anda mengalami periode menstruasi yang lebih panjang.
2.   Gangguan tidur dan hot flashes.
Sekitar 75-85 persen wanita mengalami hot flashes selama perimenopause. Hot flashes adalah gelombang panas tubuh yang datang tiba-tiba, akibat perubahan kadar estrogen yang menyerang tubuh bagian atas dan muka. Serangan ini ditandai dengan munculnya kulit yang memerah di sekitar muka, leher dan dada bagian atas, detak jantung yang kencang, badan bagian atas berkeringat, termasuk gangguan tidur.

3.   Perubahan Psikologis. 
Gangguan Psikologi/kognitif Gejala-gejala psikologi dan kognitif seperti depresi, iritabilitas, perubahanmood, kurangnya konsentrasi dan pelupa juga ditemukan pada banyak wanita perimenopause. Banyak wanita menggambarkan gangguan inisebagai “perimenopause berat”. Seperti diketahui bahwa kejadian depresikira-kira 2 kali lebih sering pada wanita dibandingkan pria. Risiko depresimayor adalah 7-12% untuk pria dan 20-25% untuk wanita. Usia rata-rataterjadinya depresi adalah 40 tahunan.Data laboratorium menyatakan bahwa hormon ovarium sangatberkhasiat, dimana sinyal kimiawi perifer secara umum mempengaruhi aktivitas neuronal.
Perubahan level estrogen dan progesteron menunjukkansejumlah pengaruh neurotransmiter SSP seperti dopamin, norepinefrin,asetilkolin dan serotonin yang kesemuanya diketahui sebagai modulatoruntuk mood, tidur, tingkah laku dan kesadaran.Selama perimenopause, fluktuasi hormon terutama fluktuasiestrogen dapat mengubah level neurotransmiter di SSP yang dapatmempengaruhi tidur, daya ingat dan mood.
Penting sekali untuk membedakan perubahan mood karena pengaruh hormon dengan kelainandepresi mayor. Pada pasien tanpa riwayat depresi, terapi sulih hormonharus dipertimbangkan.

4.      Organ intim mengering. 
Vagina mulai mengalami kekurangan cairan dan elastisitas, sehingga hubungan intim dapat menyakitkan.

5.      Kesuburan berkurang. 
Ovulasi atau pelepasan sel telur menjadi tidak teratur, sehingga kemungkinan bertemunya sel telur dengan sperma menjadi lebih rendah walau masih mungkin untuk hamil.

6.      Perubahan fungsi seksual. 
Selama perimenopause, keinginan untuk berhubungan intim dapat berubah, tetapi pada banyak wanita akan mengalami masa-masa menyenangkan sebelum masa menopause tiba dan biasanya berlanjut sampai melewati masa perimenopause.

7.      Osteoporosis. 
Pengeroposan tulang ini terjadi sebagai akibat berkurangnya hormon estrogen.

8.       Perubahan kadar kolesterol. 
Berkurangnya estrogen akan merubah kadar kolesterol dalam darah dan meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) yang mengakibatkan risiko terkena penyakit jantung. Sedangkan HDL atau kolesterol baik, menurun sesuai pertambahan usia.
9.      Keringat malam
10.  Infeksi saluran kemih
11.  Inkontinensia urin (tidak mampu menahan keluarnya air seni)
12.  Peningkatan lemak tubuh di sekitar pinggang

2.4.2 Penentu kecepatan atau keterlambatan wanita mengalami menopause

Selain faktor gaya hidup dan genetik yang menentukan cepat atau lambatnya menopause, faktor lainnya adalah:
·         Sejarah keluarga. 
Masa menopause seorang wanita cenderung di usia yang sama, saat ibu atau saudara perempuan lainnya mengalami menopause. Tapi pernyataan ini masih dapat diperdebatkan.
·         Tidak pernah melahirkan. 
Beberapa penelitian menunjukkan, wanita yang belum atau tidak pernah melahirkan, akan mengalami menopause lebih awal.
·         Kondisi jantung.
Sakit jantung sering dikaitkan dengan menopause dini, diperkirakan berkaitan dengan meningkatnya kadar kolesterol dan tekanan darah tinggi.
·         Terapi kanker masa kecil. 
Terapi kanker di usia anak-anak, seperti kemoterapi dan radiasi pelvic juga dikaitkan dengan menopuse dini.
·         Histerektomi. 
Pengangkatan rahim biasanya tidak berakibat menopause dini, meski ovarium tetap akan melepas sel telur. Hanya saja, operasi ini biasanya akan mempercepat datangnya menopause.

2.4.3 Diagnosa

Perimenopause umumnya berlangsung secara bertahap, meski tidak ada alat atau tes yang bisa mendeteksi perimenopause. Dokter hanya akan memberi beberapa pertanyaan, sebelum menyimpulkan apa yang tengah Anda alami. Tes yang mungkin dilakukan, salah satunya pemeriksaan kadar hormon.
Dengan memonitor siklus menstruasi dan mengamati gejala perubahan tubuh selama beberapa waktu, Anda akan dapat memahami dan berkonsultasi dengan dokter.
Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And mengatakan Salah satu faktor yang berpengaruh pada proses penuaan ialah gaya hidup. Orang yang menerapkan gaya hidup sehat cenderung mengalami keadaan fungsi tubuh yang lebih baik dibandingkan orang yang gaya hidupnya tidak sehat, termasuk juga fungsi seksual. 
Dengan demikian, usia lanjut atau lebih muda tidak selalu menentukan bagi fungsi seksual. Artinya, mungkin saja orang yang berusia lebih muda fungsi organnya lebih buruk dibandingkan yang berusia lebih tua, bila gaya hidupnya tidak sehat. 
Kalau fungsi seksual Anda yang berusia lanjut ternyata baik, itu patut disyukuri. Pada masa kini, dengan berkembangnya iptek di bidang kedokteran, usia tidak selalu mencerminkan fungsi organ tubuh, termasuk fungsi seksual.


2.5 SEKS DAN SEKSUALITAS
2.5.1 Definisi Seks dan Seksualitas
Seks menurut Ingrid dalam Rizkina (2009, pp. 13-15) mempunyai arti  jenis kelamin, sesuatau  yang dapat dilihat dan dapat ditunjuk. Jenis kelamin ini memberi kita pengertian tentang suatu sifat atau ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan secara biologis. Seksualitas merupakan suatu proses yang terjadi sepanjang kehidupan manusia ,dimulai dari saat manusia lahir sebagai bayi hingga secara fisik menjadi mandiri, lepas dari ibunya dan akan berakhir ketika seseorang meninggal dunia.
2.5.2 Tujuan Seksualitas
Tujuan seksualitas secara umum adalah meningkatkan kesejahteraan kehidupan manusia. Sedangkan secara khusus ada dua, yaitu:
1. Prokreasi, yaitu menciptakan atau meneruskan keturunan
2. Rekreasi, yaitu memperoleh kenikmatan biologis atau seksual
Menurut Ingrid dalam Rizkiana (2009,pp. 13-15) Seksualitas menyangkut dimensi biologis, psikologis, social dan cultural Dilihat dari dimensi biologis, seksualitas berkaitan dengan reproduksi, termasuk bagaimana menjaga kesehaatn organ reproduksi menggunakan secara optimal sebagai 16 alat untuk berprokreasi (bereproduksi) dan berkreasi dalam mengekspresikan dorongan seksual. Dari demensi psikologis, seksualitas berhubungan erat denngan identitas peran jenis, perasaan terhadap seksualitas sendiri dan bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual. Dan dari dimensi social berkaian dengan bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembetukan mengenai seksualitas dan pilihan perilaku seks. Sedangkan dari dimensi cultural menunjukan bagaimana perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang  ada di masyarakat.
 Menurut Hidayana (2004) seks mempunyai fungsi: :      
1.      Seks untuk tujuan reproduksi yaitu untuk memperoleh keturunan, oleh karena itu sebagian orang beranggapan bahwa seks adalah sesuatu yang suci, sesuatu yang tabu dan tidak patut dibicarakan secara terbuka.
2.      Seks untuk pernyataan cinta, yaitu seks yang dilakukan berlandaskan cinta dan didukung oleh ikatan cinta.
3.      Seks untuk kesenangan yaitu hubungan seks dengan menghayati hubungan yang lama dan mampu mengalami kenikmatan tanpa merugikan salah satu pihak.
2.5.3 Perubahan fisiologik aktivitas seksual
Perubahan fisiologik aktivitas seksual akibat proses penuaan bila ditinjau dari pembagian tahapan seksual menurut Kaplan adalah berikut ini :
Fase tanggapan seksual
Pada wanita lansia
Pada pria lansia
Fase desire
Terutama dipengaruhi oleh penyakit baik dirinya sendiri atau pasangan, masalah hubungan antar keduanya, harapan kultural dan hal-hal tentang harga diri. Desire pada lansia wanita mungkin menurun dengan makin lanjutny usia, tetapi hal ini bisa bervariasi.
Interval untuk meningkaatkan hasrat melakukan kontak seksual meningkat;hasrat sangat dipengaruhi oleh penyakit; kecemasan akan kemampuan seks dan masalah hubungan antara pasangan. Mulai usia 55 th testosteron menurun bertahap yang akan mempengaruhi libido.
Fase arousal
Pembesaran payudara berkurang, semburat panas dikulit menurun; elastisitas dinding vagina menurun; iritasi uretra dan kandung kemih meningkat;otot-otot yang menegang pada fase ini menurun.
M embutuhkan waktu lebih lama untuk ereksi; ereksi kurang begitu kuat; testosteron menurun;  produksi sperma menurun bertahap mulai usia 40 th; elevasi testis ke perinium lebih lambat dan sedikit; penguasaan atas ejakulasi biasany membaik.

Fase orgasmik(fase muskular)
Tanggapan orgasmik mungkin kurang intens disertai sedikit kontraksi; kemampuan untuk mendapatkan orgasme multipel berkurang dengan makin lanjutnya usia.
Kemampuan mengontrol ejakulasi membaik; kekuatan kontraksi otot dirasakan berkurang; jumlah kontraksi menurun; volume ejakulat menurun.
Fase pasca orgasmik
Mungkin terdapat periode refrakter, dimana pembangkitan gairah secara segera lebih sukar.
Periode refrakter memanjang secara fisiologis, dimana ereksi dan orgasme berikutnya lebih sukar terjadi.


2.6 HUBUNGAN SEKSUAL MASA PRE MENOPAUSE
Hubungan seksual adalah suatu keadaan fisiologik yang menimbulkan kepuasan fisik, dimana keadaan ini merupakan respon dari bentuk seksual yang berupa ciuman, pelukan, dan percumbuan 17 berpendapat bahwa terdapat empat tingkatan hubungan fisik dalam bercumbuan, dimana hal ini merupakan rencana alamiah untuk meningkatkan gairah seksual bagi persiapan hubungan seksual yaitu : berpegangan tangan, saling memeluk (tangan di luar  baju), berciuman, saling membelai atau meraba (dengan tangan di dalam baju yang lain). Perilaku seksual merupakan segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis, bentuk tingkah laku ini bermacam-macam mulai dari perasaan tertarik sampai  tingkah laku kencan, bercumbu dan bersenggama. Objek seksualnya  bisa berupa orang lain, orang dalam khayalan, atau diri sendiri (Hidayana, 2004). 
Perubahan fisiologis akibat  pre menopause kadang-kadang mengganggu aktivitas dan gairah seksual pada sejumlah wanita. Perubahan dapat terjadi pada lubrikasi, dinding vagina gairah seksual, dorongan seksual dan orgasme yang mengakibatkan kegiatan seksual menjadi kurang mengenakkan dan kurang menyenangkan (Kasdu, 2005).
Menurut Pangkahila (2006) beberapa masalah yang dialami wanita menopause  ketika berhubungan seksual, yakni :
1.      Kekeringan vagina dan nyeri saat hubungan seksual.
Masalah yang paling sering terjadi adalah vagina yang kering, meskipun sebenarnya hanya 20% wanita yang merasakannya. Dinding vagina menjadi tipis dan kurang lentur. Terdapat rasa pedih, panas dan kadang nyeri atau berdarah saat melakukan sanggama.  Lubrikasi dengan bahan dasar air dapat mengatasi 18 kekeringan vagina yang terjadi. Jangan gunakan lubrikan dengan bahan dasar petroleum (vaselin). Vitamin E atau krim pelembab juga dapat digunakan sebagai lubrikan. Bila lubrikan atau pelembab masih kurang menolong maka dapat diberikan krim estrogen vagina untuk mengatasi masalah kekeringan vagina.
2.      Stimulasi dan orgasme 
Beberapa orang wanita mengalami orgasme yang lebih jarang dan kurang kuat saat menopause. Pada mereka diperlukan waktu yang lama untuk meningkatkan gairah seksual. Hampir pada semua wanita, hubungan seksual yang teratur atau masturbasi dapat membantu meningkatkan respon dan kenikmatan seksual. Aktivitas tersebut dapat mempertahankan fungsi atau peranan rahim, vagina serta kandung kemih serta meningkatkan lubrikasi vagina.  Kegel Exercise, latihan ini meningkatkan kontraksi otot panggul sekitar vagina yang memembantu penguatan otot-otot vagina.


3.      Hasrat seksual
 Hilangnya gairah seksual secara temporer atau jangka panjang terjadi pada sejumlah wanita selama dan sesudah menopause. Penyebab dari keadaan ini antara lain:
·         Lelah
Akibat dari insomnia menimbulkan perasaan capai atau lelah yang berkepanjangan. Pekerjaan sebagai ibu yang mengurus anak dan suami membuat ibu mempunyai beban ganda, sehingga membuat dirinya mencapai titik kelelahan yang berat.
·         Stress
Depresi menstrual yang dahulu pernah muncul pada masa adolens yang kemudian mengilang dengan sendirinya selama periode reproduktif (menjadi ibu) bisa timbul kembali pada usia  klimakterium  . Pada saat ini sekalipun wanita tersebut sudah tidak haid lagi, namun rasa-rasa depresif itu selalu saja timbul dengan interval waktu yang tetap. Perasaan-perasaan depresif itu tiba bersamaan dengan datangnya siklus menstruasi setiap bulannya. Tampaknya depresi tadi  bentuk kekecewaan hati dari ibu, bahwa wanita yang bersangkutan menjadi ”kurang lengkap dan kurang sempurna” disebabkan oleh berhentinya fungsi reproduksi dan haid.

·         Penyakit
Pola makan pada pre menopause tidak seperti saat usia 35-40 tahun, akan terjadi kelebihan lemak yang tersimpan  pada bokong, payudara dan perut. Disamping itu kelebihan makan didalam keadaan tubuh kekurangan hormon dan kemampuan metabolisme dapat menimbulkan penyakit kencing manis, hipertensi, kolesterol tinggi. Penyakit jantung koroner yang diikuti gagal jantung.
·         Masalah hubungan pribadi
Komunikasi dengan pasangan sangat dianjurkan agar terjadi keharmonisan dalam keluarga. Seorang wanita perlu mendiskusikan erubahan yang sedang dialami dengan pasangan. Dengan komunikasi diharapkan mendapatkan solusi yang tepat dari pasangan sehingga pasangan dapat menyesuaikan diri selama berhubungan intim. 
·         Masalah psikologis
Menurunnya kemampuan berpikir dan ingatan sehingga menimbulkan penyakit pikun atau  Alzhaimer. Gangguan emosi berupa rasa takut menjadi tua dan tidak menarik, sukar tidur atau cepat bangun, mudah tersinggung dan mudah marah, sangat emosional dan spontan, merasa tertekan dan sedih tanpa diketahui sebabnya. Rasa takut kehilangan suami, anak dan ditinggalkan sendiri.
·         Efek samping terapi medikamentosa
Masa klimakterium merupakan masa yang rawan bagi wanita. Karena sering timbul berbagai penyakit sehingga mengkonsumsi obat-obatan yang dapat mempengaruhi sistem metabolisme tubuh.
·         Perubahan hormon
Secara menyeluruh sistem hormonal sudah menurun fungsinya sehingga mempengaruhi metabolisme tubuh yang juga cenderung menurun. Oleh karena itu diperlukan perhatian terhadap pola makan yang sebaiknya menjurus kearah vegetarian .
4.      Rasa tidak enak akibat perubahan fisik yang terjadi selama menopause.
Gangguan hubungan suami istri seringkali menjadi kambuh akibat adanya perubahan-perubahan selama  menopause. Gangguan hubungan ini memerlukan penanganan dari seorang ahli seksologi. Bila masalahnya terletak pada faktor hormonal maka  pemberian estrogen akan dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang terjadi. Tidak ada kaitan langsung antara kadar estrogen dengan gairah seksual. Masalah yang utama adalah akibat keringnya vagina dan rasa nyeri saat hubungan seksual. Kadar  hormon, derajat kesehatan umum dan perubahan sosial sehubungan dengan usia serta efek mental dan emosional bekerja sama dalam perubahan seksual selama menopause. Menurunnya kadar testosteron diduga berperan dalam penurunan gairah  seksual. Hal ini masih belum terbukti secara ilmiah. Hormon estrogen terdapat dalam bentuk pil atau injeksi serta krim. Namun dalam penggunaannya perlu diingat adanya efek samping.
5.      Peningkatan keintiman
Perubahan yang terjadi pada usia pertengahan memungkinkan untuk melakukan eksplorasi pengalaman  seksual 22 yang baru dan berbeda. Permainan pendahuluan yang lebih lama akan dapat meningkatakan kesiapan seksual pada wanita. Memusatkan perhatian pada sensualitas, keintiman dan komunikasi dapat memperbaiki hubungan seksual. Terdapat berbagai cara untuk memperlihatkan perasaan cinta anda selain hanya sekedar sanggama, banyak cara untuk menunjukan cinta sebelum melakukan hubungan intim :
1.      Pelukan, belaian dan ciuman
2.      Sentuhan, mengusap, memijat , “sensual baths”
3.      Rangsangan manual
4.      Oral sex
Hubungan seksual pasca menopause dapat benar-benar memuaskan bila anda mampu untuk melakukan adaptasi perubahan yang terjadi.
2.7 BENTUK – BENTUK UMUM KESULITAN SEKSUAL
Wanita lebih sering melihat kesulitan mereka dalam  aspek-aspek ”kualitas pengalaman seksual” dan relevansinya dengan hubungan. Mereka cenderung lebih nyaman penjelasan psikologis serta bentuk pertolongan psikologis. Menurut Glasier (2005) bentuk kesulitan tersebut antara lain :
1.      Hilangnya kenikmatan
Hal ini mungkin merupakan keluhan seksual tersering pada wanita. Seorang wanita mungkin melakukan hubungan intim, tetapi gagal  merasakan kenikmatan dan kesenangan yang biasanya  dia rasakan.  Apabila tidak terjadi rangsangan maka pelumasan normal vagina dan pembengkakan vulva tidak terjadi dan hubungan intim dapat menimbulkan rasa tidak nyaman.

2.      Hilangnya minat seksual
Banyak wanita menyadari bahwa mereka mengalami peningkatan minat terhadap seks dan lebih mudah terangsang pada tahap – tahap siklus menstruasi tertentu, walaupun waktunya berbeda setiap wanita. 24 Tetapi mereka merasa murung sebelum menstruasi biasanya kehilangan minat seksual pada saat tersebut, dan mendapati bahwa fase pasca menstruasi secara seksual merupakan saat yang terbaik bagi mereka. 

3.      Keengganan seksual
Pada beberapa kasus, sekedar pikiran tentang aktivitas seksual sudah menyebabkan ketakutan atau ansietas yang besar sehingga terbentuk suatu pola menghindari kontak seksual. Pada kasus-kasus seperti ini, penyebabnya sering dapat diidentifikasi dari pengalaman traumatik sebelumnya, tetapi kadang- kadang pangkal masalahnya tetap tidak jelas.

4.       Disfungsi orgasme
Sebagian wanita secara spesifik mengalami kesulitan mencapai orgasme, baik dengan kehadiran pasangannya atau pada semua situasi. Walaupun obat tertentu dapat menghambat orgasme pada wanita, namun sebagian besar kasus faktor psikologis tampaknya menjadi penyebab.

5.      Vaginismus
Vaginismus biasanya adalah kesulitan primer yang dialami wanita saat mereka memulai kehidupan seksual, dan sering menyebabkan hubungan seksual yang tidak sempurna. Kelainan ini  jarang timbul kemudian setelah wanita menjalani fase hubungan seksual normal, tetutama apabila ia sudah pernah melahirkan. Apabila memang demikian, perlu mencari penyebab nyeri atau rasa tidak nyaman lokal yang dapat menyebabkan spasme otot.





BAB III
STUDY KASUS
3.1 CONTOH KASUS
Usianya kini 65 tahun, tetapi gairah seksualnya hampir tak beda dengan saat umur 40 tahun. Cairan pun masih lumayan baik. Hubungan seks biasa dilakukan seminggu 1-2 kali. Namun, ia ragu, apakah dirinya normal, mengingat kata orang, pada orang usia lanjut biasanya gairah seks menurun. Apalagi sang suami kewalahan melayani. 
"Saya berumur 65 tahun, suami lebih muda 5 tahun. Gairah seks saya tidak berubah banyak dibandingkan waktu saya berumur 40 tahun. Kalau seminggu tidak berhubungan, rasanya ada yang tidak normal.
Untung suami mengerti. Suami pernah bilang kok saya masih kayak orang muda, sedangkan kadang ereksi suami tidak baik sehingga saya kurang puas. Kata orang, kalau suami lebih muda, nanti bisa cari perempuan lain. Nyatanya suami bahkan kewalahan melayani permintaan saya. 
Apakah saya tidak normal karena masih bergairah? Konon kalau sudah tua, perempuan tidak punya cairan lagi di vaginanya. Saya masih punya cairan meski tidak sebanyak waktu muda. Kadang saja terasa sedikit perih kalau berhubungan terlalu lama.
Apakah tidak masalah kalau berhubungan seminggu 1-2 kali? Bagaimana menjaga agar suami tetap bisa ereksi dengan baik dan tidak kewalahan melayani saya?"E.R, Jakarta.

3.2  ANALAISIS KELOMPOK MENGENAI KASUS
Data yang kami peroleh dari kasus tersebut diantaranya :
·         seorang wanita berumur 65 thn
·         mempunyai seorang suami berumur 60 thn
·         masih mengeluarkan cairan pervaginal
·         masih mempunyai gairah seksual seperti pada usia 40thn
·         suami nya kewalahan ketika berhubungan seksual
·         suami nya sudah tidak berereksi denga baik
·         berhubungan seksual dalam satu minggu bisa mencapai 1-2 kali
·         kadang alat reproduksinya terasa perih jika berhubungan seksual terlalu lama

3.3  PEMBAHASAN

·         Dorongan atas kebutuhan seksualnya (libido) dipengaruhi oleh faktor psikologis sang istri
·         wanita itu mempunyai gaya hidup yang sehat
·         suami nya kurang menerapkan gaya hidup yang sehat tidak seperti istrinya

3.4  LANDASAN TEORI
·         Point pertama : dorongan atas kebutuhan seksualnya (libido) dipengaruhi oleh faktor psikologis sang istri
Menurut Ingrid dalam Rizkiana (2009,pp. 13-15) Seksualitas menyangkut dimensi biologis, psikologis, social dan cultural. Dari demensi psikologis, seksualitas berhubungan erat denngan identitas peran jenis, perasaan terhadap seksualitas sendiri dan bagaimana menjalankan fungsi sebagai makhluk seksual. Dan dari dimensi social berkaian dengan bagaimana lingkungan berpengaruh dalam pembetukan mengenai seksualitas dan pilihan perilaku seks. Sedangkan dari dimensi cultural menunjukan bagaimana perilaku seks menjadi bagian dari budaya yang  ada di masyarakat.
·         Point kedua dan ketiga : -wanita itu mempunyai gaya hidup yang sehat, suami nya kurang menerapkan gaya hidup yang sehat tidak seperti istrinya
Prof. Dr. Wimpie Pangkahila, Sp.And mengatakan Salah satu faktor yang berpengaruh pada proses penuaan ialah gaya hidup. Orang yang menerapkan gaya hidup sehat cenderung mengalami keadaan fungsi tubuh yang lebih baik dibandingkan orang yang gaya hidupnya tidak sehat, termasuk juga fungsi seksual. 
Dengan demikian, usia lanjut atau lebih muda tidak selalu menentukan bagi fungsi seksual. Artinya, mungkin saja orang yang berusia lebih muda fungsi organnya lebih buruk dibandingkan yang berusia lebih tua, bila gaya hidupnya tidak sehat. 
Kalau fungsi seksual Anda yang berusia lanjut ternyata baik, itu patut disyukuri. Pada masa kini, dengan berkembangnya iptek di bidang kedokteran, usia tidak selalu mencerminkan fungsi organ tubuh, termasuk fungsi seksual.






BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN
Secara biologi penduduk lanjut usia adalah penduduk yang mengalami proses penuaan secara terus menerus, yang ditandai dengan menurunnya daya tahan fisik yaitu semakin rentannya terhadap serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian. Hal ini disebabkan terjadinya perubahan dalam struktur dan fungsi sel, jaringan, serta sistem organ.
Perubahan-perubahan yang umum terlihat pada masa usia lanjut adalah ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis tertentu. Baik pria maupun wanita, pada usia lanjut mereka akan melakukan penyesuaian diri agar mereka tampak siap dan sesuai dengan masa usia lanjut tersebut secara baik ataupun tidak baik.
Perubahan-perubahan tersebut meliputi Perubahan pada sistem pernafasan, perubahan pada telinga, perubahan pada mata, perubahan pada gigi, perubahan pada persendian, perubahan otot, perubahan pada kulit.
Perubahan fisiologis akibat  pre menopause kadang-kadang mengganggu aktivitas dan gairah seksual pada sejumlah wanita. Perubahan dapat terjadi pada lubrikasi, dinding vagina gairah seksual, dorongan seksual dan orgasme yang mengakibatkan kegiatan seksual menjadi kurang mengenakkan dan kurang menyenangkan. Masalah yang dialami wanita menopause  ketika berhubungan seksual yakni kekeringan vagina dan nyeri saat hubungan seksual, stimulasi dan orgasme, hasrat seksual, rasa tidak enak akibat perubahan fisik yang terjadi selama menopause, dan peningkatan keintiman.

4.2 SARAN
Permasalahan pada masa lansia atau yang menjelang masa menopause sering terabaikan, tidak hanya di lingkungan keluarga sendiri, tetapi juga di lingkungan masyarakat bahkan pusat pelayanan kesehatan. pengetahuan tentang permasalahan seksual pada wanita yang menjelang perimenopause baik pria maupun wanita perlu sebarluaskan sejak dini, dan perlunya kerjasama yang optimal disetiap instansi pemerintah dan masyarakat  untuk mengatasi masalah ini agar mereka mendapatkan kehidupan yang layak, dan harmonis sebagai manusia dan warga negara seutuhnya.
Jadi sebagai perempuan, kita harus senantiasa menjaga kesehatan reproduksi kita sejak dini. Sebagai bidan, kita juga harus memberikan penyuluhan kesehatan reproduksi kepada kaum wanita, khususnya remaja pada masa pubertas.




DAFTAR PUSTAKA

Kuliahkebidanan.wordpress.com/2008/07/19/perimenopause-masa-transisi-menuju-menopause/
http://www.duniawanita.org/t3518-wanita-lanjut-usia-gairah-masih-menyala
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/113/jtptunimus-gdl-mujahidaha-5647-3-babii.pdf
http://osteoporosis.klikdokter.com/subpage.php?id=i&sub=56
http://www.scribd.com/doc/50352574/GEJALA-WANITA-PERIMENOPAUSE

No comments:

Post a Comment