Senin, 14 Mei 2012

PEMBERIAN OBAT TOPIKAL PADA MATA, KULIT, TELINGA, DAN KOMPRES PANAS DINGIN


2.1 Pemberian Obat pada Mata

2.1.1 Pengertian, Jenis-Jenis Dan Tujuan
Cara memberikan obat pada mata dengan tetes mata atau salep mata obat tetes mata. Obat yang biasa digunakan oleh klien ialah tetes mata dan salep, meliputi preparat yang biasa dibeli bebas , misalnya air mata buatan dan vasokonstrikstor (misalnya visine, dsb). Namun banyak klien menerima resep obat-obatan oftalmic untuk kondisi mata seperti glaukoma dan untuk terapi setelah suatu prosedur, misalnya ekstraksi katarak. Persentase besar klien yang menerima obat mata ialah klien  lanjut usia. Masalah yang berhubungan dengan usia termasuk penglihatan yang buruk, tremor tangan dan kesulitan dalam memegang atau menggunakan botol obat, mempengaruhi kemudahan lansia menggunakan obat mata secara mandiri. Perawat atau bidan memberi penjelasan kepada klien dan anggota keluarga tentang teknik yang digunakan dalam pemberian obat mata. (Donnelly. 1987) menganjurkan untuk memperlihatkan klien setiap langkah prosedur pemberian obat tetes mata untuk meningkatkan kepatuhan klien. 1

Obat mata dapat digolongkan menjadi
a.       Obat mata golongan antiseptik dan antiinfeksi
b.      Obat mata golongan kortikosteroid
c.       Obat mata lainnya1

Tujuan pemberian obat pada mata diantaranya:
·         digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa,
·         digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
·         Obat mata golongan antiseptik dan antiinfeksi digunakan pada gangguan mata karena adanya infeksi oleh mikroba, masuknya benda asing ke dalam kornea mata atau kornea mata yang luka/ ulkus.
·         Obat mata kortikosteroid digunakan untuk radang atau alergi mata atau juga bengkak yang bisa disebabkan oleh alergi itu sendiri atau oleh virus. Karena infeksi mata oleh virus itu resisten terhadap pengobatan biasanya digunakan obat mata golongan kortikosteroid untuk menghilangkan gejalanya saja. Kalaupun dengan antiseptik hal itu menghindari infksi sekunder.
·         Gabungan antiseptik dengan kortikosteroid digunakan untuk masalah mata yang disebabkan oleh mikroba dan dengan keluhan bengkak/ radang juga gatal atau alergi.
·         Digunakan untuk keluhan mata karena habis operasi.

Prinsip pemberian obat mata
1.      Kornea mata banyak disuplai serabut nyeri sehingga menjadi sangat sensitif terhadap apapun yang diberikan ke kornea. Oleh karena itu, perawat atau bidan menghindari obat mata apapun secara langsung ke kornea.
2.      Resiko penularan infeksi dari satu mata ke mata lain sangatlah tinggi. Perawat atau bidan menghindari menyentuh kelopak mata atau struktur mata yang lain dengan alat tetes mata atau tube salep.
3.      Perawat atau bidan menggunakan obat mata hana untuk mata yang terinfeksi. 1







2.1.2 Indikasi dan kontra indikasi pemberian obat pada mata
Indikasi
Biasanya obat tetes mata digunakan dengan indikasi sebagai berikur
·         meredakan sementara mata merah akibat iritasi ringan yang dapat disebabkan oleh debu, sengatan sinar matahari, pemakaian lensa kontak, alergi atau sehabis berenang.
·         antiseptik dan antiinfeksi.
·         radang atau alergi mata.

Kontraindikasi
Obat tetes mata yang mengandungnafazolin hidroksida tidak boleh digunakan pada penderita glaukoma atau penyakit mata lainnya yang hebat, bayi dan anak. Kecuali dalam pegawasan dan nasehat dokter.

2.1.4 Persiapan Alat dan Bahan
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep.
2. Pipet.
3. Pinset anatomi dalam tempatnya.
4. Korentang dalam tempatnya.
5. Plestier.
6. Kain kasa.
7. Kertas tisu.
8. Balutan.
9. Sarung tangan.
10. Air hangat/kapas pelembab.


a.       tetes atau salep mata
1.      botol obat dengan tetes mata steril atau tube salep.
2.      Patch dan plester mata (bila perlu).
3.      Kartu, format, atau huruf cetak nama obat.
4.      Bola kapas atau tisu.
5.      Wadah cuci berisi air hangat atau lap.
6.      Sarung tangan sekali pakai.

b.      cakram intraokuler
1.      cakram obat.
2.      Kartu, format, atau huruf cetak nama obat.
3.      Sarung tangan sekali pakai. 1


2.1.5 Prosedur kerja1
No.
Langkah
rasional
Gambar
1.
Tinjau kembali program obat dari dokter, termasuk nama klien, nama obat, konsentrasi obat, jumlah tetesan obat (jika dalam bentuk cair), waktu dan mata (kanan atau kiri) yang menerima obat.

Memastika kelepatan pemberian obat.


2.
Cuci tangan

Mengurangi penularan mikroorganisme.

3.
Siapkan peralatan dan suplai
c.       tetes atau salep mata
7.      botol obat dengan tetes mata steril atau tube salep.
8.      Patch dan plester mata (bila perlu).
9.      Kartu, format, atau huruf cetak nama obat.
10.  Bola kapas atau tisu.
11.  Wadah cuci berisi air hangat atau lap.
12.  Sarung tangan sekali pakai.
d.      cakram intraokuler
4.      cakram obat.
5.      Kartu, format, atau huruf cetak nama obat.
6.      Sarung tangan sekali pakai.


Tetes mata tersedia dalam bemtuk botol plastik atau kaca.
Salep dignakan dalam tube kecil.


4.
Periksa atau identifikasi klien dengan membaca gelang identifikasi atau menanyakan nama klien
Memastikan klien yang menerima obat benar.
5.
Jika tercapai patch mata, lepaskan.



6.
Kaji kondisi stuktur mata luar.

Memberi data dasar yang selanjutnya digunakan untuk menentukan apakah timbul respon lokal terhadap pengobatan juga mengindikasikan perlunya membersihkan mata sebelum obat diberikan.

7.
Periksa apakah klien alergi terhadap lateks, jika alergi gunakan sarung tangan yang buka lateks.
Klien akan megalami respons hipersensitivitas jika sarung tangan menyentuh membran mukosa.

8.
Jelaskan prosedur kepada klien.
Klien sering merasa cemas tentang obat yang dimasukan ke mata karena adanya kemungkinan ketidaknyamanan.
9.
Atur suplai di sisi tempat tidur dan gunakan sarung tangan.
Memastikan prosedur yang lancar dan teratur. Sarunng tangan mengurangi pajanan terhadap drainase yang infeksius.

10.
Minta klien untuk berbaring terlentang atau duduk dikursi dengan kepala sedikit hiperekstensi.
Memudahkan obat dimasukkan dan memudahkan drainase yang ekluar dari mata.

11.
Jika ada krusta (keropeng) atau drainase disepanjang kelopak mata atau kantus dalam, buang dengan perlahan. Basahi kerak yang kering dan sulit dipindahkan dengan menggunakan kain atau bola kapas lembab selama beberapa menit. Selalu mengusap dari kantus ke kantus luar.
Krusta atau drainase merupakan tempat mikroorganisme berkumpul. Membasahi krusta akan mempermudah pembuangannya, dengan demikian mencegah tekanan langsung pada mata.

12.
Masukan obat tetes, salep atau cakram:
a.       Jika memasukkan obat tetes atau salep, dengan tangan yang tidak dominan, pegang bola kapas atau tisu pembersih pada tulang pipi klien tepat di bawah kelopak mata.
b.      Jika memasukan obat tetes atau salep, dengan tisu atau kapas diletakkan dibawah kelopak mata bawah, tekan kebawah dengan lembut, dengan ibu jari atau telunjuk pada lingkaran tulang mata.



c.       Minta klien melihat kelangit-langit.


Kapas atau tisu mengabsorpsi obat yang keluar dari mata.





Teknik ini memenjankan kantong konjungtiva. Menarik kembali (retraksi) lingkaran tulang mata. Mencegah tekanan dan trauma pada bola mata dan mencegah jari menyentuh mata.



Tindakan ini menarik kornea ke atas dan menjauhi kantong konjungtiva dan mengurangi stimulasi refleks mengedip.


d.      Memasukkan tetes mata:
1.      Dengan tangan yang dominan pada dahi klien, pegang alat tetes mata berisi obat kira-kira sampai 2 cm diatas kantong konungtiva.









2.      Teteskan sejumlah tetesan yang diresepkan ke dalam kantong konjungtiva.




3.      Jika klien mengedip atau menutup mata atau jika tetes mata jatuh dibatas mata luar, ulangi prosedur.

4.      Ketika memberikan obat yang dapat menimbulkan efek sistemik, lindungi jari anda dengan tisu bersih dan beri tekanan lembut pada duktus nasolakrimalis klien selama 30 sampai 60 detik.


5.      Setelah memasukkan obat, minta klien untuk menutup mata dengan lembut.

Membantu mencegah alat tetes mata menyentuh struktur mata secara tidak sengaja sehingga mengurangi resiko cedera pada mata dan perpindahan infeksi ke alat tetes mata. Obat mata sudah disterilkan.

Kantong konjungtiva biasanya menampung 1 sampai 2 tetes.

Memasukkan tetesan ke dalam kantong mata memungkinkan distribusi yang merata.




Efek terapeutik diperoleh hanya jika tetesan mata masuk ke kantong konjungtiva.


Mencegah aliran obat berlebihan ke dalam saluran hidung dan faring. Mencegah absorpsi ke sirkulasi sistemik.






Membantu distribusi obat, mendorong obat dari kantong konjungtiva


e.       Memasukkan salep mata:
1.      Dengan memegang aplikator salep diatas batas kelopak mata, berikan aliran salep tipis mrata disepanjang sisi dalam kelopak mata bawah pada konjungtiva.
2.      Minta klien melihat kebawah.



3.      Berikan aliran tipis salep konjungtiva di sepanjang kelopak atas mata.


4.      Minta klien menutup mata dan menggosok kelopak dengan lembut dalam gerakan memutar menggunakan kapas.

5.      Jika terdapat kelebihan obat pada kelopak mata, seka obat tersebut dengan lembut dari bagian dalam ke bagian luar kantus.


6.      Jiak klien menggunakan patch mata, kenakan dengan menempatkan patch  yang bersih diatas  mata yang diobati, sehingga yang bersih diatas  mata yang diobati, sehingga yang bersih diatas  mata yang diobati, sehingga yang bersih diatas  mata yang diobati, sehingga yang bersih diatas  mata yang diobati, sehingga yang bersih diatas  mata yang diobati, sehingga yang bersih diatas  mata yang diobati, sehingga seluruh mata tertutup. Plester dengan baik tanpa menekan mata.

Obat didistribusi merata dalam mata mata dan batas kelopak mata.





Mengurangi refleks mengedip selama pemberian salep.


Mendistribusikan obat merata dalam mata dan batas kelopak mata



Mendistribusikan obat lebih lanjut tanpa menimbulkan trauma pada mata.



Meningkatkan rasa nyaman dan mencegah trauma pada mata





Mengurangi peluang infeksi


f.       Memasang  cakram inokuler
1.      Buka kemasan berisi cakram obat dengan lembut, tekan cakram pada ujung jari sehingga cakram melekat pada jari.


2.      Dengan tangan yang lain, tarik kelopak mata bawah klien menjauhi matanya. Minta klien melihat ke atas.

3.      Tempatkan cakram didalam kantong konjungtiva, sehingga cakram mengapung pada sklera antara iris dan kelopak mata bawah.

4.      Tarik kelopak mata bawah klien keluar dan keatas cakram. Seharusnya tidak bisa melihat cakram pada saat ini.
Ulangi tindakan ini jika dapat melihat cakram obat.

Memungkinkan perawat atau bidan menginspeksi adanya kerusakan atau deformitas cakram sebelelum diberikan.




Menyiapkan kantong konjungtiva untuk menerima cakram obat.



Menjamin pengantaran obat.






Menjamin keakuratan pengantaran obat.

13.
Keluarkan cakram intraokuler
a.       Cuci tangan dan kenakan sarung tangan.

b.      Jelaskan prosedur kepada klien.

c.       Dengan lembut tarik kelopak mata bawah klien untuk memajankan cakram.
d.      Dengan jri telunjuk dan ibu jari tangan yang lain, jepit cakram obat dan angkat keluar dari mata klien.


Mengurangi penularan mikroorganisme.


Menyiapkan klien untuk menjalani prosedur.

14.
Buang  suplai yang kotor ke dalam wadah yang tepat. Lepas dan buang sarung tangan dan cuci tangan.

Mempertahankan lingkungan yang rapi pada sisi tempat tidur dan mengurangi penularan mikroorganisme.

15.
Observasi resons klien terhadap pengobatan, perhatikan tanda dan gejala efek sistemik yang potensial dan kondisi mata.

Mengevaluasi reaksi terhadap obat.

16.
Catat konsentrasi obat, jumlah tetesan atau cakram waktu pemberian dan mata yang menerima obat (kanan atau kiri).
Pencatatan yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian obat (misal, pengulangan pemberian dosis obat atau pemberian obat terlewat)


2.2 Pemberian Obat Topikal pada Kulit
2.2.1 Pengertian
Pemberian obat topikal pada kulit merupakan cara memberikan obat pada kulit dengan mengoleskan obat yang akan diberikan. Pemberian obat topikal pada kulit memiliki tujuan yang lokal, seperti pada superficial epidermis. Obat ini diberikan untuk mempercepat proses penyembuhan, bila pemberian per-oral tidak dapat mencapai superficial epidermis yang miskin pembuluh darah kapiler. Efek sistemik tidak diharapkan pada pemberian obat topikal pada kulit ini. Apabila terjadi kerusakan kulit setelah penggunaan obat topikal pada kulit, maka kemungkinan besar efek sistemik akan terjadi.2
Pemberian obat topikal pada kulit terbatas hanya pada obat-obat tertentu karena tidak banyak obat yang dapat menembus kulit yang utuh. Keberhasilan pengobatan topical pada kulit tergantung pada:
·         Umur
·         Pemilihan agen topikal yang tepat
·         Lokasi dan luas tubuh yang terkena atau yang sakit
·         Stadium penyakit
·         Konsentrasi bahan aktif dalam vehikulum
·         Metode aplikasi
·         Penentuan lama pemakaian obat
Penetrasi obat topical pada kulit, melalui: stratum korneum à epidermis à papilla dermis à aliran darah2

Proses penyerapan obat topikal jika diberikan pada kulit, yaitu:
·         Lag phase - hanya di atas kulit, tidak masuk ke dalam darah
·         Rising - dari stratum korneum diserap sampai ke kapiler dermis darah
·         Falling - obat habis di stratum korneum. Jika terus diserap kedalam, khasiatnya akan semakin berkurang
Kurangnya konsentrasi obat yang sampai ke tempat sasaran bisa karena proses eksfoliasi (bagian atas kulit mengelupas), terhapus atau juga karena tercuci.
Faktor-faktor yang berperan dalam penyerapan obat, diantaranya adalah2:
·         Keadaan stratum korneum yang berperan sebagai sawar kulit untuk obat.
·         Oklusi, yaitu penutup kedap udara pada salep berminyak yang dapat meningkatkan penetrasi dan mencegah terhapusnya obat akibat gesekan, usapan serta pencucian. Namun dapat mempercepat efek samping, infeksi, folikulitis dan miliaria jika penggunaannya bersama obat atau kombinasinya tidak tepat.
·         Frekuensi aplikasi, seperti pada obat kortikosteroid yang kebanyakan cukup diaplikasikan satu kali sehari, serta beberapa emolien (krim protektif) yang akan meningkat penyerapannya setelah pemakaian berulang, bukan karena lama kontaknya.
·         Kuantitas obat yang diaplikasi
Jumlah pemakaian obat topikal pada kulit ini harus cukup, jika pemakaiannya berlebihan justru malah tidak berguna. Jumlah yang akan dipakai, sesuai dengan luas permukaan kulit yang terkena infeksi (setiap 3% luas permukaan kulit membutuhkan 1 gram krim atau salep).
·         Faktor lain
Faktor lain seprti peningkatan penyerapan, dapat terjadi apabila:
-     Obat dipakaikan dengan cara digosok sambil dipijat perlahan
-     Dioles searah dengan pertumbuhan folikel rambut
-     Ukuran partikel obat diperkecil
-     Sifat kelarutan dan penetrasi obat diperbaiki
-     Konsentrasi obat yang diberikan tepat
Contoh obat topikal untuk kulit :
1.      Anti jamur    : ketoconazol, miconazol, terbinafin
2.      Antibiotik     : oxytetrasiklin
3.      Kortikosteroid : betametason, hidrokortison

2.2.2 Tujuan
Pemberian obat topikal pada kulit bertujuan untuk mempertahankan hidrasi atau cairan tubuh untuk mencapai homeostasis, melindungi permukaan kulit, mengurangi iritasi kulit, menghilangkan gejala atau mengatasi infeksi. 2
2.2.3 Jenis
Pemberian obat topikal pada kulit dapat bermacam-macam seperti:
  • ·         Krim

  • ·         Salep (ointment)

  • ·         Lotion

  • ·         Lotion yang mengandung suspensi

  • ·         Bubuk atau powder

  • ·         Spray aerosol.


2.2.4 Keuntungan dan Kerugian
·         Keuntungan
Untuk efek lokal, mencegah first-pass effect serta meminimalkan efek samping sistemik.
Untuk efek sistemik, menyerupai cara pemberian obat melalui intravena (zero-order)
·         Kerugian
Secara kosmetik kurang menarik
Absorbsinya tidak menentu
2.2.5 Alat dan Bahan
-        Troli
-        Baki dan alas
-        Perlak dan alas
-        Bengkok (nierbekken)
-        Air DTT dalam kom
-        Kapas
-        Sarung tangan
-        Kassa kecil steril (sesuai kebutuhan)
-        Kassa balutan, penutup plastik dan plester (sesuai kebutuhan)
-        Lidi kapas atau tongue spatel
-        Obat topikal sesuai yang dipesankan (krim, salep, lotion, lotion yang mengandung suspensi, bubuk atau powder, spray aerosol)
-        Buku obat (ISO)
-        Baskom
-        Larutan klorin 0.5% dalam tempatnya
-        Sabun cuci tangan
-        Lap handuk
-        Tempat sampah basah dan kering
2.2.6 Prosedur kerja1
NO.
LANGKAH - LANGKAH
RASIONALISASI
1.
Cek instruksi dokter untuk memastikan nama obat, daya kerja, tempat pemberian
Untuk memastikan kepada siapa obat tersebut akan diberikan, agar meminimalisir kesalahan pemberian
2.
Jelaskan prosedur tindakan (lakukan Informed Consent)
Agar klien mengetahui tindakan seperti apa yang akan dia dapatkan
3.
Setelah disiapkan pada baki dalam troli, dekatkan alat dan bahan
Agar memudahkan penjangkauan alat dalam melakukan tindakan
4.
Susun alat tersebut secara secara ergonomis, berurutan sesuai dengan pemakaian
Agar memudahkan kita dalam penggunaan alat-alat
5.
Cuci tangan 7 langkah (sesuai dengan standar pencegahan infeksi) dengan sabun dan air mengalir, lalu keringkan dengan lap handuk
Untuk pencegahan infeksi
6.
Persiapkan posisi klien dengan tepat dan nyaman
Agar dapat mempermudah pemberian obat dan tetap perhatikan kenyamanan dan privasi klien
7.
Identifikasi klien secara tepat
Untuk memastikan keadaan klien
8.
Pakai sarung tangan
Untuk pencegahan infeksi
9.
Inspeksi kondisi kulit. Cuci area yang sakit, lepaskan semua debris dan kerak pada kulit  
Untuk membersihkan area yang akan diobati agar penyerapan obat dapat maksimal
10.
Keringkan atau biarkan area kering oleh udara
Untuk pencegahan infeksi
11.
Bila kulit terlalu kering dan mengeras, gunakan agen topikal
Untuk mempermudah penggunaan obat
12.
Oleskan agen topical :
·         Krim, salep dan lotion yang mengandung minyak
a)   Letakkan satu sampai dengan dua sendok teh obat di telapak tangan kemudian lunakkan dengan menggosok lembut diantara kedua tangan
b)   Usapkan merata diatas permukaan kulit, lakukan gerakan memanjang searah pertumbuhan bulu
c)   Jelaskan pada klien bahwa kulit dapat terasa berminyak setelah pemberian
·         Lotion yang mengandung suspensi
a)   Kocok wadah dengan kuat
b)   Oleskan sejumlah kecil lotion pada kassa balutan atau bantalan kecil
c)   Jelaskan pada klien bahwa area akan terasa dingin dan kering
·         Bubuk atau powder
a)   Pastikan bahwa permukaan kulit kering secara menyeluruh
b)   Regangkan dengan baik lipatan bagian kulit seperti diantara ibu jari atau bagian bawah lengan
c)   Bubuhkan secara tipis pada area yang bersangkutan
·         Spray aerosol
a)   Kocok wadah dengan keras
b)   Baca label untuk jarak yang dianjurkan untuk memegang spray menjauhi area (biasanya 15-30 cm)
c)   Bila leher atau bagian atas dada harus disemprot, minta klien untuk memalingkan wajah dari arah spray
d)  Semprotkan obat dengan cara merata pada bagian yang sakit

13.
Rapikan klien, kembalikan peralatan yang masih dapat dipakai, buang peralatan yang sudah tidak digunakan pada tempat yang sesuai dan dekontaminasi alat
Untuk pencegahan infeksi
14.
Cuci tangan 7 langkah (sesuai dengan standar pencegahan infeksi) dengan sabun dan air mengalir, lalu keringkan dengan lap handuk
Untuk pencegahan infeksi
15.
Buat laporan mengenai tindakan yang telah dilakukan
Untuk dokumentasi
16.
Beritahukan pada klien tentang pengobatan yang telah dilakukan
Agar klien mengetahui tidakan yang telah dilakukan serta keadaan terakhirnya


2.2.7 Indikasi dan Kontraindikasi
·         Indikasi: infeksi lokal, dermatitis, psoriasis ringan, keloid, parut hipertrofik, alopesia areata, aknekistik dan prurigo
·         Kontraindikasi: ulkus

2.3 Pemberian Obat pada Telinga

2.3.1 Pengertian

Struktur telinga dalam sangat sensitif terhadap suhu yang ekstrem. Apabila tetes telinga atau cairan irigasi tidak diberikan pada suhu ruangan, dapat timbul vertigo (pusing berat) atau mual. Walaupun struktur telinga luar tidak steril, adalah bijak untuk menggunakan tetesan dan larutan steril, jika gendang telinga rupture. Masuknya larutan tidak steril ke dalam struktur telinga tengah dapat menyebabkan infeksi. Dengan mendrainase telinga, perawat bersama dokter dapat mengecek untuk meyakinkan bahwa gendang telinga klien tidak ruptur. Perawat tidak pernah boleh menyumbat saluran telinga dengan alat tetes atau puit irigasi. Memaksa obat masuk ke dalam telinga yang tersumbat dapat menciptakan tekanan yang menimbulkan cedera pada gendang telinga.

Struktur telinga luar pada anak berbeda dari yang dimiliki orang dewasa. Ketika memasukkan tetesan atau mengairi telinga perawat harus meluruskan saluran telinga. Pada bayi dan anak kecil perawat meluruskan saluran kartilago telinga dengan memegang daun telinga dan menariknya ke bawah dan kebelakang dengan lembut. Pada orang dewasa saluran telinga lebih panjang dan tersusun atas tulang dibawahnya dan diluruskan dengan menarik daun telinga ke atas dank e belakang. Apabila saluran telinga tidak diluruskan dengan benar, larutan obat tidak akan mencapai bagian dalam struktur telinga luar.

Cara memberikan obat pada telinga dengan tetes telinga atau salep. Obat tetes telinga ini pada umumnya diberikan pada gangguan infeksi telinga khususnya pada telinga tengah (otitis media), dapat berupa obat antibiotik.3

Obat telinga dapat terbagi menjadi :
  1. Obat telinga sebagai antiseptik dan anti infeksi.
    Biasanya merupakan antibiotik seperti chlorampenikol, gentamisin, atau ofloxacin dengan tambahan penghilang sakit lokal (lidokain/benzokain).
  2. Antiseptik telinga dengan kortikosteroid
    Pada kelompok obat telinga ini selain mengandung antibiotik dan penghilang sakit lokal juga ditambah kortikosteroid yang berfungsi untuk menghilangkan gejala alergi pada telinga.
  3. Obat telinga lainnya
    Obat telinga ini diindikasikan untuk saluran telinga yang tersumbat oleh kotoran yang mengeras.
Obat telinga ini dibuat dalam bentuk sediaan khusus untuk telinga dengan pembawa yang mudah menyebar ke dalam liang telinga. Bentuk kemasannya pun didesain khusus untuk mempermudah pemberian obat telinga.
Semua obat telinga tidak boleh digunakan untuk jangka panjang karena bisa menimbulkan ototoksik, superinfeksi.
Bila permasalahan telinga disebabkan oleh jamur/virus tidak boleh menggunakan obat telinga yang mengandung antibiotik karena bisa menimbulkan superinfeksi. Selain itu antibiotik digunakan untuk infeksi oleh bakteri.3

Cara membersihkan telinga yang baik adalah;
  • Dengan menggunakan cotton bud (lidi berkapas) yang dicelup ke dalam cairan perhidrol (H202 3%) atau fenolgliserin.
  • Untuk membersihkan penumpukan serumen dapat juga dengan meneteskan terlebih dahulu cairan perhidrol (H202 3%) atau fenolgliserin ke dalam liang telinga, tunggu beberapa saat kemudian dibersihkan dengan alat pembersih telinga yang ujungnya lunak.
Untuk pemilihan obat telinga yang tepat sesuai kebutuhan dan keluhan anda ada baiknya anda harus periksakan diri dan konsultasi ke dokter THT.
Di apotik online medicastore anda dapat mencari obat telinga yang telah diresepkan dokter secara mudah dengan mengetikkan di search engine medicastore. Sehingga anda dapat memilih dan beli obat telinga sesuai kebutuhan anda.

2.3.2 Persiapan Alat
Alat dan Bahan:
1. Obat dalam tempatnya.
2. Penetes.
3. Spekulum telinga.
4. Pinset anatomi dalam tempatnya.
5. Korentang dalam tempatnya.
6. Plester.
7. Kain kasa.
8. Kertas tisu.
9. Balutan.
10. Bengkok

2.3.3 Indikasi dan Kontra Indikasi
NAMA GENERIK
Clindamycin / Klindamisin HCl.
INDIKASI
Infeksi saluran napas, otitis media (radang rongga gendang telinga), infeksi kulit, osteomyelitis (radang sumsum tulang), endokarditis (radang endokardium jantung).
KONTRA INDIKASI
# Hipersensitivitas.
# Diare, gangguan fungsi hati & ginjal.
# Individu yang atopi (hipersensitifitas atau alergi berdasarkan kecenderungan yang ditemurunkan).

gbr. Contoh obat tetes telinga

2.3.4 Prosedur Kerja1
No
Langkah
Rasional
1
Tinjau kembali program obat dari dokter meliputi nama klien, nama obat, konsentrasi obat, waktu pemberian obat, jumlah tetesan, dan telinga (kanan atau kiri) yang akan menerima obat.
Menjamin pemberian obat yang aman dan tepat.
2
Cuci tangan
Mengurangi penularan mikroorganisme
3
Siapkan peralatan dan suplai :
a.       Botol obat dan alat tetes
b.      Kartu, format atau huruf cetak nama obat
c.       Lidi kapas
d.      Tisu
e.       Bola kapas (opsional)
f.       Sarung tangan sekali pakai (bila perlu)
Digunakan untuk membuang serumen atau drainase
4
Periksa identifikasi klien dengan melihat gelang identifikasi dan menanyakan namanya.
Memastikan klien yang menerima obat benar.
5
Kenakan sarung tangan.
Mengurangi pajanan pada mikroorganisme.
6
Kaji struktur telinga luar dan salurannya
Memberikan dasar untuk menentukan apakah timbul respons local terhadap pengobatan, apakah kondisi klien membaik, atau apakah telinga perlu dibersihkan dahulu sebelum obat diberikan.
7
Jelaskan prosedur pada klien
Mengurangi rasa cemas
8
Atur suplai disisi tempat tidur
Memastikan prosedur berjalan lancar
9
Minta klien mengambil posisi miring dengan telinga yang akan diobati berada di atas
Memudahkan memasukkan obat ke dalam telinga. Saluran telinga dalam posisi menerima obat.
10
Jika serumen atau drainase menyumbat bagian paling luar saluran telinga, seka dengan lembut menggunakan lidi kapas. Jangan mendorong serumen kedalam  untuk menghambat atau menyumbat saluran.
Serumen dan drainase menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme dan dapat menghambat distribusi obat ke dalam saluran telinga. Oklusi saluran telinga mempengaruhi kondisi suara yang normal.
11
Luruskan saluran telinga dengan menarik daun telinga kebawah dan ke belakang (pada anak-anak) atau ke atas dan ke luar (dewasa).
Meluruskan saluran telinga member jalan masuk langsung ke bagian struktur telinga luar yang lebih dalam.
12
Masukkan tetesan obat yang diresepkan, pegang alat tetes 1cm diatas saluran telinga
Mendorong tetesan ke dalam saluran yang tersumbat akan menyebabkan cedera pada gendang telinga.
13
Minta klien mengambil posisi miring 2 sampai 3 menit. Beri pijatan atau tekanan lembut pada tragus telinga dengan menggunakan jari tangan.
Memungkinkan distribusi obat yang menyeluruh. Tekanan dan pijatan menggerakkan obat ke dalam.
14
 Kadang-kadang dokter menginstruksikan penempatan kapas ke bagian terluar saluran telinga jangan menekan kapas ke bagian terdalam saluran.
Memasukkan kapas ke dalam saluran luar mencegah obat keluar ketika klien duduk atau berdiri. Kapas tidak boleh menyumbat saluran, sehingga merusak pendengaran.
15
Lepaskan kapas dalam 15 menit
Meningkatkan distribusi dan absorpsi obat
16
Buang suplai dan sarung tangan yang kotor dan cuci tangan.
Menjaga kerapihan sisi tempat tidur
Mengurangi penularan infeksi
17
Bantu klien mengambil posisi yang nyaman setelah tetesan di absorpsi.
Mengembalikan rasa nyaman.
18
Evaluasi kondisi telinga luar diantara pemasukkan obat

Menentukkan respon terhadap obat.


2.4 Terapi Panas Dingin
2.4.1 Pengertian Terapi
Terapi adalah suatu proses berjangka panjang berkenaan dengan rekonstruksi pribadi.
Dalam kamus Bahasa Indonesia, definisi terapi adalah “usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sedang sakit”. Tidak disebut ‘usaha medis’ dan juga tidak disebut menyembuhkan penyakit. Maka kita bisa paham bahwa terapi adalah lebih luas daripada sekadar pengobatan atau perawatan. Apa yang dapat memberi kesenangan, baik fisik maupun mental, pada seseorang yang sedang sakit dapat dianggap terapi.4
2.4.2 Terapi Panas
Terapi panas merupakan terapi dengan menggunakan panas. Sedangkan kompres adalah salah satu metode fisik yang digunakan untuk menurunkan suhu tubuh bila anak demam yang sudah dikenal sejak zaman dulu. Kompres panas membantu meredakan sakit yang berhubungan dengan radang sendi dan otot kaku dengan mengurangi ketegangan dan melancarkan aliran darah. 4
a.      Tujuan Terapi Panas
Terapi Panas pada tubuh bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan. Bentuk kompres termal biasanya bergantung pada tujuannya. Kompres panas akan menghangatkan menghangatkan area tubuh tersebut. Kompres panas menghasilkan perubahan fisiologis suhu jaringan, ukuran pembuluh darah, tekanan darah kapiler, area permukaan kapiler untuk pertukaran cairan dan elektrolit, dan metabolisme jaringan. Durasi kompres juga memengaruhi respons . 4
b.      Jenis
Kompres panas pada tubuh berbentuk:
1.      Kering
Kompres panas kering dapat digunakan secara lokal, untuk konduksi panas, dengan menggunakan botol air panas, bantalan pemanas elektrik, bantalan akuatermia, atau kemasan pemanas disposabel.
2.      Basah.
Kompres panas basah dapat diberikan melalui konduksi, dengan cara kompres kasa, kemasan pemanas, berendam, atau mandi.

c.       Keuntungan dan Kerugian
A.    Keuntungan
1.      Memenuhi kebutuhan rasa nyaman pada klien
2.      Mudah dan Praktis
3.      Memberikan rasa hangat
4.      Mengurangi dan membebaskan rasa nyeri
B. Kerugian
1.    Pada 24 jam pertama setelah cedera traumatik. Panas akan meningkatkan perdarahan dan pembengkakan
2.    Peradarahan aktif. Panas akan menyebabkan vasdilatasi dan meningkatkan Perdarahan
3.    Edema noninflamasi. Panas meningkatkan permeabilitas kapiler dan edema.
4.    Tumor ganas terlokalisasi. Karena panas mempercepat metabolisme sel, pertumbuhan sel, dan meningkatkan sirkulasi, panas dapat, mempercepat metastase (tumor sekunder)
5.    Gangguan kulit yang menyebabkan kemerahan atau lepuh. Panas dapan membakar atau menyebabkan kerusakan kulit lebih jauh.

d.      Alat dan Bahan
·         Kom berisi air hangat sesuai kebutuhan (40-46c)
·         Bak seteril berisi dua buah kasa beberapa potong dengan ukuran yang sesuai
·         Kasa perban atau kain segitiga
·         Pengalas
·         Sarung tangan bersih di tempatnya
·         Bengkok dua buah (satu kosong, satu berisi larutan Lysol 3%)
·         Waslap 4 buah/tergantung kebutuhan
·         Pinset anatomi 2 buah
·         Korentang
e.       Prosedur Kerja1
NO
LANGKAH
RASIONALISASI
1.
Dekatkan alat-alat kedekat klien

Agar bidan atau perawat mudah menjangkau alat.
2.
Perhatikan privacy klien
Agar menjaga privacy klien
3.
Cuci tangan

Untuk pencegahan infeksi
4.
Atur posisi klien yang nyaman

Agar saat pemberian obat, klien merasa nyaman
5.
Pasang pengalas dibawah daerah yang akan dikompres

Agar menjaga kebersihan dan kenyamanan klien di tempat tidur atau tempat klien saat diberikan obat
6.
Kenakan sarung tangan lalu buka balutan perban bila diperban. Kemudian, buang bekas balutan ke dalam bengkok kosong

Untuk perlindungan diri
7.
Ambil beberapa potong kasa dengan pinset dari bak seteril, lalu masukkan ke dalam kom yang berisi cairan hangat.

Untuk merendam kasa yang akan digunakan untuk terapi kompres hangat
8.
Kemudian ambil kasa tersebut, lalu bentangkan dan letakkan pada area yang akan dikompres
Bila klien menoleransi kompres hangat tersebut, lalu ditutup/dilapisi dengan kasa kering. selanjutnya dibalut dengan kasa perban atau kain segitiga

Untuk mengompres daerah yang nyeri agar klien merasa nyaman dan mengurangi rasa sakit klien.
9.
Lakukan prasat ini selama 15-30 menit atau sesuai program dengan anti balutan kompres tiap 5 menit

Agar hasil dari kompresan tersebut maksimal
10.
Lepaskan sarung tangan

Untuk pencegahan infeksi
11.
Atur kembali posisi klien dengan posisi yang nyaman

Agar klien merasa nyaman
12.
Bereskan semua alat-alat untuk disimpan kembali

Agar alat terlihat rapi dan bersih, juga berpengaruh pada kenyamanan klien maupun perawat atau bidan
13.
Cuci tangan

Untuk pencegahan infeksi
14.
Dokumentasikan tindakan ini beserta responnya

Agar saat pengulangan kegiatan ini jadwalnya teratur dan tidak terjadi kekeliruan pada perawat/bidan

f.       Indikasi
Indikasi Pemberian Kompres Panas
·         Klien yang kedinginan(suhu tubuh yang rendah)
·         Klien dengan perut kembung
·         Klien yang punya penyakit peradangan, seperti radang persendian
·         Spasme otot
·         Adanya abses, hematoma
·         klien dengan suhu tubuh yang tinggi
·         klien dengan batuk dan muntah darah
·         pascatonsilektomi
·         radang, memar

g.      Kontraindikasi
Kontraindikasi pemberian kompres panas, yaitu:
1.    Kulit yang bengkak dan terjadi perdarahan, karena panas akan meningkatkan perdarahan dan pembengkakan yang semakin parah.
2.    Peradarahan aktif. Panas akan menyebabkan vasdilatasi dan meningkatkan perdarahan.
3.    Edema noninflamasi. Panas meningkatkan permeabilitas kapiler dan edema.
4.    Tumor ganas terlokalisasi. Karena panas mempercepat metabolisme sel, pertumbuhan sel, dan meningkatkan sirkulasi, panas dapat, mempercepat metastase (tumor sekunder).
5.    Gangguan kulit yang menyebabkan kemerahan atau lepuh. Panas dapan membakar atau menyebabkan kerusakan kulit lebih jauh.

2.4.2        Terapi Dingin

a.      Pengertian
Terapi dingin dikenal sebagai cryotherapy yang bekerja pada prinsip pertukaran panas. Hal ini terjadi ketika menempatkan objek pendingin dalam kontak langsung dengan objek suhu yang lebih hangat, seperti es terhadap kulit. Objek dingin akan menyerap panas dari objek yang lebih hangat. Setelah cedera, pembuluh darah akan memberikan oksigen dan nutrisi kepada sel-sel yang rusak. Sel-sel di sekitar cedera meningkatkan metabolisme dalam upaya mengkonsumsi lebih banyak oksigen. Ketika seluruh oksigen digunakan, sel-sel akan mati serta pembuluh darah yang rusak tidak bisa membuang sampah. Sel darah dan cairan meresap ke dalam ruang di sekitar otot yang mengakibatkan pembengkakan dan memar. Saat es ditempelkan akan menyebabkan suhu jaringan yang rusak menurun melalui pertukaran panas dan menyempitkan pembuluh darah lokal. Hal ini memperlambat metabolisme dan konsumsi oksigen, sehingga mengurangi laju kerusakan. Proses tersebut menghentikan transfer impuls ke otak yang mendaftar sebagai nyeri. Kebanyakan terapis dan dokter menyarankan untuk tidak menggunakan terapi panas setelah cedera, karena hal ini akan memiliki efek sebaliknya dari terapi dingin. Panas meningkatkan aliran darah dan melemaskan otot-otot. Hal itu baik untuk meredakan ketegangan otot, tetapi hanya akan meningkatkan rasa sakit dan pembengkakan cedera dengan mempercepat metabolisme. Terapi dingin harus selalu digunakan sesegera mungkin setelah cedera terjadi. Terapi dingin dilakukan sekitar 15 hingga 20 menit selama 48 jam.


b.      Tujuan

a.       Mengurangi peradangan dengan cara mengerutkan atau mengecilkan pembuluh darah
b.      Mengurangi rasa sakit
c.       Mengurangi kejang otot
d.      Mengurangi kerusakan jaringan
e.       Mengurangi pembengkakakan
f.       Mengurangi pembentukan udema (Pembekuan darah di bawah kulit)

c.                   Jenis-jenis
1.       Kantong Es
Teknik ini menggunakan tas sederhana seperti kantong plastik, botol air panas, kemasan dingin kimia atau sayuran beku. Caranya dengan menerapkan kain handuk kering di atas area tersebut untuk mencegah kontak langsung es untuk kulit. Kulit akan melewati empat tahapan sensasi dalam 10-15 menit. Sensasi ini dalam rangka adalah:
1) Dingin kulit
2) Merasa Burning
3) Sakit
4) Kekebasan
2. Pijat Es
Es merupakan material dari teknik terapi dingin. Es adalah sebuah air bersih yang dimasukkan ke dalam wadah lalu dibekukan di dalam lemari es samapi benar-benar beku. Langkah pertama yang harus dilakukan dalam teknik ini yaitu sedikit demi sedikit membuka es lalu pijatkan ke area yang sakit dengan menggunakan gerakan melingkar konstan. Jangan meletakkan es di satu daerah selama lebih dari 3 menit karena hal ini dapat menyebabkan radang dingin. Terapi dingin harus dihentikan setelah kulit terasa mati rasa.
d.                  Keuntungan dan Kerugian
*      Keuntungan
·         Alat dan bahan mudah ditemukan dan digunakan di rumah
·         Murah
·         Persiapan yang sedikit
·         Baik untuk luka ringan yang hanya memerlukan terapi dingin untuk satu samapi dua hari.
*      Kerugian
·         Es sebagai bahan dari terapi dingin mudah jatuh sendi serta sulit untuk menjaga es di tempat
·         Es cepat mencair dan dapat membuat berantakan terutama jika melakukan terapi dingin di tempat tidur.
·         Es diterapkan pada permukaan sendi secara terbatas.
·         Tidak ada kompresi yang diterapkan.
·         Hanya dapat diterapkan untuk jangka waktu yang singkat (10-20 menit).
·         Sulit digunakan untuk cedera yang lebih besar atau setelah operasi karena berbagai alasan.

e.                   Pemeriksaan Pendahuluan
Pemeriksaan dilakukan dengan tanya jawab antara terapis dengan pasien. Hal-hal yang perlu diketahui dari pasien antara lain:
·                     Kondisi patologis pasien yaitu berkaitan dengan tingkat keparahan kondisi patologis pasien ( akut atau kronis ). Di samping itu juga apakah kondisi patologis pasien indikatif atau kontra indikatif dengan terapi yang akan diberikan.
·                     Gangguan sensibilitas yang dimaksud adalah sensibilitas panas-dingin. Untuk mengetahui keadaan sensibilitas pasien maka perlu dilakukan tes sensibilitas panas-dingin, seperti berikut:
a. Sediakan 2 buah tabung / kantung plastik kecil. Sebuah tabung berisi air panas (hangat) yang lain berisi air dingin (air es).
b. Kedua tabung tersebut diujikan satu per satu ke bagian tubuh pasien yang normal sambil mengenalkan rasa / sensasi yang dirasakan oleh pasien ( pasien diminta untuk melihat pengujian / pengenalan ini).
c. Setelah pengenalan sensasi dilakukan, pengujuan sensasi yang sebenarnya dilakukan. Pasien diminta untuk tidak melihat pengujian pada daerah yang abnormal. Pasien bisa diminta untuk memejamkan matanya ataupun dengan cara yang lain, misalnya dengan menghalangi pandangannya

f.                   Alat dan Bahan
*        Alat
a)      Bengkok
b)      Handuk kering
c)      Kom
*        Bahan
a)        Kirbat es atau eskap dengan sarungnya
b)        Kom berisi potongan-potongan kecil es serta satu sendok teh garam agar es tidak cepat mencair
c)        Air dalam kom
*        Perlengkapan
a)         Baki dan alas
b)        Perlak kecil atau handuk kecil
c)         Tempet cuci tangan
d)        Alat tulis dan buku catatan
e)         Tempat sampah basah
f)         Tempat sampah kering
g)        Baskom
g.                  Prosedur Kerja1
No.
Langkah Kerja
Rasionalisasi
1.
Siapkan alat dan bahan serta susu secara ergonomis
Persiapan alat dan bahan secara ergonomis akan memudahkan dalam memberikan pengobatan serta mengefektifkan waktu
2.
Kajian pasien
Pengkajian dilakukan untuk memastikan keadaan pasien serta tepat dalam memberikan pengobatan
3.
Informed Consent
Dilakukan untuk mendapatkan persetujuan dari pasien untuk mempermudah pengobatan
4.
Bawa alat-alat ke dekat klien
Agar alat dan bahan dapat dengan mudah di jangkau
5.
Cuci tangan
Untuk pencegahan infeksi
6.
Masukkan batnan es ke dalam kom air
Agar bagian pinggir es tidak tajam
7.
Isi kirbat es dengan potongan es sebanyak kurang lebih setengah bagian dari kirbat tersebut
Pemakaian es yang berlebihan akan membuat mati rasa pada kulit
8.
Keluarkan udara dari eskap dengan melipat bagian yang kosong, lalu di tutup rapat
Agar terapi dapat bekerja dengan maksimal
9.
Periksa skap
Untuk memastikan agar tidak ada kebocoran
10.
Keringkan eskap dengan lap, lalu masukkan ke dalam sarungnya
Agar air yang keluar dari es tidak berceceran
11.
Buka area yang akan di obati dan atur yang nyaman pada klien
Posisi yang nyaman bagi pasien akan membantu terapi
12.
Pasang perlak pengalas pada bagian tubuh yang akan di obati
Perlak berfungsi sebagai alas agar air tidak menetes ke kasur atau ke tempat terapi dilakukan
13.
Letakkan eskap pada bagian yang memerlukan terapi
Peletakkan eskap pada bagian yang memerlukan terapi akan mempercepat terapi karena terapi langsung ke tempat yang memerlukannya
14.
Kaji keadaan kulit setiap 20 menit terhadap nyeri, mati rasa, dan suhu tubuh
Pengkajian yang lebih dari 20 menit akan membuat pasien tidak nyaman
15.
Angkat eskap bila sudah selesai
Terapi dingin harus dihentikan setelah kulit terasa mati rasa.
16.
Atur posisi klien kembali pada posisi yang nyaman
Agar pasien lebih nyaman setelah terapi
17.
Bereskan alat setelah selesai melakukan terapi ini
Agar alat dan bahan yang sudah dipakai tidak mengganggu kenyamanan klien
18.
Cuci tangan
Untuk pencegahan infeksi
19.
Dokumentasikan
Untuk mencatat hasil dari pengobatan

h.                  Indikasi dan Kontra Indikasi
·         Indikasi
a.       Trauma muskuloskeletal : sprain, strain,tendinitis, tenosinovitis, bursitis,tendinitis,
b.      Myofacial pain
c.       Penurunan spastisitas
d.      Pengobatan emergency luka bakar ringan

·         Kontra Indikasi
a.       Hipersensitivitas terhadap dingin
b.      Cryoglobulinemia
c.       Intoleransi terhadap dingin
d.      Raynaud’s phenomen
e.       Paroxysmal cold hemoglobinuria
f.       HPT
g.      Gangguan kognitif atau komunikasi

2.5 Kompres Panas Dingin
2.5.1 Pendahuluan

Suhu tubuh yang optimum sangat penting untuk kehidupan sel agar dapat berfungsi secara efektif. Perubahan suhu tubuh yang eksterem dapat membahayakan bagi tubuh. Oleh karena itu, perawata harus berusaha untuk dapat memelihara suhu tubuh klien agar tetap normal. Ada beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk memelihara suhu tubuh di antaranya adalah melalui kompres.
Kompres adalah metode pemeliharaan suhu tubuh dengan menggunakan cairan atau alat yang dapat menimbulkan hangat atau dingin pada bagian tubuh yang memerlukan.
Terdapat 2 jenis kompres, yaitu kompres panas dan kompres dingin.
Berbeda dengan kompres, terapi adalah suatu proses usaha untuk memulihkan kesehatan orang yang sakit dengan cara menggunakan alat-alat psikologis yang bertujuan menghilangkan, mengubah atau menurunkan gejala-gejala yang ada untuk mencapai kesembuhan.5



2.5.2 Pedoman Kompres Panas dan Dingin

Pemahaman tentang respon adaptif reseptor termal, fenomena rebound, efek sistemik, toleransi terhadap panas dan diongin, kontraindikasi merupakan hal yang penting ketika memberikan kompres panas dan dingin. 5

a.    Adaptasi Reseptor termal

Reseptor termal beradaptasi terhadap perubahan suhu. Ketika reseptor dingin terpanjan suhu yang tiba-tiba rendah atau ketika reseftor hangat terpanjan suhu yang tiba-tiba tinggi, pada awalnya reseftor terstimulasi dengan kuat. Stimulasi yang kuat ini menurun dengan cepat selama beberapa detik pertama dan kemudian menjadi lebih lambat selama setengah jam berikutnya atau lebih karena reseftor beradaptasi terhadap suhu yang baru. Perawat perlu memahami respon adaptif ini ketika memberikan kompres panas dan dingin. Klien ingin mengubah suhu pada kompres tersebut karena adanya perubahan sensasi. 5

b.   Fenomena Rebound

Fenomena rebaound terjadi pada saat efek terapeutik maksimal dari kompres panas atau dingin telah mencapai dan kemudian efek yang berlawanan terjadi. Misalnya, panas menyebabkan vasodilatasi maksimum dalam 20 sampai 30 menit; melanjutkan kompres melebihi 30 sampai 45 menitakan mengakibatkan kongesti jaringan, dan pembuluh darah kemudian berkontriksi dengan alasan yang tidak diketahui apabila kompres panas terus dilanjutkan, klien beresiko mengalami luka bakar, karena pembuluh darahyan kontriksi tidak mampu membuang panas secara adekuat melalui sirkulasi darah. Pada kompres dingin vasokonstriksi maksimum terjadi ketika kulit yang dikompres mencapai suhu 15 C. Dibawah suhu 15 C, vasodilatasi melalui. Mekanismedingin bersifat protektif: vasodilatasi membantu mencegah pembekuan jaringan tubuh yang biasa terpanajan dingin, seperti hidung dan telinga. Hal ini juga menjelaskan merahnya kulit seseorang yang berjalan dimusim dingin.
Pemahaman tentang fenomena rebound merupakan hal yang penting bagi perawata. Kompres harus diberhentikan sebelum fenomena rebound terjadi. 5

c.    Efek Sistemik

Kompres panas diberikan pada area tubuh lokal, terutama pada area tubuh yang luas, dapat meningkatkan curah jantung dan ventilasi paru. Peningkatan tersebut adalah hasil vasodilatasi perifer yan berlebihan, yang mengalihkan sejumlah besar suplai darah dari organ dalam dan menghasilkan tekanan darah. Penurunan tekanan darah yang signifikan dapat menyebabkan klien pingsan. Klien yang memiliki penyakit jantung atau paru serta memiliki gangguan sirkulasi seperti arteriosklerosis akan lebih rentan terhadap efek kompres ini dibandingkan orang sehat. Kompres dingin yang berlebihan(seperti ketika klien ditempatkan dalam selimut pendingin) dan vasokonstriksi dapat mengakibatkan tekanan darah klien meningkat, karena darah dialihkan dari sirkulasi kutaneus ke pembuluh darah internal.
Pengalihan darah ini adalah respon protektif normal terhadap rasa dingin yang panjang yang mana merupakan upaya tubuh untuk mempertahankan suhu inti. Menggigil, efek umum lainnya dari rasa dingin yang berkepanjangan, adalah respon normal karena tubuh beruoaya untuk menghangatkan dirinya. 5


d.   Toleransi dan Kontraindikasi

Berbagai bagian tubuh memiliki toleransi panas dan dingin yang berbeda. Variabel yang mempengaruhi toleransi fisiologi tubuh tersebut sebagai berikut:
a.    Bagian tubuh. Bagian punggung tangan dan kaki adalah bagian yang tidak terlalusensitif terhadap suhu, sebaliknya, bagian dalam dari pergelangan tangan dan lengan bawah, leher, dan area perineum adalah bagian yang sensitif terhadap suhu.
b.    Ukuran bagian tubuh yang terpanjan. Semakin besar area yang terpanjan oleh panas dan dingin, semakin rendah toleransinya.
c.    Toleransi perorangan. Individu yang sangat tua umumnya memiliki toleransi yang paling rendah. Individu yang memiliki kerusakan neurosensori mungkin memiliki toleransi yang tinggi, tapi resiko cederanya juga lebih besar.
d.   Lama panjanan. Individu paling merasakan kompres panas dan dingin saat awal kompres diberikan. Setelah jangka waktu tertentu, toleransi akan meningkat.
e.    Keutuhan kulit. Area kulit yang cedera lebih sensitif terhadap variasi suhu. Kondisi tertentu merupakan kontraindikasi penggunaan kompres panas atau dingin.

Selama itu beberapa kondisi memerlukan tindakan kewaspadaan ketika memberikan terapi kompres panas dan dingin. Adapun kontra indikasi kompres panas dan dingin sebagai berikut:

a.Kontraindikasi pemberian kompres panas, yaitu:

1.  Pada 24 jam pertama setelah cedera traumatik. Panas akan meningkatkan
perdarahan dan pembengkakan
2.    Peradarahan aktif. Panas akan menyebabkan vasdilatasi dan meningkatkan
perdarahan
3.    Edema noninflamasi. Panas meningkatkan permeabilitas kapiler dan edema.
4.    Tumor ganas terlokalisasi. Karena panas mempercepat metabolisme sel, pertumbuhan sel, dan meningkatkan sirkulasi, panas dapat ,mempercepat metastase (tumor sekunder)
5.    Gangguan kulit yang menyebabkan kemerahan atau lepuh. Panas dapat membakar atau menyebabkan kerusakan kulit lebih jauh.

b.Kontraindikasi pemberian kompres dingin, yaitu:
1.    Luka terbuka dengan meningkatkan kerusakan jaringan karena mengurangi  aliran ke luka terbuka
2.    Gangguan sirkulasi. Dingin dapat mengganggu nutrisi jaringan lebih lanjut dan menyebabkan kerusakan jaringan. Pada klien dengan penyakit raynaud, dingin akan meningkatkan spasme arteri
3.    Alergi atau hipersensitivitas terhadap dingin. Beberapa klien memiliki alergi terhadap dingin yang dimanisfestasikan dengan respon inflamasi (mis, eritema, hive, bengkak, nyeri sendi, dan kadang-kadang spasme otot), yang dapat membahayakan jika orang tersebut hipersensitif.

e.    Efek fisiologis Kompres Panas dan Dingin

Ada pun efek fisiologi tubuh yang terjadi akibat kompres panas dan dingin menurut Audery Berman dkk, yaitu sebagai berikut:

Kompres panas
Kompres dingin
Vasodilatasi
Vasokontriksi
Meningkatkan permeabilitas kapiler
Menurunkan permeabilitas kapiler
Meningkatkan metabolisme selulas
Menurunkan metabolisme selular
Merelaksasi otot
Merelaksasi otot
Menigkatkan inflamasi, meningkatkan aliran darah ke suatu area
Memperlambat pertumbuhan bakteri, mengurangi inflamasi
Meredakan nyeri dengan merelaksasi otot
Meredakan nyeri dengan membuat area menjadi mati rasa, memperlambat aliran impuls nyeri, dan menigkatkan ambang nyeri
Efek sedatif
Efek anastesi lokal
Mengurangi kekakuan sendi dengan menurunkan viskositas cairan senovial
Meredakan perdarahan


f.    Suhu yang Direkomendasikan untuk Kompres Panas dan Dingin

Derajat Panas
Suhu
Bentuk dan Kegunaan
Sangat dingin
Di bawah 15° C
Kantong es
Dingin
15- 18° C
Kemasan pendingin
Sejuk
18- 27° C
Kompres dingin
Hangat kuku
27- 37° C
Mandi spons- alkohol
Hangat
37- 40° C
Mandi dengan air hangat
Panas
40- 60° C
Berendam dalam air panas, irigasi, kompres panas
Sangat panas
Di atas 60° C
Kantong air untuk orang dewasa

g.    Proses Keperawatan

1.    Pengkajian
Kaji :
1.         Kemampuan klien untuk mengenali kapan rasa dapat menyebabkan ceder. Kaji apaan klien menyadari rasa dingin serta dapat membedakan suhu yang terlalu dingin untuk jaringan tubuh
2.         Tingkat kesadaran dan kondisi fisik umum klien. Klien yang sangat muda, sangat tua, tidak sadar,atau yang lemah tidak dapat menoleransi panas dengan baik.
3.         Area yang dikompres dengan memeriksa :
·         Perubahan integritas kulit, seperti adanya edema, memar, kemerahan, lesi terbuka, adanya rabas, dan perdarahan.
·         Status sirkulasi (warna, suhu, dan sensasi). Jaringan yang terasa dingin, berwarna pucat atau kebiruan, dan kurangnya sensasi atau mati rasa mengindikasikan kerusakan sirkulasi.
·         Tingkat ketidaknyamanan dan rentang pergerakan sendi jika spasme otot atau nyeri sedang dikompres.
·         Denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Faktor ini penting dikaji sebelum kompres diberikan pada area tubuh yang luas.

2.    Perencanaan
Sebelum memberikan kompres panas atau dingin, tentukan:
a.    Apakah klien perlu menandatangani surat persetujuan tindakan (jika surat persetujuan diperlukan, periksa surat tersebut pada catatan klien).
b.    Tipe kompres panas atau dingin yang akan digunakan, suhu, dan durasi serta frekuensi kompres (periksa program dokter jika perlu).
c.    Protokol institusi tentang tipe perlengkapan yang digunakan, suhu yang direkomendasikan, dan durasi kompres (periksa program dokter jika perlu),
d.   Waktu kompres diberikan


3.    Pendelegasian
Pemberian kompres panas dan dingin tertentu dapat didelegasikan kepa UAP (misalnya rendam jongkok, mandi air dingin) jika mereka memenuhi kriteria untuk menjalankan tugas yang didelegasikan. Kan tetapi, pada semua kasus, pengkajian klien dan penentuan bahwa tindakan tersebut aman untuk dilakukan adalah tanggungjawab perawat. UAP dapat mengobservasi area yang dikompres selama perawatan sehari-hari dan mereka harus dilaporkan temuan yang abnormal pada perawat. Temuan yang abnormal harus divalidasi dan diintervensi oleh perawat.

4.    Implementasi

2.5.3    Kompres Hangat
a. Pengertian Kompres Hangat
Memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Kompres hangat diberikan satu jam atau lebih.
kompres-hangat
b. Tujuan Kompres Hangat
          Pada umunya bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan jaringan. Tujuan khususnya yaitu:
a.             Memperlancar sirkulasi darah
b.            Mengurangi rasa sakit
c.             Memberi rasa hangat, nyaman, dan tenang pada klien
d.            Memperlancar pengeluaran eksudat
e.             Merangsang peristaltic usus



c. Jenis-Jenis Kompres Hangat
Kompres hangat kering
Dapat digunakan secara local, untuk konduksi panas, dengan menggunakan botol air panas, bantalan pemanas elektrik, bantalan akuatermia, atau kemasan pemanas disposable.
Kompres hangat basah
            Dapat diberikan melalui konduksi, dengan cara kompres kasa, kemasan pemanas, berendam atau mandi.

d. Kompres Hangat dilakukan:
1.      Pada radang persendian
2.      Pada kekejangan otot
3.      Bila perut kembung
4.      Bila ada bengkak (abses) akibat pemberian suntikan
5.      Bila pasien kedinginan (misalnya akibat narkose, iklim atau ketegangan dll)
6.      Pada bagian tubuh yang abses
7.      Bila ada haematoom

e.       Memberikan Kompres Hangat Kering (Botol Air Panas, bantalan Pemanas Elektrik, bantalan Akuatermia, Kemasan Pemanas Disposabel)

Perlengkapan:

Ø  Botol (kantong) air panas
·         Botol air panas dengan tutupnya
·         Sarung botol
·         Air panas dan sebuah thermometer
·         Bengkok
·         Sarung tangan
·         Baki dan alasnya
·         Tempat sampah basah dan kering
·         Baskom
·         Kom

Ø  Bantalan Pemanas elektrik
·         Bantalan elektrik dan pengontrolnya
·         Sarung (gunakan bahan yang kedap air jika kemungkinan bagian bawah bantalan akan menjadi lembab)
·         Pengikat kasa (pilihan)
·         Bengkok
·         Sarung tangan
·         Baki dan alasnya
·         Tempat sampah basah dan kering
·         Baskom
·         Kom

Ø   Bantalan Akuatermia
·       Bantalan
·      Air Suling
·      Unit pengontrol
·      Sarung
·      Pengikat kasa atau plester (pilihan)
·         Bengkok
·         Sarung tangan
·         Baki dan alasnya
·         Tempat sampah basah dan kering
·         Baskom
·         Kom

Ø  Kemasan Pemanas Disposabel
·      Satu atau dua buah kemasan pemanas disposable yang telah dipersiapkan secara komersial

f.      Pelaksanaan

Langkah –Langkah :
1.      Menjelaskan pada klien apa yang akan dilakukan, serta beri tahu tujuannya agar dapat menjalankan perawatannya
2.      Menyiapkan peralatan yang dibutuhkan
3.      Cuci tangan dengan 7 langkah
4.      Berikan kompres panas
 Prosedur kerja1
Pelaksanaan Botol Air Panas
Rasionalisasi
1.
Mengukur suhu air. Ikuti praktek institusi tentang penggunaan suhu yang tepat.
Suhu yang sering diberikan:
a.       46 – 52 °C untuk orang dewasa normal
b.      40,5 – 46 °C untuk orang dewasa yang tidak sadar atau yang kondisinya sedang lemah
Memastikan suhu yang akan diberikan agar terapi berefek maksimal
2.
Mengisi sekitar dua pertiga botol dengan air panas
Agar air tidak terlalu penuh dan tidak tumpah
3.
Mengeluarkan udara dari botol. Udara yang tetap berada di botol akan mencegah botol mengikuti bentuk tubuh yang sedang dikompres.
Untuk menjaga suhu agar tetap stabil
4.
Menutup botol dengan kencang
Agar air tidak tumpah dari tempatnya
5.
Membalikkan botol dan memeriksa adanya kebocoran
Untuk memastikan ada atau tidaknya kebocoran
6.
Mengeringkan botol
Agar saat terapi dilaksanakan pakaian pasien tidak terkena basah
7.
Membungkus botol dengan handuk atau sarung botol air panas
Agar panas air tidak langsung menyentuh kulit. Ditakutkan kulit melepuh
8.
Meletakkan bantalan pada bagian tubuh dan menggunakan bantal untuk menyangganya jika perlu
Untuk memberikan kenyamanan pada pasien

Pelaksanaan Bantalan Pemanas Elektrik
Rasioalisasi
1.
Memastikan arca tubuh kering.
Penggunaan listrik pada area yang lembab dapat mengakibatkan syok
2.
Memeriksa bahwa bantalan elektrik tersebut berfungsi dan berada dalam kondisi yang baik. Kawat tidak boleh bercelah dan kabel harus utuh, komponen pemanas tidak boleh terbuka, dan pendistribusian suhu pada bantalan harus rata.

3.
Memasang sarung bantalan. Beberapa model memiliki sarung kedap air yang dapat digunakan jika bantalan diletakkan di atas balutan basah.
Tempat yang lembab dan menyebabkan arus pendek pada bantalan sehingga membakar atau membuat klien syok.
4.
Menyambungkan bantalan ke stop kontak listrik
Untuk menghidupkan bantalan listrik
5.
Mengatur pengontrol suhu pada suhu yang tepat
Agar terapi yang diberikan efektif
6.
Setelah bantalan dipanaskan, meletakkan bantalan di atas bagian tubuh yang memerlukan bantalan tersebut
Untuk memberikan efek kompres
7.
Menggunakan ikatan basa, bukan peniti
untuk memfiksasi bantalan agar tetap berada di tempatnya

Pelaksanaan Bantalan Akuatermia
1.
Mengisi unit dengan air suling sampai memenuhi 2/3 inut. Unit akan menghangatkan air, yang bersirkulasi di bantalan
2.
Mengeluarkan gelembung udara, dan fiksasi tutup bantalan
3.
Mengatur suhu pada tombol pengatur jika memang belum diatur. Suhu normal adalah 40,5 °C. periksa instruksi pabrik
4.
Membungkus bantalan dengan sebuah handduk atau sarung bantal
5.
Menyambungkan unit ke aliran listrik
6.
Memeriksa adanya kebocoran atau fungsi bantalan yang tidak benar sebelum digunakan
7.
Menggunakan plester atau pengikat kasa untuk memfiksasi bantalan di tempatnya. Jangan menggunakan peniti, Karena dapat mengakibatkan kebocoran
8.
Jika terjadi kemerahan atau nyeri yang tidak biasa, hentikan terapi, dan laporkan reaksi klien

Pelaksanaan Kemasan Pemanas Disposabel
1.
Masukkan ke microwave, pukul-pukul, peras atau remas kemasan sesuai dengan petunjuk pabrik
2.
Perhatikan instruksi pabrik mengenai lama waktu produksi panas.

5.      Memberikan klien instruksi sebagai berikut :
·        Jangan memasukan benda-benda tajam, benda berujung runcing (misalnya peniti) ke dalam bantalan atau botol.
·         Jangan meletakkan botol atau bantalan secara langsung. Permukaan di bawah objek meningkatkan absorpsi panas, bukan pengeluaran panas iar yang normal
·         Untuk mencegah cedera, jangan mengatur panas lebih tinggi dari yang telah ditentukan. Derajat panas yang dirasakan akan menurun dengan cepat setelah pemberian kompres karena reseptor suhu tubuh beradaotasi dengan cepat terhadap suhu. Mekanisme adaptif ini dapat menyebabkan cedera jaringan jika suhu diatur lebih tinggi
6.      Meletakkan kemasan pemanas pada tempatnya hanya selama jangka waktu yang telah ditentukan guna menghindari fenomena rebound. Untuk bantalan elektrik, selama 1—15 menit.
7.      Mendokumentasikan pemberian kompres panas dan respon klien pada catatan klien dengan menggunakan format atau daftar tilik yang disertai catatan narasi jika perlu.


Memberikan kompres pada kondisi rawat jalan dan komunitas
Memberikan kompres panas Bayi/Anak
·         Suhu air dalam botol air panas harus 40,5 – 46 °C untuk anak-anak berusia kurang dari 2 tahun.

Memberikan kompres panas pada Lansia
·         Berikan perhatian khusus saat mengkaji yang akan diterapi dan ketika mengevaluasi efek terapi karena lansia memiliki banyak kondisi yang merupakan predispodidi terjadinya cedera pada pemberian kompres.



h.      Memberikan Kompres Hangat Kasa Dan Kemasan Basah

Perlengkapan
Disesuaikan berdasarkan kebutuhan
1.      Untuk kompres basah hangat:
a.       Seperangkat peralatan steril terdiri dari:
·         Pinset 2 buah
·         Kasa secukupnya
·         Mangkok berisi cairan hangat
b.      Peralatan non-steril yang terdiri dari:
·         Buli-buli
·         Air panas
·         Pembalut atau kain segitiga
·         Gunting pembalut
·         Perlak kecil dan alasnya
·         Bengkok (nierbekken)
·         Kapas bersih
·         Plester
PELAKSANAAN
1.
Untuk kompres basah hangat kain bias diambil dengan pinset, kemudian dicelupkan ke dalam cairan, diperas sedikit selanjutnya diletakkan pada bagian yang dikompres. Kain kasa harus dibalut atau ditutupdengan kain kasa kering, lalu di plester
2.
Bilanenggunakan air panas
a.       Buli-buli diisi air panas 1/3 sampai 2/3 bagian
b.      Udara dikeluarkan dengan cara : buli-buli ditempatkan di tempat rata, lalu bagian atasnya ditekuk sampai air kelihatan, selanjutnya ditutup
c.       Di bungkus dengan kantong buli-buli
d.      Diletakkan pada bagian yang akan dikompres
e.        
3.
Bila menggunakan elektrikal pad:
a.       Periksa tegangan listrik (voltage), disesuaikan voltage alat.
b.      Stopkontak dipasang
c.       Panas diukur sesuai kebutuhan
d.      Elektrikal pad diletakkan pada bagian yang akan dikompres.

            Perhatian :
a.       Untuk kompres basah hangat, pada luka terbuka peralatan harus steril
b.      Untuk kompres basah hangat pada jaringan permukaan yang tertutup (bengkak atau memar), alat tidak harus steril tapi harus bersih
c.       Bila cairan atau alat kompres terlalu panas, pada bagian kulit yang dikompres bias terjadi luka bakar
d.      Cegah terjadinya luka bakar pada pemberian kompres hangat. Luka bakar bias terjadi, jika cairan atau alat kompres terlalu panas.

Indikasi
1.            Sprain dan strain
2.            Sebagai tindakan pendahuluan (preliminary) sebelum dilakukan latihan  untuk kondisi stiff joint (kekakuan sendi)
3.            Low back pain yang disertai spasme otot
4.           Arthritis kronis

Kontraindikasi
1.      Gangguan sensibilitas
2.      Buerger diseases
3.      Gangguan peredaran darah arterial perifir
2.5.4 Kompres Dingin
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, kompres adalah kain pembebat yang dibasahi dengan air dingin (es, dan sebagainya) untuk menyejukkan kepala dan sebagainya.
Kompres dingin dibagi menjadi dua, yaitu kompres dingin kering (kirbat) dan kompres dingin basah. Kompres dingin kering terdiri dari kompres es biasa, kompres es leher, dan kompres es gantung.
Kompres dingin kering diberikan untuk mendapat efek lokal dengan menggunakan kantong es kolar es, sarung tangan es, dan kemasan pendingin disposabel. Kompres dingin basah diberikan pada bagian tubuh untuk memberi efek lokal. Kompres dingin sering kali digunakan untuk meredakan perdarahan dengan cara mengkonstriksi pembuluh darah, meredakan inflamasi dengan vasokonstrisi, dan meredakan nyeri dengan memperlambat kecepatan konduksi saraf, menyebabkan mati rasa, dan bekerja sebagai counterirritant.
A.    Kompres Dingin Kering atau Kirbat
a.       Kompres Dingin Kering atau Kirbat Es Biasa

Pengertian
Memberikan kompres dingin kepada pasien yang memerlukannya, dengan menggunakan kirbat es yang telah diisi dengan potongan es.

Tujuan
1.      Membantu menurunkan suhu tubuh
2.      Mengurangi rasa sakit atau nyeri
3.      Membantu mengurangi perdarahan
4.      Membatasi peradangan
Dilakukan pada :
1.      Pasien yang suhunya tinggi
2.      Pasien perdarahan hebat
3.      Pasien yang kesakitan

Alat
1.      Bengkok
2.      Kantong es
3.      Sarung pelindung

Bahan
1.      Potongan es secukupnya dalam wadah
2.      Kassa gulung
3.      Plester
4.      Larutan klorin 0,5%
Perlengkapan
1.      Baki dan alas
2.      Perlak kecil atau handuk kecil dan alas
3.      Tempat cuci tangan
4.      Sarung tangan
5.      Alat tulis dan buku catatan
6.      Tempat sampah basah
7.      Tempat sampah kering
8.      Baskom
Pelaksanaan1
NO
LANGKAH KERJA
RASIONALISASI
1
Menyiapkan alat dan bahan
1.      Sebelum dimasukkan ke dalam kantong es, potongan es dicelupkan dulu ke dalam air untuk menghilangkan ujung- ujungnya yang runcing.
2.      Isi alat dengan keping es sebanyak stengah hingga dua pertiga kantong.
3.      Keluarkan udara yang berlebihan dengan menekuk atau memelintir alat
4.      Pasang tutup kantong atau kolar es dengan kuat, atau buat sebauh simpul pada sarung tangan di bagian ujung yang terbuka. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran cairan jika es meleleh.
5.      Pegang alat secara terbalik dan periksa jika ada kebocoran
6.      Bungkus alat dengan sarung penutup yang lembut, jika alat tersebut belum dibungkus.
7.      Pertahankan alat tersebut pada tempatnya dengan menggunakan kasa gulung, pengikat,atau handuk. Fiksasi dengan plester sesuai kebutuhan.

Memudahkan kita dalam melakukan tindakan
2.
Mengkaji pemberian kompres dingin terhadap pasien
Memastikan apakah kompres tersebut benar diberikan untuk pasien tersebut
3.
Melakukan informed concent
Mempermudah kita dalam melakukan tindakan dengan bekerja sama dengan pasien karena antara bidan dan pasien sudah ada perjanjian
4.
Mencuci tangan di bawah ait mengalir
Mencegah penularan infeksi
5.
Memasang perlak dan alasnya
Mencegah air membasahi kasur pasien
6.
Mendekatkan alat dan bahan
Memudahkan dalam pelaksanaan prosedur kerja
7.
Memakai sarung tangan
Pencegahan infeksi
8.
Memasang kompres pada bagian tubuh yang memerlukan dan hanya pada jangka waktu yang telah ditentukan guna menghindari efek yang mebahayakan dari kompres dingin yang berkepanjangan
Memberikan efek kompres yang optimal
9.
Membereskan alat- alat

10.
Merendam sarung tangan dalam larutan klorin
Dekontaminasi
11.
Mencuci tangan
Pencegahan infeksi
12.
Mendokumentasikan di buku catatan
Pencatatan yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian kompres (misal, pengulangan pemberian atau pemberian terlewat)



b.      Kompres Dingin Kering atau Kirbat Es Leher

Pengertian
Memasang kompres dingin pada leher

Tujuan
Mengurangi perdarahan, rasa sakit, dan lain- lain

Dilakukan pada
Pasien pasca bedah tonsil (tonsilectomi), dan lain- lain

Alat
1.      Bengkok
2.      Kantong es
3.      Sarung pelindung

Bahan
1.      Potongan es secukupnya dalam wadah
2.      Kassa gulung
3.      Plester
4.      Larutan klorin 0,5%
Perlengkapan
1.      Baki dan alas
2.      Perlak kecil atau handuk kecil dan alas
3.      Tempat cuci tangan
4.      Sarung tangan
5.      Alat tulis dan buku catatan
6.      Tempat sampah basah
7.      Tempat sampah kering
8.      Baskom

Pelaksanaan1
NO
LANGKAH KERJA
RASIONALISASI
1
Menyiapkan alat dan bahan
1.      Sebelum dimasukkan ke dalam kantong es, potongan es dicelupkan dulu ke dalam air untuk menghilangkan ujung- ujungnya yang runcing.
2.      Isi alat dengan keping es sebanyak stengah hingga dua pertiga kantong.
3.      Keluarkan udara yang berlebihan dengan menekuk atau memelintir alat
4.      Pasang tutup kantong atau kolar es dengan kuat, atau buat sebauh simpul pada sarung tangan di bagian ujung yang terbuka. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran cairan jika es meleleh.
5.      Pegang alat secara terbalik dan periksa jika ada kebocoran
6.      Bungkus alat dengan sarung penutup yang lembut, jika alat tersebut belum dibungkus.
7.      Pertahankan alat tersebut pada tempatnya dengan menggunakan kasa gulung, pengikat,atau handuk. Fiksasi dengan plester sesuai kebutuhan.

Memudahkan kita dalam melakukan tindakan
2.
Mengkaji pemberian kompres dingin terhadap pasien
Memastikan apakah kompres tersebut benar diberikan untuk pasien tersebut
3.
Melakukan informed concent
Mempermudah kita dalam melakukan tindakan dengan bekerja sama dengan pasien karena antara bidan dan pasien sudah ada perjanjian
4.
Mencuci tangan di bawah ait mengalir
Mencegah penularan infeksi
5.
Memasang perlak dan alasnya
Mencegah air membasahi kasur pasien
6.
Mendekatkan alat dan bahan
Memudahkan dalam pelaksanaan prosedur kerja
7.
Memakai sarung tangan
Pencegahan infeksi
8.
Memasang kompres pada bagian leher yang memerlukan dan hanya pada jangka waktu yang telah ditentukan guna menghindari efek yang mebahayakan dari kompres dingin yang berkepanjangan
Memberikan efek kompres yang optimal
9.
Membereskan alat- alat

10.
Merendam sarung tangan dalam larutan klorin
Dekontaminasi
11.
Mencuci tangan
Pencegahan infeksi
12.
Mendokumentasikan di buku catatan
Pencatatan yang tepat pada waktunya mencegah kesalahan dalam pemberian kompres (misal, pengulangan pemberian atau pemberian terlewat)

c.       Kompres Dingin Kering atau Kirbat Es Gantung

Pengertian
Memasang kompres es secara tidak langsung di atas tubuk pasien yang memerlukan

Tujuan
Mengurangi perdarahan, rasa nyeri, dan pergerakan

Dilakukan pada
Pasien dengan perdarahan pada usus (dalam rongga perut), sakit kepala yang hebat

Alat
1.      Bengkok
2.      Kantong es
3.      Sarung pelindung
4.      Lengkungan atau busur selimut
5.      Tali khusus kompres es
6.      Kain atau handuk untuk mengantungkan kompres es
7.      Peniti secukupnya

Bahan
1.      Potongan es secukupnya dalam wadah
2.      Kassa gulung
3.      Plester
4.      Larutan klorin 0,5%
Perlengkapan
1.      Baki dan alas
2.      Perlak kecil atau handuk kecil dan alas
3.      Tempat cuci tangan
4.      Sarung tangan
5.      Alat tulis dan buku catatan
6.      Tempat sampah basah
7.      Tempat sampah kering
8.      Baskom2

Pelaksanaan1
NO
LANGKAH KERJA
RASIONALISASI
1
Menyiapkan alat dan bahan
1.      Sebelum dimasukkan ke dalam kantong es, potongan es dicelupkan dulu ke dalam air untuk menghilangkan ujung- ujungnya yang runcing.
2.      Isi alat dengan keping es sebanyak stengah hingga dua pertiga kantong.
3.      Keluarkan udara yang berlebihan dengan menekuk atau memelintir alat
4.      Pasang tutup kantong atau kolar es dengan kuat, atau buat sebauh simpul pada sarung tangan di bagian ujung yang terbuka. Hal ini dilakukan untuk mencegah kebocoran cairan jika es meleleh.
5.      Pegang alat secara terbalik dan periksa jika ada kebocoran
6.      Bungkus alat dengan sarung penutup yang lembut, jika alat tersebut belum dibungkus.
7.      Pertahankan alat tersebut pada tempatnya dengan menggunakan kasa gulung, pengikat,atau handuk. Fiksasi dengan plester sesuai kebutuhan.

Memudahkan kita dalam melakukan tindakan
2.
Mengkaji pemberian kompres dingin terhadap pasien
Memastikan apakah kompres tersebut benar diberikan untuk pasien tersebut
3.
Melakukan informed concent
Mempermudah kita dalam melakukan tindakan dengan bekerja sama dengan pasien karena antara bidan dan pasien sudah ada perjanjian
4.
Mencuci tangan di bawah ait mengalir
Mencegah penularan infeksi
5.
Memasang perlak dan alasnya
Mencegah air membasahi kasur pasien
6.
Mendekatkan alat dan bahan
Memudahkan dalam pelaksanaan prosedur kerja
7.
Memakai sarung tangan
Pencegahan infeksi
8.
Lengkungan atau busur selimut dipasang

9.
Tali dipasang pada busur agar kendor, sehingga bagian tengah melengkung ke dalam dan hampir menyentuh perut atau kepala pasien

10.
Pada handuk atau kain diberi peniti

11.
Kompres es diletakkan di atas handuk atau kain tepat di atas bagaian tubuh yang akan dikompres.

12.
Pasien diselimuti

13.
Membereskan alat- alat

14.
Merendam sarung tangan dalam larutan klorin

15.
Mencuci tangan

16.
Mendokumentasikan


B.     Kompres Dingin Basah

Pengertian
Kompres basah adalah balutan kasa basah yang sering diletakkan di atas luka terbuka. Kompres kasa dan kemasan basah dapat diberikan dalam bentuk panas atau dingin.
            Tujuan
1.      Membersihkan luka
2.      Mengobati luka
3.      Mencegah kekeringan pada luka tertentu
Dilakukan pada
1.      Luka yang kotor
2.      Pasien colostomi sebelum dilakukan opersi
Alat dan bahan
Kompres
1.         Sarung tangan disposabel atau sarung tangan steril
2.         Wadah untuk larutan
3.         Larutan dengan kekuatan dan suhu yang telah ditetapkan oleh dokter
4.         Termometer
5.         Kasa segiempat
6.         Sarung tangan, forsep, dan lidi kapas (jika kompres harus steril)
7.         Jeli minyak
8.         Handuk penyekat
9.         Plastik
10.     Tali
11.     Botol air panas atau bantalan akuatermia atau antung es
12.     Balutan steril (ika perlu)
Kemasan basah
1.         Sarung tangan disposabel
2.         Kain flanel atau kemasan handuk
3.         Baskom air dengan beberapa keping es
4.         Termometer
5.         Sarung tangan steril, forsep, dan lidi kapas (jika sterilitas harus dipertahankan)
6.         Jeli minyak
7.         Material penyekat
8.         Plastik
9.         Kantong es
10.     Balutan steril jika perlu

Perlengkapan
1.      Baki dan alas
2.      Perlak kecil atau handuk kecil dan alas
3.      Tempat cuci tangan
4.      Sarung tangan
5.      Alat tulis dan buku catatan
6.      Tempat sampah basah
7.      Tempat sampah kering
8.      Baskom

Pelaksanaan
1.      Menyiapkan alat dan bahan
2.      Melakukan informed concent
3.      Mencuci tangan di bawah ait mengalir
4.      Memasang perlak dan alasnya pada bagian yang akan dikompres
5.      Mendekatkan alat dan bahan
6.      Berikan privasi klien
7.      Siapkan klien
·         Bantu klien ke posisi nyaman
·         Pajankan area tubuh yang akan dikompres
·         Sangga bagian tubuh yang memerlukan kompres kasa atau kemasan basah
·         Pasang sarung tangan disposabel, dan lepaskan balutan luka, jika ada.
8.      Basahi kompres kasa atau kemasan
·         Letakkan kasa di dalam larutan
·         Dinginkan flanel atau handuk di dalam baskom berisi airu dan keping es
9.      Lindungi kulit sekitar luka sesuai indikasi
·         Denga lidi kapas, oleskan jeli minyak ke kulit di sekeliling luka, jangan oleskan ke luka atau area kulit yang rusak. Jeli minyak melindungi kulit  dari kemungkinan efek iritasi dari beberaa larutan
10.  Tempelkan kompres kasa basah atau kemasan basah
·         Peras kompres kasa sehingga larutan tidak menetes dari kompres kasa tersebut
·         Tempelkan kasa secara lembut dan bertahap pada area yang dituju dan jika dapat ditoleransi klien, tempelkan kompres kasa hingga menutupi area yang dikompres dengan baik. Padatkan kasa sampai pas memenuhi semua permukaan luka.
·         Peras flanel
·         Tempelkan flanel ke area tubuh, tutupi area tubuh yang dikompres
11.  Segera sematkan dan fiksasi kompres
·         Tutupi kasa atau flanel segera dengan handuk kering atau selembar plastik. Langkah ni membantu mempertahankan efektivitasnya
·         Fiksasi kompres kasa atau kemasan di tempatnya dengan menggunakan pengikat kasa ayau plester.
12.  Pantau klien
13.  Angkat kompres kasa atau kemasan pada waktu yang telah ditentukan.
14.  Dokumentasikan5










BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan

Teknik pemberian obat dan terapi dapat diberikan dengan berbagi cara disesuaikan dengan kondisi pasien, diantaranya : pemberian obat kulit, mata dan telinga, terapi panas dingin, serta kompres panas dingin.
Dalam pemberian obat dan terapi ada hal- hal yang perlu diperhatikan, yaitu indikasi dan kontraindikasi pemberian obat dan terapi. Sebab ada jenis- jenis terapi tertentu yang tidak bereaksi jika diberikan dengan cara yang salah.

3.2  Saran
Dalam memberikan obat dan terapi pada pasien, kita sebagai tenaga medis (bidan) harus memahami dengan benar cara atau teknik pemberian obat dan terapi serta memperhatikan indikasi dan kontraindikasi dari pemberian obat dan terapi tersebut. Pemberian obat dan terapi yang tidak sesuai bisa saja memperburuk kondisi pasien yang kita tangani.











DAFTAR PUSTAKA

1.      Potter dan Perry. 2005. Fundamental Keperawatan. Jakarta : EGC
2.      Asmadi. 2008. Teknik Prosedural Konsep & Aplikasi Kebutukan Dasar Klien. Jakarta : Salemba Medika

3.      Berman, Audrey,et al,. 2009. Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis Kozier Erb. Jakarta : EGC

4.      Bandiyah, Siti. 2009. Keterampilan Dasar Praktek Klinik : Keperawatan dan Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika

5.      Uliyah, Musrifatul. A. Aziz Alimul Hidayah. 2008. Keterampilan Dasar Klinik untuk Kebidanan. Jakarta : Salemba








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar