Rabu, 16 Mei 2012

PASIEN KRITIS DAN KEHILANGAN



2.1 Mendampingi Pasien Yang Krisis
2.1.1 Pengertian Pasien Yang Krisis
Krisis merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba dalam kehidupan seseorang yang mengganggu keseimbangan selama mekanisme coping individu tersebut tidak dapat mecahkan masalah.
Krisis juga dapat diartikan sebagai ganggaun internal yang disebabkan oleh kondisi penuh stress atau yang dipersepsikan oleh individu sebagai ancaman.
Jadi pasien yang krisis merupakan pasien yang mengalami gangguankeseimbangan mekanisme coping pasien yang disebabkan oleh kondisi penuh stress dan dipersepsikan sebagai ancaman.
Selama krisis, individu kesulitan dalam melakukan sesuatu, koping yang biasa digunakan tidak efektif lagi dan terjadi peningkatan kecemasan.

Konsep krisis :
  1. Krisis terjadi pada semua individu, tidak selalu patologis
  2. Krisis dipicu oleh peristiwa yang spesifik
  3. Krisis bersifat personal
  4. Krisis bersifat akut, tidak kronis, waktu singkat ( 4-6 minggu )
  5. Krisis berpotensi terhadap perkembangan psikologis atau bahkan akan membaik

Faktor yang berpengaruh :
  • Pengalaman problem solving sebelumnya
  • Persepsi individu terhadap suatu masalah
  • Adanya bantuan atau bahkan hambatan dari orang lain
  • Jumlah dan tipe krisis sebelumnya
  • Waktu terakhir mengalami krisis
  • Kelompok beresiko
  • Sense of mastery
  • Resilence; factor perlindungan berupa perilaku yang berkontribusi terhadap keberhasilan koping dengan stress lain. Faktor perlindungan antara lain kompetensi social, ketrampilan memecahkan masalah, otonomi, berorientasi pada tujuan, ide belajar, dukungan keluarga, dukungan social. Resilient ( individu yang tabah/ulet ) mempunyai harga diri tinggi, berdaya guna, mempunyai keterampilan memecahkan masalah, mempunyai kepuasan dalam hubungan interpersonal.

Faktor resiko :
  • Wanita
  • Etnik minoritas
  • Kondisi social ekonomi rendah
  • Problematik predisaster functioning and personality

2.1.2 karakteristik situasi krisis
Macam-macam krisis :
1. Krisis maturasi/krisis perkembangan
  • Dipicu oleh stressor normal dalam proses perkembangan
  • Terjadi pada masa transisi proses pertumbuhan dan perkembangan. Setiap tahap perkembangan tergantung pada tahap sebelumnya, setiap tahap perkembangan merupakan tahap krisis bila tidak difasilitasi untuk dapat menyelesaikan tugas perkembangan
  • Misal : Masuk sekolah, pubertas, menikah, meninggalan rumah, menjadi orang tua, pensiun dll
2. Krisis situasional
  • Merupakan respon terhadap peristiwa traumatic yang tiba-tiba dan tidak dapat dihindari yang mempunyai pengaruh besar terhadap peran dan identitas seseorang
  • Cenderung mengikuti proses kehilangan, seperti kehilangan pekerjaan, putus sekolah, putus cinta, penyakit terminal, kehamilan/kelahiran yang tidak diinginkan. Respon yang biasa mucul terhadap kehilangan adalah depresi
  • Kesulitan dalam beradaptasi dengan krisis situasional ini berhubungan dengan kondisi dimana seseorang sedang berjuang menyelesaikan krisis perkembangan
3. Krisis social
  • Krisis yang terjadi di luar kemampuan individu. Adanya situasi yang diakibatkan kehilangan multiple dan perubahan lingkungan yang luas
  • Contoh : terorisme, kebakaran, gempa bumi, banjir, perang

Tipe krisis yang lain (Townsend, 2006):
  1. Dispisitional crises, merupakan respon akut terhadap stressor eksternal
  2. Crises of anticipated life transition, suatu transisi siklus kehidupan yang normal yang diantisipasi secara berlebihan oleh individu saat merasa kehilangan kendali
  3. Crises resulting from traumatic stress, krisis yang dipicu oleh stressor eksternal yang tidak diharapkan sehingga individu merasa menyerah karena kurangnya atau bahkan tidak mempunyai control diri.
  4. Developmental crises, krisis yang terjadi sebagai respon terhadap situasi yang mencetuskan emosi yang berhubungan dengan konflik kehidupan yang tidak dapat dipecahkan
  5. Crises reflecting psychopathology, misalnya neurosis, schizophrenia, borderline personality
  6. Psychiatric emergency, krisis yang secara umum telah mengalami kerusakan yang parah terhadap fungsi kehidupan. Misalnya acute suicide, overdosis, psikosis akut, marah yang tidak terkontrol, intoksikasi alcohol, reaksi terhadap obat-obatan halusinogenik

Tahap perkembangan krisis
Fase 1
  • Individu dihadapkan pada stressor pemicu
  • Kecemasan meningkat, individu menggunakan teknik problem solving yang biasa digunakan
Fase 2
  • Kecemasan makin meningkat karena kegagalan penggunan teknik problem solving sebelumnya
  • Individu merasa tidak nyaman, tak ada harapan, bingung
Fase 3
  • Untuk mengatasai krisis individu menggunakan semua sumber untuk memecahkan masalah, baik internal maupun eksternal
  • Mencoba menggunakan teknik problem solving baru, jika efektif terjadi resolusi

Fase 4
  • Kegagalan resolusi
  • Kecemasan berubah menjadi kondisi panic, menurunnya fungsi kognitif, emosi labil, perilaku yang merefleksikan pola pikir psikotik.

Dampak sakit Terminal
• Gangguan psikologis
• Gangguan somatis
• Gangguan seksual
• Gangguan sosial
• Gangguan dalam bidang pekerjaan

2.1.3 Mendampingi Klien Dalam Keadaan Krisis (Terminal)
Persiapan alat :
1.      Tensimeter
2.      Stetoskop
3.      Jam dengan penghitung detik
4.      Lampu senter / penlight
5.      Deppers
6.      Sarung tangan besih
7.      Bengkok
8.      Sampiran
Pelaksanaan :
1.      Cuci tangan.
2.      Gunakan sarung tangan.
3.      Jelaskan semua prosedur yang akan dilakukan.
4.      Atur pasien dalam posisi yang nyaman.
5.      Basahi bibir pasien yang kering dengan menggunakan deppers yang dibasahi air.
6.      Keringkan keringat pasien, kalau perlu ganti pakaian.
7.      Lakukan observasi tiap 30 menit (ensi, nadi, pernafasan dan suhu).
8.      Observasi cairan, oksigen dan berikan obat-obatan sesuai dengan indikasi.
9.      Anjurkan keluarga untuk berdoa, meminta kehadiran rohaniawan dan membimbing untuk berdoa.
10.  Lepaskan sarung tangan.
11.  Cuci tangan.
12.  Catat hasil observasi pasien.
Sikap :
a.       Sopan
b.      Teliti dan hati-hati
c.       komunikatif

Intervensi Krisis
Tujuan intervensi krisis adalah resolusi, berfokus pada pemberian dukungan terhadap individu sehingga individu mencapai tingakat fungsi seperti sebelum krisis, atau bahkan pada tingkat fungsi yang lebih tinggi. Selain itu juga untuk membantu individu memecahkan masalah dan mendapatkan kembali keseimbangan emosionalnya
Peran bidan adalah membantu individu dalam :
  1. Menganalisa situasi yang penuh stress
  2. Mengungkapkan perasaan tanpa penilaian
  3. Mencari cara untuk beradaptasi dengan stress dan kecemasan
  4. Memecahkan masalah dan mengidentifikasi strategi dan tindakan
  5. Mencari dukungan ( keluarga, teman, komunitas )
  6. Menghindari stress yang akan datang dengan anticipatory guidance
Intervensi dilakukan dengan pendekatan proses perawatan yaitu melalui pengkajian, perencanaan, implementasi, dan evaluasi.

2.2 Mendampingi Klien Yang Kehilangan
a.       Kehilangan
Kehilangan adalah suatu situasi aktual maupun potensial yang dapat dialami individu ketika terjadi perubahan dalam hidup atau berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, baik sebagian ataupun keseluruhan. Rasa kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu selama kehidupannya. Sejak lahir, individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda. Setiap individu akan bereaksi terhadap kehilangan. Respon terakhir terhadap kehilangan sangat dipengaruhi oleh respon individu terhadap kehilangan sebelumnya (Potter dan Perry 1997).
Lingkungan mempengaruhi nilai dan prioritas individu, sehingga rasa kehilangan beragam bentuknya. Lingkungan tersebut meliputi keluarga, teman, masyarakat dan budaya. Kehilangan dapat berupa kehilangan yang nyata atau kehilangan yang dirasakan. Kehilangan yang nyata merupakan kehilangan yang tidak dapat lagi dirasakan, dilihat, diraba atau dialami individu. Misalnya anggota tubuh, anak, hubungan dan peran ditempat kerja. Kehilangan yang dirasakan merpakan kehilangan yang sifatnya unik berdasarkan individu yang mengalami kedukaan, misalnya kehilangan harga diri atau rasa percaya diri.

b.      Tahap kehilangan
Respon individu ketika berduka terhadap kehilangan dapat melalui tahap-tahap sebagai berikut (Kuber-Rose dalam Potter dan Perry 1997).
1.      Tahap pengingkaran.
Reaksi awal individu yang mengalami kehilangan adalah syok; tidak percaya dan tidak mengerti; atau mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-bena telah terjadi. Sebagai contoh, orang atau keluarga dari orang yang menerima diagnosis terminal akan terus menerus mencari informasi tambahan.
Pada tahap ini, reaksi fisik yang terjadi adalah letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berakhir dalam waktu beberapa menit atau beberapa tahun.

2.      Tahap kemarahan.
Pada tahap ini, individu menolak kehilangan. Kemarahan yang timbul sering diproyeksikan kepada orang lain atau dirinya sendiri. Orang yang mengalami kehilangan juga tidak jarang menunjukan perilaku agresif, berbicara kasar, menolak pengobatan dan menuduh petugas kesehatan lainnya yang tidak kompeten. Respon fisik yang sering terjadi, antara lain muka merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal dan lain-lain.

3.      Tahap tawar-menawar.
Pada tahap ini, terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan. Individu bertindak seolah-olah kehilangan tersebut dapat dicegah dengan mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus dan terang-terangan. Individu mungkin berupaya melakukan tawar-menawar dan memohon kemurahan Allah SWT.
4.      Tahap depresi.
Pada tahap ini, pasien sering menunjukan sikap menarik diri, kadang-kadang bersikap senagai penurut, tidak mau bicara, menyatakan keputusasaan, rasa tidak berharga, bahkan bisa muncul keinginan untuk bunuh diri. Gejala fisik yang ditunjukan antara lain menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido menurun,dll.



5.      Tahap penerimaan.
Tahap ini berkaitan dengan reorganisasi rasa kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat kepada objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu telah menerima kenyataan kehilangan yang dialaminya dan mulai memandang ke depan.

Gambaran tentang objek atau individu yang hilang akan mulai dilepaskan secara bertahap. Perhatiannya akan beralih kepada objek yang baru. Apabila individu dapat memulai tahap ter sebu dan menerima kenyataan dengan perasaan damai, maka dia dapat mengakhiri proses berduka serta dapat mengatasi kehilangan secara tuntas. Kegagalan untuk masuk ke tahap penerimaan akan mempengaruhi kemampuan individu tersebut dalam mengatasi rasa kehilangan selanjutnya.

2.3 Mendampingi Klien Yang Hampir Meninggal
2.3.1 Sekarat (dying) dan Kematian
Sekarat (dying) merupakan suatu kondisi pasien saat sedang menghadapi kematian, yang memiliki berbagai hal dan harapan tertentu untuk meninggal. Kematian (death) secara klinis merupakan terhentinya pernafasan, nadi dan tekanan darah serta hilangnya respon terhadap stimulus eksternal, ditandai dengan aktifitas listrik otak terhenti. Dengan kata lain, kematian merupakan kondisi terhentinya fungsi jantung, paru-paru dan kerja otak secara menetap. Sekarat dan kematian memiliki proses atau tahapan yang sama seperti pada kehilangan dan berduka. Tahapan tersebut sesuai dengan tahapan Kubler-Ross yaitu diawali dengan penolakan, kemarahan, tawar-menawar, depresi dan penerimaan.

2.3.2 Diskripsi Rentang Pola Hidup Sampai Menjelang Kematian
Menurut martocchio dan default mendiskripsikan rentang pola hidup sampai menjelang kematian sebagai berikut :
1. Pola puncak dan lembah
Pola ini memiliki karakteristik periodik sehat yang tinggi (puncak) dan periode krisis (lemah). Pada kodisi puncak, pasien benar-benar merasakan harapan yang tinggi/besar. Sebaliknya pada periode lemah, klien merasa sebagai kondisi yang menakutkan sampai bisa menimbulkan depresi.

2. Pola dataran yang turun
Karakteristik dari pola ini adalah adanya sejumlah tahapan dari kemunduran yang terus bertambah dan tidak terduga, yang terjadi selama/setelah perode kesehatan yang stabil serta berlangsung pada waktu yang tidak bisa dipastikan.

3. Pola tebing yang menurun
Karakteristik dari pola ini adalah adanya kondisi penurunan kondisi yang menetap/stabil, yang menggambarkan semakin buruknya kondisi. Kondisi penurunan ini dapat diramalkan dalam waktu yang bisa diperkirakan baik dalam ukuran jam atau hari. Kondisi ini lazim detemui di unit khusus (ICU)

4. Pola landai yang turun sedikit-sedikit
Karakteristik dari pola ini kehidupan yang mulai surut, perlahan dan hampir tidak teramati sampai akhirnya menghebat menuju kemaut.

Perawatan pasien yang akan meninggal dilakukan dengan cara memberi pelayanan khusus jasmaniah dan rohaniah sebelum pasien meninggal.
perawatan ini bertujuan untuk :
a.       Memberi rasa tenang dan puas jasmaniah dan rohaniah pada pasien dan keluarganya.
b.      Memberi ketenangan dan kesan yang baik pada pasien disekitarnya.
c.       Untuk mengetahui tanda-tanda pasien yang akan meninggal secara medis bisa dilihat dari keadaan umum, vital sighn dan beberapa tahap-tahap kematian.

2.3.3 Perawatan Pasien Yang Hampir Meninggal
Perawatan pasien yang akan meninggal dilakukan dengan cara memberi pelayanan khusus jasmaniah dan rohaniah sebelum pasien meninggal. Perawatan ini dilakukan dengan tujuan untuk :
·         Memberi rasa tenang dan puas jasmaniah dan rohaniah pada pasien dan keluarganya.
·         Memberi ketenangan dan kesan yang baik pada pasien disekitarnya.
·         Untuk mengetahui tanda-tanda pasien yang akan meninggal secara medis bisa dilihat dari keadaan umum, vital sighn dan beberapa tahap-tahap kematian.

Persiapan alat :
  1. Disediakan tempat tersendiri
  2. Alat – alat pemberian O2
  3. Alat resusitasi
  4. Alat pemeriksaan vital sighn
  5. Pinset
  6.  Kassa, air matang, kom/gelas untuk membasahi bibir
  7.  Alat tulis

 Prosedur
kerja :
  1. Memberitahu pada keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan
  2. Mendekatkan alat
  3. Memisahkan pasien dengan pasien yang lain
  4. Mengijinkan keluarga untuk mendampingi, pasien tidak boleh ditinggalkan sendiri
  5. Membersihkan pasien dari keringat
  6. Mengusahakan lingkungan tenang, berbicara dengan suara lembut dan penuh perhatian, serta tidak tertawa-tawa atau bergurau disekitar pasien
  7. Membasahi bibir pasien dengan kassa lembab, bila tampak kering menggunakan pinset
  8. Membantu melayani dalam upacara keagamaan
  9. Mengobservasi tanda-tanda kehidupan (vital sign) terus menerus
  10. Mencuci tangan
  11. Melakukan dokumentasi tindakan



2.4  Merawat Jenazah
 Perawatan jenazah merupakan Perawatan yang dilakukan kepada pasien setelah meninggal dunia. Perawatan ini bertujuan untuk :
  • Membersihkan dan merapikan jenazah
  • Memberikan penghormatan terakhir kepada sesama insani
  • Memberi rasa puas kepada sesama insane

Melakukan perawatan jenazah
Persiapan alat :
1.      Bengkok
2.      Kapas kering
3.      Kapas alkohol
4.      Kain kasa untuk pengikat
5.      Sarung tangan
6.      Gunting
7.      Formulir jenazah
8.      Kain panjang/ penutup jenazah

Cara pelaksanaan
1.      Cuci tangan
2.      Gunakan sarung tangan
3.      Tempatkan dan atur jenazah pada posisi anatomi
4.      Singkirkan pakaian atau kain pembungkus jenazah
5.      Lepaskan semua alat kesehatan
6.      Bersihkan tubuh dari kotoran dan noda
7.      Tempatkan kedua tangan jenazah di atas abdomen (bergantung dari kepercayaan dan agama)
8.      Tempatkan satu bantal dibawah kepala
9.      Tutup kelopak mata, jika tidak ditutup, bisa dengan kapas basah
10.  Katupkan rahang atau mulut, kemudian ikat dan letakkan gulungan handuk dibawah dagu
11.  Letakkan alas dibawah glutea
12.  Tutup sampai sebatas bahu, kepala ditutup dengan kain tipis
13.  Catat semua milik pasien dan berikan kepada keluarga
14.  Beri kartu dan tanda pengenal
15.  Bungkus jenazah dengan kain panjang
16.  Lepaskan sarung tangan
17.  Cuci tangan
18.  Catat dan isi formulir jenazah

Sikap :
1.      Sopan
2.      Teliti dan hati-hati









BAB III
PENUTUP

3.1    Kesimpulan
Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya. Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
Elizabeth Kubler-rose,1969.h.51, membagi respon berduka dalam lima fase, yaitu : pengikaran, marah, tawar-menawar, depresi dan penerimaan.
Krisis merupakan suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba dalam kehidupan seseorang yang mengganggu keseimbangan selama mekanisme coping individu tersebut tidak dapat mecahkan masalah. Krisis juga dapat diartikan sebagai ganggaun internal yang disebabkan oleh kondisi penuh stress atau yang dipersepsikan oleh individu sebagai ancaman.




DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan volume 1. Jakarta: EGC.
Suseno, Tutu April. 2004. Pemenuhan Kebutuhan Dasar Manusia: Kehilangan, Kematian dan Berduka dan Proses keperawatan. Jakarta: Sagung Seto.
Uliyah, Musrifaul dan Azis Alimul H. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan edisi 1. Jakarta: Salemba Medika
Uliyah, Musrifaul dan Azis Alimul H. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan edisi 2. Jakarta: Salemba Medika

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar