PERUBAHAN ENDOKRIN


A.    Pengertian Sistem Endokrin
Sistem endokrin terdiri dari sekelompok organ (kadang disebut sebagai kelenjar sekresi internal), yang fungsi utamanya adalah menghasilkan dan melepaskan hormon-hormon secara langsung ke dalam aliran darah. Hormon adalah substansi kimia yang langsung disekresikan ke dalam sirkulasi darah yang akan mempengaruhi kinerja organ target. peran hormon adalah sebagai molekul pembawa informasi.
Berdasarkan cara kerjanya dapat dibedakan menjadi hemokrin, parakrin, dan autokrin. Hemokrin jika hormon disekresikan ke sirkulasi darah kemudian mempengaruhi sel target di tempat lain. Parakrin jika hormon diskeresikan kemudian mempengaruhi sel tetangga di dekatnya. Autokrin jika hormon disekresikan kemudian mempengaruhi sel itu sendiri. Neuroendokrin (neurohormon) adalah hormon yang dihasilkan oleh sel syaraf seperti asetilkolin, norepinefrin (NE), serotonin yang disekresikan ke dalam sirkulasi kemudian mempengaruhi organ lainnya. Neurotransmitter adalah neurohormon yang bekerja pada sinapsis (antar sel).

B.     Kelenjar Endokrin
Organ utama dari sistem endokrin adalah:
·         Hipotalamus
Hipotalamus berperan mensintesis dan mensekresikan hormonhormon berikut:
1. Gonadotropin releasing hormone (GnRH) yang berperan memacu sekresi Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan Luteinizing Hormone (LH).
2. Thyrotropin releasing hormone (TRH) yang berperan merangsang sekresi thyroid stimulating hormone (TSH).
3. Corticotropin releasing hormone (CRH) yang berperan merangsang sekresi ACTH.
4. Prolactin inhibiting factor (PIF) yang berperan menghambat sekresi prolaktin.

·         Kelenjar hipofisis

a.       Hipofisis Anterior
Hipofisis (pituitary) anterior tersusun atas sel kelenjar yang secara histologis dapat dibedakan menjadi 3 tipe sel yaitu sel alfa, beta (basofil), dan kromopob. Fungsi pituitaria dikontrol oleh releasing dan inhibiting factor dari hipotalamus. Hormon-hormon yang dihasilkan oleh pituitaria anterior adalah:
1. Somatotropin (STH), atau growth hormone (GH). Somatotropin berperan merangsang sintesis somatomedin oleh hati. Somatotropin memiliki reseptor pada semua jaringan tubuh. Somatotropin berperan memacu pertumbuhan semua organ tubuh sehingga dapat tumbuh secara proporsional. Kelebihan produksi somatotropin pada masa pertumbuhan (anak-anak), akan menimbulkan pertumbuhan yang melebihi normal yang disebut tumbuh raksasa (gigantisme). Apabila kelebihan produksi somatotropin terjadi pada saat telah dewasa, maka akan menyebabkan pertumbuhan menyamping dari tulang rangka yang disebut akromegali. Sebaliknya, kekurangan produksi somatotropin akan menyebabkan pertumbuhan terhambat atau kekerdilan yang disebut dwarf. Sebagai contoh penderita dwarf adalah pemain sirkus. Oleh karena, somatotropin tidak begitu penting untuk pertumbuhan syaraf, maka pada penderita dwarf tidak mengalami retardasi mental.

2. Thyroid stimulating hormone (TSH), atau thyrotrophic hormone.
TSH berperan merangsang pertumbuhan dan fungsi kelenjar tiroid (terletak di daerah leher) untuk mensekresikan hormon tiroksin. Sintesis dan sekresi TSH diatur oleh TRH (dahulu dikenal sebagai TSH-RF, thyroid stimulating hormone releasing factor) dari hipotalamus. Kadar tiroksin darah akan memberikan umpan-balik negatif (negatif feedback) ke pituitaria dan hipotalamus.

3. Adrenocorticotrophic hormone (ACTH) berperan merangsang steroidogenesis di dalam kortek adrenal.

4. PRL (Prolaktin) berperan merangsang pertumbuhan kelenjar susu dan sintesis pogesteron oleh korpus luteum pada beberapa spesies hewan. Sekresi PRL dihambat oleh PIF (dahulu dikenal sebagai PRL-IF, Prolactin Inhibting Factor) yang dihasilkan oleh hipotalamus.

5. Gonadotropin hormone (GnH) berperan mengontrol fungsi gonade (ovarium dan testis). Hormon gonadotropin dapat dibedakan menjadi 3 yaitu FSH (Follicle Stimulating Hormone), LH (Luteinizing Hormone), dan PRL (Prolaktin).
1) Follicle Stimulating Hormone (FSH). Pada wanita, FSH berperan merangsang perkembangan follikel khususnya pada fase proliferasi yang ditandai dengan pertumbuhan follikel primer menjadi follikel Graaf, sintesis estrogen, dan pembentukan reseptor LH pada folikel ovarium. Pada laki-laki, FSH berperan merangsang testis untuk meningkatkan spermatogenesis. Sekresi FSH dirangsang oleh GnRH (dahulu dikenal sebagai FSH-RF, Follicle Stimulating Hormone-Releasing Factor) yang dihasilkan oleh hipotalamus.

2) LH. Pada wanita, LH berperan merangsang ovulasi, perkembangan (diferensiasi) sel granulosa menjadi sel luteal (koprus luteum), dan produksi progesteron. Pada laki-laki, LH berperan merangsang testis untuk mensintesis testosteron. Sekresi LH dirangsang oleh GnRH (dahulu dikenal sebagai LH-RF, Luteinizing Hormone-Releasing Factor) yang dihasilkan oleh hipotalamus.
http://gurumuda.com/bse/wp-content/uploads/2010/09/8-Kesehatan-kelenjar-endokrin-2.png


b.      Hipofisis posterior
Hipofisis (Pituitary) posterior tersusun atas jaringan syaraf (neuron) yang berasal dari kumpulan sel-sel syaraf yang berasal di sekitar hipotalamus. Hormon yang dihasilkan oleh sel-sel pituitaria posterior adalah ADH dan oksitosin.

1. ADH (antidiuretic hormone) atau vasopresin.
ADH merupakan hormon peptida yang tersusun atas 9 asam amino. ADH berfungsi mengatur reabsopsi air pada tubulus kolektivus ginjal, dan vasokontriksi (penyempitan) pembuluh darah oleh karena itu disebut juga vasopresin. Mekanisme ADH dalam meregulasi keseimbangan air tubuh adalah sbb.: Pada kondisi tubuh kekurangan air dan tidak segera diganti, maka akanmengakibatkan dehidrasi, hiperosmolalitas, dan hipovolemia yang akan dideteksi oleh sel-sel osmoreseptor dan baroreseptor yaitu sel sensoris yang berperan memonitor perubahan konsentrasi ion sodium atau volume air (tekanan osmotik) dalam darah. Sel-sel baroreseptor tersebut terletak dalam dinding sinus karotid berperan memberikan informasi ke tempat spesifik di otak (hipotalamus). Selanjutnya hipotalamus merangsang pembebasan hormon vasopresin dari kelenjar pituitaria posterior. ADH bekerja merangsang sel tubulus kolektivi ginjal untuk meningkatkan reabsorpsi air. Vasopresin juga menyebabkan kontriksi otot polos pembuluh darah sehingga mengakibatkan tekanan darah meningkat untuk kembali ke normal. Kelebihan ADH dapat menyebabkan hipertensi karena vasokontriksi pembuluh darah.

Kekurangan ADH menyebabkan penyakit diabetes insipidus dengan gejala sebagai berikut: rasa haus berlebihan, banyak urin (encer), dan dehidrasi. Oksitosin memiliki peranan penting sebagai berikut:
1. Kontraksi otot myometrium (uterus) pada saat partus (melahirkan).

2. Memacu kontraksi otot myoepitel kelenjar susu sehingga menyebabkan keluarnya air susu (milk ejection) pada saat laktasi.
Pituitaria Intermedia

Melanocyte stimulating hormone (MSH) berperan merangsang pembentukan melanin di kulit (melanogenesis) oleh melanosit.

·         Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid (terletak di daerah leher) berfungsi untuk mensintesis dan mensekresikan hormon tiroksin. Sintesis dan sekresi tiroksin diatur oleh TSH dari pituitaria anterior. Kadar tiroksin darah memberikan umpan-balik negatif (negatif feedback) ke pituitaria dan hipotalamus. Tiroksin adalah hormon yang tersusun atas asam amino yang mengandung 4 atom iod yang disebut tetraiodo tironin (T4) dan yang mengandung 3 atom iod disebut triiodo tironin (T3). Oleh karena itu, sintesis tiroksin memerlukan suplai iodium dalam diet. Apabila kekurangan iodium dalam diet, maka akan menyebabkan sintesis dan sekresi tiroksin terganggu sehingga kadar tiroksin rendah (hipotiroid).
http://gurumuda.com/bse/wp-content/uploads/2010/09/8-Kesehatan-kelenjar-endokrin-3.png
Pada kondisi hipotiroid ditandai dengan pembengkakan kelenjar tiroid yang disebut goiter (gondok). Oleh karena itu, penyakit ini sering disebut Goiter akibat kekurangan iodium (GAKI). Goiter terjadi karena hiperaktifitas kelenjar tiroid karena dipacu untuk memenuhi kebutuhan tiroksin dalam tubuh. Tiroksin berperan merangsang pertumbuhan, metabolisme pada semua sel khususnya untuk mengubah sumber energi menjadi energi dan panas dengan cara meningkatkan kecepatan metabolisme (metabolic rate) dan penggunaan oksigen. Oleh karena itu, apabila produksi tiroksin rendah akan mengakibatkan laju metabolisme tubuh menjadi turun sehingga pada penderita kekurangan hormon ini akan menyebabkan pertumbuhan terhambat (kekerdilan) yang disertai dengan retardasi mental (kemunduran mental) yang disebut kretin. Jika kekurangan hormon tiroksin terjadi pada orang tua akan menimbulkan penyakit myxoedema dengan gejala sbb.: suhu tubuh rendah, denyut jantung lemah, telmi (telat mikir), kulit kasar dan mbesisik. Hal ini dapat dicegah dengan memberi tiroksin secara peroral atau penggunaan garam beriodium. Kelenjar tiroid ini bersifat unik, karena dapat menyimpan hormon yang dihasilkan dalam bentuk koloid dalam vesikula kecil yang disebut tiroglobulin. Tiroglobulin diurai oleh ensim yang dihasilkan oleh tiroksin.

·         Kelenjar paratiroid
Kelenjar paratiroid merupakan salah satu kelenjar endokrin yang tidak dikontrol langsung oleh hormon pituitaria. Kelenjar paratiroid terletak menempel pada ujung atas dan bawah kelenjar tiroid, jumlahnya ada 4 buah. Kelenjar paratiroid menghasilkan hormon parathormon (PTH) yang berperan meningkatkan kadar kalsium darah dan menurunkan kadar pospat darah. Pulau-pulau pankreas
Pulau Langerhans pankreas merupakan bagian pankreas yang bersifat sebagai kelenjar endokrin, sedangkan bagian asinar bersifat sebagai kelenjar eksokrin. Sel ? (beta) pulau Langerhans pankreas berperan menghasilkan hormon insulin. Insulin merupakan faktor hipoglikemik artinya sebagai faktor yang menyebabkan penurunan kadar glukosa darah. Pada kondisi glukosa darah meningkat (misalnya saat setelah makan yang lebih banyak mengandung unsur karbohidrat), maka akan merangsang sekresi insulin dan mencegah sekresi glukagon. Insulin bekerja meningkatkan afinitas molekul karier didalam membran sel dengan glukosa sehingga mempermudah dan mempercepat masuknya glukosa ke dalam sel.

·         Kelenjar adrenal
Kelenjar adrenal terletak di atas ginjal sehingga disebut juga kelenjar suprarenalis. Kelenjar adrenal terdiri atas bagian kortek dan medulla. Sel kromafin medulla adrenal berperan mensintesis dan mensekresikan hormon katekolamin (adrenalin dan noradrenalin). Adrenalin disebut juga epinefrin (E), noradrenalin disebut juga norepinefrin (NE). Katekolamin bersifat meningkatkan aktifitas sistem syaraf simpatis. Sekresi hormon adrenalin merupkan respon terhadap rangsangan syaraf melalui neuron praeganglionik syaraf simpatis sebagai respon terhadap turunnya kadar glukosa darah. Epinefrin berperan meningkatkan kadar glukosa darah dan asam laktat dengan cara merangsang glikogenolisis di sel hati dan otot sehingga terjadi hiperglikemik. Noradrenalin secara umum efeknya sama dengan E. Dengan demikian, adrenalin bekerja seperti glukagon dalam hal metabolisme karbohidrat.

Korteks adrenal tersusun atas 3 lapisan dari luar ke dalam sebagai berikut:
1. Zona glomerulosa
2. Zona fasciculata
3. Zona reticularis
http://gurumuda.com/bse/wp-content/uploads/2010/09/8-Kesehatan-kelenjar-endokrin-4.png
Zona glomerulosa berperan menghasilkan hormon aldosteron yang berfungsi memfasilitasi reabsorpsi ion natrium (Na+1) oleh tubulus ginjal. Sodium merupakan ion utama yang menyusun elektrolit tubuh dan secara terus menerus dikeluarkan lewat urin dan perkeringatan.

·         Ovarium
Ovarium berperan mensintesis dan mensekresikan hormon estrogen (E2) dan progesteron (P). Estrogen disintesis dan disekresikan oleh folikel ovarium. Estrogen bersifat sebagai endokrin, parakrin, atau autokrin. Estrogen berasal dari kolesterol. Estrogen ada 3 macam yaitu: 17ß-estradiol, estrone, dan estriol, yang paling banyak dijumpai adalah 17ß-estradiol. Estrogen berperan sebagai feedback positip yaitu memacu proliferasi sel granulosa, meningkatkan jumlah reseptor FSH pada sel granulosa, dan berperan sebagai feedback negatif yaitu menurunkan sekresi FSH-RH dari hipotalamus dan FSH dari pituitaria, serta memelihara sifat kelamin sekunder.
Progesteron disintesis dan disekresikan oleh korpus luteum dirangsang oleh LH pada siklus menstruasi normal, sedangkan pada saat ada kehamilan sintesis dan sekresi progesteron oleh korpus luteum juga dirangsang oleh chorionic gonadotropin (CG) yang dihasilkan plasenta. Fungsi utama hormon progesteron adalah mengatur panjang pendeknya siklus estrus, menyiapkan uterus untuk implantasi, pertumbuhan kelenjar susu, dan sifat keibuan. Disamping itu, korpus luteum juga menghasilkan hormon relaksin yang berperan melebarkan (relaksasi) simpisis pubis (tulang panggul) dan servik uteri.
Aplikasi pemanfaatan hormon E2 dan P dalam kehidupan sehari-hari antara lain untuk: kontrasepsi oral pil (estrogen, atau kombinasi estrogen dan progestin), injeksi (estrogen), implan (progesteron).
Selama kehamilan, plasenta juga berperan sebagai suatu kelenjar endokrin.

C.     Perubahan Endokrin Pada Kehamilan

·         Kelenjar hipofisis
Kelenjar hipofisis pada saat kehamilan mengalami perbesaran kira-kira 135 % disbanding dengan yang tidak hamil. Meskipun terdapat dugaan bahwa ukurannya mungkin bertambah cukup besar sehingga dapat menekan khiasma optikum dan mengurangi lapang pandang, perubahan-perubahan visual selama kehamilan normal sifatnya minimal. Kelenjar hipofisis ibu tidak penting untuk pemeliharaan kehamilan.
a.       Hormon Pertumbuhan
Selama trimester pertama, konsentrasi hormone pertumbuhan dalam serum dan cairan amnion berada dalam batas normal tidak hamil yaitu 0,5 – 7,5 ng/ml. hormone pertumbuhan didalam cairan amnion memuncak pada minggu ke- 14 sampai ke-15 dan perlahan-lahan turun. Setelah itu hingga mencapai nilai paling rendah pada minggu ke-63. Setelah kelahiran, hormone pertumbuhan meningkat untuk beberapa saat tetapi pada kadar yang lebih rendah disbanding kadar pada akhir kehamilan.
b.      Prolaktin
Sepanjang kehamilan manusia, terdapat peningkatan nyata kadar prolaktin didalam plasma ibu. Bahkan, kadarnya dapat meningkat 10 kali lipat dibangding pada wanita normal tidak hamil. Sebaliknya, setelah pelahiran, terdapat penurunan konsentrasi prolaktin plasma bahkan pada wanita yang menyusui.
Fungsi utama prolaktin serum ibu adalah untuk menjaga kelangsungan laktasi pada awal kehamilan, prolaktin bekerja untuk menginisiasi sintesis DNA dan mitosis sel-sel epitel kelenjar dan sel-sel alveolar prasekretorik payudara. Prolaktin juga meningkatan jumlah reseptor estrogen dan prolaktin di sel-sel yang sama. Prolaktin juga ditemukan dalam konsentrasi yang tinggi dalam plasma janin, hingga mencapai konsentrasi tertinggi pada akhir minggu ke-5 kehamilan.
Fungsi prolaktin dalam cairan amnion tidak diketahui. Beberapa peneliti telah menduga bahwa prolaktin didalam cairan amnion mengganggu transfer air dari kompartemen janin ke ibu, sehingga melindungi cairan ekstraseluler janin dan mencegah dehidrasi janin selama trimester terakhir kehamilan ketika cairan amnion normalnya menjadi hipotonik.
·         Kelenjar tiroid
Terdapat beberapa perubahan pada pengaturan tiroid selama kehamilan yang  diakibatkan oleh tiga modifikasi dalam pengaturan hormone tiroid. Pertama, kehamilan menginduksi suatu peningkatan nyata pada kadar protein transpor tiroksin mayor dan globulin pengikat tiroksin dalam sirkulasi sebagai respons terhadap tingginya kadar estrogen. Kedua, beberapa factor perangsang tiroid yang berasal dari plasenta di produksi secara berlebihan. Ketiga, kehamilan disertai dengan menurunnya ketersediaan iodida untuk tiroid ibu.
Selama masa kehamilan, tiroid mengalami pembesaran sedang yang disebabkan oleh hyperplasia jaringan kelenjar dan meningkatnya vaskularitas.
a.       Tiroid Releasing Hormon (TRH)
Neurotransmiter ini ditemukan di seluruh bagian otak tetapi konsentrasi tertingginya terdapat di hipotalamus. TRH merangsang sintesis dan pelepasan tirotropin. Hormone ini tidak mengikat pada kehamilan normal tetapi melintasi plasenta dan dapat merangsang hipofisis janin untuk mensekresi tirotropin. Peran hormone ini pada homeostasis janin belum jelas.
b.      Kelenjar Tiroid Janin
Selama trimester pertama, janin bergantung pada tiroksin ibu. Selanjutnya, terjadi transfer hormon tiroid dalam jumlah minimal dari kompartemen ibu ke kompartemen janin. Hal ini mungkin merupakan konsekuensi deiodinasi tiroksin plasenta. Oleh karena itu, setelah berkembang, fungsi tiroid janin tidak lagi bergantung pada status tiroid ibu.

·         Kelenjar paratiroid
Konsentrasi hormone paratiroid di dalam plasma menurun selama trimester pertama, kemudian meningkat secara progresif sepanjang sisa kehamilan. Kadar yang meningkat kemungkinan disebabkan oleh konsentrasi kalsium yang lebih rendah pada wanita hamil. Hal ini disebabkan oleh peningkatan volume plasma, peningkatan laju filtrasi glomerulus, dan transfer kalsium dari ibu ke janin.
·         Kelenjar adrenal
Pada kehamilan normal, mungkin hanya terdapat perubahan morfologis yang sangat kecil pada kelenjar adrenal ibu.
a.       Kortisol
Terdapat peningkatan yang cukup besar pada konsentrasi kortisol serum yang bersirkulasi, tetapi sebagian besar berikatan dengan globulin pengikat kortisol, atau transkortin. Kecepatan sekresi kortisol oleh adrenal ibu tidak bertambah, dan mungkin malah menurun dibandingkan dengan keadaan dahulu. Akan tetapi laju bersihan metabolic kortisol lebih rendah selama kehamilan karena waktu paruhnya hamper dua kali lipat lebih lama dari waktu paruhnya dari wanita yang tidak hamil.
b.      Aldosteron
Sesegera pada minguu ke 15, kelenjar adrenal ibu akan mengsekresi aldosteron dalam jumlah yang sangat meningkat. Pada trimester ketiga, disekresi sekitar 1mg per hari. Bila asupan natrium dibatasi, sekresi aldosteron semakin meningkat.
Diperkirakan bahwa peningkatan sekresi aldosteron selama kehamilan memberikan perlindungan melawan efek natriuretik  dari progesterone dan peptida natriuretik atrium. Progestron yang diberikan pada wanita yang tak hamil dihubungkan dengan peningkatan cepat eksresi aldosteron.

D. Komponen Unit Fitoplasenta
1. Kelenjar Adrenal Janin
Kelenjar adrenal adalah komponen utama dari janin. Pada pertengahan kehamilan kelenjar ini lebih besar dari pada ginjal janin. Korteks adrenal janin terdiri dari : Zona sebelah luar, Zona definitif atau zone dewasa, Zona sebelah dalam, dan Zona janin
Zona definitif berkembang menjadi tiga komponen korteks adrenal orang dewasa. : Zona fasikulata, Zona glomerulosa, dan zona retikularis. Selama kehidupan janin, zona definitif mensekresi glukokortikoid dan mineralokortikoid.
Zona janin yang pada janin cukup bulan merupakan 80% dari kelenjar janin dan terutama mensekresi androgen selama kehidupan janin. Zona janin berinvolusi setelah kelahiran dan menghilang pada tahun pertama kehidupan.
Plasenta menghasilkan hormon steroid dan peptida dengan jumlah yang bervariasi sesuai dengan umur gestasi. Prekursor untuk sintesis progesteron yang berasal dari sirkulasi ibu. Karena tidak adanya enzim 17α-hidroksilase, plasenta manusia tidak dapat langsung mengubah progesteron menjadi estrogen tetapi harus menggunakan androgen, terutama dari adrenal janin, sebgai sumber prekursornya untuk produksi estrogen.


E.     Hormon-hormon yang Berpengaruh Pada Kehamilan

·         Hormon Peptida
Gonadotropin korionik manusia (hCG) hormon ini disekresikan oleh sel trovloblas dari plasenta dan mempertahankan kehamilan. Selama kehamilan hCG mulai naik 8hari setelah ovulasi(9hari setelah puncak LH pada pertengahan siklus). Bersama berlanjutnya kehamilan nilai-nilai hCG mencapai puncak pada 60-90hari dan menurun ke kadar sedang dan lebih tetap. Selama 6-8minggu kehamilan, hCg mempertahankan korpus luteum dan karena itu progesteron keluar sampai produksinya erpindah ke plasenta. Hormon ini dapet mengatur biosintesis seroid dalam plasenta, kelenjar adrenal janin, dan merangsang produksi testosteon dalam testis janin.
Laktogen Plasenta Manusia (Hpl). hPL berasal dari plasenta. Yang merupakan suatu polipeptida rantai tunggal dengan berat molekul sebesar 22.300 dan strukturnya hormon pertumbuhan hipofisis dan prolaktin. Pada kehamilan 9 bulan HPL mencapai 10 % dari semua produksi protein plasenta. HPL mengantagonisme keja sel insulin dan mengurangi penggunaan glukosa.
Prolaktin merupakan suatu peptida dari hipofisis anterior dengan berat molekul sebesar  20.000. kadar normal pada keadaan tidak hamil adalah sekitar 10g/ml. Selama kehamilan, kadar prolaktin pada ibu meningkat sebagai respon terhadap meningkatnya estrogen pada ibu yang merangsang laktotropin hipofisis anterior.  Pengaruh utama dari prolaktin adalah untuk merangsangnya produksi susu. Pada trimester kedua dari kehamilan, prolaktin yang sekresi oleh hipofisis janin merupakan perangsang pertumbuhan adrenal janin. Prolaktin juga dapat memainkan perannya dalam penggeseran cairan dan elektrolit yang melintasi membran janin.
·         Hormon steroid
Hormon steroid terdiri dari progesteron, estrogen, androgen, dan glukokortikoid.
a.       Progesteron
Pada fase luteal, progesteron menginduksi perubahan sekretorik dalam endometrium, sedangkan pada kehamilan kadar  yang lebih tinggi menginduksi perubahan desidual. Sampai minggu ke-6 atau ke-7 kehamilan, ovarium merupakan sumber utama progesteron. Setelah itu, plasenta mengambil alih untuk memainkan peran utamanya.
Produksi progesteron oleh corpus luteum untuk kelanjutn kehamilan sampai lewat minggu ke-7. Jika corpus luteum kehamilan terlepas sebelum usia 7 minggu dan kelanjutan dari kehamilan dikehendaki, progesteron dikeluarkan untuk mencegah abortus. Progesteron terikat dengan pembawa protein (albumin, orosomukoid, transkortin).
Miometrium menerima progesteron dari vena yang mendrainase plasenta dan progesteron mencegah kontraksi rahim. Progesteron juga dapat menginduksi beberapa kekebalan tubuh untuk hasil konsepsi. Janin menonaktifkan progesteron dengan mengubah menjadi kortikosteroid. Tetapi, plasenta dapat mengubah bahan yang non-aktif kembali menjadi progesteron.
b.      Estrogen
Janin dan plasenta terlibat dalam biosintesa estron, estradiol, dan estriol. Kolesterol diubah menjadi pregnenolon dan pregnenolon sulfat di dalam plasenta. Prekursor ini diubah menjadi dehidroepiandrosteron sulfat (DHEA-S) pada sebagian janin dan dibuah menjadi tingkat yag sedikit lebih dalam pada adrenal ibu. DHEA-S dimetabolisme oleh plasenta menjadi estron (E1) dan lewat testosteron menjadi estradiol (E2). Estriol (E3), merupakan estrogen yang paling banyak pada kehamilan manusia disintesa dalam plasenta dari 16α-hidroksi-DHEA-S, yang dihasilkan dalam hati janin dari DHEA-S adrenal. Sulfatase plasenta dibutuhkan untuk mendekonjugasikan 16α-hidroksi-DHEA-S sebelum pengubahan menjadi E3. Aktivitas sulfaktase steroid dalam palsenta tinggi kecuali pada kasus defisiensi sulfatase yang jarang terjadi.
Penurunan estriol yang mendadak dalam sirkulasi ibu dapat menunjukkan adanya gangguan janin. Janin anensefalik tidak memiliki hipotalamusdan mempunyai hipoplasia hipofisis anterior dan kelenjar adrenal dikarenakan produksi estriol hanya sekitar 10% dari normal. Mekipun penetapan estriol telah digunakan sebagai cara pemantauan kesehatan janin, dan pengukuran estriol biasanya telah diganti dengan penilaian biofisikal.
c.       Androgen
Selama kehamilan androgen berasal dari zona fetal pada korteks adrenal janin. Sekresi androgen dirangsang oleh hormon adrenokortikotropik (ACTH) dan hCG yang efektif pada trimester pertama dari kehamilan pada konsentrasi yang tinggi.
Adrenal janin membantu produksi DHEA atas testosteron dan androstenedion, dan melakukan sulfurilasi hampir pada semua steroid. Androgen janin memasuki sirkulasi plasenta dan membantu sebagai prekursor untuk estradiol dan estriol.        
d.      Glukokortikoid
Kortisol dihasilkan dari kolesterol yang beredar. Konsentrasi kortisol plasma ibu meningkat di sepanjang kehamilan, dan irama harian sekresi kortisol terus bertahan. Kadar plasma transkortin meningkat pada kehamilan, karena dirangsang oleh estrogen , dan konsentrasi plasma bebas kortisol berlipat ganda.
Adrenal janin ataupun plasenta ikut serta dalam metabolisme kortisol. Adrenl janin dirangsang oleh ACTH, yang berasal dari hipofisis janin untuk menghasilkan kortisol dan DHEA-S. Kortisol berasal dari zona definitif (tertentu) dan mempunyai fungsi dalam pematangan paru-paru. Kortisol juga membantu dalam diferensiasi sel alveolar tipe II dan biosintesis serta pelepasan surfaktan kedalam alveoli. Surfaktan mengurangi tenaga yang dibutuhkan untuk memompa paru-paru. Kekurangan surfaktan mengakibatkan gangguan pernafasan pada bayi prematur, yang dapat menyebabkan kematian
             
F.      Perubahan Metabolisme Ibu
Metabolisme ibu beradaptasi pada kehamilan melalui pengaturan endokrin.
·         Angiotensin-Aldosteron
Aldosteron adalah suatu mineralorkortikoid disintesis dalam zona glomerulosa pada korteks adrenal. Sumber utama pada kehamilan adalah adrenal ibu. Adrenal janin dan plasenta tidak banyak ikut serta dalam produksi aldosteron, meskipun adrenal janin dapat mensintesa aldosteron. Sekresi aldosteron diatur oleh sistem renin angiotensin. Peningkatan renin yang terbentuk dalam ginjal mengubah angiotensinogen (substrat renin) menjadi angiotensin I, selanjutnya dimetabolisme menjadi angiotensin II; pada gilirannya, akan merangsang sekresi aldosteron. Aldosteron merangsang absorbsi natrium dan sekresi kalium dalam tubulus distal B pada ginjal. Sehingga mempertahankan keseimbangan narium dan kalium.
Konsentrasi substrat renin meningkat pada kehamilan. Diperkirakan bahwa konsentrasi tinggi progesteron dan estrogen yang terdapat selama kehamilan merangsang pembentukan renin dan substrat renin. Karena itu meningkatkan kadar angiotensin II dan memperbesar produksi aldosteron.  Penurunan laju sekresi aldosteron pada toksemia gravidarum dan pada beberapa kasus dapat turun dibawah kadar tidak hamil.     

·         Metabolisme Kalsium
Penurunan keseluruhan kalsium sejajar dengan penurunan albumin serum, karena sekitar setengah dari keseluruhan kalsium terikat pada albumin. Ion kalsium adalah fraksi kalsium yang secara fisiologi penting, pada pokoknya tetap disepanjang kehamilan karena peningkatan produksi hormon paratiroid pada ibu. Pada kehamilan akhir bersamaan dengan klasifikasi maksimal pada rangka janin, peningkatan hormon paratiroid serum meningkatkan absorpsi kalsium oleh usus dan reabsorpsi tulang.
Ion kalsium secara aktif diangkut melintasi plasenta, dan kadar serum keseluruhan janin disamping kalsium yang terionisasi lebih tinggi daripada kadar ibu pada kehamilan akhir. Ion kalsium yang tinggi pada janin menekan produksi hormon paratiroid janin dan hormon paratiroid tidak melintasi plasenta. Selain itu terjadi perangsangan produksi kalsitonin, karena itu memberi kalsium pada janin yang cukup banyak untuk klasifikasi tulang rangka. Dalam 24 sampai 48 jam pertama masa nifas, konsentrasi kalsium serum pada neonatus biasanya menurun, sedangkan konsentrasi fosfor meningkat.

·         Hormon dan Transmiter yang lain
a.       Oksitosin
Prohormon oksitosin berasal dari nukleus supraoptik dan paraventrikular pada hipotalamus. Prohormon ini berpindah turun ke serabut saraf, dan oksitosin berkumpul pada ujung-ujung saraf dari hipofise posterior. Oksitosin adalah suatu oktapeptida. Pembebasan dari hipofise posterior dapat diakibatkan oleh berbagai stimulus, misalnya pembesaran jalan lahir. Oksitosin menyebabkan kontraksi rahim, tetapi peran fisiologisnya dalam menginisiasi persalinan tidak jelas. Gangguan produksi oksitosin, seperi pada diabetes insipidus, tidak mengganggu persalinan yang normal. Meskipun pelepasan oksitosin tampaknya dihambat secara klinis oleh badan etanol ini tidak begitu berguna untuk penekanan persalinan. Pada akhir kehamilan, jumlah reseptor oksitosin miometrium dan juga sensitivitas miometrium terhadap oksitosin meningkat. Pemberian oksitosin dapat menginduksi kelahiran hanya pada saat atau mendekati bulannya.

b.      Prostaglandin dan Leukotrien
Prostaglandin adalah keluarga lipid yag terapat dimana-mana yang secara biologis aktif mempunyai banyak fungsi. Prostaglandin bukanlah hormon yang sebenarnya mereka tidak disintesa dalam suatu kelenjar dan diangkut lewat darah yang beredar ke suatu organ sasaran.

·         Dasar biokimia pada kontraksi
Kontraksi pada miometrium diakibatkan oleh peluncuran filament aktin dan myosin dan membutuhkan adenosine trifosfat (ATP) dan kalsium. Kenaikan konsentrasi kalsium intrasel  terjadi sementara kalsium dilepaskan dari kompartemen- kompartemen intrasel atau masuk dari cairan ekstrasel melalui saluran yang dijalankan, voltasi dan yang dijalankan reseptor – reseptor yang terbuka secara cepat .
Berbeda dengan kontraksi otot rangka, yang membutuhkan inervasi, kontraksi otot polos terutama dipicu oleh stimulus hormonal. Reseptor untuk oksitosin dan untuk prostaglandin telah ditemukan didalam membrane sel miometrial. Reseptor untuk prostaglandin, yang disintesis didalam sel, juga ditemukan pada reticulum sarkoplasma, suatu daerah penyimpanan kalsium intrasel.
Pengikatan oksitosin pada reseptornya mengaktifkan fosfolipase C, yang menghidrolisis fosfatidilinositol 4,5 – bifosfat, suatu lipid yang terdapat pada membrane sel, terhadap inositol trisfosfat dan diasilgliserol. Inositol trisfosfat menginduksi pelepasa kalsium dari reticulum sarkoplasma. Sesudah itu, lebih banyak kalsium masuk dari ruang eksternal. Karena itu, konsentrasi kalsium yang tinggi yang diciptakannya  memungkinkan myofibril pada miometrium itu untuk berkontraksi. Prostaglandin, dilain pihak, tampaknya melepaskan kalsium langsung dari reticulum sarkoplasma.
Tidak seperti pada jantung yang terdapat berkas His, struktur anatomi untuk sinkronisasi kontraksi tidak ditemukan dalam rahim. Sebaliknya, kontraksi tersebar sebagai aliran dari sel ke sel melalui daerah yang resistansinya rendah. Daerah itu berhubungan dengan sambungan celah, yang sanagt menonjol pada proses kelahiran. Estradiol dan prostaglandin membantu memunculkan sambungan celah, sementara prostaglandin bertentangan dengan kerja estradiol ini.

G.    Proses Kelahiran
Kendali Hormonal pada Lamanya Gestasi dan Inisiasi Persalinan.
Lamanya gestasi dikendalikan oleh hormone dan sebagian besar spesies dikendalikan oleh hormone janin. Tetapi, setiap spesies tidak hanya mempunyai gestasi tersendari tapi juga memiliki mekanisme tersendiri untuk pengendalian  lamanya gestasi. Karena itu, meskipun model hewan memberikan wawasan yang penting, mereka tidak memberikan informasi khusus mengenai pengendalian lamanya gestasi manusia atau mekanisme yang mengendalikan inisiasi persalinan pada manusia. Namun, model hewan cukup berharga untuk diteliti.
Pada manusia, efek hormonal penting untuk menentukan lamanya gestasi dan untuk memulai persalinan. Interaksi ibu dan janin terjadi sepanjang kehamilan, tetapi peristiwa yang menginisiasi proses kelahiran belum diketahui. Infus ACTH, glukokortikoid, ataub deksametason tidak menyebabkan partus prematurus pada manusia. Penurunan progesteron serum ibu tidak disertai permulaan persalinan.
Estrogen diketahui untuk merangsang biosintesis prostaglandin pada membran janin dan desidua, membentuk sambungan celah pada miometrium, dan mensintesa reseptor oksitosin. Tetapi konsentrasi oksitosin ataupun prostaglandin yang beredar tidak meningkat sebelum permulaan persalinan. Konsentrasi oksitosin hanya meningkat pada stadium pertama dari stadium persalinan. Tetapi pada serviks terjadi peningkatan prostaglandin yang akan menginduksi perubahan yang mengakibatkan pematangan servikal.
Relaksin adalah hormon peptida yang berasal dari ovarium. Relaksin terdapat dalam sirkulasi ibu selama kehamilan. Kadar hormon yang beredar tidak berubah sebelum permualaan persalinan, tetapi sejumlah reseptor dalam miometrium berubah. Pengaturan naik dan turun pada reseptor oksitosin adalah hormon yang bergantung pada steroid dan terjadi selam kehamilan dan selama siklus haid.
Sensitifitas miometrium terhadap oksitosin sejajar dengan konsentrasi reseptor oksitosin. Hal ini berarti terdapat kemungkinan perubahan jumlah reseptor dan sensitifitas hormon untuk pelipatgandaan hormon.
Selain itu, kita mungkin terpaksa mencari perubahan hormonal dalam jaringan yang berkaitan dengan kehamilan, misalnya desidua dan membran janin. Pada amnion, sintesis prostaglandin dipercepat pada kehamilan cukup bulan dan dalam persalinan dan konsentrasi prostaglandin meningkat selam persalinan. Membran janin manusia mengandung leukotrien dan faktor yang mengaktifkan trombosit yaitu gliserolfosfolipid.
Pada kehamilan akhir, konsentrasi faktor pengaktif trombosit dalam plasma ibu meningkat. Seperti prostaglandin, gliserolfosfolipid ini dapat menginisiasi kontraksi rahim. Sumber lain dari prostaglandin dan gliserolfosfolipid adalah paru-paru janin. Peningkatan jumlah prostaglandin dan gliserolfosfolipid bersama surfaktan disintesa sebagai paru-paru janin yang matang.
Konsep dari peran paru-paru janin untuk inisiasi proses kelahiran sangat menarik karen paru-paru janin adalah organ utama yang terakhir matang. Diketahui bahwa persalinan kurang bulan, reseptor oksitosin miometrium nak secara prematur dan konsentrasi gliserolfosfolipid meningkat dalam cairan amnion.






Daftar Pustaka

Hacker, Moore.2001.Esensial Obstetri dan Ginekologi.Jakarta:Hipokrates
          Cunningham, F. Garry.2006.Obstetri William.Jakarta:penerbit buku kedokteran EGC
http://gurumuda.com/bse/kesehatan-kelenjar-endokrin

Comments

Popular posts from this blog

CONTOH SOAP ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU BERSALIN

PROSEDUR KLINIK : PEMERIKSAAN URINE IBU HAMIL ( GLUKOSA URINE & PROTEIN URINE )