Infeksi Menular Seksual dan Fluor Albus


Infeksi Menular Seksual dan Fluor Albus

I.                   Infeksi Menular Seksual
Definisi
Infeksi menular seksual (IMS) disebut juga Penyakit menular seksual (PMS) atau dalam bahasa Inggrisnya sexually transmitted disease (STD), sexually transmitted infection (STI) or venereal disease (VD). Infeksi (lebih tepatnya infeksi-infeksi) yang digolongkan dalam IMS/PMS salah satu cara penularannya melalui hubungan seksual (vaginal, oral, anal) dengan pasangan yang sudah tertular. Jenisnya sangat banyak, semakin sering kita berganti-ganti pasangan seks semakin besar kemungkinan tertular (bisa saja tertular berbagai macam virus, bakteri, jamur, dan protozoa dalam tubuh kita). Ada jenis yang efeknya terasa dalam 3 hari sesudah terpajan (terkena), ada pula yang membutuhkan waktu lama. Sebaiknya IMS cepat diobati karena menjadi pintu gerbang masuknya HIV ke dalam tubuh kita.


Soadara/sodari YTH.... setiap mengunjungi Blog ini Jangan Lupa ya nge-Klik Iklan nya.....Terima kasih :)

IMS juga disebut penyakit kelamin atau penyakit kotor. Namun itu hanya menunjuk pada penyakit yang ada di kelamin. Istilah Infeksi Menular Seksual lebih luas maknanya, karena menunjuk pada cara penularannya. Tanda-tandanya tidak selalu ada di alat kelamin. Tanda-tandanya juga ada di alat penglihatan, mulut, saluran pencernaan, hati,otak dan bagian tubuh lainnya.
Contohnya HIV/AIDS dan Hepatitis B yang menular lewat hubungan seks, tetapi penyakitnya tidak bisa dilihat dari alat kelaminnya. Artinya, alat kelaminnya masih tampak sehat meskipun orangnya membawa bibit penyakit-penyakit ini.

Gejala – gejala IMS
IMS seringkali tidak menampakkan gejala, terutama pada wanita. Namun ada pula IMS yang menunjukkan gejala-gejala umum sebagai berikut :
·        Keluarnya cairan dari vagina, penis atau dubur yang berbeda dari biasanya,
·        Rasa perih, nyeri atau panas saat kencing atau setelah kencing, atau menjadi sering kencing,
·        Adanya luka terbuka, luka basah di sekitar kemaluan atau sekitar mulut (nyeri ataupun tidak),
·        Tumbuh seperti jengger ayam atau kutil di sekitar alat kelamin,
·        Gatal-gatal di sekitar alat kelamin,
·        Terjadi pembengkakan kelenjar limfa yang terdapat pada lipatan paha,
·        Pada pria, kantung pelir menjadi bengkak dan nyeri,
·        Pada wanita, sakit perut bagian bawah yang kambuhan (tetapi tidak ada hubungannya dengan haid),
·        Mengeluarkan darah setelah berhubungan seks, dan
·        Secara umum merasa tidak enak badan atau demam.
IMS tidak dapat dicegah dengan :
·        Meminum minuman beralkohol seperti bir dan lain-lain.
·        Meminum antibiotik seperti supertetra, penisilin dan lain-lain, sebelum atau sesudah berhubungan seks, tidak ada satu obat pun yang ampuh untuk membunuh semua jenis kuman IMS secara bersamaan (kita tidak tahu jenis IMS mana yang masuk ke tubuh kita). Semakin sering meminum obat-obatan secara sembarangan malah akan semakin menyulitkan penyembuhan IMS karena kumannya menjadi kebal terhadap obat.
·        Mendapatkan suntikan antibiotik secara teratur, pencegahan penyakit hanya dapat dilakukan oleh antibodi di dalam tubuh kita.
·        Memilih pasangan seks berdasarkan penampilan luar (misalnya, yang berkulit putih bersih) atau berdasarkan usia (misalnya, yang masih muda), anak kecil pun dapat terkena dan mengidap bibit IMS, karena penyakit tidak membeda-bedakan usia dan tidak pandang bulu.
·        Membersihkan/mencuci alat kelamin bagian luar (dengan cuka, air soda, alkohol, air jahe, dll) dan bagian dalam (dengan odol, betadine atau jamu) segera setelah berhubungan seks.
Penanganan IMS
1.      Segera pergi ke dokter untuk diobati
    Jangan mengobati IMS sendiri tanpa mengetahui penyakit apa yang menyerang kita (jenis IMS sangat banyak dan ada kemungkinan terjadi komplikasi), dibutuhkan tes untuk memastikan IMS yang diderita.
    Jangan minum obat sembarangan. Obat IMS berbeda-beda, tergantung jenis IMS yang diderita
    Jangan pergi berobat ke dukun atau tukang obat. Hanya dokter yang tahu persis kebutuhan obat untuk IMS yang diderita. Penggunaan herbal bisa dilakukan (sebaiknya) jika ada yang mengawasi/penanggungjawab.
2.      Ikuti saran dokter
Jangan menghentikan minum obat yang diberikan dokter meskipun sakit dan gejalanya sudah hilang. Jika tidak diobati dengan tuntas (obat dikonsumsi sampai habis sesuai anjuran dokter) ,  maka kuman penyebab IMS akan kebal terhadap obat-obatan.
3.      Jangan berhubungan seks selama dalam pengobatan IMS
Hal ini berisiko menularkan IMS yang diderita kepada pasangan seks Anda.
4.      Jangan hanya berobat sendiri saja tanpa melibatkan pasangan seks (khususnya pasangan sah)
Pasangan seksual Anda juga harus diperiksa dan berobat ke dokter. Jika tidak, IMS yang diderita akan ulang-alik dari kita ke pasangan kita, kemudian dari pasangan kita ke kita dan seterusnya. Kedua belah pihak harus disembuhkan agar tidak saling menulari kembali.
Pencegahan IMS
Pencegahan penyebarluasan IMS hanya dapat dilakukan dengan cara :
1.      Anda jauhi seks,  tidak melakukan hubungan seks (abstinensi), atau
2.      Bersikap saling setia, tidak berganti-ganti pasangan seks (monogami) dan saling setia, atau
3.      Cegah dengan memakai kondom, tidak melakukan hubungan seks berisiko (harus selalu menggunakan kondom).
4.      Tidak saling meminjamkan pisau cukur dan gunting kuku.
5.      Edukasi,  embuskan informasi mengenai HIV/AIDS dan IMS kepada kawan-kawan Anda.
Penularan IMS
Kita bisa terkena IMS melalui hubungan seks yang tidak aman. Yang dimaksudkan tidak aman adalah :
§  Hubungan seks lewat liang senggama tanpa kondom (zakar masuk ke vagina atau liang senggama)
§  Hubungan seks lewat dubur tanpa kondom (zakar masuk ke dubur)
§  Seks oral (zakar dimasukkan ke mulut tanpa zakar ditutupi kondom)
Penularan IMS juga dapat terjadi dengan cara lain, yaitu :
Melalui darah :
·        transfusi darah dengan darah yang sudah terinfeksi HIV,
·        saling bertukar jarum suntik pada pemakaian narkoba,
·        tertusuk jarum suntik yang tidak steril secara sengaja/tidak sengaja,
·        menindik telinga atau tato dengan jarum yang tidak steril,
·        penggunaan alat pisau cukur secara bersama-sama (khususnya jika terluka dan menyisakan darah pada alat).
Dari ibu hamil kepada bayi :
·        saat hamil,
·        saat melahirkan,
·        saat menyusui.
Tidak benar jika Infeksi Menular Seksual di tularkan melalui :
 
Jenis-jenis Infeksi Menular Seksual
Penyebab Bakteri
Penyebab Fungi/jamur
Penyebab Virus
Penyebab Parasit
Penyebab Protozoa
Hepatitis


Hepatitis adalah peradangan pada hati karena toxin, seperti kimia atau obat ataupun agen penyebab infeksi. Hepatitis yang berlangsung kurang dari 6 bulan disebut "hepatitis akut", hepatitis yang berlangsung lebih dari 6 bulan disebut "hepatitis kronis".
Hepatitis biasanya terjadi karena virus, terutama salah satu dari kelima virus hepatitis, yaitu A, B, C, D atau E. Hepatitis juga bisa terjadi karena infeksi virus lainnya, seperti mononukleosis infeksiosa, demam kuning dan infeksi sitomegalovirus. Penyebab hepatitis non-virus yang utama adalah alkohol dan obat-obatan.

  • Virus hepatitis A
Virus hepatitis A terutama menyebar melalui tinja. Penyebaran ini terjadi akibat buruknya tingkat kebersihan. Di negara-negara berkembang sering terjadi wabah yang penyebarannya terjadi melalui air dan makanan.

  • Virus hepatitis B

Penularannya tidak semudah virus hepatitis A. Virus hepatitis B ditularkan melalui darah atau produk darah. Penularan biasanya terjadi diantara para pemakai obat yang menggunakan jarum suntik bersama-sama, atau diantara mitra seksual (baik heteroseksual maupun pria homoseksual).
Ibu hamil yang terinfeksi oleh hepatitis B bisa menularkan virus kepada bayi selama proses persalinan. Hepatitis B bisa ditularkan oleh orang sehat yang membawa virus hepatitis B. Di daerah Timur Jauh dan Afrika, beberapa kasus hepatitis B berkembang menjadi hepatitis menahun, sirosis dan kanker hati.
Hepatitis B dapat dicegah dengan vaksinasi dan menghindari perilaku berisiko.
  • Virus hepatitis C
Menyebabkan minimal 80% kasus hepatitis akibat transfusi darah. Virus hepatitis C ini paling sering ditularkan melalui pemakai obat yang menggunakan jarum bersama-sama. Jarang terjadi penularan melalui hubungan seksual. Untuk alasan yang masih belum jelas, penderita "penyakit hati alkoholik" seringkali menderita hepatitis C.
  • Virus hepatitis D
Hanya terjadi sebagai rekan-infeksi dari virus hepatitis B dan virus hepatitis D ini menyebabkan infeksi hepatitis B menjadi lebih berat. Yang memiliki risiko tinggi terhadap virus ini adalah pecandu obat.
  • Virus hepatitis E
Virus hepatitis E kadang menyebabkan wabah yang menyerupai hepatitis A, yang hanya terjadi di negara-negara terbelakang.

Gonorrhoe
Etiologi :
Gonorrhoe adalah penyakit menular seksual yang  disebabkan oleh neisseria gonorrhoeae yang bersifat diplococcus. Neisseria Gonorrhoeae dapat memasuki selaput lendir yang utuh dan berkembang biak intra dan subepitel.
Neisseria gonorrhoeae terutama terdapat pada epitel yang sekretoris dan hanya pada keadaan tertentu memasuki epitel gepeng berlapis banyak. Dalam secret, neisseria gonorrhoeae terdapat intracellular jadi di dalam lekosit dalam sel epitel dan bersifat gram negative. Infeksi terjadi oleh koitus dengan pria yang mengandung neisseria gonorrhoeae dalam alat kelaminnya atau saluran kencingnya. Jarang sekali terjadi infeksi dengan perantara alat, handuk, dll. 
Gejala :
·        Pada koitus maka eyakulat yang mengandung gonococcus berhubungan dengan vulva, vagina dan portio. Gonococcus dapat memasuki muara urethra, saluran bartholini, canalis cervikalis dan rectum.
Pada wanita biasanya tidak sanggup memasuki selaput lendir epitel gepeng berlapis banyak dari vulva dan vagina. Hanya anak-anak , pada wanita tua dan dalam kehamilan dapat menimbulkan vaginitis dan vulvitis. Mula-mula terjadi infeksi rendah, tetapi sesudah menstruasi, abortus persalinan, kuman tersebut dapat naik ke atas dan menimbulkan infeksi tinggi.
·        Beberapa jam setelah koitus maka pada wanita yang kena infeksi GO timbul perasaan panas waktu kencing disebabkan radang urethra dan kelenjar paraurethralis. Kemungkinan infeksi di tempat-tempat ini terutama terjadi pada virgo karena introitusnya sempit sehingga emission penis agak sukar.
·        Kalau cerviks yang terserang, yang terutama terjadi pada multipara karena introitusnya longgar maka setelah beberapa hari timbul fluor yang bersifat nanah dan berwarna hijau kuning. Fluor ini kemudian dapat menginfeksi urethra dan kelenjar paraurethralis.
Pada infeksi Go yang baru maka terjadi :
a         Urethritis 95 %
b        Cervicitis 80 %
c         Bartholonitis 20 %
d        Procitis 10 %
·        Kalau radang naik, maka terjadi endometritis gonorrhoica, salpingitis gonorrhoica dengan dengan gejala sakit diperut bagian bawah, demam tinggi dan gejala perangsanagn peritoneum lainnya. Biasanya ostium abdominal tubae tertutup hingga peritonitis gonorrhoica jarang terjadi.selanjutnya dapat terjadi pyosalpink dan tubaovarial abses.
·        Pada anak-anak dapat terjadi vaginitis gonorrhoica infantum sedang pada wanita dalam menopause dapat terjadi vaginitis gonorrhoica senilis
·        Kalau fluor berlangsung lama data terjadi condylomata acuminate pada vagina, vulva dan sekitarnya.
·        Anak yang lahir dari ibu yang menderita Go dapat menderita conjunctivitis gonorrhoica, yang dulu merupakan sebab penting dari kebutaan.
Dengan profilakse dari crede, infeksi ini dapat dicegah.
Diagnose :
Wanita yang mengeluh tentang perasaan panas waktu kencing, harus diperiksa alat kemaluannya. Biasanya terdapat kemerahan pada daerah sekitar orificium urethtrae dan pada muara kelenjar bartholini. Dari urethra terlihat keluarnya secret bernanah terutama kalau urethra di pijat dengan jari dari atas kebawah.
Dalam vagina terdapat banyak flour yang berwarna hijau kuning dan dari serviks yang berwarna merah menyala keluar nanah. Denagn lidiwatten yang steril di buat sediaan apus dari secret urethra dan servks denagn di warnai secara gram. Kalau terdapat diplokokus seperti buah kopi yang letaknya intracellular maka besar kemungkinannya Go yang kita hadapi. Kadang-kadang untuk diagnose pasti diperlukan pembiakan. gonorhoe dapat menjadi kronis kan tetapi tidak menimbulkan kekebalan.
Diagnose gonorhoe yang menahun hanya dapat ditegakan dengan pembiakan.

Diagnosis dan Pengobatan
Diagnosis penyakit gonore didasarkan pada hasil pemeriksaan mikroskopik terhadap nanah, dimana ditemukan bakteri penyebab gonore. Jika pada pemeriksaan mikroskopik tidak ditemukan bakteri, maka dilakukan pembiakan di laboratorium.
Gonore biasanya diobati dengan suntikan tunggal seftriakson intramuskuler (melalui otot) atau dengan pemberian antibiotik per-oral (melalui mulut) selama satu minggu (biasanya diberikan doksisiklin). Jika gonore telah menyebar melalui aliran darah, biasanya penderita dirawat di rumah sakit dan mendapatkan antibiotik intravena (melalui pembuluh darah atau infus).

Herpes genital

Herpes genital merupakan penyakit infeksi akut pada genital dengan gambaran khas berupa vesikel berkelompok pada dasar eritematosa, dan cenderung bersifat rekuren. Umumnya disebabkan oleh herpes simpleks virus tipe 2 (HSV-2), tetapi sebagian kecil dapat pula oleh tipe 1.
 Herpes genitalis terjadi pada alat genital dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha). Ada dua macam tipe HSV yaitu : HSV-1 dan HSV-2 dan keduanya dapat menyebabkan herpes genital. Infeksi HSV-2 sering ditularkan melalui hubungan seks dan dapat menyebabkan rekurensi dan ulserasi genital yang nyeri. Tipe 1 biasanya mengenai mulut dan tipe 2 mengenai daerah genital.
HSV dapat menimbulkan serangkaian penyakit, mulai dari ginggivostomatitis sampai keratokonjungtivitis, ensefalitis, penyakit kelamin dan infeksi pada neonatus. Komplikasi tersebut menjadi bahan pemikiran dan perhatian dari beberapa ahli, seperti : ahli penyakit kulit dan kelamin, ahli kandungan, ahli mikrobiologi dan lain sebagainya. Infeksi primer oleh HSV lebih berat dan mempunyai riwayat yang berbeda dengan infeksi rekuren. Setelah terjadinya infeksi primer virus mengalami masa laten atau stadium dorman, dan infeksi rekuren disebabkan oleh reaktivasi virus dorman ini yang kemudian menimbulkan kelainan pada kulit. Infeksi herpes simpleks fasial-oral rekuren atau herpes labialis dikenali sebagai fever blister atau cold sore dan ditemukan pada 25-40% dari penderita Amerika yang telah terinfeksi. Herpes simpleks fasial-oral biasanya sembuh sendiri. Tetapi pada penderita dengan imunitas yang rendah, dapat ditemukan lesi berat dan luas berupa ulkus yang nyeri pada mulut dan esofagus.
Perjalanan Penyakit termasuk keluhan utama dan keluhan tambahan. Umumnya kelainan klinis/keluhan utama adalah timbulnya sekumpulan vesikel pada kulit atau mukosa dengan rasa terbakar dan gatal pada tempat lesi, kadang-kadang disertai gejala konstitusi seperti malaise, demam, dan nyeri otot.
Diagnosis herpes genital secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritem dan bersifat rekuren. Diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisisk jika gejalanya khas dan pemeriksaan laboratorium.
Pengobatan dari herpes genital secara umum bisa dengan menjaga kebersihan lokal, menghindari trauma atau faktor pencetus. Adapun obat-obat yang dapat menangani herpes genital adalah asiklovir, valasiklovir, famsiklovir.
Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa.
Kematian oleh infeksi HSV jarang terjadi. Infeksi inisial dini yang segera diobati mempunyai prognosis lebih baik, sedangkan infeksi rekuren hanya dapat dibatasi frekuensi kambuhnya. Pada orang dengan gangguan imunitas, misalnya penyakit-penyakit dengan tumor di sistem retikuloendotelial, pengobatan dengan imunosupresan yang lama, menyebabkan infeksi ini dapat menyebar ke alat-alat dalam dan fatal. Prognosis akan lebih baik seiring dengan meningkatnya usia seperti pada orang dewasa. Terapi antivirus efektif menurunkan manifestasi klinis herpes genitalis.

Penyebabnya adalah virus herpes simpleks.
Ada 2 jenis virus herpes, simpleks yaitu :
·        HSV-1 : biasanya menginfeksi mulut
·        HSV-2 : di tularkan melalui hubungan seksual
Kedua jenis virus herpes simpleks tersebut bisa menginfeksi kelamin, kulit di sekeliling rektum atau tangan (terutama bantalan kuku) dan bisa ditularkan ke bagian tubuh lainnya (misalnya permukaan mata).
Luka herpes biasanya tidak terinfeksi oleh bakteri, tetapi beberapa penderita juga memiliki organisme lainnya pada luka tersebut yang ditularkan secara seksual (misalnya sifilis atau cangkroid) Kejadian penyakit ini sangat cepat akhir-akhir ini. Penyakit ini tak dapat diberantas secara tuntas dan sering kumat-kumatan, dan dapat menimbulkan komplikasi pada saat hamil dan persalinan.
Herpes genitalis disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe 1 dan tipe 2.
·        tipe 1 : keganasan rendah, menyerang terutama sekitar mulut
·        tipe 2 : ganas, menyerang alat kelamin
ü  penyebab : virus Herpes Simpleks
ü  perantara : manusia, bahan yang tercemar virus
ü  tempat virus keluar : penis, vagina, anus, mulut
ü  cara penularan : kontak langsung
ü  tempat kuman masuk : penis, vagina, anus, mulut
Pada wanita penyakit ini biasanya tanpa gejala, tapi dapat menularkan penyakit. Penularan hampir selalu terjadi melalui hubungan seksual. masa inkubasi 3-5 hari, kemudian pada daerah kemaluan timbul gerombolan vesikel, di atas kulit kemerahan dan dirasakan nyeri, bila pecah meninggalkan bekas. Sering disertai pembesaran kelenjar yang nyeri. Penyakit sembuh dalam 2-3 minggu. Penyakit sering kumat, timbul pada tempat yang sama dan biasanya lebih ringan dari gejala infeksi pertama. Faktor yang mempengaruhi kekambuhan biasanya adalah kelelahan fisik dan stress mental, atau infeksi sistemik lainnya. Hubungan seksual yang berlebihan dengan banyak pasangan meningkatkan kemungkinan berhubungan dengan orang yang sudah kena. Komplikasi pada wanita hamil dapat ditularkan melalui ari-ari atau pada saat melahirkan, dapat menyebabkan keguguran, kematian janin atau cacad permanen. Di samping itu, dapat pula menyebabkan kanker serviks.
Gejala awalnya mulai timbul pada hari ke 4-7 setelah terinfeksi. Gejala awal biasanya berupa gatal, kesemutann dan sakit. Lalu akan muncul bercak kemerahan yang kecil, yang diikuti oleh sekumpulan lepuhan kecil yang terasa nyeri. Lepuhan ini pecah dan bergabung membentuk luka yang melingkar. Luka yang terbentuk biasanya menimbulkan nyeri dan membentuk keropeng. Penderita bisa mengalami kesulitan dalam berkemih dan ketika berjalan akan timbul nyeri.Luka akan membaik dalam waktu 10 hari tetapi bisa meninggalkan jaringan parut.
Pada pria, lepuhan dan luka bisa terbentuk di setiap bagian penis, termasuk kulit depan pada penis yang tidak disunat. Pada wanita, lepuhan dan luka bisa terbentuk di vulva dan leher rahim. Jika penderita melakukan hubungan seksual melalui anus, maka lepuhan dan luka bisa terbentuk di sekitar anus atau di dalam rektum.
Pada penderita gangguan sistem kekebalan (misalnya penderita infeksi HIV), luka herpes bisa sangat berat, menyebar ke bagian tubuh lainnya, menetap selama beberapa minggu atau lebih dan resisten terhadap pengobatan dengan asiklovir.
Gejala-gejalanya cenderung kambuh kembali di daerah yang sama atau di sekitarnya, karena virus menetap di saraf panggul terdekat dan kembali aktif untuk kembali menginfeksi kulit. HSV-2 mengalami pengaktivan kembali di dalam saraf panggul. HSV-1 mengalami pengaktivan kembali di dalam saraf wajah dan menyebabkan fever blister atau herpes labialis. Tetapi kedua virus bisa menimbulkan penyakit di kedua daerah tersebut. Infeksi awal oleh salah satu virus akan memberikan kekebalan parsial terhadap virus lainnya, sehingga gejala dari virus kedua tidak terlalu berat.
Infeksi awal dari 63% HSV-2 dan 37% HSV-1 adalah asimptomatik. Simptom dari infeksi awal (saat inisial episode berlangsung pada saat infeksi awal) simptom khas muncul antara 3 hingga 9 hari setelah infeksi, meskipun infeksi asimptomatik berlangsung perlahan dalam tahun pertama setelah diagnosa di lakukan pada sekitar 15% kasus HSV-2. Inisial episode yang juga merupakan infeksi primer dapat berlangsung menjadi lebih berat. Infeksi HSV-1 dan HSV-2 agak susah dibedakan.
Tanda utama dari genital herpes adalah luka di sekitar vagina, penis, atau di daerah anus. Kadang-kadang luka dari herpes genital muncul di skrotum, bokong atau paha. Luka dapat muncul sekitar 4-7 hari setelah infeksi.
Gejala dari herpes disebut juga outbreaks, muncul dalam dua minggu setelah orang terinfeksi dan dapat saja berlangsung untuk beberapa minggu.
·        Adapun gejalanya sebagai berikut :
ü  Nyeri dan disuria
ü  Uretral dan vaginal discharge
ü  Gejala sistemik (malaise, demam, mialgia, sakit kepala)
ü  Limfadenopati yang nyeri pada daerah inguinal
ü  Nyeri pada rektum, tenesmus
·        Tanda :
ü  Eritem, vesikel, pustul, ulserasi multipel, erosi, lesi dengan krusta tergantung pada tingkat infeksi.
ü  Limfadenopati inguinal
ü  Faringitis
ü  Cervisitis

a        Herpes genital primer
Infeksi primer biasanya terjadi seminggu setelah hubungan seksual (termasuk hubungan oral atau anal). Tetapi lebih banyak terjadi setelah interval yang lama dan biasanya setengah dari kasus tidak menampakkan gejala. Erupsi dapat didahului dengan gejala prodormal, yang menyebabkan salah diagnosis sebagai influenza. Lesi berupa papul kecil dengan dasar eritem dan berkembang menjadi vesikel dan cepat membentuk erosi superfisial atau ulkus yang tidak nyeri, lebih sering pada glans penis, preputium, dan frenulum, korpus penis lebih jarang terlihat.
b        Herpes genital rekuren
Setelah terjadinya infeksi primer klinis atau subklinis, pada suatu waktu bila ada faktor pencetus, virus akan menjalani reaktivasi dan multiplikasi kembali sehingga terjadilah lagi rekuren, pada saat itu di dalam hospes sudah ada antibodi spesifik sehingga kelainan yang timbul dan gejala tidak seberat infeksi primer. Faktor pencetus antara lain: trauma, koitus yang berlebihan, demam, gangguan pencernaan, kelelahan, makanan yang merangsang, alkohol, dan beberapa kasus sukar diketahui penyebabnya.
Pada sebagian besar orang, virus dapat menjadi aktif dan menyebabkan outbreaks beberapa kali dalam setahun. HSV berdiam dalam sel saraf di tubuh kita, ketika virus terpicu untuk aktif, maka akan bergerak dari saraf ke kulit kita. Lalu memperbanyak diri dan dapat timbul luka di tempat terjadinya outbreaks

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan laboratorium yang paling sederhana adalah Tes Tzank diwarnai dengan pengecatan giemsa atau wright, akan terlihat sel raksasa berinti banyak. Sensitifitas dan spesifitas pemeriksaan ini umumnya rendah. Cara pemeriksaan laboratorium yang lain adalah sebagai berikut.
a         Histopatologis
Vesikel herpes simpleks terletak intraepidermal, epidermis yang terpengaruh dan inflamasi pada dermis menjadi infiltrat dengan leukosit dan eksudat sereus yang merupakan kumpulan sel yang terakumulasi di dalam stratum korneum membentuk vesikel.
b        Pemeriksaan serologis ( ELISA dan Tes POCK )
Beberapa pemeriksaan serologis yang digunakan:
ü  ELISA mendeteksi adanya antibodi HSV-1 dan HSV-2.
ü  Tes POCK untuk HSV-2 yang sekarang mempunyai sensitivitas yang tinggi.
c          Kultur virus
Kultur virus yang diperoleh dari spesimen pada lesi yang dicurigai masih merupakan prosedur pilihan yang merupakan gold standard pada stadium awal infeksi. Bahan pemeriksaan diambil dari lesi mukokutaneus pada stadium awal (vesikel atau pustul), hasilnya lebih baik dari pada bila diambil dari lesi ulkus atau krusta. Pada herpes genitalis rekuren hasil kultur cepat menjadi negatif, biasanya hari keempat timbulnya lesi, ini terjadi karena kurangnya pelepasan virus, perubahan imun virus yang cepat, teknik yang kurang tepat atau keterlambatan memproses sampel. Jika titer dalam spesimen cukup tinggi, maka hasil positif dapat terlihat dalam waktu 24-48 jam.




Diagnosis

Secara klinis ditegakkan dengan adanya gejala khas berupa vesikel berkelompok dengan dasar eritem dan bersifat rekuren. Gejala dan tanda dihubungkan dengan HSV-2. diagnosis dapat ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan fisis jika gejalanya khas dan melalui pengambilan contoh dari luka (lesi) dan dilakukan pemeriksaan laboratorium. Tes darah yang mendeteksi HSV-1 dan HSV-2 dapat menolong meskipun hasilnya tidak terlalu memuaskan. Virus kadangkala, namun tak selalu, dapat dideteksi lewat tes laboratorium yaitu kultur. Kultur dikerjakan dengan menggunakan swab untuk memperoleh material yang akan dipelajari dari luka yang dicurigai sebagai herpes.
Pada stadium dini erupsi vesikel sangat khas, akan tetapi pada stadium yang lanjut tidak khas lagi, penderita harus dideteksi dengan kemungkinan penyakit lain, termasuk chancroid dan kandidiasis. Konfirmasi virus dapat dilakukan melalui mikroskop elektron atau kultur jaringan. Komplikasi yang timbul pada penyakit herpes genitalis anatara lain neuralgia, retensi urine, meningitis aseptik dan infeksi anal. Sedangkan komplikasi herpes genitalis pada kehamilan dapat menyebabkan abortus pada kehamilan trimester pertama, partus prematur dan pertumbuhan janin terhambat pada trimester kedua kehamilan dan pada neonatus dapat terjadi lesi kulit, ensefalitis, makrosefali dan keratokonjungtivitis. Herpes genital primer HSV 2 dan infeksi HSV-1 ditandai oleh kekerapan gejala lokal dan sistemik prolong. Demam, sakit kepala, malaise, dan mialgia dilaporkan mendekati 40 % dari kaum pria dan 70% dari wanita dengan penyakit HSV-2 primer. Berbeda dengan infeksi genital episode pertama, gejala, tanda dan lokasi anatomi infeksi rekuren terlokalisir pada genital



Pengobatan
·        Tidak ada pengobatan yang dapat menyembuhkan herpes genitalis, tetapi pengobatan bisa memperpendek lamanya serangan.
·        Jumlah serangan bisa dikurangi dengan terus menerus mengkonsumsi obat anti-virus dosis rendah. Pengobatan akan efektif jika dimulai sedini mungkin, biasanya 2 hari setelah timbulnya gejala. Asikovir atau obat anti-virus lainnya bisa diberikan dalam bentuk sediaan oral atau krim untuk dioleskan langsung ke luka herpes.
·        Obat ini mengurangi jumlah virus yang hidup di dalam luka sehingga mengurangi resiko penularan. Obat ini juga bisa meringankan gejala pada fase awal. Tetapi pengobatan dini pada serangan pertama tidak dapat mencegah kambuhnya penyakit ini.
·        Sampai sekarang belum ada obat yang memuaskan untuk terapi herpes genitalis, namun pengobatan secara umum perlu diperhatikan, seperti :
ü  menjaga kebersihan local
ü  menghindari trauma atau faktor pencetus.
·        Penggunaan idoxuridine mengobati lesi herpes simpleks secara lokal sebesar 5% sampai 40% dalam dimethyl sulphoxide sangat bermanfaat. Namun, pengobatan ini memiliki beberapa efek samping, di antaranya pasien akan mengalami rasa nyeri hebat, maserasi kulit dapat juga terjadi.
·        Meskipun tidak ada obat herpes genital, penyediaan layanan kesehatan anda akan meresepkan obat anti viral untuk menangani gejala dan membantu mencegah terjadinya outbreaks. Hal ini akan mengurangi resiko menularnya herpes pada partner seksual. Obat-obatan untuk menangani herpes genital adalah :
ü  Asiklovir (Zovirus)
ü  Famsiklovir
ü  Valasiklovir (Valtres)
1        Asiklovir
Pada infeksi HVS genitalis primer, asiklovir intravena (5 mg/kg BB/8 jam selama 5 hari), asiklovir oral 200 mg (5 kali/hari saelama 10-14 hari) dan asiklovir topikal (5% dalam salf propilen glikol) dsapat mengurangi lamanya gejala dan ekskresi virus serta mempercepat penyembuhan.
2         Valasiklovir
Valasiklovir adalah suatu ester dari asiklovir yang secara cepat dan hampir lengkap berubah menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai 54%.oleh karena itu dosis oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat dalam darah yang sama dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah dibandingkan asiklovir 200 mg 5 kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes genitalis episode awal.
3        Famsiklovir
Adalah jenis pensiklovir, suatu analog nukleosida yang efektif menghambat replikasi HSV-1 dan HSV-2. Sama dengan asiklovir, pensiklovir memerlukan timidin kinase virus untuk fosforilase menjadi monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu paruh intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam) sehingga memiliki potensi pemberian dosis satu kali sehari.
Absorbsi peroral 70% dan dimetabolisme dengan cepat menjadi pensiklovir. Obat ini di metabolisme dengan baik.
·        Herpes genitalis adalah kondisi umum terjadi yang dapat membuat penderitanya tertekan. Pada penelitian in vitro  serta penelitian in vivo, povidone iodine terbukti merupakan agen efektif melawan virus tersebut, mendapatkan hasil memuaskan secara klinis dari povidone iodine dalam larutan aqua untuk mengobati herpes genital.
·        CDC (Center For Disease Control and Prevention), merekomendasikan penanganan supresif bagi herpes genital untuk orang yang mengalami enam kali atau lebih outbreak per tahun.
·        Beberapa ahli kandungan mengambil sikap partus dengan cara sectio caesaria bila pada saat melahirkan diketahui ibu menderita infeksi ini. Tindakan ini sebaiknya dilakukan sebelum ketuban pecah atau paling lambat 6 jam setelah ketuban pecah. Pemakaian asiklovir pada ibu hamil tidak dianjurkan.
·        Sejauh ini pilihan sectio caesaria itu cukup tinggi dan studi yang dilakukan menggarisbawahi apakah penggunaan antiviral rutin efektif menurunkan herpes genital yang subklinis, namun

Komplikasi

·        Infeksi herpes genital biasanya tidak menyebabkan masalah kesehatan yang serius pada orang dewasa. Pada sejumlah orang dengan sistem imunitasnya tidak bekerja baik, bisa terjadi outbreaks herpes genital yang bisa saja berlangsung parah dalam waktu yang lama. Orang dengan sistem imun yang normal bisa terjadi infeksi herpes pada mata yang disebut herpes okuler. Herpes okuler biasanya disebabkan oleh HSV-1 namun terkadang dapat juga disebabkan HSV
·        Herpes dapat menyebabkan penyakit mata yang serius termasuk kebutaan.
Wanita hamil yang menderita herpes dapat menginfeksi bayinya. Bayi yang lahir dengan herpes dapat meninggal atau mengalami gangguan pada otak, kulit atau mata. Bila pada kehamilan timbul herpes genital, hal ini perlu mendapat perhatian serius karena virus dapat melalui plasenta sampai ke sirkulasi fetal serta dapat menimbulkan kerusakan atau kematian pada janin. Infeksi neonatal mempunyai angka mortalitas 60%, separuh dari yang hidup menderita cacat neurologis atau kelainan pada mata.

Pencegahan
Hingga saat ini tidak ada satupun bahan yang efektif mencegah HSV. Kondom dapat menurunkan transmisi penyakit, tetapi penularan masih dapat terjadi pada daerah yang tidak tertutup kondom ketika terjadi ekskresi virus. Spermatisida yang berisi surfaktan nonoxynol-9 menyebabkan HSV menjadi inaktif secara invitro. Di samping itu yang terbaik, jangan melakukan kontak oral genital pada keadaan dimana ada gejala atau ditemukan herpes oral.

Secara ringkas ada 5 langkah utama untuk pencegahan herpes genital yaitu :
·        Mendeteksi kasus yang tidak diterapi, baik simtomatik atau asimptomatik.
·        Mendidik seseorang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan herpes genitalis dan PMS lainnya untuk mengurangi transmisi penularan.
·        Mendiagnosis, konsul dan mengobati individu yang terinfeksi dan follow up dengan tepat.
·        Evaluasi, konsul dan mengobati pasangan seksual dari individu yang terinfeksi.
·        Skrining disertai diagnosis dini, konseling dan pengobatan sangat berperan dalam pencegahan.
SIFILIS

Definisi/etiologi

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum,
merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik, selama perjalanan penyakit dapat menyerang seluruh organ tubuh, ada masa laten tanpa manifestasi lesi di tubuh, dan dapat ditularkan kepada bayi di dalam kandungan.1,2,3
Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman ialah Treponema pallidum, yang termasuk ordoSpirochaetales, familia
Spirochaetaceae, dan genus Treponema. Bentuknya sebagai spiral teratur, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri atas delapan sampai dua puluh empat lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol. Membiak secara pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap tiga puluh jam.2
Klasifikasi sangat sulit dilakukan, karena spesiesTreponema tidak dapat dibiakkan in vitro. Sebagai dasar diferensiasi terdapat 4 spesies yaitu :
1.      Treponema pallidum sub species pallidum yang menyebabkan sifilis,
2.      Treponema pallidum sub species pertenue yang menyebaban frambusia,
3.      Treponema pallidum sub species endemicum yang menyebabkan bejel,
4.      Treponema carateum menyebabkan pinta.

Bakteri ini masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di
vagina atau mulut) atau melalui kulit. Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sifilis juga bisa menginfeksi janin selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan.4

Sifilis adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh Treponema pallidum. Sifilis biasanya menular melalui hubungan seksual dengan cara kontak langsung dari luka yang mengandung troponema karena troponema dapat melewati selaput lendir yang normal maupun luka, atau dari ibu kepada bayi, akan tetapi sifilis juga dapat menular tanpa hubungan seksual pada daerah yang mempunyai kebersihan lingkungan yang buruk. Treponema pallidum juga dapat menular melalui transfusi darah. Sepuluh samapai 90 hari setelah troponema maemasuki tubuh, terjadilah luka primer (chancre atau ulkus durum).1,2

Chansre ini kelliahatan selama 1-5 minggu dsan kemudian sembuh secsra spontan. Tes sirologis untuk sifilis biasanya nonreaktif ketika mulai tumbuhnya chansre, tetapi kemudian menjadi reaktif sesudah 1-4 minggu. 2-6 minggu sesudah tampak luka primer, maka dengan penyebaran troponema pallidum di seluruh badan melalui jalan darah, timbullah erupsi kulit sebagai gejala siflis sekunder. Erupsi pada kulit dapat sembuh spontandalam waktu 2-6 minggu. Pada daerah anogenital ditemukankandilomata lata. Tes sirologik hampir selalu positif selama fase sekunder ini, sesudah fase sekunder dapat terjadi sifilis laten, yang dapat berlangsng seumur hidup, atau dapat menjadi sifilis tersier.pada sepertiga kasus-kasusu yang tidak diobati, tampak manifesyasi yang nyata terhadpa sifilis tersier.

Meskipun insidens sifilis kian menurun, penyakit ini tidak dapat diabaikan, karena merupakan penyakit berat. Hampir semua organ tubuh dapat diserang, termasuk sistem kardiovaskular dan saraf. Selain itu wanita hamil yang menderita sifilis dapat menularkan penyakitnya ke janin sehingga menyebabkan sifilis kongenital yang dapat menyebabkan kelainan bawaan dan kematian. Istilah untuk penyakit ini yaitu raja singa sangat tepat karena keganasannya.2

Epidemiologi

Asal penyakit ini tak jelas. Sebelum tahun 1492 belum dikenal di Eropa. Ada yang menganggap penyakit ini berasal dari penduduk Indian yang dibawa oleh anak bush Columbus waktu mereka kembali ke Spanyol pada tahun 1492. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis dan gonore disebabkan oleh sanggama dan keduanya dianggap disebabkan oleh infeksi yang sama.2

Insidens sifilis di berbagai negeri di seluruh dunia pada tahun 1996 berkisar antara 0,04 -0,52%. Insidens yang terendah di Cina, sedangkan yang tertinggi diAmerika Selatan. Di Indonesia insidensnya 0,61%. Di bagian kami penderita yang terbanyak ialah stadium laten, disusul sifilis stadium I yang jarang, dan yang langka ialah sifilis stadium II.2
WHO memperkirakan bahwa terdapat 12 juta kasus baru pada tahun 1999,
dimana lebih dari 90% terdapat di negara berkembang.1
.
Sifilis sangat banyak ditemuai di berbagai bagian dunia hingga terapi antibiotik ditemukan pada tahun 1940-an. Prevalensi penyakit ini menurun drastis setelah perang dunia II namun mulai meningkat lagi pada tahun 1960-an. Hampir 75% kasus tidak dilaporkan. Wanita dan pria yang memiliki resiko tinggi untuk mengalami sifilis adalah yang berusia muda. Dari kelompok sosioekonomi rendah, dan memiliki pasangan seksual multipel. Sebanyak 10-50 orgasme penyebab sifilis sudah cukup untuk menyebabkan infeksi dan sekitar sepertiga kontak seksual dengan orang yang terinfeksi akan menjadi terinfeksi. Insidensi sifilis kongenital sesuai denggan insidensi pada wanita yang terinfeksi dan terus meningkat. Kewajiban untuk prenatal telah menurunkan insidensi sifilis kongenital lanjut; tidak ada atau lambatnya perawatan prenatal merupakan faktor resiko terbesar terjadinya sifilis kongenital.


IV. Patogenesis

Stadium dini

T.pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lender, biasanya melalui sanggama. Kuman tersebut membiak, jaringan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel- sel plasma, terutama di perivaskular, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi di kelilingi oleh T.
pallidum dan sel-sel radang. Treponema tersebut terletak di antara endotelium kapiler dan jaringan perivaskular di sekitarnya. Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofik endotelium yang menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Kehilangan pendarahan akan menyebabkan erosi, pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S1.2

Sebelum S1 terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan membiak. Pada saat itu terjadi pula penjalaran hematogen dan menyebar ke semua jaringan di badan, tetapi manifestasinya akan tampak kemudian.

Multiplikasi ini diikuti oleh reaksi jaringan sebagai SII, yang terjadi enam sampai delapan minggu sesudah S1. S1 akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut jumlahnya berkurang, kemudian terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatriks. SII jugs mengalami regresi perlahan-lahan dan lalu menghilang.2

Tibalah stadium laten yang tidak disertai gejala, meskipun infeksi yang aktif masih terdapat. Sebagai contoh pada stadium ini seorang ibu dapat melahirkan bayi dengan sifilis kongenital.2

Stadium lanjut

Stadium laten dapat berlangsung bertahun-tahun, rupanya treponema dalam keadaan dorman. Meskipun demikian antibodi tetap ada dalam serum penderita. Keseimbangan antara treponema dan jaringan dapat sekonyong-konyong berubah, sebabnya belum jelas, mungkin trauma merupakan salah satu faktor presipitasi. Pada saat itu muncullah S III berbentuk guma. Meskipun pada guma tersebut tidak dapat ditemukan T. pallidum, reaksinya hebat karena bersifat destruktif dan berlangsung bertahun-tahun. Setelah mengalami mass laten yang bervariasi guma tersebut timbul di tempat-tempat lain.2

Gambaran klinis

Sifilis primer (SI)

Sifilis primer biasanya ditandai oleh tukak/chancre atau ulkus durum terlihat pada tempat masuknya kuman, 10-90 hari setelah terjadinya infeksi, tetapi bisa juga terdapat tukak lebih dari satu.3,5 Tukak dapat terjadi dimana saja di daerah genitalia eksterna.. Lesi awal biasanya berupa papul atau ulkus  yang mengalami erosi, teraba keras karena terdapat indurasi. Permukaan dapat tertutup krusta dan terjadi ulserasi. Ukurannya bervariasi dari beberapa mm sampai dengan 1- 2 cm. Bagian yang mengelilingi lesi meninggi dan keras. Bila tidak disertai infeksi bakteri lain, maka akan berbentuk khas dan hampir tidak ada rasa nyeri. Kelainan tersebut dinamakan afek primer.

 Pada pria tempat yang sering dikenai ialah sulkus koronarius, sedangkan pada wanita di labia minor dan  mayor, dan vulva, tetapi bisa juga pada serviks. Selain itu juga dapat di ekstragenital, misalnya diselaput lendir dan kulit seperti  lidah, tonsil, hidung, dada, perineum, dan anus. Dan pemeriksaan meda gelap perlu dilakukan dalam usaha untuk menemukan troponema pallidum di semua luka yang dicurigai. Tes sirologik harus dibuat setiap minggu selama enam minggu.

Pada pria selalu disertai pembesaran kelenjar limfe inguinal medial unilateral/bilateral.3 Seminggu setelah afek primer, biasanya terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional di inguinalis medialis. Keseluruhannya disebut kompleks primer. Kelenjar tersebut solitar, indolen, tidak lunak, besamya biasanya lentikular, tidak supuratif, dan tidak terdapat periadenitis. Kulit di atasnya tidak menunjukkan tanda- tanda radang akut.2
http://htmlimg4.scribdassets.com/99kwvue5ogkkjbz/images/7-3b9c9ad15f/001.jpg
Gambar 1. Lesi sifilis primer

Afek primer tersebut sembuh sendiri antara tiga sampai sepuluh minggu. Istilah syphilis d'emblee dipakai, jika tidak terdapat afek primer. Kuman masuk ke jaringan yang lebih dalam, misalnya pada transfuse darah atau suntikan.2

Sifilis sekunder (SII)

Biasanya S II timbul setelah enam sampai delapan minggu sejak S I atau setelah hilangnya luka promer  dan sejumlah sepertiga kasus masih disertai S I. Lama S II dapat sampai sembilan bulan. Berbeda dengan S I yang tanpa disertai gejala konstitusi, pada S II dapat disertai gejala tersebut yang terjadi sebelum atau selama S II. Gejalanya umumnya tidak berat, berupa anoreksia, turunnya berat badan, malese, nyeri kepala, demam yang tidak tinggi, dan artralgia.2

Manifestasi klinis sifilis sekunder dapat berupa berbagai ruam pada kulit, selaput lendir, dan organ tubuh. Dapat disertai demam, malaise. Juga adanya kelainan kulit dan selaput lendir dapat diduga sifilis sekunder, bila ternyata pemeriksaan serologis reaktif. Lesi kulit biasanya simetris, dapat bersifat  makulopapiler, papul, folikulitis, papulaskuomosa, dan pustul. Jarang dijumpai keluhan gatal. Lesi vesikobulosa dapat ditemukan pada sifilis kongenital.3

Pada S II yang masih dini sering terjadi kerontokan rambut, umumnya bersifat difus dan tidak khas, disebut alopecia difusa. Pada S II yang lanjut dapat terjadi kerontokan setempatsetempat, tampak sebagai bercak yang ditumbuhi oleh rambut yang tipis, jadi tidak botak seluruhnya, seolah-olah seperti digigit ngengat dan disebut alopesia areolaris.2,5
Gejala dan tanda sifilis sekunder dapat hilang tanpa pengobatan, tetapi bila
tidak diobati, infeksi akan berkembang menjadi sifilis laten atau sifilis stadium lanjut.6

Karakterostik adalah alopesia rambut kepalayang tidak rata (Moth eaten) pada adaerah oksipital. Alis mata dapat menghilang pada sepertiga bagian lateral. Papula yang basah dapat dilihat pada daerah anogenital dan pada mulut, paula ini lebih dikenal dengan kodilomata latta, yang mempunyai arti diagnostik untuk penyakit ini.
Kondilomata agak meninggi, berbentuk bulat, pinggitnya basah dan ditutup oleh eksudat berwarna kelabu. Troponemapallidum dapat dijumpai padaluka ini dan tes serologik biasanya positif. Limfadenopatia adalah tanda yang penting, kadang-kadang splenomegalia dijumpai juga. Aspirasi dengan jarum darikelenjar limfe yang membengkak biasanya menemukan cairan yang mngandung troponema pallidum yang dapat dilihat dari pemeriksaan lepangan lengkap.

Sifilis laten

Sifilis laten merupakan stadium sifilis tanpa gejala klinis, akan tetapi pemeriksaan serologis reaktif dan kadang-kadang caran spinal juga reaktif. Dalam perjalanan penyakit sifilis selalu melalui tingkat laten, selama bertahun-tahun atau seumur hidup. Akan tetapi bukan berarti penyakit akan berhenti pada tingkat ini, sebab dapat berjalan menjadi sifilis lanjut, berbentuk gumma, kelainan susunan syaraf pusat dan kardiovaskuler (sifilis tersier).

Tes serologik darah positif, sedangkan tes likuor serebrospinalis negatif. Tes yang dianjurkan ialah VDRL dan TPHA.2,3

Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun atau berpuluh-puluh tahun atau bahkan sepanjang hidup penderita. Pada awal fase laten kadang luka yang infeksius kembali muncul .4
Jika fase laten berlangsung samapi 4 tahun, maka penyakit ini tidak menular lagi kecuali pada janiin yang dikandung wanita yang berpenyakit sifilis.

Fase lanjut (tersier)
Kadang-kadang vulva ditemukan gumma, disini ada kecendrungan bagi gumma untuk menjadi ulkus dengan neksosis dan indurasi pada pinggirnya.

Sifilis dan kehamilan
Paling sedikit 2/3 dari wanita hamil dengan sifilis berumur 20-30 tahun. Efek sifilis pada kehamilan dan janin terutama tergantung pada lamanya infeksi terjadi dan pada pengobatannya. Jika penderita diobati dengan baik, ia akan melahirkan bayi sehat. Jika ia ridak diobati ia akan mengalami abortus, atau oartus prematurus dengan bayi meninggal atau dengan tanda-tanda sifilis kongenital. Apabila infeksi sifilis terjadi pada kehamilan tua,maka plasenta memberi perlindungan kepada janin sehingga dapat dilahirkan dengan sehat. Apabila infeksi terjadi sebelum plasenta terbentuk dan dilakukan pengobatan segera, infeksi pada janin mungkin dapat dicegah. Pada pemeriksaan antenatal perlu dilaukan tes serologik terhadap sifilis.

Diagnosa

Identifikasi troponema pallidum biasanya dapat dilakukan dengan pemeriksaan sediaan yang diambil dari luka-luka kulit dengan menggunakan medan gelap. Pada kebanyakan kasus diagnosis bergantung pada anamnesis dan tes serologik. Tes serologik menjadi positif setelah beberapa minggu sesudah infeksi primer. biasanya 2 tes antigen nontreponemal yang dipergunakan yaitu : (1) tes flokulasi, (VDRL, Hinton), (2) tes fiksasi komplemen (Kolmer, Wasserman).

Pemeriksaan penunjang

Untuk menegakkan diagnosis sifilis, diagnosis klinis harus dikonfirmasikan
dengan pemeriksaan laboratorium berupa :3,4

1. a. Pemeriksaan lapangan gelap (dark field)

Ream sifilis primer, dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis. Serum diperoleh dari bagian dasar/dalam lesi dengan cara menekan lesi sehingga serum akan keluar. Diperiksa dengan mikroskop lapangan gelap menggunakan minyak imersi.T.pall berbentuk ramping, gerakan lambat, dan angulasi. Harus hati-hati
membedakannya denganTreponema lain yang ada di daerah genitalia. Karena di dalam mulut banyak dijumpaiTreponema komensal, maka bahan pemeriksaan dari rongga mulut tidak dapat digunakan.3

b. Mikroskop fluoresensi

Bahan apusan dari lesi dioleskan pada gelas objek, difiksasi dengan aseton, sediaan diberi antibodi spesifik yang dilabel fluorescein, kemudian diperiksa dengan mikroskop fluoresensi. Penelitian lain melaporkan bahwa pemeriksaan ini dapat memberi hasil nonspesifik dan kurang dapat dipercaya dibandingkan pemeriksaan lapangan gelap.3

2. Penentuan antibodi di dalam serum.

Pada waktu terjadi infeksiTreponema, baik yang menyebabkan sifilis, frambusia, atau pinta, akan dihasilkan berbagai variasi antibodi. Beberapa tes yang dikenal sehari-hari yang mendeteksi antibodi nonspesifik, akan tetapi dapat menunjukkan reaksi dengan IgM dan juga IgG, ialah :3

a. Tes yang menentukan antibodi nonspesifik.
Tes Wasserman
Tes Kahn
Tes VDRL (Venereal Diseases Research Laboratory)
Tes VDRL biasanya tinggi pada sifilis sekunder dan cenderung menjadi lemah dan kadang-kadang negatifpada sifilis lanjut, walaupun hasil ini berbeda-beda pada setiap kasus. Titer yang menurun pada sifilis yang mendapat pengoatan, menunjukan berhasilnya terapi.
Reaksi serologik yang positif semu (false positive) sering dijumpai pada beberapa penyakit atau kejadian lain. Reaksi positif semu biasanya mempunyai titer yang rendah dan bersifat sementara, dan dapat dibedakan dari tes positif sejati (true positif) dengan tes treponema yang khas.

b.Antibodi terhadap kelompok antigen yaitu tes RPCF (Reiter Protein Complement
Fixation).

c.Yang menentukan antibodi spesifik yaitu:

Tes TPI (Treponema Pallidum Immobilization)
Tes FTA-ABS (Fluorescent Treponema Absorbed).
Tes TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination Assay)


Diagnosis banding

Diagnosis banding SI

Dasar diagnosis S I sebagai berikut. Pada anamnesis dapat diketahui mass inkubasi; gejala konstitusi tidak terdapat, demikian pula gejala setempat yaitu tidak ada rasa nyeri. Pada afek primer yang penting ialah terdapat erosi/ulkus yang bersih, solitar, bulat/lonjong, teratur, indolen dengan indurasi: T.pallidum positif. Kelainan dapat nyeri jika disertai infeksi sekunder. Kelenjar regional dapat membesar, indolen, tidak berkelompok, tidak ada periadenitis, tanpa supurasi. Tes serologik setelah beberapa minggu bereaksi positif lemah.2
Sebagai diagnosis banding dapat dikemukakan berbagai penyakit.

1.Herpes simpleks
Penyakit ini residif dapat disertai rasa gataV nyeri, lesi berupa vesikel di alas kulit yang eritematosa, berkelompok. Jika telah pecah tampak kelompok erosi, sering berkonfluensi dan polisiklik, tidak terdapat indurasi.2

1.Ulkus piogenik
Akibat trauma misalnya garukan dapat terjadi infeksi piogenik. Ulkus tampak
kotor karena mengandung pus, nyeri, tanpa indurasi. Jika terdapat limfadenitis
regional disertai tanda-tanda radang akut dapat terjadi supurasi yang serentak, dan
terdapat leukositosis pada pemeriksaan darah tepi.2

3.Skabies
Pada skabies lesi berbentuk beberapa papul atau vesikel di genitalia eksterna,
terasa gatal pada malam hari. Kelainan yang sama terdapat pula pada tempat predileksi, misalnya lipat jari Langan, perianal. Orang-orang yang serumah juga akan menderita penyakit yang sama.2

4.Balanitis
Pada balanitis, kelainan berupa erosi superficial pada glans penis disertai eritema, tanpa indurasi. Faktor predisposisi: diabetes melitus dan yang tidak disirkumsisi.2

5.Limfogranuloma venereum (L.G.V.)
Afek primer pada L.G.V. tidak khas, dapat berupa papul, vesikel, pustul, ulkus, dan biasanya cepat hilang. Yang khas ialah limfadenitis regional, disertai tanda-tanda radang akut, supurasi tidak serentak, terdapat periadenitis. L.G.V. disertai gejala konstitusi: demam, malese, dan artralgia.2

1.Karsinoma sel skuamosa
Umumnya terjadi pada orang usia lanjut yang tidak disirkumsisi. Kelainan kulit berupa benjolan-benjolan, terdapat indurasi, mudah berdarah. Untuk diagnosis, perlu biopsi.2

2.Penyakit Behcet
Ulkus superficial, multipel, biasanya pada skrotum/labia. Terdapat pula
ulserasi pada mulct dan lesi pada mata.2

3.Ulkus mole
Penyakit ini kini langka. Ulkus lebih dari sate, disertai tanda-tanda radang akut, terdapat pus, dindingnya bergaung. Haemophilus Ducreyi positif. Jika terjadi limfadenitis regional juga disertai tanda-tanda radang akut, terjadi supurasi serentak.2

Penanganan

Sifilis primer dan sekunder : salah satu yang dibawah ini dapat diberikan sebagai terapi :
.a       Benzhatin penisillin G.2.4 juta satuan intramuskulus (1.2 juta satuan pada masing-masing bokong kiri kanan)
.b      Penisillin dengan menestearat alumunium dalam minyak (PAM) 4.8 juta satuan  intramuskulus; biasanya diberikan 2,.4 juta satuan seperti tersebut diatas dan 1.2 juta satuan berturut-turut selang 3 hari,
.c       Prokain penisiillin G dalam akua, 600.000 satuan intramuskulus setiap hari selama 8 hari sampai berjumlah 4.8 juta satuan.

Sifilis laten : diberikan benzhatin penisillin G.2.4 juta satuan intramuskulus, jika tidak dilakukan oemeriksaan cairan spinal, maka penanganan haru sjuga memperhitungkan kemungkinan adanay neurosifiis yang asimptomatik. Untuk ini diberikan benzhatin penisillin 1.2 juta satuan seperti untuk sifilis primer. terapi ansifilis tidak perlu diulangi tiap bulan selama 3 bulan dan kemuadian 3 bulan sekali selama 1 tahun.

Kepada penderita yang sensitif terhadap penisillin diberikan erotromisisn 2 gram per os selama 10-15 hari. Eritromisin estolat tidak boleh diberikan sebab obat ini tidak mencegah sifilis kongenital. Haru dilaksanakan follow up yang teliti sebab ada kemungkinan penyakit ini kambuh. Pada sifilis kongenital, terapi anjurannya ialah penisilin G prokain dalam akua 100.000-150.000 satuan/kg B.B. per hari, yang diberikan 50.000 unit/kg B.B., i.m., setiap hari selama 10 hari.2

Pencegahan6, 8

Hindari berhubungan sex dengan lebih dari satu pasangan
Menjalani screening test bagi anda dan pasangan anda
Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang
Gunakan kondom ketika berhubungan sexual
Sifilis tidak bisa dicegah dengan membersihkan daerah genital setelah berhubungan
sexual.

KONDILOMA AKUMINATA-KUTIL KELAMIN

PENGERTIAN

Virus alami dari genital warts, Venereal warts, verruca vulgaris, jengger ayam, kutil kelamin pertama kali dikenal tahun 1907 oleh Ciuffo. Dengan berkembangnya teknik biologi molekuler, Human Papillomavirus (HPV) diidentifikasi sebagai penyebab kondiloma akuminata Kondiloma adalah kutil yang berlokasi di area genital (uretra, genital dan rektum).
Kondiloma merupakan penyakit menular seksual dan berpengaruh buruk bagi kedua pasangan. Masa inkubasi dapat terjadi sampai beberapa bulan tanpa tanda dan gejala penyakit. Biasanya lebih banyak selama masa kehamilan dan ketika terjadi pengeluaran cairan yang berlebihan dari vagina. Meskipun sedikit, kumpulan bunga kol bisa berkembang dan sebagai akibatnya adalah akumulasi bahan – bahan purulen padabelahan – belahan, biasanya berbau tidak sedap warnanya abu – abu, kuning pucat atau merah muda.
Kondiloma akuminata merupakan tonjolan – tonjolan yang berbentuk bunga kol atau kutil yang meruncing kecil yang bertumbuh kembang sampai membentuk kelompok yang berkembang terus ditularkan secara seksual. Kondiloma akuminata dijumpai pada berbagai bagian penis atau biasanya didapatkan melalui hubungan seksual melewati liang rectal disekitar anus, pada wanita dijumpai pada permukaan mukosa pada vulva, serviks,pada perineum atau disekitar anus..
Kondiloma sering kali tampak rapuh atau mudah terpecah, bisa terssebar multifocal dan multisentris yang bervariasi baik dalam jumlah maupun ukurannya. Lesinya bisa sangat meluas sehingga dapat menguasai penampakan normal dan anatomi pada genitalia. Daerah tubuh yang paling umum adalah frenulum, korona, glans pada pria dan daerah introitus posterior pada wanita.

Condyloma accuminatum [Kondiloma akuminata ] juga dikenal sebagai:
1. Kutil kelamin
2. Kutil kemaluan
3. Kutil genital (kutil genitalia)
4. Genital warts
5. Veruka akuminata
6. Venereal wart
7. Jengger ayam





GEJALA DAN TANDA YANGSERING MUNCUL

·          Kondiloma akuminata sering muncul disaerah yang lembab, biasanya pada penis, vulva, dinding vagina dan dinding serviks dan dapat menyebar sampai daerah perianal.
·          Berbau busuk
·          Warts/kutil memberi gambaran merah muda, flat, gambaran bunga kol
·          Pada pria dapat menyerang penis, uretra dan daerah rektal. Infeksi dapat dormant atau tidak dapat dideteksi, karena sebagian lesi tersembunyi didalam folikel rambut atau dalam lingkaran dalam penis yang tidak disirkumsisi.
·          Pada wanita condiloma akuminata menyerang daerah yang lembab dari labia minora dan  vagina. Sebagian besar lesi timbul tanpa simptom. Pada sebagian kasus biasanya terjadi perdarah setelah coitus, gatal atau vaginal discharge
·          Ukuran tiap kutil biasanya 1-2 mm, namun bila berkumpul sampai berdiameter 10, 2cm dan bertangkai. Dan biasanya ada yang sangat kecil sampai tidak diperhatikan.Terkadang muncul lebih dari satu daerah.
·          Pada kasus yang jarang, perdarahan dan obstruksi saluran kemih jika virus mencapai saluran uretra
·          Memiliki riwayat kehidupan seksual aktif dengan banyak pasangan.

ETIOLOGI

Virus DNA golongan Papovavirus, yaitu: Human Papilloma Virus (HPV). HPV tipe6 dan 11 menimbulkan lesi dengan pertumbuhan (jengger ayam). HPV tipe 16, 18, dan31 menimbulkan lesi yang datar (flat).
 HPV tipe 16 dan 18 seringkali berhubungan dengan karsinoma genitalia (kanker ganas pada kelamin).

PATOFISIOLOGI

HPV merupakan  kelompok virus DNA double-strand. Sekitar 30 jenis HPV dapat menginfeksi traktus anogenital. Virus ini menyebabkan lokal infeksi dan muncul sebagai lesi kondiloma papilomatous. Infeksi HPV menular melalui aktivitas seksual. HPV yang berhubungan dengan traktus genital dibagi dalam kelompok resiko rendah dan resiko tinggi yang didasarkana atas genotipe masing-masing. Sebagian besar kondiloma genital diinfeksi oleh tipe HPV-6 atau HPV-11. Sementara tipe 16, 18, 31, 33, 45, 51, 52,56, 68, 89 merupakan resiko tinggi. Papiloma virus bersifat epiteliotropik dan reflikasinya tergantung dari adanya epitel skuamosa yang berdeferensisasi. DNA virus dapat ditemui pada lapisan bawah epitel, namun struktur protein virus tidak ditemukan. Lapisan basal sel yang terkena ditandai dengan batas yang jelas pada dermis. Lapisan menjadi hiperplasia (akantosis), pars papilare pada dermis memanjang. Gambaran hiperkeratosis tidak selalu ada, kecuali bila kutil telah ditemui pada waktu yang lama atau pengobatan yang tidak berhasil, dimana stratum korneum hanya mengandung 2 lapisan sel yang parakeratosis. Koibey tes terpancar – pencar keluar dari lapisan terluar dari kutil genialia. Merupakan sel skuamosayang zona mature perinuclear yang luas dibatasi dari peripheral sitoplasma. Intinya bisadiperluas dan hyperchromasi, 2 atau lebih nuclei / inti bisa terlihat. Penelitian ultrastruktural menunjukkan adanya partikel – partikel virus pada suatu bagian nuclei sel. Koilositosis muncul untuk menunjukkan kembali suatu efek cytopathic spesifik dari HPV

Kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk:

1. Bentuk akuminata
Terutama dijumpai pada daerah lipatan dan lembab. Terlihat vegetasi bertangkaidengan permukaan berjonjot seperti jari. Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesiyang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol. Lesi yang besar ini seringdijumpai pada wanita yang mengalami fluor albus dan pada wanita hamil, atau padakeadaan imunitas terganggu.

2. Bentuk papul
Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi sempurna, sepertibatang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum. Kelainan berupapapul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan tersebar secara diskret.3. Bentuk datar Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali tidak tampak dengan mata telanjang, dan baru terlihat setelah dilakukan tes asam asetat.Dalam hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong.

EPIDEMIOLOGI

•Ras : tidak ada perbedaan
•Jenis kelamin : pria 13%, wanita 9%, pernah mengidap kondiloma akuminata
•Umur : kebanyakan wanita aktif seksual dibawah usia 25 tahun

Karena penyakit ini tidak dilaporkan dari spesialis lain atau praktek umum, makapeningkatan substansial pada jumlah kasus baru sepanjang dekade terakhir dan tingkatkejadian sekarang kira – kira telah 2 kali lebih banyak dari laporan kejadiansebelumnya. Dewasa ini kutil kelamin adalah penyakit PMS viral yang paling umum, 3kali banyaknya dari herpes genital dan tingkat kejadian hanya dilampaui oleh GO daninfeksi chlamidya.


FAKTOR-FAKTOR RESIKO

1. Aktivitas Seksual
Kondiloma akuminata atau infeksi HPV sering terjadi pada orang yangmempunyai aktivitas seksual yang aktif dan mempunyai pasangan seksual lebih dari 1orang (multiple). Winer et al., pada penelitiannya menunjukkan bahwa mahasiswi-mahasiswa yang sering bergonta-ganti pasangan seksual dapat terinfeksi HPV melaluipemeriksaan DNA. Wanita dengan lima atau lebih pasangan seksual dalam lima tahunmemiliki resiko 7,1% mengalami infeksi HPV (anogenital warts) dan 12,8%mengalami kekambuhan dalam rentang waktu tersebut. Pada penelitian yang lebihluas, WAVE III yang melibatkan wanita berusia 18-25 tahun yang memiliki tigakehidupan seksual dengan pasangan yang berbeda berpotensi untuk terinfeksi HPV.

2. Penggunaan Kontrasepsi
Penelitian pada 603 mahasiswa yang menggunakan alat kontrasepsi oral ternyatamenunjukkan adanya hubungan terjadinya infeksi HPV pada servik. Namunhubungan pasti antara alat kontrasepsi oral dengan angka kejadian terjadinyakondiloma akuminata masih menjadi perdebatan di dunia.
Amo, 2005 mengemukakan bahwa kontrasepsi hormonal berasosiasi kuat danmeningkatkan risiko terinfeksi KA pada perempuan, yaitu sebesar 19,45; 95% CI :2,45 – 154,27 7. Penelitian lain menemukan bahwa kontrasepsi oral berisiko sebesar 1,7; 95% CI : 1,3 – 2,2 untuk terjadinya KA.

3. Merokok
Hubungan antara merokok dengan terjadinya kondiloma akuminata masih belumjelas. Namun pada penelitian ditemukan adanya korelasi antara terjadinya infeksiHPV pada seviks dengan penggunaan rokok tanpa filter (cigarette) dengan carapengukuran HPV DNA.PSK di Spanyol yang berumur 25 tahun ke atas dan tidak merokok mempunyairisiko yang rendah untuk terjadinya KA (OR 0,33; 95% CI : 0,17 – 0,63)dibandingkan pada PSK berumur < 25 tahun dan merokok (OR 2,28; 95% CI : 1,36 – 3,8) 7. Moscicki (2001) melaporkan kebiasaan merokok berisiko terinfeksi KAsebesar 1,50; 95% CI : 0,77 – 2,94 5. Namun, kedua penelitian ini belum bisamenunjukkan adanya hubungan dosis respon merokok terhadap terjadinya KA.Penelitian oleh Wen, dapat membuktikan bahwa kebiasaan merokok 10 batang rokok per hari berisiko 2 kali terinfeksi KA dibandingkan pada non perokok (95% CI : 1,7 – 3,7)15. Sedangkan Minerd (2006) memaparkan bahwa kebiasaan merokok padapenderita HIV positif berisiko 3,9 kali lebih besar terinfeksi KA

4. Kehamilan
Penyakit ini tidak mempengaruhi kesuburan, hanya pada masa kehamilanpertumbuhannya makin cepat, dan jika pertumbuhannya terlalu besar dapatmenghalangi lahirnya bayi dan dapat timbul perdarahan pasca persalinan. Selain itudapat juga menimbulkan kondiloma akuminata atau papilomatosis laring (kutil padasaluran nafas) pada bayi baru lahir.5. ImunitasKondiloma juga sering ditemukan pada pasien yang immunocompromised (misal :HIV). Imunitas tubuh berperan dalam pertahanan tubuh terhadap HPV. Imunitastubuh yang rendah berisiko 1,99 kali lebihbesar (95% CI : 1,17 – 3,37) untuk terinfeksi KA. Imunitas tubuh terhadap KA dapat juga diperoleh dari vaksin HPV,namun efektifitas vaksin HPV ini masih dalam tahap penelitian.

KOMPLIKASI

KA merupakan IMS yang berbahaya karena dapat menyebabkan terjadinya komplikasi penyakit lain yaitu :

a. Kanker serviks
Lama infeksi KA meningkatkan  risiko terjadinya kanker serviks. Moscicki,2001 melaporkan bahwa risiko tertinggi terkena kanker serviks.

b. Kanker genital lain
Selain menyebabkan kanker serviks, KA juga dapat menyebabkan kanker genital lainnya seperti kanker vulva, anus dan penis 4-7.

c. Infeksi HIV
Seseorang dengan riwayat KA lebih berisiko terinfeksi HIV 7.

d. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan
KA selama masa kehamilan, dapat terus berkembang membesar di daerahdinding vagina dan menyebabkan sulitnya proses persalinan. Selain itu, kondisi KAdapat menurunkan sistem kekebalan tubuh, sehingga terjadi transmisi penularan KApada janin secara tenggorokannya 4,6

KONDILOMA SELAMA KEHAMILAN

a. Kehamilan dan kondiloma acuminata/HPV
Wanita yang terpapar HPV selama kehamilan memiliki kekhawatiran bahwa virus iniakan membahayakan bayi mereka. Dalam kebanyakan kasus HPV tidak mempengaruhi perkembangan janin.

b. Pengaruh kondiloma selama kehamilan
Jika seorang wanita terpapar kondiloma selama kehamilan, maka kondilomaakan cepat berkembang, kemungkinan karena terjadi pengeluaran cairan vaginaberlebih yang membuat lingkungan yang baik untuk virus, perubahan hormonal ataupenurunan kekebalan tubuh.

c. Pengaruh kondiloma acuminata/HPV terhadap bayi
HPV tidak mempengaruhi kehamilan dan kesehatan bayi secara langsung.Resiko transmisi virus ini terhadap bayi sangat rendah.

Jika bayi terpapar virus saat kehamilan atau saat melahirkan maka transmisiini bisa menyebabkan terjadinya perkembangan wart/kutil pada korda vokalis dankadang pada daerah lain pada infan atau anak-anak. Kondisi ini disebut
recurrent respiratory papillomatous (RRP)  hal ini sangaat berbahaya, namun hal ini sangatjarang terjadi.

d. Pengaruh kandiloma acuminata bagi persalinan
Menurut Sinal, Woods (2005), melahirkan melalui jalan lahir dari vagina yangterinfeksi dapat menyebabkan lesi (semacam luka) di pernafasan bayi. Kutil kelaminmemang ditularkan ke bayi baru lahir atau pasangannya, dan ada kemungkinan untuk berulang (kambuh).

Untuk alasan-alasan yang tidak diketahui, kutil genital sering meningkatjumlah dan ukurannya selama kehamilan, terkadang memenuhi vagina atau menutupi perineum sehingga pelahiran pervaginam atau episiotomi sulit dilakukan

1. Kemungkinan keadaan basah daerah vulva pada saat kehamilan merupakankondisi yang bagus untuk pertumbuhan virus

2. Adanya perubahan endokrin dan imunitas pada kehamilan juga dapatmempengaruhi pertumbuhan kondiloma akuminata Pada kehamilan trimester akhir, kondiloma akuminata sangat kering, mudah rusak dan berdarah. Selamahamil, virus bereplikasi cepat dan dapat menyebabkan tumor

3.Penelitian juga melaporkan selama kehamilan prevalensi kondilomaakuminata meningkat dari trimester 1-3 dan secara signifikan akan mengalamipenurunan pada periode post partum.Pada persalinan dengan Condyloma genital, adanya candyloma beresiko:1. Risiko penularan ke anaknya kalau dilahirkan melalui vagina.2. Risiko terjadi perdarahan bila dilahirkan melalui vagina, yaitu bila jaringan yangmengalami infeksi condyloma itu mengalami ruptur (mudahnya robek), bisamenimbulkan perdarahan banyak.Karena risiko itulah, dipertimbangkan untuk lebih baik dilahirkan melalui sesar.

e. Aktivitas
Tidak ada restriksi kecuali menghindari hubungan seksual

f. Diet
Tidak ada restriksi, namun sebaiknya mengkonsumsi nutrisi yang seimbang pada program dietari untuk memastikan ibu mendapatkan sitem imun yang optimal. Dietari program ;

•Sangat penting
1. vitamin B-kompleks, penting untuk multiplikasi sel
2. vitaminC, antiviral

•Penting
1. L-Cystein, suplai sulfur, sebagai preventasi dan perawatan kutil
2. Vitamin A, menormalkan kulit dan epitel membran
3. vitamin E, meningkatkan aliran darah dan membantu perbaikan jaringan
4. Zinc, meningkatkan imunitas tubuh melawan virus

Tidak ada restriksi, namun sebaiknya mengkonsumsi nutrisi yang seimbangpada program dietari untuk memastikan ibu mendapatkan sitem imun yang optimal.


DIAGNOSA BANDING

Papul dan nodul pseudoverrucous adalah suatu kondisi yang dapat diliha tberkaitan dengan ureterostomi dan pada daerah perianal yang berkaitan dengan defekasiyang tidak dapat ditahan juga bisa menyerupai kondiloma acuminata. Papul – papul yangterdapat didaerah anogenital seperti molusca dan skintag,

•Veruka vulgaris yang tidak bertangkai, kering dan berwarna abu – abu atau samadengan warna kulit.
•Kondiloma latum atau sifilis stadium II, klinis berupa plakat yang erosi,
•Karsinoma sel skuamosa vegetasi yang seperti kembang kol mudah berdarah danberbau.

PENATALAKSANAAN

Karena virus infeksi HPV sangat bersifat subklinis dan laten, maka tidak terdapatterapi spesifik terhadap virus ini, maka perawatan diarahkan pada pembersihan kutil – kutil yang tampak dan bukan pemusnahan virus. Pemeriksaan adalah lesi yang munculsebelum kanker serviks adalah sangant penting bagi pasien wanit yang memiliki lesiklinis atau riwayat kontak. Perhatian pada pribadi harus ditekankan karena kelembabanmendukung pertumbuhan kutil.

Terapi farmakoligis

1. Kemoerapi Podophylin
Podophylin adalah  resin yang diambil dari tumbuhan dengan kandungan beberapa senyawa sitotoksik yang rasionya tidak dapat dirubah. Podophylino yang paling aktif adalah podophylotoksin. Jenis ini mungkin terdiri atas berbagai konsentrasi 10 – 25 % dengan senyawa benzoin tinoture, spirit dan parafin cair.yang digunakan adalah tingtur podofilin 25 %, kulit di sekitarnya dilindungi dengan vaselin atau pasta agar tidak terjadi iritasi setelah 4 – 6 jam dicuci. Jikabelum ada penyembuhan dapat diulangi setelah 3 hari, setiap kali pemberian tidak boleh lebih dari 0,3 cc karena akan diserap dan bersifat toksik. Gejala toksik ialah mual, muntah, nyeri abdomen gangguan alat napas dan keringat kulit dingin. Padawanita hamil sebaiknya jangan diberikan karena dapat terjadi kematian fetus. Respon pada jenis perawatan ini bervariasi, beberapa pasien membutuhkanbeberapa sesi perawaan untuk mencapai kesembuhan klinis, sementara pasien – pasien yang lain menunjukkan respon yang kecil dan jenis perawatan lain harus dipertimbangkan.

Podofilytocin Ini merupakan satu bahan aktif resin podophylin dan tersedia sebanyak 0,5 % dalam larutan eatnol. Ini merupakan agen anti mitotis dan tidak disarankan untuk penggunaan pada masa kehamiolan atau menysui, jenis ini lebih amandi bandingkan podophylin apilkasi mandiri dapat diperbolehkan pada kasus – kasuskeluhan yang sesuai3. Asam Triklorasetik ( TCA )Ini agent topikal alternatif dan seringkali digunakan pada kutil dengankonsentrasi 30 – 50 % dioleskan setiap minggu dan pemberian harus sangat hati – hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam. Bahan ini dapat digunakan padamasa kehamilan.

2. Podofilytocin
Ini merupakan satu bahan aktif resin podophylin dan tersedia sebanyak 0,5 %dalam larutan eatnol. Ini merupakan agen anti mitotis dan tidak disarankan untuk penggunaan pada masa kehamiolan atau menysui, jenis ini lebih amandibandingkan podophylin apilkasi mandiri dapat diperbolehkan pada kasus – kasuskeluhan yang sesuai

3. Asam Triklorasetik ( TCA )Ini agent topikal alternatif dan seringkali digunakan pada kutil dengankonsentrasi 30 – 50 % dioleskan setiap minggu dan pemberian harus sangat hati – hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam. Bahan ini dapat digunakan padamasa kehamilan.

4. Topikal 5-Fluorourasil (5 FU )Cream 5 Fu dapat digunakan khususnya untuk perawatan kutil uretra danvulva vagina, konsentrasinya 1 – 5 % pemberian dilakukan setiap hari sampai lesihilang dan tidak miksi selama pemberian. Iritasi lokal buakn hal yang tidak bisa.

5. Interferon
Meskipun interferon telah menunjukkan hasil yang menjanjinkan bagi verucciformis dan  infeksi HPV anogenital, keefektifan bahan ini dalam perawatan terhadap kutil kelamin masih dipertanyakan. Terapi parentral dan intra lesional terhadapa kutil kelamin dengan persiapan interferon alami dan rekombinasi telah menghasilkan  tingkat respon yang berkisar antara 870 – 80 % pada laporan – laporan awal. Telah ditunjukkan pula bahwa kombinasi IFN dengan prosedur pembedahan ablatif lainnya menghasilkan tingkat kekambuhan ( relapse rate ) dan lebih rendah. Efek samping dari perlakuan inerferon sistemik meliputi panyakitseperti flu dan neutropenia transien.




 Non Farmakologis

Obat Kutil pada kelamin (Kutil Kondiloma pada pria / Kutil Jengger Ayam padawanita). Penggunaan: Bubuk WARTS POWDER dicampur dengan air hangat dandioleskan pada bagian yang sakit, secara teratur 2x sehari. Tidak pedih, ampuh danaman karena terbuat dari bahan-bahan alami.

Terapi pembedahan

1. Kuret atau Kauter ( Elektrokauterisasi )
Kuret atau Kauter ( Elektrokauterisasi ) dengan kondisi anastesi lokal dapat digunakan untuk pengobatan kutil yang resister terhadap perlakuan topikal munculnya bekas luka parut adalah salah satu kekurangan metode ini.

2. Bedah Beku
Bedah beku ini banyak menolong untuk pengobatan kondiloma akuminata padawanita hamil dengan lesi yang banyak dan basah.



3. Laser
Laser karbodioksida efektif digunakan untuk memusnahkan beberapa kutil – kutilyang sulit. Tidak terdapat kekawatiran mengenai ketidakefektifan karbondioksida yangdibangkitkan selama prosedur selesai, sedikit meninggalkan jaringan parut.

4. Terapi Kombinasi
Berbagai kombinasi terapi yang telah dipergunakan terhadap kutil kelamin yangmembandel, contohnya kombinasi interferon dengan prosedur pembedahan, kombinasiTCAA dengan podophylin, pembedahan dengan podophylin. Seseorang harus sangatberhati – hati ketika menggunakan terapi kombinasi tersebut dikarenakan beberapa dariperlakuan tersebut dapat mengakibatkan reaksi yang sangat serius.

PROGNOSIS

Kondiloma akuminata dapat memberikan prognosis baik dengan perwatan yang teliti dengan memeperhatikan higiene serta jaringan parut yang timbul sangat sedikit. Pengrauh terhadap kehamilan, perkembangan kehamilan, janin sangat minimal

LIMFOGRANULOMA VENERIUM
Definisi
Limfogranuloma Venereum adalah suatu penyakit menular seksual yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis. Penyakit ini terutama ditemukan di daerah tropis dan subtropis.
PENYEBAB
Bakteri Chlamydia trachomatis, yang merupakan bakteri yang hanya tumbuh di dalam sel.
Chlamydia trachomatis penyebab limfogranuloma venereum berbeda dengan Chlamydia trachomatis lainnya yang menyebabkan uretritis dan servisitis.
Gejala
Gejala mula timbul dalam waktu 3-12 hari atau lebih setelah terinfeksi.Pada penis atau vagina muncul lepuhan kecil berisi cairan yang tidak disertai nyeri. Lepuhan ini berubah menjadi ulkus (luka terbuka) yang segera membaik sehingga seringkali tidak diperhatikan oleh penderitanya.
Selanjutnya terjadi pembengkakan kelenjar getah bening pada salah satu atau kedua selangkangan.Kulit diatasnya tampak merah dan teraba hangat, dan jika tidak diobati akan terbentuk lubang (sinus) di kulit yang terletak diatas kelenjar getah bening tersebut.Dari lubang ini akan keluar nanah atau cairan kemerahan, lalu akan membaik; tetapi biasanya meninggalkan jaringan parut atau kambuh kembali.
Gejala lainnya adalah demam, tidak enak badan, sakit kepala, nyeri sendi, nafsu makan berkurang, muntah, sakit punggung dan infeksi rektum yang menyebabkan keluarnya nanah bercampur darah.
Akibat penyakit yang berulang dan berlangsung lama, maka pembuluh getah bening bisa mengalami penyumbatan, sehingga terjadi pembengkakan jaringan.
Infeksi rektum bisa menyebabkan pembentukan jaringan parut yang selanjutnya mengakibatkan penyempitan rektum.
Masa inkubasi 1-4 minggu pada tempat masuknya mikroorganisme berupa lesi yang tidak khas baik berupa erosi, papul atau ulkus yang sembuh sendiri tanpa pengobatan. Beberapa minggu kemudian timbul pembengkakan kelenjar getah bening. Tumor tampak merah dan nyeri, perlunakan yang terjadi tidak serentak sehigga memecah dengan fistel. Penyakit meluas ke kelenjar getah bening di rongga panggul.
Pada wanita, di samping gejala di atas, manifestasi dapat terjadi pada kelenjat Iliaka, sehingga terjadi nyeri waktu buang air besar atau berhubungan seksual. Nama lainnya : Bonen
  • kuman : Chlamydia trachomatis
  • perantara : manusia
  • tempat kuman keluar : penis, vagina. mulut
  • cara penularan : kontak seksual
  • tempat kuman masuk : penis, vagina, anus , mulut
  • yang bisa terkena : orang yang berhub. seks tak aman dg penderita

PENGOBATAN
Pemberian doksisiklin, eritromisin atau tetrasiklin per-oral (melalui mulut) selama 3 minggu akan mempercepat penyembuhan.Setelah pengobatan, dilakukan pemeriksaan rutin untuk mengetahui bahwa infeksi telah sembuh.
PENCEGAHAN
Cara yang paling baik untuk mencegah penularan penyakit ini adalah abstinensia (tidak melakukan hubungan seksual dengan mitra seksual yang diketahui menderita penyakit ini).Untuk mengurangi resiko tertular oleh penyakit ini, sebaiknya menjalani perilaku seksual yang aman (tidak berganti-ganti pasangan seksual atau menggunakan kondom).

Pengeluaran lendir vagina (fluor albus/ keputihan)
Keputihan yang dalam istilah medis disebut fluor albus atau leucorrhoea merupakan cairan yang keluar dari vagina. Keputihan dapat terjadi pada setiap wanita, tanpa memandang usia. Hampir seluruh wanita di dunia diperkirakan mengalami keputihan setidaknya sekali seumur hidupnya. Wanita hamil pun kerap mengalami keputihan selama masa kehamilannya.
Menurut Dr. dr. Dwiana Ocviyanti, Sp.OG dari Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI/RSCM Jakarta, seorang wanita lebih rentan mengalami keputihan pada saat hamil karena pada saat hamil terjadi perubahan hormonal yang salah satu dampaknya adalah peningkatan jumlah produksi cairan dan penurunan keasaman vagina serta terjadi pula perubahan pada kondisi pencernaan. Semua ini berpengaruh terhadap peningkatan risiko terjadinya keputihan, khususnya yang disebabkan oleh infeksi jamur.
Keputihan dapat bersifat normal (fisiologis) dan tidak normal (patologis). Dalam keadaan normal, cairan yang keluar cenderung jernih atau sedikit kekuningan dan kental seperti lendir serta tidak disertai bau atau rasa gatal. Namun bila cairan yang keluar disertai bau, rasa gatal, nyeri saat buang air kecil atau warnanya sudah kehijauan atau bercampur darah, maka ini dapat dikategorikan tidak normal.
Keputihan seringkali ‘DIANGGAP’ sebagai hal yang umum dan sepele bagi wanita. Di samping itu, rasa malu ketika mengalami keputihan kerap membuat wanita enggan berkonsultasi ke dokter, apalagi kalau tidak ada dokter obgin perempuan dilingkungannya. Padahal, keputihan tidak normal karena infeksi yang berlanjut dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Pada ibu hamil, selain dapat mengganggu kesehatan ibu, juga dapat berpengaruh terhadap janin.
Baik wanita maupun ibu hamil yang mengalami keputihan yang tidak normal, jelas Dr. Ovi, segeralah memeriksakan diri ke dokter agar dokter dapat melakukan pemeriksaan secara seksama untuk mencari tahu penyebab keputihan tersebut dan setelah itu barulah dapat memberikan terapi yang sesuai.
Penyebab keputihan dapat digolongkan pada dua golongan besar, yaitu fisiologis dan patologis. Pada keadaan fisiologis, keputihan dapat terjadi pada saat hamil, sebelum dan sesudah haid, saat mendapat rangsang seksual, saat banyak melakukan aktivitas fisik yang kesemuanya tidak menimbulkan keluhan tambahan seperti bau, gatal, dan perubahan warna.
Sedangkan keputihan patologis disebabkan oleh infeksi mikroorganisma seperti virus, bakteri, jamur, dan parasit bersel satu Trichomonas vaginalis. Dapat pula disebabkan oleh iritasi karena berbagai sebab seperti iritasi akibat bahan pembersih vagina, iritasi saat berhubungan seksual, penggunaan tampon, dan alat kontrasepsi.
Infeksi virus, bakteri, dan parasit bersel satu umumnya didapatkan saat melakukan aktivitas seksual. Sementara infeksi jamur Candida sp yang secara normal ada dalam saluran cerna dan vagina, dapat terjadi karena pertumbuhan yang berlebihan akibat berbagai faktor, salah satunya adalah kehamilan yang menimbulkan kondisi terjadinya penurunan imunitas tubuh dan juga vagina.
Umumnya penyebab keputihan tersering pada wanita hamil adalah infeksi jamur Candida sp. Wanita hamil dapat terkena keputihan sejak awal kehamilan hingga trimester akhir menjelang persalinan. Namun pada keputihan karena infeksi jamur, akan lebih berat terjadi pada bulan-bulan terakhir kehamilan karena pada saat tersebut kelembaban vagina paling tinggi.
Menurut Dr. Ovi, selama belum terjadi persalinan dan selaput ketuban masih utuh, dimana janin masih terlindungi oleh selaput ketuban dan air ketuban yang steril, umumnya tidak ada efek langsung infeksi vagina yang menyebabkan terjadinya keputihan pada janin. Namun bila saat persalinan masih terdapat infeksi, maka dampak keputihan yang terjadi tergantung penyebabnya, dimana bayi akan terkontak dengan penyebab keputihan tersebut.
Misalnya, pada infeksi Chlamydia dapat terjadi keguguran hingga persalinan sebelum waktunya (persalinan prematur). Infeksi virus Herpes simpleks dapat menyebabkan radang pada otak bayi (ensefalitis). Infeksi jamur Candida sp dapat meningkatkan risiko terjadinya ayan (epilepsi). Infeksi virus HPV dapat menyebabkan terjadinya papiloma laring pada bayi yang menyebabkan gangguan pernapasan dan gangguan pencernaan bayi hingga kematian. Infeksi bakteri Neisserea gonorrhoeae dapat menyebabkan infeksi pada mata bayi hingga terjadi kebutaan.
Pada keputihan yang tidak normal yang disebabkan oleh infeksi, tentunya infeksi yang berlanjut dan tergantung penyebabnya, dapat mengganggu kesehatan ibu hamil. Misalnya bila terjadi infeksi Chlamydia pada kehamilan, dapat terjadi pecahnya selaput ketuban sebelum masa persalinan. Hal ini berakibat terjadinya infeksi pada janin dan juga pada ibu yang dapat menyebabkan infeksi berat hingga kematian.
Pada keputihan yang normal boleh saja melakukan hubungan seksual. Namun pada kondisi sedang terjadi masalah apalagi bila masalah tersebut ada infeksi, maka hubungan seksual harus dihindari hingga masalah selesai.
Diperlukan terapi pada pihak pasangan bila infeksi yang terjadi mungkin sudah terjadi pula pada pihak pasangan, agar tidak terjadi fenomena pingpong. Disebut fenomena pingpong karena infeksi pada perempuan yang juga ada pada pasangan prianya menginfeksi kembali pihak perempuan setelah perempuan tersebut sembuh dengan pengobatan sebelumnya.
Menyoal tentang cairan pencuci vagina, kebanyakan wanita Indonesia terpengaruh iklan iklan yang belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Kebiasaan remaja putri dan wanita dewasa di Amerika dan Negara maju lainnya yang salah ditularkan keseluruh dunia melalui produk produk douching yang kadang tidak bisa dipertanggungjawabkan secara kesehatan.
Bisa sedikit disimpulkan bahwa keputihan juga sesuatu yang sangat merisaukan wanita Amerika dan Negara Negara lain sehingga merupakan pasar yang potensial untuk produk produk douching.
Menurut Dr. Ovi, cairan pencuci vagina / douching yang bersifat antiseptik kuat atau bila dilakukan pemasukan cairan pencuci vagina dalam jumlah besar ke dalam vagina (douche) dapat merusak flora normal vagina sehingga menyebabkan jamur dan bakteri mudah tumbuh. Sehingga untuk memilih cairan pencuci vagina, Dr. Ovi menyarankan memilih yang mempunyai keasaman sesuai dengan vagina dan penggunaannya hanya untuk di bagian luar vagina.

Penyebab :
-         Peningkatan produksi lendir di kelenjar endoservikal (tanpa sebab patologis), sering tidak menimbulkan keputihan.
-         Jika fluor albus sangat banyak, kemungkinan penyebabnya Gonokokus (fluor seperti nanah), Trichomonas vaginalis (fluor yang putih berbuih), candida Albicans (fluor dengan gumpalan)
Penanganan :
-         Dilakukan Higiene vulva
-         Pakai celana dalam dari bahan yang menyerap.
Ganti celana jika basah dan keringka









Daftar Pustaka

  1. Corey L, Wald A, Genital herpes. In Sexually Transmitted Disease, Holmes K.K, Mardh PA, Sparling PF, Lemon SM, Stamn WE, Piot P, etc (ed) Third edition 2000. New York:McGraw-Hill, p 285-305.
  2. About genital herpes; what is genital herpes?[online].2006.[cited 18 Dec 2006].[3] available from URL http://www.FAMVIR.com.
  3. Herpes genital, Female herpes picture, [online].[cited 12 Dec 2006];[5 screens]. Available from http://www.herpes-coldsores-treatment-picture.com
4.      Peeling, R.W et al.Syphilis available at http//www.nature.com/reviews/micro. Accessed on May 14, 2010.
5.      Natahusada, EC, Djuanda A.Sifilis dalam: Djuanda A, Hamzah M, Aisyah S.Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, Balai Penerbit FKUI, Jakarta, 2010. h:393-413.
6.      Hutapea, NO.Sifilis dalam: Daili SF, Makes WIB, Zubier F. Infeksi Menular Seksual,
7.      Balai Penerbit FKUI, Jakarta,2009. h:84-102.
8.      Sifilis available at http//www.medicastore.com. Acccesed on May 14, 2010.
9.      Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit. Penerbit Hipokrates. Jakarta. 2000. h:170.
10.  CDC National Prevention Information Network.Syphilis available at http//www.cdc.com. accessed on May 14, 2010.
11.  Aprianti S, Pakashi RDN, Hardjoeno. Tes Sifilis dan Gonorrhoe dalam: Hardjoeno dkk.
12.  Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diagnostik. Penerbit LETHAS, Makasar.2003. h:353-61.
13.  Dugdale DC, Vyas JM, Zieve D.Syphilis available at http//www.medlineplus.com.Accessed on may 14, 2010
14.  Yulaikhah, Lily. 2006. Seri Asuhan Kebidanan:Kehamilan. Jakarta : EGC
15.  http://kesehatanwanita.blog.com/tag/fluor-albus/

http://htmlimg4.scribdassets.com/99kwvue5ogkkjbz/images/7-3b9c9ad15f/001.jpg


Comments

Popular posts from this blog

CONTOH SOAP ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN

PROSEDUR KLINIK : PEMERIKSAAN URINE IBU HAMIL ( GLUKOSA URINE & PROTEIN URINE )