Tuesday, January 31, 2012

INFLUENZA BURUNG (AVIAN INFLUENZA)


PENDAHULUAN
Influenza burung atau Avian Influenza (AI) merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A yang biasa mengenai unggas. Penyakit ini termasuk reemerging infectious disease yang menghebohkan dunia dan berdampak pada berbagai sektor yaitu sektor ekonomi dan kesehatan manusia. Pada unggas AI sudah dikenal sejak tahun 1878. Penyakit ini dapat menyerang saluran nafas, saluran cerna dan sistem saraf pada berbagai spesies burung dan unggas. Binatang piaraan seperti ayam, kalkun potensial terserang AI.
Virus influenza pada unggas mampu bertahan hidup di air sampai 4 hari pada suhu 22C dan lebih dari 30 hari pada suhu 0C. Virus akan mati dengan deterjen, desinfeksi misalnya formalin. Salah satu ciri yang penting adalah kemampuan untuk mengubah antigen permukaan (H dan N) baik secara cepat maupun lambat. Peristiwa perubahan struktur antigen permukaan yang terjadi secara singkat disebut antigenic shift. Proses ini akan memungkinkan terbentuknya virus baru yang lebih ganas, sehingga dapat menyebabkan terjadinya infeksi sistemik yang berat.
ETIOLOGI
Virus AI termasuk genom RNA dari famili Orthomyxoviridae. Ada 3 tipe virus AI yaitu A, B dan C. Hanya A yang menyebabkan infeksi pada unggas piaraan, namun juga potensial menyerang manusia. Virus influenza tipe B dan C dapat menyebabkan penyakit pada manusia dengan gejala ringan dan tidak fatal. Ada 2 protein petanda virus influenza A yaitu protein hemaglutinin (H) dan protein neuraminidase (N). Tipe A mempunyai 15 serotipe HA, dinyatakan dengan H1-H15 dan 9 serotipe NA, dinyatakan dengan N1-N9. Kombinasi kedua protein ini menghasilkan banyak sekali varian serotipe virus influenza tipe A. Subtipe yang sering ditemukan pada manusia adalah kelompok H1, H2, H3 serta N1 dan N2, disebut Human influenza. Penyebab kehebohan AI adalah virus influenza A subtipe H5N1.
TRANSMISI
Berbagai faktor yang mempengaruhi transmisi pada manusia adalah :
1.     Usia lanjut
2.     Sosioekonomi
3.     Imunokompromais (penderita dengan penurunan daya tahan tubuh)
Manusia yang termasuk risiko tinggi adalah :
1.     Pemilik dan pekerja di industri peternakan ayam
2.     Pekerja pemotong dan pengolah bahan baku daging ayam
3.     Sopir kendaraan atau truk pengangkut ayam
4.     Sopir kendaraan pengangkut daging ayam
5.     Pengusaha catering
6.     Pekerja laboratorium yang mengerjakan pemeriksaan dengan sampel darah, daging maupun produk ayam yang sakit
7.     Para dokter hewan
Kasus AI telah ditemukan di Indonesia. Kasus terbanyak dari Vietnam, kemudian Thailand, Kamboja dan terakhir Indonesia. Sebagian besar kasus mempunyai riwayat kontak yang jelas dengan unggas atau produk unggas. Jadi jalur terjadinya infeksi AI pada manusia adalah dari unggas ke manusia. Penularan dari manusia ke manusia masih mungkin didasarkan adanya laporan kasus di Thailand.
Hingga Agustus 2005, walaupun sudah jutaan ternak mati akibat AI, ribuan kontak antar peternak dengan unggas yang terkena wabah, ternyata kasus AI (konfirmasi) pada manusia hanya sedikit di atas seratus. Jadi walau terbukti adanya penularan dari unggas ke manusia, proses ini tidak terjadi dengan mudah. Juga penularan antar manusia, kemungkinan terjadinya lebih kecil lagi.
PATOGENESIS
Penyebaran virus AI terjadi melalui udara (droplet infection), virus tertanam pada membran mukosa yang melapisi saluran nafas atau langsung memasuki alveoli (tergantung dari ukuran droplet). Virus yang tertanam pada membran mukosa akan terpajan mukoprotein yang mengandung asam sialat yang dapat mengikat virus. Reseptor spesifik yang dapat berikatan dengan virus influenza berkaitan dengan spesies darimana virus berasal. Adanya perbedaan pada reseptor yang terdapat pada membran mukosa diduga sebagai penyebab mengapa virus AI tidak dapat mengadakan replikasi secara efisien pada manusia. Mukoprotein yang mengandung reseptor ini akan mengikat virus sehingga perlekatan virus dengan sel epitel saluran nafas dapat dicegah, kecuali virus yang mengandung protein neuroaminidase, dapat memecah ikatan tersebut. Virus selanjutnya akan melekat pada epitel permukaan saluran nafas untuk kemudian bereplikasi di dalam sel tersebut. Replikasi virus terjadi dalam 4-6 jam sehingga dalam waktu singkat virus dapat menyebar ke sel-sel didekatnya. Masa inkubasi virus 18 jam sampai 4 hari, lokasi utama infeksi pada sel-sel kolumnar yang bersilia.    
MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinis pada ayam yang sakit :
-       Tampak depresi
-       Nafsu makan menurun
-       Produksi telur menurun
-       Diare
-       Kepala mengalami kebiruan akibat sianosis, terdapat bercak perdarahan ekimosis, fokal nekrosis dan membengkak. Konjungtiva mengalami kongesti disertai perdarahan dan edema di sekitara mata.  
-       Leher mengalami edema
-       Kaki terdapat bercak-bercak perdarahan
Selanjutnya ayam akan mati dalam 24-48 jam pertama.
Manifestasi pada manusia :
-       Panas badan mendadak tinggi dengan suhu 38
-       Terdapat sindrom flu
-       Bila berat terdapat tanda-tanda radang paru pneumonia
Masa inkubasi AI sangat pendek yaitu 3 hari (2-4 hari). Manifestasi klinis AI pada manusia terutama terjadi di sistem respiratorik mulai dari yang ringan hingga berat. Secara umum sama dengan gejala ILI (Influenza like illness) yaitu batuk, pilek dan demam. Demam cukup tinggi >38C. Gejala lainnya berupa sefalgia (nyeri kepala), nyeri tenggorok, mialgia dan malaise. Keluhan gastro-intestinal berupa diare. Lainnya konjungtivitis. Spektrum klinis bisa sangat bervariasi, mulai dari asimptomatik, flu ringan hingga berat, pneumonia dan berakhir dengan ARDS (acute respiratory distress syndrome). Perjalanan klinis AI umumnya berlangsung sangat progresif dan fatal sehingga sebelum sempat berpikir tentang AI, penderita sudah meninggal. Mortalitas penyakti hingga laporan terakhir sekitar 50%.
Kelainan laboratorium hematologi yang hampir selalu dijumpai adalah lekopeni, limfopeni dan trombositopeni. Banyak juga kasus dengan gangguan ginjal berupa peningkatan ureum dan kreatinin. Kelainan gambaran radiologis thoraks berlangsung sangat progresif dan sesuai dengan manifestasi klinis, namun tidak ada gambaran yang khas. Yaitu berupa gambaran infiltrat di paru yang menunjukkan bahwa kasus ini adalah pneumoni   
DIAGNOSIS
Seseorang diduga menderita AI bila termasuk kelompok risiko tinggi dengan riwayat seminggu yang lalu  mengunjungi peternakan ayam, tempat penyembelihan ayam, pekerja laboratorium yang memproses sampel ayam sakit, sopir mobil pengangkut ayam dan dokter hewan. Klinis mengalami panas badan tinggi, terdapat sindrom sepertu flu dan atau pneumonia. Diagnosis pasti ditegakkan dengan isolasi virus. Uji konfirmasi dengan :
-       Kultur dan identifikasi virus H5N1
-       Uji real time nested PCR (polymerase chain reaction) untuk H5
-       Uji serologi
DEFINISI KASUS
Departemen kesehatan RI membuat kriteria diagnosis AI sebagai berikut :
1.     Pasien dalam observasi
a.     Pasien masih dalam observasi klinis, epidemiologis dan pemeriksaan laboratorium
b.    Seseorang yang menderita demam >38C disertai 1 atau lebih gejala di bawah ini :
                                          i.    Batuk
                                         ii.    Sakit tenggorokan
                                        iii.    Pilek
                                        iv.    Nafas pendek/sesak nafas
                                         v.    Belum jelas ada atau tidaknya kontak dengan unggas sakit atau mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya dan produk mentahnya

2.     Kasus suspek AI H5N1 (dalam pengawasan)
a.     Seseorang yang menderita demam atau panas ± 38C disertai 1 atau lebih gejala :
                                          i.    Batuk
                                         ii.    Sakit tenggorokan
                                        iii.    Pilek
                                        iv.    Nafas pendek atau sesak nafas
                                         v.    Pneumonia dan diikuti 1 atau lebih keadaan di bawah ini :
1.     Pernah kontak dengan unggas (ayam, itik, burung) sakit atau mati mendadak yang belum diketahui penyebabnya dan produk mentahnya dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas
2.     Pernah tinggal di daerah yang terdapat kematian unggas yang tidak biasa dalam 14 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas.
3.     Pernah kontak dengan penderita AI konfirmasi dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas.
4.     Pernah kontak dengan spesimen AI H5N1 dalam 7 hari terakhir sebelum timbul gejala di atas (bekerja di laboratorium untuk AI)
5.     Ditemukan lekopeni ≤ 3000/mm3
6.     Ditemukan adanya titer antibodi terhadap H5 dengan pemeriksaan HI test menggunakan eritrosit kuda atau tes ELISA untuk influenza A tanpa subtipe
ATAU
-       Kematian akibat ARDS dengan 1 atau lebih keadaan di bawah ini :
o    Lekopeni atau limfopenia (relatif) dengan atau tanpa trombositopenia (trombosit < 150.000)
o    Foto thoraks menggambarkan pneumonia atipikal atau infiltrat di kedua sisi paru yang makin meluas pada serial

3.     Kasus probable AI H5N1
a.     Kriteria Kasus suspek ditambah dengan 1 atau lebih keadaan di bawah ini :
                                          i.    Ditemukan adanya kenaikan titer antibodi minimum 4 kali terhadap H5 dengan pemeriksaan HI test menggunakan eritrosit kuda atau ELISA test
                                         ii.    Hasil laboratorium terbatas untuk influenza H5 (dideteksi antibodi spesifik H5 dalam spesimen serum tunggal) menggunakan neutralisasi tes. (dikirim ke referensi laboratorium)
                                        iii.    Dalam waktu singkat menjadi pneumonia berat atau gagal nafas atau meninggal dan terbukti tidak ada penyebab lain

4.     Kasus konfirmasi Influenza A/H5N1
Kasus suspek atau probable dengan 1 atau lebih keadaan di bawah ini :
-       Kultur virus positif influenza A  atau H5N1
-       PCR positif influenza A atau H5N1
-       Pada imunofluorescence (IFA) test ditemukan antigen positif dengan menggunakan antibodi monoclonal influenza A H5N1
-       Kenaikan titer antibodi spesifik Influenza A atau H5N1 sebanyak 4 kali dalam paired serum dengan uji netralisasi
Kriteria rawat :
-       Suspek flu burung dengan gejala klinis berat yaitu :
o    Sesak nafas dengan frekuensi nafas 30x/menit
o    Nadi 100x/menit
o    Ada ganggguan kesadaran
o    Kondisi umum lemah
-       Suspek dengan lekopeni
-       Suspek dengan gambaran radiologi pneumoni
-       Kasus probable dan confirm


TERAPI
Prinsip penatalaksanaan AI adalah istirahat, peningkatan daya tahan tubuh, pengobatan antiviral, pengobatan antibiotik, perawatan respirasi (ventilator)





DAFTAR PUSTAKA
1.     Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 4. Jakarta : FKUI. 2006. hal. 1774 – 1779
2.     Nasronudin. Aspek molekuler avian influenza. Dalam : Penyakit Infeksi di Indonesia, solusi kini dan mendatang. Edisi pertama. Surabaya : Airlangga university press. 2007 hal. 34-39
3.     (Yovita Hartantri, Bagian Ilmu Penyakit Dalam RS Dr Hasan Sadikin/FKUP Bandung)


No comments:

Post a Comment