2.1
Pemberian Obat pada Mata
2.1.1 Pengertian, Jenis-Jenis Dan
Tujuan
Cara memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep
mata obat tetes mata. Obat yang biasa digunakan oleh klien ialah tetes mata dan
salep, meliputi preparat yang biasa dibeli bebas , misalnya air mata buatan dan
vasokonstrikstor (misalnya visine, dsb). Namun banyak klien menerima resep
obat-obatan oftalmic untuk kondisi mata seperti glaukoma dan untuk terapi
setelah suatu prosedur, misalnya ekstraksi katarak. Persentase besar klien yang
menerima obat mata ialah klien lanjut
usia. Masalah yang berhubungan dengan usia termasuk penglihatan yang buruk,
tremor tangan dan kesulitan dalam memegang atau menggunakan botol obat,
mempengaruhi kemudahan lansia menggunakan obat mata secara mandiri. Perawat
atau bidan memberi penjelasan kepada klien dan anggota keluarga tentang teknik
yang digunakan dalam pemberian obat mata. (Donnelly. 1987) menganjurkan untuk
memperlihatkan klien setiap langkah prosedur pemberian obat tetes mata untuk
meningkatkan kepatuhan klien. 1
Obat mata dapat digolongkan menjadi
a.
Obat
mata golongan antiseptik dan antiinfeksi
b.
Obat
mata golongan kortikosteroid
c.
Obat
mata lainnya1
Tujuan pemberian obat pada mata
diantaranya:
·
digunakan
untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi
pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa,
·
digunakan
untuk menghilangkan iritasi mata.
·
Obat
mata golongan antiseptik dan antiinfeksi digunakan pada gangguan mata karena
adanya infeksi oleh mikroba, masuknya benda asing ke dalam kornea mata atau
kornea mata yang luka/ ulkus.
·
Obat
mata kortikosteroid digunakan untuk radang atau alergi mata atau juga bengkak
yang bisa disebabkan oleh alergi itu sendiri atau oleh virus. Karena infeksi
mata oleh virus itu resisten terhadap pengobatan biasanya digunakan obat mata
golongan kortikosteroid untuk menghilangkan gejalanya saja. Kalaupun dengan
antiseptik hal itu menghindari infksi sekunder.
·
Gabungan
antiseptik dengan kortikosteroid digunakan untuk masalah mata yang disebabkan
oleh mikroba dan dengan keluhan bengkak/ radang juga gatal atau alergi.
·
Digunakan
untuk keluhan mata karena habis operasi.
Prinsip pemberian obat mata
1.
Kornea
mata banyak disuplai serabut nyeri sehingga menjadi sangat sensitif terhadap
apapun yang diberikan ke kornea. Oleh karena itu, perawat atau bidan
menghindari obat mata apapun secara langsung ke kornea.
2.
Resiko
penularan infeksi dari satu mata ke mata lain sangatlah tinggi. Perawat atau
bidan menghindari menyentuh kelopak mata atau struktur mata yang lain dengan
alat tetes mata atau tube salep.
3.
Perawat
atau bidan menggunakan obat mata hana untuk mata yang terinfeksi. 1
2.1.2 Indikasi dan kontra indikasi
pemberian obat pada mata
Indikasi
Biasanya
obat tetes mata digunakan dengan indikasi sebagai berikur
·
meredakan sementara mata merah akibat
iritasi ringan yang dapat disebabkan oleh debu, sengatan sinar matahari,
pemakaian lensa kontak, alergi atau sehabis berenang.
·
antiseptik
dan antiinfeksi.
·
radang
atau alergi mata.
Kontraindikasi
Obat
tetes mata yang mengandungnafazolin hidroksida tidak boleh digunakan pada
penderita glaukoma atau penyakit mata lainnya yang hebat, bayi dan anak.
Kecuali dalam pegawasan dan nasehat dokter.
2.1.4 Persiapan Alat dan Bahan
Alat
dan Bahan:
1.
Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep.
2.
Pipet.
3.
Pinset anatomi dalam tempatnya.
4.
Korentang dalam tempatnya.
5.
Plestier.
6.
Kain kasa.
7.
Kertas tisu.
8.
Balutan.
9.
Sarung tangan.
10.
Air hangat/kapas pelembab.
a. tetes
atau salep mata
1. botol
obat dengan tetes mata steril atau tube salep.
2. Patch dan
plester mata (bila perlu).
3. Kartu,
format, atau huruf cetak nama obat.
4. Bola
kapas atau tisu.
5. Wadah
cuci berisi air hangat atau lap.
6. Sarung
tangan sekali pakai.
b. cakram
intraokuler
1. cakram
obat.
2. Kartu,
format, atau huruf cetak nama obat.
3. Sarung
tangan sekali pakai.
1
2.1.5 Prosedur kerja1
|
No.
|
Langkah
|
rasional
|
Gambar
|
|
1.
|
Tinjau kembali program obat dari
dokter, termasuk nama klien, nama obat, konsentrasi obat, jumlah tetesan obat
(jika dalam bentuk cair), waktu dan mata (kanan atau kiri) yang menerima obat.
|
Memastika kelepatan pemberian obat.
|
|
|
2.
|
Cuci tangan
|
Mengurangi penularan mikroorganisme.
|
![]() |
|
3.
|
Siapkan peralatan dan suplai
c. tetes
atau salep mata
7. botol
obat dengan tetes mata steril atau tube salep.
8. Patch dan
plester mata (bila perlu).
9. Kartu,
format, atau huruf cetak nama obat.
10. Bola
kapas atau tisu.
11. Wadah
cuci berisi air hangat atau lap.
12. Sarung
tangan sekali pakai.
d. cakram
intraokuler
4. cakram
obat.
5. Kartu,
format, atau huruf cetak nama obat.
6. Sarung
tangan sekali pakai.
|
Tetes mata tersedia dalam bemtuk botol
plastik atau kaca.
Salep dignakan dalam tube kecil.
|
|
|
4.
|
Periksa atau identifikasi klien dengan
membaca gelang identifikasi atau menanyakan nama klien
|
Memastikan klien yang menerima obat
benar.
|
![]() |
|
5.
|
Jika tercapai patch mata, lepaskan.
|
|
|
|
6.
|
Kaji kondisi stuktur mata luar.
|
Memberi
data dasar yang selanjutnya digunakan untuk menentukan apakah timbul respon
lokal terhadap pengobatan juga mengindikasikan perlunya membersihkan mata
sebelum obat diberikan.
|
|
|
7.
|
Periksa
apakah klien alergi terhadap lateks, jika alergi gunakan sarung tangan yang
buka lateks.
|
Klien
akan megalami respons hipersensitivitas jika sarung tangan menyentuh membran
mukosa.
|
|
|
8.
|
Jelaskan
prosedur kepada klien.
|
Klien
sering merasa cemas tentang obat yang dimasukan ke mata karena adanya
kemungkinan ketidaknyamanan.
|
![]() |
|
9.
|
Atur
suplai di sisi tempat tidur dan gunakan sarung tangan.
|
Memastikan
prosedur yang lancar dan teratur. Sarunng tangan mengurangi pajanan terhadap
drainase yang infeksius.
|
|
|
10.
|
Minta
klien untuk berbaring terlentang atau duduk dikursi dengan kepala sedikit
hiperekstensi.
|
Memudahkan
obat dimasukkan dan memudahkan drainase yang ekluar dari mata.
|
|
|
11.
|
Jika
ada krusta (keropeng) atau drainase disepanjang kelopak mata atau kantus
dalam, buang dengan perlahan. Basahi kerak yang kering dan sulit dipindahkan
dengan menggunakan kain atau bola kapas lembab selama beberapa menit. Selalu
mengusap dari kantus ke kantus luar.
|
Krusta
atau drainase merupakan tempat mikroorganisme berkumpul. Membasahi krusta
akan mempermudah pembuangannya, dengan demikian mencegah tekanan langsung
pada mata.
|
|
|
12.
|
Masukan
obat tetes, salep atau cakram:
a. Jika
memasukkan obat tetes atau salep, dengan tangan yang tidak dominan, pegang
bola kapas atau tisu pembersih pada tulang pipi klien tepat di bawah kelopak
mata.
b. Jika
memasukan obat tetes atau salep, dengan tisu atau kapas diletakkan dibawah
kelopak mata bawah, tekan kebawah dengan lembut, dengan ibu jari atau
telunjuk pada lingkaran tulang mata.
c. Minta
klien melihat kelangit-langit.
|
Kapas
atau tisu mengabsorpsi obat yang keluar dari mata.
Teknik
ini memenjankan kantong konjungtiva. Menarik kembali (retraksi) lingkaran
tulang mata. Mencegah tekanan dan trauma pada bola mata dan mencegah jari
menyentuh mata.
Tindakan
ini menarik kornea ke atas dan menjauhi kantong konjungtiva dan mengurangi
stimulasi refleks mengedip.
|
|
|
|
d. Memasukkan
tetes mata:
1.
Dengan tangan yang dominan pada
dahi klien, pegang alat tetes mata berisi obat kira-kira sampai 2 cm diatas
kantong konungtiva.
2. Teteskan
sejumlah tetesan yang diresepkan ke dalam kantong konjungtiva.
3. Jika
klien mengedip atau menutup mata atau jika tetes mata jatuh dibatas mata
luar, ulangi prosedur.
4.
Ketika memberikan obat yang dapat
menimbulkan efek sistemik, lindungi jari anda dengan tisu bersih dan beri
tekanan lembut pada duktus nasolakrimalis klien selama 30 sampai 60 detik.
5. Setelah
memasukkan obat, minta klien untuk menutup mata dengan lembut.
|
Membantu
mencegah alat tetes mata menyentuh struktur mata secara tidak sengaja
sehingga mengurangi resiko cedera pada mata dan perpindahan infeksi ke alat
tetes mata. Obat mata sudah disterilkan.
Kantong
konjungtiva biasanya menampung 1 sampai 2 tetes.
Memasukkan
tetesan ke dalam kantong mata memungkinkan distribusi yang merata.
Efek
terapeutik diperoleh hanya jika tetesan mata masuk ke kantong konjungtiva.
Mencegah
aliran obat berlebihan ke dalam saluran hidung dan faring. Mencegah absorpsi
ke sirkulasi sistemik.
Membantu
distribusi obat, mendorong obat dari kantong konjungtiva
|
|
|
|
e. Memasukkan
salep mata:
1. Dengan
memegang aplikator salep diatas batas kelopak mata, berikan aliran salep
tipis mrata disepanjang sisi dalam kelopak mata bawah pada konjungtiva.
2. Minta
klien melihat kebawah.
3. Berikan
aliran tipis salep konjungtiva di sepanjang kelopak atas mata.
4. Minta
klien menutup mata dan menggosok kelopak dengan lembut dalam gerakan memutar
menggunakan kapas.
5. Jika
terdapat kelebihan obat pada kelopak mata, seka obat tersebut dengan lembut
dari bagian dalam ke bagian luar kantus.
6. Jiak
klien menggunakan patch mata,
kenakan dengan menempatkan patch yang bersih diatas mata yang diobati, sehingga yang bersih
diatas mata yang diobati, sehingga
yang bersih diatas mata yang diobati,
sehingga yang bersih diatas mata yang
diobati, sehingga yang bersih diatas
mata yang diobati, sehingga yang bersih diatas mata yang diobati, sehingga yang bersih
diatas mata yang diobati, sehingga
seluruh mata tertutup. Plester dengan baik tanpa menekan mata.
|
Obat
didistribusi merata dalam mata mata dan batas kelopak mata.
Mengurangi
refleks mengedip selama pemberian salep.
Mendistribusikan
obat merata dalam mata dan batas kelopak mata
Mendistribusikan
obat lebih lanjut tanpa menimbulkan trauma pada mata.
Meningkatkan
rasa nyaman dan mencegah trauma pada mata
Mengurangi
peluang infeksi
|
|
|
|
f. Memasang cakram inokuler
1. Buka
kemasan berisi cakram obat dengan lembut, tekan cakram pada ujung jari
sehingga cakram melekat pada jari.
2. Dengan
tangan yang lain, tarik kelopak mata bawah klien menjauhi matanya. Minta
klien melihat ke atas.
3. Tempatkan
cakram didalam kantong konjungtiva, sehingga cakram mengapung pada sklera
antara iris dan kelopak mata bawah.
4. Tarik
kelopak mata bawah klien keluar dan keatas cakram. Seharusnya tidak bisa
melihat cakram pada saat ini.
Ulangi tindakan ini jika dapat melihat
cakram obat.
|
Memungkinkan
perawat atau bidan menginspeksi adanya kerusakan atau deformitas cakram
sebelelum diberikan.
Menyiapkan
kantong konjungtiva untuk menerima cakram obat.
Menjamin
pengantaran obat.
Menjamin
keakuratan pengantaran obat.
|
|
|
13.
|
Keluarkan
cakram intraokuler
a. Cuci
tangan dan kenakan sarung tangan.
b. Jelaskan
prosedur kepada klien.
c.
Dengan lembut tarik kelopak mata
bawah klien untuk memajankan cakram.
d.
Dengan jri telunjuk dan ibu jari
tangan yang lain, jepit cakram obat dan angkat keluar dari mata klien.
|
Mengurangi
penularan mikroorganisme.
Menyiapkan
klien untuk menjalani prosedur.
|
|
|
14.
|
Buang suplai yang kotor ke dalam wadah yang
tepat. Lepas dan buang sarung tangan dan cuci tangan.
|
Mempertahankan
lingkungan yang rapi pada sisi tempat tidur dan mengurangi penularan
mikroorganisme.
|
|
|
15.
|
Observasi
resons klien terhadap pengobatan, perhatikan tanda dan gejala efek sistemik
yang potensial dan kondisi mata.
|
Mengevaluasi
reaksi terhadap obat.
|
|
|
16.
|
Catat
konsentrasi obat, jumlah tetesan atau cakram waktu pemberian dan mata yang
menerima obat (kanan atau kiri).
|
Pencatatan
yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian obat (misal,
pengulangan pemberian dosis obat atau pemberian obat terlewat)
|
![]() |
2.2 Pemberian Obat Topikal pada
Kulit
2.2.1 Pengertian
Pemberian
obat topikal pada kulit merupakan cara memberikan obat pada kulit dengan
mengoleskan obat yang akan diberikan. Pemberian obat topikal pada kulit
memiliki tujuan yang lokal, seperti pada superficial epidermis. Obat ini
diberikan untuk mempercepat proses penyembuhan, bila pemberian per-oral tidak
dapat mencapai superficial epidermis yang miskin pembuluh darah kapiler. Efek
sistemik tidak diharapkan pada pemberian obat topikal pada kulit ini. Apabila
terjadi kerusakan kulit setelah penggunaan obat topikal pada kulit, maka
kemungkinan besar efek sistemik akan terjadi.2
Pemberian obat topikal
pada kulit terbatas hanya pada obat-obat tertentu karena tidak banyak obat yang
dapat menembus kulit yang utuh. Keberhasilan pengobatan topical pada kulit
tergantung pada:
·
Umur
·
Pemilihan agen topikal yang tepat
·
Lokasi dan luas tubuh yang terkena atau
yang sakit
·
Stadium penyakit
·
Konsentrasi bahan aktif dalam vehikulum
·
Metode aplikasi
·
Penentuan lama pemakaian obat
Penetrasi
obat topical pada kulit, melalui: stratum korneum à epidermis à papilla dermis à aliran darah2
Proses penyerapan obat topikal jika
diberikan pada kulit, yaitu:
·
Lag phase - hanya di atas kulit, tidak
masuk ke dalam darah
·
Rising - dari stratum korneum diserap
sampai ke kapiler dermis darah
·
Falling - obat habis di stratum korneum.
Jika terus diserap kedalam, khasiatnya akan semakin berkurang
Kurangnya
konsentrasi obat yang sampai ke tempat sasaran bisa karena proses eksfoliasi
(bagian atas kulit mengelupas), terhapus atau juga karena tercuci.
Faktor-faktor yang berperan dalam
penyerapan obat, diantaranya adalah2:
·
Keadaan stratum korneum yang berperan
sebagai sawar kulit untuk obat.
·
Oklusi, yaitu penutup kedap udara pada
salep berminyak yang dapat meningkatkan penetrasi dan mencegah terhapusnya obat
akibat gesekan, usapan serta pencucian. Namun dapat mempercepat efek samping,
infeksi, folikulitis dan miliaria jika penggunaannya bersama obat atau
kombinasinya tidak tepat.
·
Frekuensi aplikasi, seperti pada obat
kortikosteroid yang kebanyakan cukup diaplikasikan satu kali sehari, serta
beberapa emolien (krim protektif) yang akan meningkat penyerapannya setelah
pemakaian berulang, bukan karena lama kontaknya.
·
Kuantitas obat yang diaplikasi
Jumlah
pemakaian obat topikal pada kulit ini harus cukup, jika pemakaiannya berlebihan
justru malah tidak berguna. Jumlah yang akan dipakai, sesuai dengan luas
permukaan kulit yang terkena infeksi (setiap 3% luas permukaan kulit membutuhkan
1 gram krim atau salep).
·
Faktor lain
Faktor
lain seprti peningkatan penyerapan, dapat terjadi apabila:
- Obat
dipakaikan dengan cara digosok sambil dipijat perlahan
- Dioles
searah dengan pertumbuhan folikel rambut
- Ukuran
partikel obat diperkecil
- Sifat
kelarutan dan penetrasi obat diperbaiki
- Konsentrasi
obat yang diberikan tepat
Contoh obat
topikal untuk kulit :
1.
Anti
jamur : ketoconazol, miconazol,
terbinafin
2.
Antibiotik : oxytetrasiklin
3.
Kortikosteroid
: betametason, hidrokortison
2.2.2 Tujuan
Pemberian
obat topikal pada kulit bertujuan untuk mempertahankan hidrasi atau cairan
tubuh untuk mencapai homeostasis, melindungi permukaan kulit, mengurangi
iritasi kulit, menghilangkan gejala atau mengatasi infeksi. 2
2.2.3 Jenis
Pemberian
obat topikal pada kulit dapat bermacam-macam seperti:
- · Krim
- · Salep (ointment)
- · Lotion
- · Lotion yang mengandung suspensi
- · Bubuk atau powder
- · Spray aerosol.
2.2.4 Keuntungan dan Kerugian
·
Keuntungan
Untuk
efek lokal, mencegah first-pass effect serta meminimalkan efek samping
sistemik.
Untuk
efek sistemik, menyerupai cara pemberian obat melalui intravena (zero-order)
·
Kerugian
Secara kosmetik kurang
menarik
Absorbsinya
tidak menentu
2.2.5 Alat dan Bahan
-
Troli
-
Baki dan alas
-
Perlak dan alas
-
Bengkok (nierbekken)
-
Air DTT dalam kom
-
Kapas
-
Sarung tangan
-
Kassa kecil steril (sesuai kebutuhan)
-
Kassa balutan, penutup plastik dan
plester (sesuai kebutuhan)
-
Lidi kapas atau tongue spatel
-
Obat topikal sesuai yang dipesankan
(krim, salep, lotion, lotion yang mengandung suspensi, bubuk atau powder, spray
aerosol)
-
Buku obat (ISO)
-
Baskom
-
Larutan klorin 0.5% dalam tempatnya
-
Sabun cuci tangan
-
Lap handuk
-
Tempat sampah basah dan kering
2.2.6 Prosedur kerja1
|
NO.
|
LANGKAH
- LANGKAH
|
RASIONALISASI
|
|
1.
|
Cek
instruksi dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja, tempat pemberian
|
Untuk
memastikan kepada siapa obat tersebut akan diberikan, agar meminimalisir
kesalahan pemberian
|
|
2.
|
Jelaskan
prosedur tindakan (lakukan Informed
Consent)
|
Agar
klien mengetahui tindakan seperti apa yang akan dia dapatkan
|
|
3.
|
Setelah
disiapkan pada baki dalam troli, dekatkan alat dan bahan
|
Agar
memudahkan penjangkauan alat dalam melakukan tindakan
|
|
4.
|
Susun
alat tersebut secara secara ergonomis, berurutan sesuai dengan pemakaian
|
Agar
memudahkan kita dalam penggunaan alat-alat
|
|
5.
|
Cuci
tangan 7 langkah (sesuai dengan standar pencegahan infeksi) dengan sabun dan
air mengalir, lalu keringkan dengan lap handuk
|
Untuk
pencegahan infeksi
|
|
6.
|
Persiapkan
posisi klien dengan tepat dan nyaman
|
Agar
dapat mempermudah pemberian obat dan tetap perhatikan kenyamanan dan privasi
klien
|
|
7.
|
Identifikasi
klien secara tepat
|
Untuk
memastikan keadaan klien
|
|
8.
|
Pakai
sarung tangan
|
Untuk
pencegahan infeksi
|
|
9.
|
Inspeksi kondisi kulit. Cuci area yang
sakit, lepaskan semua debris dan kerak pada kulit
|
Untuk membersihkan area yang akan
diobati agar penyerapan obat dapat maksimal
|
|
10.
|
Keringkan
atau biarkan area kering oleh udara
|
Untuk
pencegahan infeksi
|
|
11.
|
Bila
kulit terlalu kering dan mengeras, gunakan agen topikal
|
Untuk
mempermudah penggunaan obat
|
|
12.
|
Oleskan
agen topical :
·
Krim, salep dan lotion yang
mengandung minyak
a) Letakkan
satu sampai dengan dua sendok teh obat di telapak tangan kemudian lunakkan
dengan menggosok lembut diantara kedua tangan
b) Usapkan
merata diatas permukaan kulit, lakukan gerakan memanjang searah pertumbuhan
bulu
c) Jelaskan
pada klien bahwa kulit dapat terasa berminyak setelah pemberian
·
Lotion yang mengandung suspensi
a) Kocok
wadah dengan kuat
b) Oleskan
sejumlah kecil lotion pada kassa balutan atau bantalan kecil
c) Jelaskan
pada klien bahwa area akan terasa dingin dan kering
·
Bubuk atau powder
a) Pastikan
bahwa permukaan kulit kering secara menyeluruh
b) Regangkan
dengan baik lipatan bagian kulit seperti diantara ibu jari atau bagian bawah
lengan
c) Bubuhkan
secara tipis pada area yang bersangkutan
·
Spray aerosol
a) Kocok
wadah dengan keras
b) Baca
label untuk jarak yang dianjurkan untuk memegang spray menjauhi area
(biasanya 15-30 cm)
c) Bila
leher atau bagian atas dada harus disemprot, minta klien untuk memalingkan
wajah dari arah spray
d) Semprotkan
obat dengan cara merata pada bagian yang sakit
|
|
|
13.
|
Rapikan
klien, kembalikan peralatan yang masih dapat dipakai, buang peralatan yang
sudah tidak digunakan pada tempat yang sesuai dan dekontaminasi alat
|
Untuk
pencegahan infeksi
|
|
14.
|
Cuci
tangan 7 langkah (sesuai dengan standar pencegahan infeksi) dengan sabun dan
air mengalir, lalu keringkan dengan lap handuk
|
Untuk
pencegahan infeksi
|
|
15.
|
Buat
laporan mengenai tindakan yang telah dilakukan
|
Untuk
dokumentasi
|
|
16.
|
Beritahukan
pada klien tentang pengobatan yang telah dilakukan
|
Agar
klien mengetahui tidakan yang telah dilakukan serta keadaan terakhirnya
|
2.2.7 Indikasi dan Kontraindikasi
·
Indikasi: infeksi lokal, dermatitis,
psoriasis ringan, keloid, parut hipertrofik, alopesia areata, aknekistik dan
prurigo
·
Kontraindikasi: ulkus
2.3
Pemberian Obat pada Telinga
2.3.1
Pengertian
Struktur telinga dalam sangat sensitif terhadap suhu yang
ekstrem. Apabila tetes telinga atau cairan irigasi tidak diberikan pada suhu
ruangan, dapat timbul vertigo (pusing berat) atau mual. Walaupun struktur
telinga luar tidak steril, adalah bijak untuk menggunakan tetesan dan larutan
steril, jika gendang telinga rupture. Masuknya larutan tidak steril ke dalam
struktur telinga tengah dapat menyebabkan infeksi. Dengan mendrainase telinga,
perawat bersama dokter dapat mengecek untuk meyakinkan bahwa gendang telinga
klien tidak ruptur. Perawat tidak pernah boleh menyumbat saluran telinga dengan
alat tetes atau puit irigasi. Memaksa obat masuk ke dalam telinga yang
tersumbat dapat menciptakan tekanan yang menimbulkan cedera pada gendang
telinga.
Struktur telinga luar pada anak berbeda dari yang dimiliki
orang dewasa. Ketika memasukkan tetesan atau mengairi telinga perawat harus
meluruskan saluran telinga. Pada bayi dan anak kecil perawat meluruskan saluran
kartilago telinga dengan memegang daun telinga dan menariknya ke bawah dan
kebelakang dengan lembut. Pada orang dewasa saluran telinga lebih panjang dan
tersusun atas tulang dibawahnya dan diluruskan dengan menarik daun telinga ke
atas dank e belakang. Apabila saluran telinga tidak diluruskan dengan benar,
larutan obat tidak akan mencapai bagian dalam struktur telinga luar.
Cara
memberikan obat pada telinga dengan tetes telinga atau salep. Obat tetes
telinga ini pada umumnya diberikan pada gangguan infeksi telinga khususnya pada
telinga tengah (otitis media), dapat berupa obat antibiotik.3
Obat telinga dapat terbagi menjadi :
- Obat telinga sebagai antiseptik
dan anti infeksi.
Biasanya merupakan antibiotik seperti chlorampenikol, gentamisin, atau ofloxacin dengan tambahan penghilang sakit lokal (lidokain/benzokain). - Antiseptik telinga dengan
kortikosteroid
Pada kelompok obat telinga ini selain mengandung antibiotik dan penghilang sakit lokal juga ditambah kortikosteroid yang berfungsi untuk menghilangkan gejala alergi pada telinga. - Obat telinga lainnya
Obat telinga ini diindikasikan untuk saluran telinga yang tersumbat oleh kotoran yang mengeras.
Obat telinga ini dibuat dalam bentuk
sediaan khusus untuk telinga dengan pembawa yang mudah menyebar ke dalam liang
telinga. Bentuk kemasannya pun didesain khusus untuk mempermudah pemberian obat
telinga.
Semua obat telinga tidak boleh
digunakan untuk jangka panjang karena bisa menimbulkan ototoksik, superinfeksi.
Bila permasalahan telinga disebabkan
oleh jamur/virus tidak boleh menggunakan obat telinga yang mengandung
antibiotik karena bisa menimbulkan superinfeksi. Selain itu antibiotik
digunakan untuk infeksi oleh bakteri.3
Cara membersihkan telinga yang baik
adalah;
- Dengan menggunakan cotton bud
(lidi berkapas) yang dicelup ke dalam cairan perhidrol (H202 3%) atau
fenolgliserin.
- Untuk membersihkan penumpukan
serumen dapat juga dengan meneteskan terlebih dahulu cairan perhidrol
(H202 3%) atau fenolgliserin ke dalam liang telinga, tunggu beberapa saat
kemudian dibersihkan dengan alat pembersih telinga yang ujungnya lunak.
Untuk pemilihan obat telinga yang
tepat sesuai kebutuhan dan keluhan anda ada baiknya anda harus periksakan diri
dan konsultasi ke dokter THT.
Di apotik online medicastore anda
dapat mencari obat telinga yang telah diresepkan dokter secara mudah dengan
mengetikkan di search engine medicastore. Sehingga anda dapat memilih dan beli
obat telinga sesuai kebutuhan anda.
2.3.2
Persiapan Alat
Alat
dan Bahan:
1.
Obat dalam tempatnya.
2.
Penetes.
3.
Spekulum telinga.
4.
Pinset anatomi dalam tempatnya.
5.
Korentang dalam tempatnya.
6.
Plester.
7.
Kain kasa.
8.
Kertas tisu.
9.
Balutan.
10.
Bengkok
2.3.3
Indikasi dan Kontra Indikasi
NAMA
GENERIK
Clindamycin / Klindamisin HCl.
INDIKASI
Infeksi saluran napas, otitis media (radang rongga gendang telinga), infeksi kulit, osteomyelitis (radang sumsum tulang), endokarditis (radang endokardium jantung).
KONTRA INDIKASI
# Hipersensitivitas.
# Diare, gangguan fungsi hati & ginjal.
# Individu yang atopi (hipersensitifitas atau alergi berdasarkan kecenderungan yang ditemurunkan).
Clindamycin / Klindamisin HCl.
INDIKASI
Infeksi saluran napas, otitis media (radang rongga gendang telinga), infeksi kulit, osteomyelitis (radang sumsum tulang), endokarditis (radang endokardium jantung).
KONTRA INDIKASI
# Hipersensitivitas.
# Diare, gangguan fungsi hati & ginjal.
# Individu yang atopi (hipersensitifitas atau alergi berdasarkan kecenderungan yang ditemurunkan).

gbr.
Contoh obat tetes telinga
2.3.4 Prosedur Kerja1
|
No
|
Langkah
|
Rasional
|
|
1
|
Tinjau
kembali program obat dari dokter meliputi nama klien, nama obat, konsentrasi
obat, waktu pemberian obat, jumlah tetesan, dan telinga (kanan atau kiri)
yang akan menerima obat.
|
Menjamin
pemberian obat yang aman dan tepat.
|
|
2
|
Cuci
tangan
|
Mengurangi
penularan mikroorganisme
|
|
3
|
Siapkan
peralatan dan suplai :
a.
Botol obat dan alat tetes
b.
Kartu, format atau huruf cetak
nama obat
c.
Lidi kapas
d.
Tisu
e.
Bola kapas (opsional)
f.
Sarung tangan sekali pakai (bila
perlu)
|
Digunakan
untuk membuang serumen atau drainase
|
|
4
|
Periksa
identifikasi klien dengan melihat gelang identifikasi dan menanyakan namanya.
|
Memastikan
klien yang menerima obat benar.
|
|
5
|
Kenakan
sarung tangan.
|
Mengurangi
pajanan pada mikroorganisme.
|
|
6
|
Kaji
struktur telinga luar dan salurannya
|
Memberikan
dasar untuk menentukan apakah timbul respons local terhadap pengobatan,
apakah kondisi klien membaik, atau apakah telinga perlu dibersihkan dahulu
sebelum obat diberikan.
|
|
7
|
Jelaskan
prosedur pada klien
|
Mengurangi
rasa cemas
|
|
8
|
Atur
suplai disisi tempat tidur
|
Memastikan
prosedur berjalan lancar
|
|
9
|
Minta
klien mengambil posisi miring dengan telinga yang akan diobati berada di atas
|
Memudahkan
memasukkan obat ke dalam telinga. Saluran telinga dalam posisi menerima obat.
|
|
10
|
Jika
serumen atau drainase menyumbat bagian paling luar saluran telinga, seka
dengan lembut menggunakan lidi kapas. Jangan mendorong serumen kedalam untuk menghambat atau menyumbat saluran.
|
Serumen
dan drainase menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme dan dapat menghambat
distribusi obat ke dalam saluran telinga. Oklusi saluran telinga mempengaruhi
kondisi suara yang normal.
|
|
11
|
Luruskan
saluran telinga dengan menarik daun telinga kebawah dan ke belakang (pada
anak-anak) atau ke atas dan ke luar (dewasa).
|
Meluruskan
saluran telinga member jalan masuk langsung ke bagian struktur telinga luar
yang lebih dalam.
|
|
12
|
Masukkan
tetesan obat yang diresepkan, pegang alat tetes 1cm diatas saluran telinga
|
Mendorong
tetesan ke dalam saluran yang tersumbat akan menyebabkan cedera pada gendang
telinga.
|
|
13
|
Minta
klien mengambil posisi miring 2 sampai 3 menit. Beri pijatan atau tekanan
lembut pada tragus telinga dengan menggunakan jari tangan.
|
Memungkinkan
distribusi obat yang menyeluruh. Tekanan dan pijatan menggerakkan obat ke
dalam.
|
|
14
|
Kadang-kadang dokter menginstruksikan
penempatan kapas ke bagian terluar saluran telinga jangan menekan kapas ke
bagian terdalam saluran.
|
Memasukkan
kapas ke dalam saluran luar mencegah obat keluar ketika klien duduk atau
berdiri. Kapas tidak boleh menyumbat saluran, sehingga merusak pendengaran.
|
|
15
|
Lepaskan
kapas dalam 15 menit
|
Meningkatkan
distribusi dan absorpsi obat
|
|
16
|
Buang
suplai dan sarung tangan yang kotor dan cuci tangan.
|
Menjaga
kerapihan sisi tempat tidur
Mengurangi
penularan infeksi
|
|
17
|
Bantu
klien mengambil posisi yang nyaman setelah tetesan di absorpsi.
|
Mengembalikan
rasa nyaman.
|
|
18
|
Evaluasi
kondisi telinga luar diantara pemasukkan obat
|
Menentukkan
respon terhadap obat.
|
2.4 Terapi Panas Dingin
2.4.1 Pengertian Terapi
Terapi adalah suatu proses berjangka panjang berkenaan
dengan rekonstruksi pribadi.
Dalam
kamus Bahasa Indonesia, definisi terapi adalah “usaha untuk memulihkan
kesehatan orang yang sedang sakit”. Tidak disebut ‘usaha medis’ dan juga tidak
disebut menyembuhkan penyakit. Maka kita bisa paham bahwa terapi adalah lebih
luas daripada sekadar pengobatan atau perawatan. Apa yang dapat memberi
kesenangan, baik fisik maupun mental, pada seseorang yang sedang sakit dapat
dianggap terapi.4
2.4.2 Terapi Panas
Terapi
panas merupakan terapi dengan menggunakan panas. Sedangkan kompres adalah salah
satu metode fisik yang digunakan untuk menurunkan suhu tubuh bila anak demam
yang sudah dikenal sejak zaman dulu. Kompres panas membantu meredakan sakit
yang berhubungan dengan radang sendi dan otot kaku dengan mengurangi ketegangan
dan melancarkan aliran darah. 4
a.
Tujuan
Terapi Panas
Terapi
Panas pada tubuh bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan.
Bentuk kompres termal biasanya bergantung pada tujuannya. Kompres panas akan
menghangatkan menghangatkan area tubuh tersebut. Kompres panas menghasilkan
perubahan fisiologis suhu jaringan, ukuran pembuluh darah, tekanan darah
kapiler, area permukaan kapiler untuk pertukaran cairan dan elektrolit, dan
metabolisme jaringan. Durasi kompres juga memengaruhi respons . 4
b.
Jenis
Kompres
panas pada tubuh berbentuk:
1. Kering
Kompres
panas kering dapat digunakan secara lokal, untuk konduksi panas, dengan
menggunakan botol air panas, bantalan pemanas elektrik, bantalan akuatermia,
atau kemasan pemanas disposabel.
2. Basah.
Kompres
panas basah dapat diberikan melalui konduksi, dengan cara kompres kasa, kemasan
pemanas, berendam, atau mandi.
c.
Keuntungan
dan Kerugian
A.
Keuntungan
1. Memenuhi
kebutuhan rasa nyaman pada klien
2. Mudah
dan Praktis
3. Memberikan
rasa hangat
4. Mengurangi
dan membebaskan rasa nyeri
B. Kerugian
1.
Pada 24 jam pertama
setelah cedera traumatik. Panas akan meningkatkan perdarahan dan pembengkakan
2.
Peradarahan aktif.
Panas akan menyebabkan vasdilatasi dan meningkatkan Perdarahan
3.
Edema noninflamasi.
Panas meningkatkan permeabilitas kapiler dan edema.
4.
Tumor ganas
terlokalisasi. Karena panas mempercepat metabolisme sel, pertumbuhan sel, dan
meningkatkan sirkulasi, panas dapat, mempercepat metastase (tumor sekunder)
5.
Gangguan kulit yang
menyebabkan kemerahan atau lepuh. Panas dapan membakar
atau menyebabkan kerusakan kulit lebih jauh.
d.
Alat
dan Bahan
·
Kom berisi air hangat sesuai kebutuhan
(40-46c)
·
Bak seteril berisi dua buah kasa
beberapa potong dengan ukuran yang sesuai
·
Kasa perban atau kain segitiga
·
Pengalas
·
Sarung tangan bersih di tempatnya
·
Bengkok dua buah (satu kosong, satu
berisi larutan Lysol 3%)
·
Waslap 4 buah/tergantung kebutuhan
·
Pinset anatomi 2 buah
·
Korentang
e.
Prosedur
Kerja1
|
NO
|
LANGKAH
|
RASIONALISASI
|
|
1.
|
Dekatkan alat-alat kedekat klien
|
Agar bidan atau perawat mudah
menjangkau alat.
|
|
2.
|
Perhatikan privacy klien
|
Agar menjaga privacy klien
|
|
3.
|
Cuci tangan
|
Untuk pencegahan infeksi
|
|
4.
|
Atur posisi klien yang nyaman
|
Agar saat pemberian obat, klien merasa
nyaman
|
|
5.
|
Pasang pengalas dibawah daerah yang
akan dikompres
|
Agar menjaga kebersihan dan kenyamanan
klien di tempat tidur atau tempat klien saat diberikan obat
|
|
6.
|
Kenakan sarung tangan lalu buka
balutan perban bila diperban. Kemudian, buang bekas balutan ke dalam bengkok
kosong
|
Untuk perlindungan diri
|
|
7.
|
Ambil beberapa potong kasa dengan
pinset dari bak seteril, lalu masukkan ke dalam kom yang berisi cairan
hangat.
|
Untuk merendam kasa yang akan
digunakan untuk terapi kompres hangat
|
|
8.
|
Kemudian ambil kasa tersebut, lalu
bentangkan dan letakkan pada area yang akan dikompres
Bila klien menoleransi kompres hangat
tersebut, lalu ditutup/dilapisi dengan kasa kering. selanjutnya dibalut
dengan kasa perban atau kain segitiga
|
Untuk mengompres daerah yang nyeri
agar klien merasa nyaman dan mengurangi rasa sakit klien.
|
|
9.
|
Lakukan prasat ini selama 15-30 menit
atau sesuai program dengan anti balutan kompres tiap 5 menit
|
Agar hasil dari kompresan tersebut
maksimal
|
|
10.
|
Lepaskan sarung tangan
|
Untuk pencegahan infeksi
|
|
11.
|
Atur kembali posisi klien dengan
posisi yang nyaman
|
Agar klien merasa nyaman
|
|
12.
|
Bereskan semua alat-alat untuk
disimpan kembali
|
Agar alat terlihat rapi dan bersih, juga
berpengaruh pada kenyamanan klien maupun perawat atau bidan
|
|
13.
|
Cuci tangan
|
Untuk pencegahan infeksi
|
|
14.
|
Dokumentasikan tindakan ini beserta
responnya
|
Agar saat pengulangan kegiatan ini
jadwalnya teratur dan tidak terjadi kekeliruan pada perawat/bidan
|
f.
Indikasi
Indikasi
Pemberian Kompres Panas
·
Klien yang kedinginan(suhu tubuh yang
rendah)
·
Klien dengan perut kembung
·
Klien yang punya penyakit peradangan,
seperti radang persendian
·
Spasme otot
·
Adanya abses, hematoma
·
klien dengan suhu tubuh yang tinggi
·
klien dengan batuk dan muntah darah
·
pascatonsilektomi
·
radang, memar
g.
Kontraindikasi
Kontraindikasi
pemberian kompres panas, yaitu:
1.
Kulit yang bengkak
dan terjadi perdarahan, karena panas akan meningkatkan
perdarahan dan pembengkakan yang semakin parah.
2.
Peradarahan aktif.
Panas akan menyebabkan vasdilatasi dan meningkatkan perdarahan.
3.
Edema noninflamasi.
Panas meningkatkan permeabilitas kapiler dan edema.
4.
Tumor ganas
terlokalisasi. Karena panas mempercepat metabolisme sel, pertumbuhan sel, dan
meningkatkan sirkulasi, panas dapat, mempercepat metastase (tumor sekunder).
5.
Gangguan kulit yang
menyebabkan kemerahan atau lepuh. Panas dapan membakar
atau menyebabkan kerusakan kulit lebih jauh.
2.4.2
Terapi
Dingin
a.
Pengertian
Terapi dingin dikenal sebagai cryotherapy yang bekerja pada prinsip
pertukaran panas. Hal ini terjadi ketika menempatkan objek pendingin dalam
kontak langsung dengan objek suhu yang lebih hangat, seperti es terhadap kulit.
Objek dingin akan menyerap panas dari objek yang lebih hangat. Setelah cedera,
pembuluh darah akan memberikan oksigen dan nutrisi kepada sel-sel yang rusak.
Sel-sel di sekitar cedera meningkatkan metabolisme dalam upaya mengkonsumsi
lebih banyak oksigen. Ketika seluruh oksigen digunakan, sel-sel akan mati serta
pembuluh darah yang rusak tidak bisa membuang sampah. Sel darah dan cairan
meresap ke dalam ruang di sekitar otot
yang mengakibatkan pembengkakan dan memar. Saat es ditempelkan akan menyebabkan
suhu jaringan yang rusak menurun melalui pertukaran panas dan menyempitkan
pembuluh darah lokal. Hal ini memperlambat metabolisme dan konsumsi oksigen,
sehingga mengurangi laju kerusakan. Proses tersebut menghentikan transfer
impuls ke otak yang mendaftar sebagai nyeri. Kebanyakan terapis dan dokter
menyarankan untuk tidak menggunakan terapi panas setelah cedera, karena hal ini
akan memiliki efek sebaliknya dari terapi dingin. Panas meningkatkan aliran darah
dan melemaskan otot-otot. Hal itu baik untuk meredakan ketegangan otot, tetapi
hanya akan meningkatkan rasa sakit dan pembengkakan cedera dengan mempercepat
metabolisme. Terapi dingin harus selalu digunakan sesegera mungkin setelah
cedera terjadi. Terapi dingin dilakukan sekitar 15 hingga 20 menit selama 48
jam.
b.
Tujuan
a. Mengurangi
peradangan dengan cara mengerutkan atau mengecilkan pembuluh darah
b. Mengurangi
rasa sakit
c. Mengurangi
kejang otot
d. Mengurangi
kerusakan jaringan
e. Mengurangi
pembengkakakan
f. Mengurangi
pembentukan udema (Pembekuan darah di bawah kulit)
c.
Jenis-jenis
1.
Kantong Es
Teknik ini menggunakan tas sederhana seperti kantong
plastik, botol air panas, kemasan dingin kimia atau sayuran beku. Caranya
dengan menerapkan kain handuk kering di atas area tersebut untuk mencegah
kontak langsung es untuk kulit. Kulit akan melewati empat tahapan sensasi dalam
10-15 menit. Sensasi ini dalam rangka adalah:
1) Dingin kulit
2) Merasa Burning
3) Sakit
4) Kekebasan
2. Pijat Es
Es merupakan material dari teknik terapi dingin. Es
adalah sebuah air bersih yang dimasukkan ke dalam wadah lalu dibekukan di dalam
lemari es samapi benar-benar beku. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam
teknik ini yaitu sedikit demi sedikit membuka es lalu pijatkan ke area yang sakit
dengan menggunakan gerakan melingkar konstan. Jangan meletakkan es di satu
daerah selama lebih dari 3 menit karena hal ini dapat menyebabkan radang
dingin. Terapi dingin harus dihentikan
setelah kulit terasa mati rasa.
d.
Keuntungan
dan Kerugian
·
Alat
dan bahan mudah ditemukan dan digunakan di rumah
·
Murah
·
Persiapan
yang sedikit
·
Baik
untuk luka ringan yang hanya memerlukan terapi dingin untuk satu samapi dua
hari.
·
Es
sebagai bahan dari terapi dingin mudah jatuh sendi serta sulit untuk menjaga es
di tempat
·
Es
cepat mencair dan dapat membuat berantakan terutama jika melakukan terapi
dingin di tempat tidur.
·
Es
diterapkan pada permukaan sendi secara terbatas.
·
Tidak
ada kompresi yang diterapkan.
·
Hanya
dapat diterapkan untuk jangka waktu yang singkat (10-20 menit).
·
Sulit
digunakan untuk cedera yang lebih besar atau setelah operasi karena berbagai
alasan.
e.
Pemeriksaan
Pendahuluan
Pemeriksaan dilakukan dengan tanya
jawab antara terapis dengan pasien. Hal-hal yang perlu diketahui dari pasien
antara lain:
·
Kondisi
patologis pasien yaitu berkaitan dengan tingkat keparahan kondisi patologis
pasien ( akut atau kronis ). Di samping itu juga apakah kondisi patologis
pasien indikatif atau kontra indikatif dengan terapi yang akan diberikan.
·
Gangguan
sensibilitas yang dimaksud adalah sensibilitas panas-dingin. Untuk mengetahui
keadaan sensibilitas pasien maka perlu dilakukan tes sensibilitas panas-dingin,
seperti berikut:
a. Sediakan
2 buah tabung / kantung plastik kecil. Sebuah tabung berisi air panas (hangat)
yang lain berisi air dingin (air es).
b. Kedua
tabung tersebut diujikan satu per satu ke bagian tubuh pasien yang normal
sambil mengenalkan rasa / sensasi yang dirasakan oleh pasien ( pasien diminta
untuk melihat pengujian / pengenalan ini).
c. Setelah
pengenalan sensasi dilakukan, pengujuan sensasi yang sebenarnya dilakukan.
Pasien diminta untuk tidak melihat pengujian pada daerah yang abnormal. Pasien
bisa diminta untuk memejamkan matanya ataupun dengan cara yang lain, misalnya
dengan menghalangi pandangannya
f.
Alat
dan Bahan
a)
Bengkok
b)
Handuk kering
c)
Kom
a)
Kirbat es atau eskap dengan
sarungnya
b)
Kom berisi potongan-potongan
kecil es serta satu sendok teh garam agar es tidak cepat mencair
c)
Air dalam kom
a)
Baki dan alas
b)
Perlak kecil atau handuk kecil
c)
Tempet cuci tangan
d)
Alat tulis dan buku catatan
e)
Tempat sampah basah
f)
Tempat sampah kering
g)
Baskom
g.
Prosedur
Kerja1
|
No.
|
Langkah
Kerja
|
Rasionalisasi
|
|
1.
|
Siapkan
alat dan bahan serta susu secara ergonomis
|
Persiapan
alat dan bahan secara ergonomis akan memudahkan dalam memberikan pengobatan
serta mengefektifkan waktu
|
|
2.
|
Kajian
pasien
|
Pengkajian
dilakukan untuk memastikan keadaan pasien serta tepat dalam memberikan
pengobatan
|
|
3.
|
Informed
Consent
|
Dilakukan
untuk mendapatkan persetujuan dari pasien untuk mempermudah pengobatan
|
|
4.
|
Bawa
alat-alat ke dekat klien
|
Agar
alat dan bahan dapat dengan mudah di jangkau
|
|
5.
|
Cuci
tangan
|
Untuk
pencegahan infeksi
|
|
6.
|
Masukkan
batnan es ke dalam kom air
|
Agar
bagian pinggir es tidak tajam
|
|
7.
|
Isi
kirbat es dengan potongan es sebanyak kurang lebih setengah bagian dari
kirbat tersebut
|
Pemakaian
es yang berlebihan akan membuat mati rasa pada kulit
|
|
8.
|
Keluarkan
udara dari eskap dengan melipat bagian yang kosong, lalu di tutup rapat
|
Agar
terapi dapat bekerja dengan maksimal
|
|
9.
|
Periksa
skap
|
Untuk
memastikan agar tidak ada kebocoran
|
|
10.
|
Keringkan
eskap dengan lap, lalu masukkan ke dalam sarungnya
|
Agar
air yang keluar dari es tidak berceceran
|
|
11.
|
Buka
area yang akan di obati dan atur yang nyaman pada klien
|
Posisi
yang nyaman bagi pasien akan membantu terapi
|
|
12.
|
Pasang
perlak pengalas pada bagian tubuh yang akan di obati
|
Perlak
berfungsi sebagai alas agar air tidak menetes ke kasur atau ke tempat terapi
dilakukan
|
|
13.
|
Letakkan
eskap pada bagian yang memerlukan terapi
|
Peletakkan
eskap pada bagian yang memerlukan terapi akan mempercepat terapi karena
terapi langsung ke tempat yang memerlukannya
|
|
14.
|
Kaji
keadaan kulit setiap 20 menit terhadap nyeri, mati rasa, dan suhu tubuh
|
Pengkajian
yang lebih dari 20 menit akan membuat pasien tidak nyaman
|
|
15.
|
Angkat
eskap bila sudah selesai
|
Terapi
dingin harus dihentikan setelah kulit terasa mati rasa.
|
|
16.
|
Atur
posisi klien kembali pada posisi yang nyaman
|
Agar
pasien lebih nyaman setelah terapi
|
|
17.
|
Bereskan
alat setelah selesai melakukan terapi ini
|
Agar
alat dan bahan yang sudah dipakai tidak mengganggu kenyamanan klien
|
|
18.
|
Cuci
tangan
|
Untuk
pencegahan infeksi
|
|
19.
|
Dokumentasikan
|
Untuk
mencatat hasil dari pengobatan
|
h.
Indikasi
dan Kontra Indikasi
·
Indikasi
a. Trauma muskuloskeletal : sprain,
strain,tendinitis, tenosinovitis, bursitis,tendinitis,
b. Myofacial pain
c. Penurunan spastisitas
d. Pengobatan emergency luka bakar
ringan
·
Kontra
Indikasi
a. Hipersensitivitas terhadap dingin
b. Cryoglobulinemia
c. Intoleransi terhadap dingin
d. Raynaud’s phenomen
e. Paroxysmal cold hemoglobinuria
f. HPT
g. Gangguan kognitif atau komunikasi
2.5 Kompres Panas Dingin
2.5.1 Pendahuluan
Suhu tubuh yang optimum sangat penting untuk kehidupan
sel agar dapat berfungsi secara efektif. Perubahan suhu tubuh yang eksterem
dapat membahayakan bagi tubuh. Oleh karena itu, perawata harus berusaha untuk
dapat memelihara suhu tubuh klien agar tetap normal. Ada beberapa tindakan yang
dapat dilakukan untuk memelihara suhu tubuh di antaranya adalah melalui kompres.
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan
menggunakan cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada
bagian tubuh yang memerlukan.
Terdapat 2 jenis kompres, yaitu kompres panas dan kompres
dingin.
Berbeda dengan kompres, terapi adalah suatu proses
usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sakit dengan cara menggunakan
alat-alat psikologis yang bertujuan menghilangkan, mengubah atau menurunkan
gejala-gejala yang ada untuk mencapai kesembuhan.5
2.5.2 Pedoman
Kompres Panas dan Dingin
Pemahaman
tentang respon adaptif reseptor termal, fenomena rebound, efek sistemik,
toleransi terhadap panas dan diongin, kontraindikasi merupakan hal yang penting
ketika memberikan kompres panas dan dingin. 5
a. Adaptasi Reseptor termal
Reseptor
termal beradaptasi terhadap perubahan suhu. Ketika reseptor dingin terpanjan
suhu yang tiba-tiba rendah atau ketika reseftor hangat terpanjan suhu yang
tiba-tiba tinggi, pada awalnya reseftor terstimulasi dengan kuat. Stimulasi
yang kuat ini menurun dengan cepat selama beberapa detik pertama dan kemudian
menjadi lebih lambat selama setengah jam berikutnya atau lebih karena reseftor
beradaptasi terhadap suhu yang baru. Perawat perlu memahami respon adaptif ini
ketika memberikan kompres panas dan dingin. Klien ingin mengubah suhu pada
kompres tersebut karena adanya perubahan sensasi. 5
b. Fenomena Rebound
Fenomena
rebaound terjadi pada saat efek terapeutik maksimal dari kompres panas atau
dingin telah mencapai dan kemudian efek yang berlawanan terjadi. Misalnya,
panas menyebabkan vasodilatasi maksimum dalam 20 sampai 30 menit; melanjutkan
kompres melebihi 30 sampai 45 menitakan mengakibatkan kongesti jaringan, dan
pembuluh darah kemudian berkontriksi dengan alasan yang tidak diketahui apabila
kompres panas terus dilanjutkan, klien beresiko mengalami luka bakar, karena
pembuluh darahyan kontriksi tidak mampu membuang panas secara adekuat melalui
sirkulasi darah. Pada kompres dingin vasokonstriksi maksimum terjadi ketika
kulit yang dikompres mencapai suhu 15 C. Dibawah suhu 15 C, vasodilatasi
melalui. Mekanismedingin bersifat protektif: vasodilatasi membantu mencegah
pembekuan jaringan tubuh yang biasa terpanajan dingin, seperti hidung dan
telinga. Hal ini juga menjelaskan merahnya kulit seseorang yang berjalan
dimusim dingin.
Pemahaman
tentang fenomena rebound merupakan hal yang penting bagi perawata. Kompres harus diberhentikan sebelum fenomena rebound terjadi.
5
c. Efek Sistemik
Kompres
panas diberikan pada area tubuh lokal, terutama pada area tubuh yang luas,
dapat meningkatkan curah jantung dan ventilasi paru. Peningkatan tersebut
adalah hasil vasodilatasi perifer yan berlebihan, yang mengalihkan sejumlah
besar suplai darah dari organ dalam dan menghasilkan tekanan darah. Penurunan
tekanan darah yang signifikan dapat menyebabkan klien pingsan. Klien yang
memiliki penyakit jantung atau paru serta memiliki gangguan sirkulasi seperti
arteriosklerosis akan lebih rentan terhadap efek kompres ini dibandingkan orang
sehat. Kompres dingin yang berlebihan(seperti ketika klien ditempatkan dalam
selimut pendingin) dan vasokonstriksi dapat mengakibatkan tekanan darah klien
meningkat, karena darah dialihkan dari sirkulasi kutaneus ke pembuluh darah
internal.
Pengalihan darah ini adalah respon protektif normal
terhadap rasa dingin yang panjang yang mana merupakan upaya tubuh untuk
mempertahankan suhu inti. Menggigil, efek umum lainnya dari rasa dingin yang
berkepanjangan, adalah respon normal karena tubuh beruoaya untuk menghangatkan
dirinya. 5
d. Toleransi dan Kontraindikasi
Berbagai bagian tubuh memiliki toleransi panas dan
dingin yang berbeda. Variabel yang mempengaruhi toleransi fisiologi tubuh
tersebut sebagai berikut:
a. Bagian tubuh. Bagian punggung tangan dan kaki adalah
bagian yang tidak terlalusensitif terhadap suhu, sebaliknya, bagian dalam dari
pergelangan tangan dan lengan bawah, leher, dan area perineum adalah bagian
yang sensitif terhadap suhu.
b. Ukuran bagian tubuh yang terpanjan. Semakin besar area
yang terpanjan oleh panas dan dingin, semakin rendah toleransinya.
c. Toleransi perorangan. Individu yang sangat tua umumnya
memiliki toleransi yang paling rendah. Individu yang memiliki kerusakan
neurosensori mungkin memiliki toleransi yang tinggi, tapi resiko cederanya juga
lebih besar.
d. Lama panjanan. Individu paling merasakan kompres panas
dan dingin saat awal kompres diberikan. Setelah jangka waktu tertentu,
toleransi akan meningkat.
e. Keutuhan kulit. Area kulit yang cedera lebih sensitif
terhadap variasi suhu. Kondisi tertentu merupakan kontraindikasi penggunaan
kompres panas atau dingin.
Selama itu beberapa kondisi memerlukan tindakan
kewaspadaan ketika memberikan terapi kompres panas dan dingin. Adapun kontra
indikasi kompres panas dan dingin sebagai berikut:
a.Kontraindikasi pemberian kompres panas, yaitu:
1. Pada 24 jam pertama setelah cedera traumatik. Panas
akan meningkatkan
perdarahan dan pembengkakan
2. Peradarahan aktif. Panas akan menyebabkan vasdilatasi
dan meningkatkan
perdarahan
3. Edema noninflamasi. Panas meningkatkan permeabilitas
kapiler dan edema.
4. Tumor ganas terlokalisasi. Karena panas mempercepat
metabolisme sel, pertumbuhan sel, dan meningkatkan sirkulasi, panas dapat
,mempercepat metastase (tumor sekunder)
5. Gangguan kulit yang menyebabkan kemerahan atau lepuh.
Panas dapat membakar atau menyebabkan
kerusakan kulit lebih jauh.
b.Kontraindikasi pemberian kompres dingin, yaitu:
1.
Luka terbuka dengan
meningkatkan kerusakan jaringan karena mengurangi aliran ke luka terbuka
2.
Gangguan sirkulasi.
Dingin dapat mengganggu nutrisi jaringan lebih lanjut dan menyebabkan kerusakan
jaringan. Pada klien dengan penyakit raynaud, dingin akan meningkatkan spasme
arteri
3.
Alergi atau
hipersensitivitas terhadap dingin. Beberapa klien memiliki alergi terhadap
dingin yang dimanisfestasikan dengan respon inflamasi (mis, eritema, hive,
bengkak, nyeri sendi, dan kadang-kadang spasme otot), yang dapat membahayakan
jika orang tersebut hipersensitif.
e.
Efek fisiologis
Kompres Panas dan Dingin
Ada pun efek fisiologi tubuh yang terjadi akibat
kompres panas dan dingin menurut Audery Berman dkk, yaitu sebagai berikut:
|
Kompres
panas
|
Kompres
dingin
|
|
Vasodilatasi
|
Vasokontriksi
|
|
Meningkatkan
permeabilitas kapiler
|
Menurunkan
permeabilitas kapiler
|
|
Meningkatkan
metabolisme selulas
|
Menurunkan
metabolisme selular
|
|
Merelaksasi
otot
|
Merelaksasi
otot
|
|
Menigkatkan
inflamasi, meningkatkan aliran darah ke suatu area
|
Memperlambat
pertumbuhan bakteri, mengurangi inflamasi
|
|
Meredakan
nyeri dengan merelaksasi otot
|
Meredakan
nyeri dengan membuat area menjadi mati rasa, memperlambat aliran impuls
nyeri, dan menigkatkan ambang nyeri
|
|
Efek
sedatif
|
Efek
anastesi lokal
|
|
Mengurangi kekakuan sendi dengan menurunkan
viskositas cairan senovial
|
Meredakan perdarahan
|
f.
Suhu yang Direkomendasikan untuk
Kompres Panas dan Dingin
|
Derajat
Panas
|
Suhu
|
Bentuk
dan Kegunaan
|
|
Sangat dingin
|
Di bawah 15° C
|
Kantong es
|
|
Dingin
|
15- 18° C
|
Kemasan pendingin
|
|
Sejuk
|
18- 27° C
|
Kompres dingin
|
|
Hangat kuku
|
27- 37° C
|
Mandi spons- alkohol
|
|
Hangat
|
37- 40° C
|
Mandi dengan air hangat
|
|
Panas
|
40- 60° C
|
Berendam dalam air panas, irigasi, kompres panas
|
|
Sangat panas
|
Di atas 60° C
|
Kantong air untuk orang dewasa
|
g.
Proses Keperawatan
1.
Pengkajian
Kaji :
1.
Kemampuan
klien untuk mengenali kapan rasa dapat menyebabkan ceder. Kaji apaan klien
menyadari rasa dingin serta dapat membedakan suhu yang terlalu dingin untuk
jaringan tubuh
2.
Tingkat
kesadaran dan kondisi fisik umum klien. Klien yang sangat muda, sangat tua,
tidak sadar,atau yang lemah tidak dapat menoleransi panas dengan baik.
3.
Area
yang dikompres dengan memeriksa :
·
Perubahan
integritas kulit, seperti adanya edema, memar, kemerahan, lesi terbuka, adanya
rabas, dan perdarahan.
·
Status
sirkulasi (warna, suhu, dan sensasi). Jaringan yang terasa dingin, berwarna
pucat atau kebiruan, dan kurangnya sensasi atau mati rasa mengindikasikan
kerusakan sirkulasi.
·
Tingkat
ketidaknyamanan dan rentang pergerakan sendi jika spasme otot atau nyeri sedang
dikompres.
·
Denyut
nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Faktor ini penting dikaji sebelum kompres
diberikan pada area tubuh yang luas.
2.
Perencanaan
Sebelum memberikan kompres panas
atau dingin, tentukan:
a. Apakah klien perlu menandatangani surat persetujuan
tindakan (jika surat persetujuan diperlukan, periksa surat tersebut pada
catatan klien).
b. Tipe kompres panas atau dingin yang akan digunakan,
suhu, dan durasi serta frekuensi kompres (periksa program dokter jika perlu).
c.
Protokol institusi
tentang tipe perlengkapan yang digunakan, suhu yang direkomendasikan, dan
durasi kompres (periksa program dokter jika perlu),
d.
Waktu kompres
diberikan
3.
Pendelegasian
Pemberian kompres
panas dan dingin tertentu dapat didelegasikan kepa UAP (misalnya rendam
jongkok, mandi air dingin) jika mereka memenuhi kriteria untuk menjalankan
tugas yang didelegasikan. Kan tetapi, pada semua kasus, pengkajian klien dan
penentuan bahwa tindakan tersebut aman untuk dilakukan adalah tanggungjawab
perawat. UAP dapat mengobservasi area yang dikompres selama perawatan
sehari-hari dan mereka harus dilaporkan temuan yang abnormal pada perawat.
Temuan yang abnormal harus divalidasi dan diintervensi oleh perawat.
4.
Implementasi
2.5.3
Kompres Hangat
a.
Pengertian Kompres Hangat
Memberikan
rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang
menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Kompres hangat diberikan
satu jam atau lebih.

b.
Tujuan Kompres Hangat
Pada
umunya bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan. Tujuan
khususnya yaitu:
a.
Memperlancar sirkulasi darah
b.
Mengurangi rasa sakit
c.
Memberi rasa hangat, nyaman, dan tenang pada klien
d.
Memperlancar pengeluaran eksudat
e.
Merangsang peristaltic usus
c.
Jenis-Jenis Kompres Hangat
Kompres hangat kering
Dapat digunakan secara local,
untuk konduksi panas, dengan menggunakan botol air panas, bantalan pemanas
elektrik, bantalan akuatermia, atau kemasan pemanas disposable.
Kompres hangat basah
Dapat
diberikan melalui konduksi, dengan cara kompres kasa, kemasan pemanas, berendam
atau mandi.
d.
Kompres Hangat dilakukan:
1. Pada
radang persendian
2. Pada
kekejangan otot
3. Bila perut
kembung
4. Bila ada
bengkak (abses) akibat pemberian suntikan
5. Bila
pasien kedinginan (misalnya akibat narkose, iklim atau ketegangan dll)
6. Pada
bagian tubuh yang abses
7. Bila ada
haematoom
e. Memberikan Kompres Hangat Kering
(Botol Air Panas, bantalan Pemanas Elektrik, bantalan Akuatermia, Kemasan
Pemanas Disposabel)
Perlengkapan:
Ø Botol (kantong) air panas
·
Botol air panas dengan tutupnya
·
Sarung botol
·
Air panas dan sebuah thermometer
·
Bengkok
·
Sarung tangan
·
Baki dan alasnya
·
Tempat sampah basah dan kering
·
Baskom
·
Kom
Ø Bantalan Pemanas elektrik
·
Bantalan elektrik dan pengontrolnya
·
Sarung (gunakan bahan yang kedap air jika kemungkinan
bagian bawah bantalan akan menjadi lembab)
·
Pengikat kasa (pilihan)
·
Bengkok
·
Sarung tangan
·
Baki dan alasnya
·
Tempat sampah basah dan kering
·
Baskom
·
Kom
Ø Bantalan Akuatermia
·
Bantalan
·
Air Suling
·
Unit pengontrol
·
Sarung
·
Pengikat kasa atau plester (pilihan)
·
Bengkok
·
Sarung tangan
·
Baki dan alasnya
·
Tempat sampah basah dan kering
·
Baskom
·
Kom
Ø Kemasan Pemanas Disposabel
·
Satu atau dua buah kemasan pemanas disposable yang
telah dipersiapkan secara komersial
f.
Pelaksanaan
Langkah
–Langkah :
1. Menjelaskan
pada klien apa yang akan dilakukan, serta beri tahu tujuannya agar dapat
menjalankan perawatannya
2. Menyiapkan
peralatan yang dibutuhkan
3. Cuci
tangan dengan 7 langkah
4. Berikan
kompres panas
Prosedur kerja1
|
Pelaksanaan Botol Air Panas
|
Rasionalisasi
|
|
|
1.
|
Mengukur suhu air. Ikuti praktek institusi tentang
penggunaan suhu yang tepat.
Suhu yang sering diberikan:
a. 46 – 52
°C untuk orang dewasa normal
b. 40,5 –
46 °C untuk orang dewasa yang tidak sadar atau yang kondisinya sedang lemah
|
Memastikan suhu yang akan diberikan agar terapi berefek
maksimal
|
|
2.
|
Mengisi sekitar dua pertiga botol dengan air panas
|
Agar air tidak terlalu penuh dan tidak tumpah
|
|
3.
|
Mengeluarkan udara dari botol. Udara yang tetap
berada di botol akan mencegah botol mengikuti bentuk tubuh yang sedang
dikompres.
|
Untuk menjaga suhu agar tetap stabil
|
|
4.
|
Menutup botol dengan kencang
|
Agar air tidak tumpah dari tempatnya
|
|
5.
|
Membalikkan botol dan memeriksa adanya kebocoran
|
Untuk memastikan ada atau tidaknya kebocoran
|
|
6.
|
Mengeringkan botol
|
Agar saat terapi dilaksanakan pakaian pasien tidak
terkena basah
|
|
7.
|
Membungkus botol dengan handuk atau sarung botol
air panas
|
Agar panas air tidak langsung menyentuh kulit.
Ditakutkan kulit melepuh
|
|
8.
|
Meletakkan bantalan pada bagian tubuh dan
menggunakan bantal untuk menyangganya jika perlu
|
Untuk memberikan kenyamanan pada pasien
|
|
Pelaksanaan Bantalan Pemanas Elektrik
|
Rasioalisasi
|
|
|
1.
|
Memastikan arca tubuh kering.
|
Penggunaan listrik pada area yang lembab dapat
mengakibatkan syok
|
|
2.
|
Memeriksa bahwa bantalan elektrik tersebut
berfungsi dan berada dalam kondisi yang baik. Kawat tidak boleh bercelah dan
kabel harus utuh, komponen pemanas tidak boleh terbuka, dan pendistribusian
suhu pada bantalan harus rata.
|
|
|
3.
|
Memasang sarung bantalan. Beberapa model memiliki
sarung kedap air yang dapat digunakan jika bantalan diletakkan di atas
balutan basah.
|
Tempat yang lembab dan menyebabkan arus pendek
pada bantalan sehingga membakar atau membuat klien syok.
|
|
4.
|
Menyambungkan bantalan ke stop kontak listrik
|
Untuk menghidupkan bantalan listrik
|
|
5.
|
Mengatur pengontrol suhu pada suhu yang tepat
|
Agar terapi yang diberikan efektif
|
|
6.
|
Setelah bantalan dipanaskan, meletakkan bantalan
di atas bagian tubuh yang memerlukan bantalan tersebut
|
Untuk memberikan efek kompres
|
|
7.
|
Menggunakan ikatan basa, bukan peniti
|
untuk memfiksasi bantalan agar
tetap berada di tempatnya
|
|
Pelaksanaan Bantalan Akuatermia
|
|
|
1.
|
Mengisi unit dengan air suling sampai memenuhi 2/3
inut. Unit akan menghangatkan air, yang bersirkulasi di bantalan
|
|
2.
|
Mengeluarkan gelembung udara, dan fiksasi tutup
bantalan
|
|
3.
|
Mengatur suhu pada tombol pengatur jika memang
belum diatur. Suhu normal adalah 40,5 °C. periksa instruksi pabrik
|
|
4.
|
Membungkus bantalan dengan sebuah handduk atau
sarung bantal
|
|
5.
|
Menyambungkan unit ke aliran listrik
|
|
6.
|
Memeriksa adanya kebocoran atau fungsi bantalan
yang tidak benar sebelum digunakan
|
|
7.
|
Menggunakan plester atau pengikat kasa untuk
memfiksasi bantalan di tempatnya. Jangan menggunakan peniti, Karena dapat
mengakibatkan kebocoran
|
|
8.
|
Jika terjadi kemerahan atau nyeri yang tidak
biasa, hentikan terapi, dan laporkan reaksi klien
|
|
Pelaksanaan Kemasan Pemanas
Disposabel
|
|
|
1.
|
Masukkan
ke microwave, pukul-pukul, peras atau remas kemasan sesuai dengan petunjuk
pabrik
|
|
2.
|
Perhatikan
instruksi pabrik mengenai lama waktu produksi panas.
|
5. Memberikan
klien instruksi sebagai berikut :
·
Jangan memasukan benda-benda tajam, benda berujung
runcing (misalnya peniti) ke dalam bantalan atau botol.
·
Jangan meletakkan botol atau bantalan secara
langsung. Permukaan di bawah objek meningkatkan absorpsi panas, bukan
pengeluaran panas iar yang normal
·
Untuk mencegah cedera, jangan mengatur panas lebih
tinggi dari yang telah ditentukan. Derajat panas yang dirasakan akan menurun
dengan cepat setelah pemberian kompres karena reseptor suhu tubuh beradaotasi
dengan cepat terhadap suhu. Mekanisme adaptif ini dapat menyebabkan cedera
jaringan jika suhu diatur lebih tinggi
6. Meletakkan
kemasan pemanas pada tempatnya hanya selama jangka waktu yang telah ditentukan
guna menghindari fenomena rebound. Untuk bantalan elektrik, selama 1—15 menit.
7. Mendokumentasikan
pemberian kompres panas dan respon klien pada catatan klien dengan menggunakan
format atau daftar tilik yang disertai catatan narasi jika perlu.
Memberikan kompres pada kondisi rawat jalan dan komunitas
Memberikan kompres panas Bayi/Anak
·
Suhu air dalam botol air panas harus 40,5 – 46 °C
untuk anak-anak berusia kurang dari 2 tahun.
Memberikan kompres panas pada Lansia
·
Berikan perhatian khusus saat mengkaji yang akan
diterapi dan ketika mengevaluasi efek terapi karena lansia memiliki banyak
kondisi yang merupakan predispodidi terjadinya cedera pada pemberian kompres.
h. Memberikan Kompres Hangat Kasa Dan
Kemasan Basah
Perlengkapan
Disesuaikan berdasarkan kebutuhan
1. Untuk
kompres basah hangat:
a.
Seperangkat peralatan steril terdiri dari:
·
Pinset 2 buah
·
Kasa secukupnya
·
Mangkok berisi cairan hangat
b.
Peralatan non-steril yang terdiri dari:
·
Buli-buli
·
Air panas
·
Pembalut atau kain segitiga
·
Gunting pembalut
·
Perlak kecil dan alasnya
·
Bengkok (nierbekken)
·
Kapas bersih
·
Plester
|
PELAKSANAAN
|
|
|
1.
|
Untuk
kompres basah hangat kain bias diambil dengan pinset, kemudian dicelupkan ke
dalam cairan, diperas sedikit selanjutnya diletakkan pada bagian yang
dikompres. Kain kasa harus dibalut atau ditutupdengan kain kasa kering, lalu
di plester
|
|
2.
|
Bilanenggunakan
air panas
a. Buli-buli
diisi air panas 1/3 sampai 2/3 bagian
b. Udara
dikeluarkan dengan cara : buli-buli ditempatkan di tempat rata, lalu bagian
atasnya ditekuk sampai air kelihatan, selanjutnya ditutup
c. Di
bungkus dengan kantong buli-buli
d. Diletakkan
pada bagian yang akan dikompres
e.
|
|
3.
|
Bila
menggunakan elektrikal pad:
a. Periksa
tegangan listrik (voltage), disesuaikan voltage alat.
b. Stopkontak
dipasang
c. Panas
diukur sesuai kebutuhan
d. Elektrikal
pad diletakkan pada bagian yang akan dikompres.
|
Perhatian
:
a. Untuk
kompres basah hangat, pada luka terbuka peralatan harus steril
b. Untuk
kompres basah hangat pada jaringan permukaan yang tertutup (bengkak atau
memar), alat tidak harus steril tapi harus bersih
c. Bila
cairan atau alat kompres terlalu panas, pada bagian kulit yang dikompres bias
terjadi luka bakar
d. Cegah
terjadinya luka bakar pada pemberian kompres hangat. Luka bakar bias terjadi,
jika cairan atau alat kompres terlalu panas.
Indikasi
1.
Sprain
dan strain
2.
Sebagai
tindakan pendahuluan (preliminary) sebelum dilakukan latihan untuk
kondisi stiff joint (kekakuan sendi)
3.
Low
back pain yang disertai spasme otot
4.
Arthritis
kronis
Kontraindikasi
1. Gangguan sensibilitas
2. Buerger diseases
3. Gangguan peredaran darah arterial perifir
2.5.4 Kompres Dingin
Menurut
kamus besar bahasa Indonesia, kompres adalah kain pembebat yang dibasahi dengan
air dingin (es, dan sebagainya) untuk menyejukkan kepala dan sebagainya.
Kompres
dingin dibagi menjadi dua, yaitu kompres dingin kering (kirbat) dan kompres
dingin basah. Kompres dingin kering terdiri dari kompres es biasa, kompres es
leher, dan kompres es gantung.
Kompres dingin kering
diberikan untuk mendapat efek lokal dengan menggunakan kantong es kolar es,
sarung tangan es, dan kemasan pendingin disposabel. Kompres dingin basah diberikan pada bagian tubuh untuk memberi efek
lokal. Kompres dingin sering kali digunakan untuk meredakan perdarahan dengan
cara mengkonstriksi pembuluh darah, meredakan inflamasi dengan vasokonstrisi,
dan meredakan nyeri dengan memperlambat kecepatan konduksi saraf, menyebabkan
mati rasa, dan bekerja sebagai counterirritant.
A. Kompres
Dingin Kering atau Kirbat
a. Kompres
Dingin Kering atau Kirbat Es Biasa
Pengertian
Memberikan kompres
dingin kepada pasien yang memerlukannya, dengan menggunakan kirbat es yang
telah diisi dengan potongan es.
Tujuan
1. Membantu
menurunkan suhu tubuh
2. Mengurangi
rasa sakit atau nyeri
3. Membantu
mengurangi perdarahan
4. Membatasi
peradangan
Dilakukan pada :
1. Pasien
yang suhunya tinggi
2. Pasien
perdarahan hebat
3. Pasien
yang kesakitan
Alat
1. Bengkok
2. Kantong es
3. Sarung pelindung
Bahan
1. Potongan
es secukupnya dalam wadah
2. Kassa
gulung
3. Plester
4. Larutan
klorin 0,5%
Perlengkapan
1. Baki dan alas
2. Perlak kecil atau handuk kecil dan
alas
3. Tempat
cuci tangan
4. Sarung
tangan
5. Alat
tulis dan buku catatan
6. Tempat
sampah basah
7. Tempat
sampah kering
8. Baskom
Pelaksanaan1
|
NO
|
LANGKAH
KERJA
|
RASIONALISASI
|
|
1
|
Menyiapkan
alat dan bahan
1. Sebelum
dimasukkan ke dalam kantong es, potongan es dicelupkan dulu ke dalam air
untuk menghilangkan ujung- ujungnya yang runcing.
2. Isi alat dengan keping es sebanyak
stengah hingga dua pertiga kantong.
3. Keluarkan udara yang berlebihan
dengan menekuk atau memelintir alat
4. Pasang tutup kantong atau kolar es
dengan kuat, atau buat sebauh simpul pada sarung tangan di bagian ujung yang
terbuka. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran cairan jika es meleleh.
5. Pegang alat secara terbalik dan
periksa jika ada kebocoran
6. Bungkus alat dengan sarung penutup
yang lembut, jika alat tersebut belum dibungkus.
7. Pertahankan alat tersebut pada
tempatnya dengan menggunakan kasa gulung, pengikat,atau handuk. Fiksasi
dengan plester sesuai kebutuhan.
|
Memudahkan kita dalam melakukan
tindakan
|
|
2.
|
Mengkaji pemberian kompres dingin
terhadap pasien
|
Memastikan apakah kompres tersebut
benar diberikan untuk pasien tersebut
|
|
3.
|
Melakukan informed concent
|
Mempermudah kita dalam melakukan
tindakan dengan bekerja sama dengan pasien karena antara bidan dan pasien
sudah ada perjanjian
|
|
4.
|
Mencuci tangan di bawah ait mengalir
|
Mencegah penularan infeksi
|
|
5.
|
Memasang perlak dan alasnya
|
Mencegah air membasahi kasur
pasien
|
|
6.
|
Mendekatkan alat dan bahan
|
Memudahkan dalam pelaksanaan
prosedur kerja
|
|
7.
|
Memakai sarung tangan
|
Pencegahan infeksi
|
|
8.
|
Memasang kompres pada bagian tubuh
yang memerlukan dan hanya pada jangka waktu yang telah ditentukan guna
menghindari efek yang mebahayakan dari kompres dingin yang berkepanjangan
|
Memberikan efek kompres yang
optimal
|
|
9.
|
Membereskan alat- alat
|
|
|
10.
|
Merendam sarung tangan dalam larutan
klorin
|
Dekontaminasi
|
|
11.
|
Mencuci tangan
|
Pencegahan infeksi
|
|
12.
|
Mendokumentasikan di buku catatan
|
Pencatatan
yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian kompres (misal,
pengulangan pemberian atau pemberian terlewat)
|
b. Kompres
Dingin Kering atau Kirbat Es Leher
Pengertian
Memasang kompres dingin
pada leher
Tujuan
Mengurangi perdarahan,
rasa sakit, dan lain- lain
Dilakukan
pada
Pasien pasca bedah
tonsil (tonsilectomi), dan lain- lain
Alat
1. Bengkok
2. Kantong es
3. Sarung pelindung
Bahan
1. Potongan
es secukupnya dalam wadah
2. Kassa
gulung
3. Plester
4. Larutan
klorin 0,5%
Perlengkapan
1. Baki dan alas
2. Perlak kecil atau handuk kecil dan
alas
3. Tempat
cuci tangan
4. Sarung
tangan
5. Alat
tulis dan buku catatan
6. Tempat
sampah basah
7. Tempat
sampah kering
8. Baskom
Pelaksanaan1
|
NO
|
LANGKAH
KERJA
|
RASIONALISASI
|
|
1
|
Menyiapkan
alat dan bahan
1. Sebelum
dimasukkan ke dalam kantong es, potongan es dicelupkan dulu ke dalam air
untuk menghilangkan ujung- ujungnya yang runcing.
2. Isi alat dengan keping es sebanyak
stengah hingga dua pertiga kantong.
3. Keluarkan udara yang berlebihan
dengan menekuk atau memelintir alat
4. Pasang tutup kantong atau kolar es
dengan kuat, atau buat sebauh simpul pada sarung tangan di bagian ujung yang
terbuka. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran cairan jika es meleleh.
5. Pegang alat secara terbalik dan
periksa jika ada kebocoran
6. Bungkus alat dengan sarung penutup
yang lembut, jika alat tersebut belum dibungkus.
7. Pertahankan alat tersebut pada
tempatnya dengan menggunakan kasa gulung, pengikat,atau handuk. Fiksasi
dengan plester sesuai kebutuhan.
|
Memudahkan kita dalam melakukan
tindakan
|
|
2.
|
Mengkaji pemberian kompres dingin
terhadap pasien
|
Memastikan apakah kompres tersebut
benar diberikan untuk pasien tersebut
|
|
3.
|
Melakukan informed concent
|
Mempermudah kita dalam melakukan
tindakan dengan bekerja sama dengan pasien karena antara bidan dan pasien
sudah ada perjanjian
|
|
4.
|
Mencuci tangan di bawah ait mengalir
|
Mencegah penularan infeksi
|
|
5.
|
Memasang perlak dan alasnya
|
Mencegah air membasahi kasur
pasien
|
|
6.
|
Mendekatkan alat dan bahan
|
Memudahkan dalam pelaksanaan
prosedur kerja
|
|
7.
|
Memakai sarung tangan
|
Pencegahan infeksi
|
|
8.
|
Memasang kompres pada bagian leher
yang memerlukan dan hanya pada jangka waktu yang telah ditentukan guna
menghindari efek yang mebahayakan dari kompres dingin yang berkepanjangan
|
Memberikan efek kompres yang
optimal
|
|
9.
|
Membereskan alat- alat
|
|
|
10.
|
Merendam sarung tangan dalam larutan
klorin
|
Dekontaminasi
|
|
11.
|
Mencuci tangan
|
Pencegahan infeksi
|
|
12.
|
Mendokumentasikan di buku catatan
|
Pencatatan
yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian kompres (misal,
pengulangan pemberian atau pemberian terlewat)
|
c. Kompres
Dingin Kering atau Kirbat Es Gantung
Pengertian
Memasang kompres es
secara tidak langsung di atas tubuk pasien yang memerlukan
Tujuan
Mengurangi perdarahan,
rasa nyeri, dan pergerakan
Dilakukan
pada
Pasien dengan
perdarahan pada usus (dalam rongga perut), sakit kepala yang hebat
Alat
1. Bengkok
2. Kantong es
3. Sarung pelindung
4. Lengkungan atau busur selimut
5. Tali khusus kompres es
6. Kain atau handuk untuk mengantungkan
kompres es
7. Peniti secukupnya
Bahan
1. Potongan
es secukupnya dalam wadah
2. Kassa
gulung
3. Plester
4. Larutan
klorin 0,5%
Perlengkapan
1. Baki dan alas
2. Perlak kecil atau handuk kecil dan
alas
3. Tempat
cuci tangan
4. Sarung
tangan
5. Alat
tulis dan buku catatan
6. Tempat
sampah basah
7. Tempat
sampah kering
8. Baskom2
Pelaksanaan1
|
NO
|
LANGKAH
KERJA
|
RASIONALISASI
|
|
1
|
Menyiapkan
alat dan bahan
1. Sebelum
dimasukkan ke dalam kantong es, potongan es dicelupkan dulu ke dalam air
untuk menghilangkan ujung- ujungnya yang runcing.
2. Isi alat dengan keping es sebanyak
stengah hingga dua pertiga kantong.
3. Keluarkan udara yang berlebihan
dengan menekuk atau memelintir alat
4. Pasang tutup kantong atau kolar es
dengan kuat, atau buat sebauh simpul pada sarung tangan di bagian ujung yang
terbuka. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran cairan jika es meleleh.
5. Pegang alat secara terbalik dan
periksa jika ada kebocoran
6. Bungkus alat dengan sarung penutup
yang lembut, jika alat tersebut belum dibungkus.
7. Pertahankan alat tersebut pada
tempatnya dengan menggunakan kasa gulung, pengikat,atau handuk. Fiksasi
dengan plester sesuai kebutuhan.
|
Memudahkan kita dalam melakukan
tindakan
|
|
2.
|
Mengkaji pemberian kompres dingin
terhadap pasien
|
Memastikan apakah kompres tersebut
benar diberikan untuk pasien tersebut
|
|
3.
|
Melakukan informed concent
|
Mempermudah kita dalam melakukan
tindakan dengan bekerja sama dengan pasien karena antara bidan dan pasien
sudah ada perjanjian
|
|
4.
|
Mencuci tangan di bawah ait mengalir
|
Mencegah penularan infeksi
|
|
5.
|
Memasang perlak dan alasnya
|
Mencegah air membasahi kasur
pasien
|
|
6.
|
Mendekatkan alat dan bahan
|
Memudahkan dalam pelaksanaan
prosedur kerja
|
|
7.
|
Memakai sarung tangan
|
Pencegahan infeksi
|
|
8.
|
Lengkungan atau busur selimut dipasang
|
|
|
9.
|
Tali dipasang pada busur agar kendor,
sehingga bagian tengah melengkung ke dalam dan hampir menyentuh perut atau
kepala pasien
|
|
|
10.
|
Pada handuk atau kain diberi peniti
|
|
|
11.
|
Kompres es diletakkan di atas handuk
atau kain tepat di atas bagaian tubuh yang akan dikompres.
|
|
|
12.
|
Pasien diselimuti
|
|
|
13.
|
Membereskan alat- alat
|
|
|
14.
|
Merendam sarung tangan dalam larutan
klorin
|
|
|
15.
|
Mencuci tangan
|
|
|
16.
|
Mendokumentasikan
|
|
B. Kompres
Dingin Basah
Pengertian
Kompres
basah adalah balutan kasa basah yang sering diletakkan di atas luka terbuka.
Kompres kasa dan kemasan basah dapat diberikan dalam bentuk panas atau dingin.
Tujuan
1. Membersihkan
luka
2. Mengobati
luka
3. Mencegah
kekeringan pada luka tertentu
Dilakukan pada
1. Luka
yang kotor
2. Pasien
colostomi sebelum dilakukan opersi
Alat dan bahan
Kompres
1.
Sarung tangan disposabel atau sarung
tangan steril
2.
Wadah untuk larutan
3.
Larutan dengan kekuatan dan suhu yang
telah ditetapkan oleh dokter
4.
Termometer
5.
Kasa segiempat
6.
Sarung tangan, forsep, dan lidi kapas
(jika kompres harus steril)
7.
Jeli minyak
8.
Handuk penyekat
9.
Plastik
10. Tali
11. Botol
air panas atau bantalan akuatermia atau antung es
12. Balutan
steril (ika perlu)
Kemasan
basah
1.
Sarung tangan disposabel
2.
Kain flanel atau kemasan handuk
3.
Baskom air dengan beberapa keping es
4.
Termometer
5.
Sarung tangan steril, forsep, dan lidi
kapas (jika sterilitas harus dipertahankan)
6.
Jeli minyak
7.
Material penyekat
8.
Plastik
9.
Kantong es
10. Balutan
steril jika perlu
Perlengkapan
1. Baki dan alas
2. Perlak kecil atau handuk kecil dan
alas
3. Tempat
cuci tangan
4. Sarung
tangan
5. Alat
tulis dan buku catatan
6. Tempat
sampah basah
7. Tempat
sampah kering
8. Baskom
Pelaksanaan
1. Menyiapkan
alat dan bahan
2. Melakukan
informed concent
3. Mencuci
tangan di bawah ait mengalir
4. Memasang
perlak dan alasnya pada bagian yang akan dikompres
5. Mendekatkan
alat dan bahan
6.
Berikan privasi klien
7.
Siapkan klien
·
Bantu klien ke posisi nyaman
·
Pajankan area tubuh yang akan dikompres
·
Sangga bagian tubuh yang memerlukan
kompres kasa atau kemasan basah
·
Pasang sarung tangan disposabel, dan
lepaskan balutan luka, jika ada.
8.
Basahi kompres kasa atau kemasan
·
Letakkan kasa di dalam larutan
·
Dinginkan flanel atau handuk di dalam
baskom berisi airu dan keping es
9.
Lindungi kulit sekitar luka sesuai
indikasi
·
Denga lidi kapas, oleskan jeli minyak ke
kulit di sekeliling luka, jangan oleskan ke luka atau area kulit yang rusak.
Jeli minyak melindungi kulit dari
kemungkinan efek iritasi dari beberaa larutan
10.
Tempelkan kompres kasa basah atau
kemasan basah
·
Peras kompres kasa sehingga larutan
tidak menetes dari kompres kasa tersebut
·
Tempelkan kasa secara lembut dan
bertahap pada area yang dituju dan jika dapat ditoleransi klien, tempelkan
kompres kasa hingga menutupi area yang dikompres dengan baik. Padatkan kasa
sampai pas memenuhi semua permukaan luka.
·
Peras flanel
·
Tempelkan flanel ke area tubuh, tutupi
area tubuh yang dikompres
11.
Segera sematkan dan fiksasi kompres
·
Tutupi kasa atau flanel segera dengan
handuk kering atau selembar plastik. Langkah ni membantu mempertahankan
efektivitasnya
·
Fiksasi kompres kasa atau kemasan di
tempatnya dengan menggunakan pengikat kasa ayau plester.
12.
Pantau klien
13.
Angkat kompres kasa atau kemasan pada
waktu yang telah ditentukan.
14.
Dokumentasikan5
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teknik pemberian
obat dan terapi dapat diberikan dengan berbagi cara disesuaikan dengan kondisi
pasien, diantaranya : pemberian obat kulit, mata dan telinga, terapi panas
dingin, serta kompres panas dingin.
Dalam pemberian
obat dan terapi ada hal- hal yang perlu diperhatikan, yaitu indikasi dan
kontraindikasi pemberian obat dan terapi. Sebab ada jenis- jenis terapi
tertentu yang tidak bereaksi jika diberikan dengan cara yang salah.
3.2 Saran
Dalam memberikan obat dan terapi pada
pasien, kita sebagai tenaga medis (bidan) harus memahami dengan benar cara atau
teknik pemberian obat dan terapi serta memperhatikan indikasi dan
kontraindikasi dari pemberian obat dan terapi tersebut. Pemberian obat dan terapi
yang tidak sesuai bisa saja memperburuk kondisi pasien yang kita tangani.
DAFTAR PUSTAKA
1.
Potter dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
2. Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Konsep & Aplikasi Kebutukan Dasar Klien.
Jakarta : Salemba Medika
3. Berman, Audrey,et al,. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier
Erb. Jakarta : EGC
4. Bandiyah, Siti. 2009. Keterampilan Dasar Praktek Klinik :
Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika
5. Uliyah, Musrifatul. A. Aziz Alimul
Hidayah. 2008. Keterampilan Dasar Klinik
untuk Kebidanan. Jakarta : Salemba



Tidak ada komentar:
Poskan Komentar