Selasa, 10 Januari 2012

PEMERIKSAAN KESEJAHTERAAN JANIN DENGAN MENGGUNAKAN USG





USG atau ultrasonografi menjadi arti penting dalam bidang diagnosis karena dengan USG kita dapat melihat struktur janin yang lebih jelas. Prosedur uji USG adalah bagian dari rutinitas perawatan pra kelahiran dan memberikan informasi penting yang diperlukan dokter/bidan untuk memberikan perawatan yang optimal.
Seperti telah dibahas di atas, uji USG memungkinkan dokter/bidan untuk memastikan perkembangan yang normal dan juga memberikan diagnose kemungkinan masalah. Karena tidak ada resiko yang ditimbulkan pada ibu hamil dan perkembangan janin, tidak ada alasan untuk tidak menggunakan teknologi uji USG.
Uji ultrasonografi (USG) adalah prosedur yang menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk memindai perut dan rongga rahim, menghasilkan suatu citra (sonogram) dari bayi dan plasenta. Meskipun istilah ultrasonografi dan sonogram secara teknis berbeda, istilah ini digunakan bergantian dan merujuk ke hal yang sama.

Cara kerja USG

Cara kerja USG  adalah dengan memancarkan gelombang suara ke jaringan yang hendak dicitrakan, lalu dipantulkan kembali oleh jaringan tsb dan ditangkap oleh transducer. Oleh transducer gelombang suara yang dipantulkan tadi akan dikonversi menjadi energi  listrik lalu ditayangkan di layar monitor. Setiap jenis jaringan memiliki kemampuan memantulkan gelombang berbeda-beda. Jaringan padat seperti tulang, memantulkan gelombang dengan kecepatan tinggi sehingga memberikan gambaran putih di layar. Sedangkan cairan atau jaringan lunak hanya memantulkan lebih sedikit gelombang sehingga memberikan gambaran hitam di layar. Gambar  yang dihasilkan sangat cepat, dapat mencapai 40 frame/detik, sehingga dapat menampilkan gambaran bergerak yang real-time.
Ada dua  jenis USG, yaitu : transabdominal dan transvaginal. Kekuatan gelombang yang digunakan berkisar pada 3- 5mHz (transabdominal), dan pada kehamilan awal dapat digunakan USG transvaginal 7-10 mHz (sumber lain menyebut 5-8 mHz). Mengenai keamanan dalam penggunaannya, USG hanya boleh digunakan bila memenuhi indikasi (lihat selanjutnya). Prinsipnya adalah “as low as reasonable achievable”.Selama masih dalam batas rentang gelombang yang diperbolehkan belum pernah dilaporkaadanya efek samping pada jaringan mamalia yang terpapar USG (American Institute of Ultrasound in Medicine, 1991).Penggunaan USG umumnya untuk dua tujuan utama: mengetahui usia kehamilan dan mendeteksi abnormalitas. USG sudah dapat mendeteksi kehamilan dengan melihat yolk sac pada minggu ke 4-5 gestasi (lihat gambar 1). Penggunaan USG untuk menentukan usia kehamilan ternyata lebih efektif daripada hanya berpatokan kepada tanggal menstruasi terakhir. Dengan bantuan USG angka kelahiran postterm dapat ditekan (Waldenstrom et.al, 1988).

Tekhnik pemeriksaan USG ( transabdominal)

1.        posisi pasien dan pemeriksa. Pemeriksaan umumnya dilakukan pada pasien dalam posisi terlentang. Alat USG di tempatkan di sebelah kana pasien. Pemeriksa berada di sebelah kanan pasien, duduk menghadap kearah muka pasien dan layar monitor USG.
2.        persiapan pada keadaan tidak hamil atau kehamilan trimester 1, organ genitalia interna masih berada di dalam rongga pelvis, tertutup masa usus dan dilindungi oleh m=tulang pelvis. Uterus berada dalam posisi antero- atau retro fleksi- versi. Adanya tulang pelvis (simfisis pubis) dan masa usus yang berisi gas akan menghalangi pemeriksaan USG. Untuk mengataasi hal tersebut, setiap pemeriksa USG pada kehamilan trimester 1 harus dilakukan dalam keadaan kandung kencing yang penuh. (persiapanini tidak diperlukan bila pemeriksaan dilakukan dengan probeintravagi-nal).  Kandung kencing yang berisi penuh akan mendesak masa khusus keluar dari rongga pelvis, dan mengubah kedudukan uterus dalam posisi aksial. Dengan demikian kandung kencing berfungsi sebagai jendela akustik yang akan mempermudah pemeriksaan organ genitalia interna. Kandung kencing tidak boleh terisi terlalu penuh (over filled) karena akan menyebabkan bentuk uterus kelihatan lebih pipih dan memeanjang. Selain itu uterus gravidarus menjadi mudah berkontraksi akibatnya kantong gestasi ikut tertekan sehingga bentuknya tidak bulat lagi, dan adanya mudigah jadi sulit dideteksi. Adanya tumor adneksa dapat luput dari pemeriksaan bila kandung kencing terlampau penuh, oleh karena kan terdorong keatas. Pada kehamilan trimester 2 dan 3 uterus sudah cukup besar, sehingga keluar dari rongga pelvis dan mendesak masa usus keaarah kranial dan lateral, sehingga tidak menutupi uterus lagi. Disamping itu sairan ketuban sudah cukup banyak jumlahnya, dan dapat berfungsi sebagaia jendela akustuk. Persiapan kandung kencing tidak diperlukan, kecuali pada keadaan tertentu seperti pemeriksaan plasenta previa (terutama yang letaknya sebagian besar pada dinding posterior), atau untuk menilai ostium uteri internum dan serviks.
3.        penggunaan bahan perangkai (coupling agent). Udara merupakan medium yang sangat buruk bagi perambatan gelombang ultrasonik sehingga menghalangi pemeriksaan USG, adanya udara di permukaan probe dan dinding abdomen harus dihilangkan dengan memberikan bahan perangkai, yaitu medium yang mudah dilalui gelombang ultrasonik. Bahan yang bisa digunakan sebagai bahan perangkai, misalnya jeli atau minyak mineral yang dioleskan pada permukaan abdomen.

Indikasi pemeriksaan USG obstetri

Sebetulnya belum ada keseragaman mengenai indikasi pemeriksaan USG dalam kehamilan. Di beberapa negara eropa pemeriksaan USG dikerjakan secara rutin sedikitnya 1 samapai 2 kali selama kehamilan. di amerika USG dilakukan dengan indikasi yaitu :
1.      Usia kehamilan yang tidak jelas.
2.      tersangka kehamilan multiple
3.      perdarahan dalam kehamilan
4.      tersangka kematian mudigah atau janin
5.      tersangka kehamilan ektopik
6.      tersangka kehamilan mola
7.      terdapat perbedaan tingggi fundus uteri dan lamanya amenorrhea
8.      presentasi janin yang tidak jelan
9.      tersangka PJT
10.  tersangka janin besar
11.  tersangka oligohidramnion
12.  penentuan posisi bentuk janin
13.  evaluasi letak dan keadaan plasenta
14.  adanya resiko atau tersangka cacat bawaan
15.  sebagai alat bantu dalam tindakan obstetri seperti plasenta manual
16.  tersangka kehamilan dengan IUD
17.  tersangka kehamilan dengan kelainan bentuk uterus
18.  tersangka kehamilan dengan tumor pelvic
19.  sebagai alat bantu dalam tindakan intervensi dalam kehamilan seperti amniosintesis.

Kontraindikasi

Hingga saat ini tidak dikenal adanya kontraindikasi pemeriksaan USG terhadap kehamilan.

Pemeriksaan USG selama kehamilan

a.        Trimester Pertama
·           Meyakinkan kemungkinan kehamilan intrauterin
·           Meyakinkan detak jantung
·           Untuk mendekteksi adanya kehamilan multipel.
Gambaran tersebut dapat diketahui dengan jelas mulai kehamilan 6 minggu. Adanya cairan atau darah di dalam kavum uteri dapat memberiksan gambaran yang menyerupai kantong gestasi, sehingga dapat menimbulkan kesalahan diagnosis. Diagnosisi pasti kehamilan multipel hanya bisa ditegakan dengan USG yaitu mulai kehamilan 7 minggu.
·           Mengukur usia perkembangan atau panjang crown-rump untuk menentukan usia kehamilan
·           Meyakinkan adanya hamil ektopik (hamil di luar rahim) atau hamil anggur
·           Menguji perkembangan yang tidak normal
·           Mendeteksi adanya komplikasi pada kehamilan trimester 1 misalnya perdarahan nidasi, abortus, dan kehamialan anembrionik.

b.        Trimester Kedua :
·           Letak dan presentasi janin
·           Pengukuran biometri antara lain :
-           Mengukur diameter biparietal
-           Lingkar kepala
-           Femur
-           Lingkar perut, dll.
·           Menentukan jenis kelamin bayi
·           Minggu ke-13 - ke14 untuk karakteristik kemungkinan sindrom  Down
·           Minggu ke-18 ke-20 untuk cacat kongenital
·           Diagnosa kelainan struktural/ kelainan kongenital
Dengan alat USG yang ada sekarang, sebaian besar kelaian struktur janin sudah dapat dideteksi sebellum kehamilan 20 minggu. Penanganan terhadap kelainan kongenital umunya didasarkan atas jenis kelaianan, derajat beratnya kelainan, dan usia kehamilan pada saat ditemukannya kelainan. Pemeriksaan USG sangat bermanfaat dalam pengambilan keputusan terhadap kelainan kongenital. Dengan demikian kematian perinatal akibat kelainan kongenital dapat dikurangi. Kelainan kongenital diantaranya :
1.        kepala
a.         hidrocepalus
b.        anencepalus
c.         mikrosefalus
Mikrosefalus pertumbuhan besarnya kepala di tentukan oleh pertumbuhan jaringan otak, pada mikrosfalus terdapat gangguan pertumbuhan otak, sehingga ukuran kepala menjadi lebih kecil dari normal. Bayi-bayi dengan mikrosefalus biasanya mengalami kemunduran intelektual dan gangguan pertumbuhan.
Diagnosis mikrosefalus tidak selalu mudah. Keadaan ini harus dibedakan dari janin yang mengalami gangguan pertumbuhan (IUGR). Pada mikrosefalus ukuran kepala mungkin juga jarak biorbita lebih kecil dari normal, sedangkan ukuran biometri janinnnya masih sesuai dengan usia kehamilan. Beberapa penulis mendiagnosis mikrosefalus bila ukuran lingkar kepala berada dibawah tiga deviasi standar (-3SD) dari ukuran rata-rata.
d.        ensefalokel
Ensefalokel dsebabkan oleh defek tulang kepala, biasanya terjadi di bagaian oksipital, kadang-kandang juga dibagian nasal, frontal, atau parietal. Besarnya defek berfariasi.  Pada defek yang besar sering kali disertai henisti jaringan otak (exensefalus). Luasnya defek dan besarnya herniasti jaringan otak akan menentukan diagnosis ensefalokel. ensefalokel mudah dideteksi dengan USG bila defek tulang kepala cukup besar, apalagi bila sudah disertai herniasi. Akan tetapi lesi pada tulang kepala menjadi sulit dikenali bila terdapat oligohidramnion. ensefalokel mungkin disertai hidrosefalus, atau kelainan kongnital lainnya (sindroma mackel, sindroma dandy-walker). Kelainan kepala lainnya yang dapat di dteksi dengan USG adalah kista otak, ini ensefalus ( fusi tulang oksiput dengan vertebrata sehingga janin dalam sikap hiperextensi), holoprosensefalus ( hanya terbentuk sebuah rongga vntrikel yang berdilatasi). Hidranensefalus (destruksi total dengan otak, sehingga kepala lainnya berisi cairan), kelainan bentuk kepala dan sebagainya.

2.        spina
Pada penampang longitudinal, spina terlihat sebagai 2 garis paralel yang ekhogenik menyerupai gambaran rel kereta. Keduagaris itumelebar di daerah serfikal, kemudian mnyempit secara bertahap kearah sakrum. Pada penampang transfersal, kanalis spinalis terlihat sebagai struktur bulat hipoekhoik di kelilingi oleh struktur tulang yang sirkuler dan ekhogenik. Spina spida merupakan kelainan saluran neural akibat kegagalan dalam proses penutupan arkus vertebra, defek ini dapat terjadi didaerah lumbosakral (90%), toraks (6%), dan servikal(3%). Pada 70% kasus di jumpai adanya hidrosefalus.
Pada pemeriksaan USG spina bifida memberikan gambaran yang spesifik. Gambaran pararel vertebra (penampang longitudinal) didaerah defek akan berubah dan terlihat garis divergen, menyerupai huruf Y. adanya meningokel atau meningmiolokel akan terlihat sebagai tonjolan masa di daerah defek. Pada penampang transversal, gambaran kesan seperti huruf U atau V

3.        Toraks
toraks mudah dikenali dengan melihat struktur jantung didalamnya. Bentuk toraks menyerupai bel (bell shape) dengan bagian aeks menunjuk kearah cranial dan bagian basal di batasi diafragma.
Penampangan jantung yang banyak digunakan dalam pmeriksaan USG untuk mempelajari struktur jantung adalah penampangan longitudinal melalui keempat rongga jantung. Melalui penampangan ini akan dapat terlihat bagian kedua ventrikel, kedua atrium, septum interventrikuler, septum interatrial, katup mitral dan trikuspidal, serta foramen ovale. Ventrikel kanan letaknya paling dekat ke tulang sternum, sehingga dapat dipakai sebagai pedoman untuk mengidentifikasi struktur jantung lainnya.
Organ paru terlihat sebagai struktur homogeny, dan mempunyai ekogenisitas yang moderat. Pada kehamilan muda, jaringan paru terlihat hipohoik dibandingkan dengan jaringan hepar. Ekogenisitas jaringan paru akan bertambah dengan semakin tuanya kehamilan. Setelah kehamilan 35 minggu jaringan paru terlihat isoekoik atau hiperekoik dibandingkan dengan jaringan hepar. Pada keadaan ini fungsi respiratori paru cukup matang. Beberapa kelainan organ thoraks yang dapat didiagnosis dengan pemeriksaan USG antara lain:
a.         Kelainan system pertulangan: dwarfisme thanathoporix, distrofiathoraks, dysplasia khondroekto dermal, osteogenesis inperfekta.
b.        Kelainan paru: hipoplasia paru, tumor paru.
c.         Atresia esophagus
d.        Hernia diafragmatika
e.         Kelainan jantung aritma, kelainan anatomi
f.          Hidrothoraks dan efusi pericardial

4.        abdomen
Kelainan abdomen dapat memberikan gambaran USG yang spesifik sehingga mudah terdeteksi, seringkali kelainan abdomen disertai kelainan organ janin lainnya, seperti misalnya kelainan jantung, kelainan saluran kemih, atau  pada sindrom down.
Bila kelainan berupa obstruksi saluran pencernaan di bagan proaksmal ilium, biasanya mnyebabkan hidroamnion. Sedangkan pada keadaan hidropspetalis terlihat adanya asites serta terlihat pembesaran hepar dan limpa.
Beberapa kelainan abdomen yang dapat dideteks dengan USG, antara lain:
a.         Obstruksi traktus gastrointestinal
b.        Gastrokisis ompalokel
c.         Hernia umbikalis
d.        Hernia diafragmatika

5.        raktus urogenitalis
Banyaknya cairan amnion, terutama pada kehamilan trimester 3 sangat ditentukan oleh banyaknya urin yang diproduksi janin. Karena itu pada kelainan beberapa traktus urinarius seringkali menyebabkan berkurangnya jumlah cairan amnion (oligohidramnion). Keadaan ini misalnya dijumpai pada sindroma Potter  (agenesis renal bilateral, oligohidramnion, , kelainan bentuk wajah, dan hipoplasia paru), dan ginjal ilokistik bilateral. Kandung kencing biasanya tidak terlihat buka kurung (kolaps ) akibat tidak diproduksi urin. Ginjal polikistik biasanya bilateral, dan ada kaitannya dengan kelainan genetic (resesip autosomal) pada pemeriksaan USG ginjal polikistik terlihat sebagai massa tumor ekogenik yang letaknya intra abdomal.
Pada pemeriksaan USG terlihat struktur kistik multiple pada ginjal, diameternya sekitar 1-2 cm , kadang-kadang mencapai 6 cm.

6.        ekstremitas
Selain untuk pengukuran biometric, pemeriksaan ekstremitas diperlukan untuk mendeteksi adanya dwarvisme, fokomelia, akhondroplasia, dan beberapa keadaan hipomineralisasi (akhondrogenesis, osteogenesis imperfekta, dsb).
Kadang-kadang dijumpai keadaan amputasi salah satu bagian ekstremitas, misalnya akibat sindroma pita amnion (amniotic band syndrome). Kelainan pada jari seperti polidaktili , adaktili, sindaktili, dan ektrodaktili dapat juga dideteksi dengan pemeriksaan USG, meskipun pemeriksaan ini cukup memakan waktu dan tidak mempunyai arti klinis yang penting (tidak mengubah cara penanganan kehamilan).
·           Meyakinkan tanggal dan pertumbuhan
·           Meyakinkan kematian dalan rahim
·           Mengidentifikasi hydramnios atau oligohydramnios – air ketuban yang kurang atau berlebihan

c.         Trimester Ketiga :
·           Mengidentifikasi lokasi janin
·           Meyakinkan kematian dalam rahim
·           Mengobservasi kehadiran janin
·           Mengobservasi gerakan janin
·           Mengidentifikasi ketidaknormalan panggul dan uterine sang ibu selama masa kehamilan.

Waktu melakukan USG

Uji USG dapat dilakukan kapan saja selama masa kehamilan dan hasilnya dapat langsung dilihat pada layar selama uji ini dilakukan. Pemindaian transvaginal dapat digunakan di awal kehamilan untuk.









DAFTAR PUSTAKA


1        Manuaba. 2007. Pengantar Kuliah Obstetri. Penerbit EGC, Jakarta.
2        Prawirohardjo, Sarwono. 2009. Ilmu Kebidanan.Jakarta : Bina Pustaka sarwono Prawirohardjo
3        Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung.1983. Obstetri Fisiologi. Penerbit: Eleman, Bandung.
4        Mochtar, rustam. 2001. Sinopsis Obstetri. Penerbit : EGC, Jakarta.
5        Bahan ajar keperawatan ibu-bayi baru lahir. Barbara R. Stright.2005. EGC:Jakarta
6        Kihlstrand M, Stenman B, Nilsson S et al. 1999. Water-gymnastics reduced the intensity of back/low back pain in pregnant women. Acta Obstetricia et Gynecologica Scandinavica 78(3): 180-5
7        Hamilton, Persis Mary, Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas, Alih Bahasa Ni Luh Gede Yasmin Asih, Edisi 6, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 1995.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar